Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
45Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Sifat Kimia Fisik Blending Biodiesel-Minyak Tanah

Sifat Kimia Fisik Blending Biodiesel-Minyak Tanah

Ratings: (0)|Views: 2,441 |Likes:
Published by Abdul Kahar

More info:

Published by: Abdul Kahar on Dec 07, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/06/2013

pdf

text

original

 
 1
PREDIKSI SIFAT KIMIA-FISIK BLENDING BIODIESEL DARI MINYAKJELANTAH DENGAN MINYAK TANAHPREDICTION OF PHYSICAL CHEMISTRY PROPERTIES OF FATTY ACIDMETHYL ESTER (FAME) FROM WASTE COOKING OIL WITH KEROSENEBLENDING
Abdul Kahar
FT Unmul Keahlian Energi dan Sistem Proses Teknik Kimia
 
 Jl. Ki Hajar Dewantara Kampus Gunung Kelua, Samarinda – 75123Telp./Faks: (0541) 736834 / (0541) 749315, e-mail: kahar.abdul@gmail.com
ABSTRAK
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat efektifitas pemanfaatan limbah minyak  jelantah sebagai sumber energi terbarukan pengganti minyak tanah. Dikarenakan tingginyakekentalan dan titik nyala, maka minyak jelantah harus dikonversi dahulu menjadi metil ester.Sintesis konversi minyak jelantah menjadi metil ester dilakukan melalui dua cara yaitudengan menggunakan katalis asam (H
2
SO
4
) dan katalis basa (NaOH). Pengujian mutu metilester menggunakan metode ASTM
Petroleum Products and Lubricants
untuk parameter titik nyala, titik tuang, kekentalan, kerapatan gravitas 60
o
F/60
o
F, densitas, dan kadar air. Hasilpenelitian menunjukan rendahnya titik nyala metil ester katalis asam 29,70
o
C dikarenakanterdapatnya kontaminan pelarut benzen, sehingga kualitas metil ester katalis asam kurang baik dibandingkan dengan metil ester katalis basa. Persen konversi metil ester katalis asam 95,00%, sedangkan konversi metil ester katalis basa 76,71 %. Pemanfaatan langsung 100 % metilester sebagai pengganti minyak tanah sangat baik untuk kompor bertekanan tanpa sumbu,sedangkan untuk kompor bersumbu harus dilakukan
blending
dengan menggunakan 60 %minyak tanah dikarenakan tingginya kekentalan.Kata kunci: minyak jelantah, biodiesel dan minyak tanah.
A. PENDAHULUAN
Minyak jelantah merupakan minyak sisa penggorengan yang sudah tidak dapatdigunakan lagi untuk menggoreng dikarenakan mengandung senyawa-senyawa yang bersifatkarsinogenik. Minyak jelantah biasanya dihasilkan oleh restoran-restoran dan sampah dapurrumah tangga yang biasanya dibuang tanpa pemanfaatan lebih lanjut. Pemanfaatan limbahminyak jelantah selain dapat mengurangi pencemaran lingkungan juga sebagai bahan bakuuntuk penggunaan bahan bakar alternatif, yaitu sebagai pengganti minyak tanah.Ketersediaan bahan bakar minyak bumi semakin hari semakin terbatas kapasitasnya.Dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk dan industri mengakibatkan peningkatkankonsumsi bahan bakar salah satunya minyak tanah. Kelangkaan bahan bakar minyak tanahsaat ini berhubungan langsung dengan rencana pemerintah untuk beralih dari bahan bakarminyak ke bahan bakar gas pada awal tahun 2007. Di tengah krisis bahan bakar saat ini, makabermunculanlah berbagai pemikiran untuk mengembangkan sumber energi alternatif. Salahsatunya adalah pemanfaatan bahan nabati sebagai pengganti bahan bakar minyak bumi yaitu
biofuel. Biofuel
dihasilkan dari minyak nabati, seperti kelapa sawit, jarak pagar, kacangtanah, kelapa, dan lain sebagainya. Indonesia, sebagai negara agraria, mempunyai peluangsangat besar untuk mengembangkan
biofuel
sebagai energi alternatif pengganti minyak diesel(solar), minyak bakar, bahkan minyak tanah (kerosin).Minyak jelantah tidak dapat digunakan langsung sebagai bahan bakar pengganti dieselatau minyak tanah dikarenakan tingginya titik nyala dan kekentalan. Untuk mengatasipermasalahan tersebut maka asam lemak yang terkandung dalam minyak nabati harusdikonversi menjadi suatu alkil ester (metil ester atau etil ester) yang memiliki rantai karbonpendek. Beberapa metode telah digunakan untuk memperoleh
 fatty acid methyl ester 
(FAME)dari trigliserida diantaranya transesterifikasi berkatalis basa atau asam. Pada prinsipnya,proses transesterifikasi adalah mengeluarkan gliserin dari minyak jelantah pada suasana asam
 
 2atau basa dan mereaksikan asam lemak bebasnya dengan alkohol (misalnya metanol) menjadialkohol ester (
Fatty Acid Methyl Ester 
 /FAME) (Suess, 1999).
B. TINJAUAN PUSTAKA
Pemanfaatan metil ester dari minyak jelantah sebagai pengganti minyak tanahdidasarkan pada rencana pemerintah indonesia pada awal tahun 2007 ini yang mengurangikuota minyak tanah karena peralihan bahan bakar minyak tanah menjadi bahan bakar gas.Disamping harga
biofuel
minyak jelantah lebih murah dari minyak tanah atau
biofuel
 berbahan baku minyak baru, juga dapat mengurangi pencemaran lingkungan akibat limbahminyak jelantah.Menurut Sihombing (2006) meneliti sintesis metil ester dari asam lemak campuranminyak sawit (CPO) dengan cara reaksi interesterifikasi yaitu sintesis pembuatan metil esterdari bungkil kelapa sawit dengan menggunakan katalis asam sulfat. Peneliti memperolehrendemen metil ester sebesar 45,15 % dimana komposisi metil ester yang paling besarberasal dari asam oleat C
18
yaitu sebesar 38,72 %. Menurut Phillip (2006) yang berjudul
biodiesel basics
” menyarankan bahwa jumlah penggunaan metanol dalam pembuatanFAME berkatalis basa sangat bagus pada perbandingan 20 – 25 % volume dari minyak  jelantah yang digunakan dikarenakan persen konversi gliserol dari minyak sekitar 20 %volume.Sementara menurut Sues (2002) bahwa karakteristik biodiesel berbahan baku minyak  jelantah tidak berbeda jauh dengan biodiesel berbahan baku minyak baru, hanya tingginyapengotor minyak jelantah maka diperlukan perlakuan penyaringan yang bertingkat. Hargadari biodiesel yang berbahan baku minyak jelantah dapat bersaing dengan harga minyak diesel, dikarenakan biaya produksinya lebih murah. Dibandingkan dengan minyak solar,biodiesel tidak menghasilkan emisi gas SO
2
akan tetapi untuk emisi CO lebih tinggi12 % danNO lebih tinggi 6%.
2.1 Bahan Bakar
Bahan bakar konvensional, ditinjau dari keadaannya dan wujudnya dapat padat, cairatau gas, sedang ditinjau dari cara terjadinya dapat alamiah dan non-alamiah atau buatan.Termasuk bahan bakar padat alamiah ialah: antrasit, batubara bitumen, lignit, kayu api, sisatumbuhan. Termasuk bahan bakar padat non- alamiah antara lain: kokas, semi-kokas, arang,briket, bris, serta bahan bakar nuklir. Bahan bakar cair non alamiah antara lain: bensin ataugasolin, kerosin atau minyak (Zuhra, 2003).
2.1.1 Minyak Tanah (Kerosin)
Pemakaian kerosin sebagai penerangan di negara-negara maju semakin berkurang,sekarang kerosin digunakan untuk pemanasan. Pemakaian terpenting dari kerosin antara lain:a.
 
Minyak LampuMinyak tanah dalam lampu mengalir ke sumbu karena adanya gaya kapiler dalamsaluran-saluran sempit antara serat-serat sumbu. Aliran kerosin tergantung pada kekentalanyaitu jika minyak cair kental dan lampu mempunyai tinggi naik yang besar maka api akantetap rendah dan sumbu menjadi arang (hangus) karena kekurangan minyak.b. Bahan bakar untuk pemanasan untuk memasak c. Bahan bakar motorMotor berbahan bakar kerosin selain memiliki sebuah karburator juga mempunyai alatpenguap untuk kerosin. Motor ini jalannya dimulai dengan bensin dan dilanjutkan dengankerosin kalau alat penguap sudah cukup panas. Motor ini akan berjalan dengan baik bilakadar aromatik di dalam bensin tinggi.d.
 
Bahan pelarut untuk insektisidaBubuk serangga dibuat dari bunga Chrysant (
Pyerlhrum cinerarieotollum
) yang telahdikeringkan dan dihaluskan, sebagai bahan pelarut digunakan kerosin. Untuk keperluan ini
 
 3kerosin harus mempunyai bau yang enak atau biasanya obat semprot itu mengandung bahanpengharum (Sumber: Zuhra, 2003).
2.1.2 Bahan Bakar Aternatif (
 Biofuel 
)
 Biofuel
merupakan bahan bakar alternatif yang menjanjikan dapat diperoleh dariminyak tumbuhan, lemak binatang atau minyak bekas melalui proses transesterifikasi denganalkohol.
 Biofuel
memberikan sedikit polusi dibandingkan bahan bakar petroleum. Selain itu
biofuel
dapat digunakan tanpa memodifikasi ulang mesin. Salah satu penerapan pembuatanbahan bakar alternatif yaitu biodiesel, dimana
biofuel
di
blending
dengan minyak diesel.Pemanfaatan biji jarak sebagai bahan baku pembuatan biodiesel sangat diminati oleh parapengusaha
home industry
biodiesel, hal ini menyebabkan susahnya mendapatkan biji jarak dan menyebabkan mahalnya harga biji jarak. Sehingga harga dari biodiesel lebih mahaldibandingkan bahan bakar petroleum. Oleh sebab itu diperlukan usaha untuk mencari bahanbaku alternatif sehingga dihasilkan biodiesel murah. Alternatif pemakaian bahan baku bisamenggunakan minyak sawit mentah (CPO) atau minyak kelapa, namun apabila dilihat darisegi ekonomis maka keuntungan yang diperoleh dari penjualan biofuel sangatlah kecil, olehkarena itu digunakanlah minyak sisa/minyak jelantah sebagai bahan baku yang paling murah.Beberapa keuntungan penggunaan
biofuel
sebagai bahan bakar alternatif untuk pencampur/penggganti minyak bumi, antara lain sebagai berikut:a.
 
Merupakan sumber energi terbarukan.b.
 
Pembudidayaan lebih mudah karena sudah teradaptasi dengan iklim tropis.c.
 
Dapat mengurangi penggunaan bahan bakar yang berasal dari minyak bumi.d.
 
Emisi
biofuel
lebih ramah lingkungan dibandingkan bahan bakar dari minyak bumi(LEMIGAS, 2005). 
2.2 Reaksi Transesterifikasi
Transesterifikasi menyangkut pertukaran gugus asil antara trigliserida, karenatrigliserida mengandung 3 gugus ester permolekul maka peluang untuk pertukaran tersebutcukup banyak. Gugus asil dapat bertukar posisinya dalam satu molekul trigiserida, ataudiantara molekul trigliserida. Pada reaksi transesterifikasi, minyak dan lemak langsungdireaksikan dengan metanol/etanol dengan menggunakan katalis basa atau asam untuk membentuk metil/etil ester asam lemak. Keuntungan reaksi transesterifikasi pada skalaindustri (menggunakan katalis basa) disamping perolehan ester tinggi (rendemen 99%), jugagliserol yang dihasilkan memiliki kadar sekitar 85% (Surbakti,1995).Proses transesterifikasi dari lemak dan minyak merupakan proses yang paling umumdigunakan dalam memproduksi metil ester, kecuali bila dibutuhkan metil ester dengan asamlemak spesifik. Trigliserida dapat dengan mudah ditransesterifikasi secara
batchwise
padatekanan atmosfer dan suhu 60 – 70°C dengan metanol berlebih. Kelebihan metanol direkoverke kondensor dan dialirkan ke kolom
rectifying
untuk dimurnikan dan didaur ulang.Pada prinsipnya, proses pembuatan ester (transesterifikasi) adalah mengeluarkangliserin dari minyak dan mereaksikan asam lemak bebasnya dengan alkohol (biasanyametanol) menjadi alkohol ester (
Fatty Acid Methyl Ester 
). Demikian juga halnya reaksitransesterifikasi minyak jelantah dengan senyawa alkohol (metanol) memerlukan katalisuntuk mempercepat prosesnya. Reaksi alkoholisis merupakan reaksi setimbang dengan kalorreaksi kecil. Pergeseran reaksi ke kanan biasanya dilakukan dengan menggunakan alkoholberlebih. Dalam reaksi alkoholisis, alkohol bereaksi dengan ester dan menghasilkan esterbaru. Reaksi ini merupakan reaksi dapat balik yang pada suhu kamar tanpa bantuankatalisator akan berlangsung sangat lambat.Alkohol yang digunakan dalam reaksi alkoholisis pada umumnya adalah metanol atauetanol. Pada umumnya alkohol dengan atom C lebih sedikit mempunyai kereaktifan yanglebih tinggi daripada alkohol dengan atom C lebih banyak. Untuk meningkatkan hasil reaksi,perlu diperhatikan beberapa faktor yang mempengaruhi reaksi alkoholisis yaitu: Suhu,

Activity (45)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Rheza Nugraha liked this
Nyal Nyil Nyul liked this
Begundal Opeck liked this
Eko Retnowati liked this
blazing.star liked this
You Gex liked this
Nasta Rofika liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->