Read without ads and support Scribd by becoming a Scribd Premium Reader.
 
CERITA BERSAMBUNG
“MIRNA ITUKAH KAU.…”
KARYA :OKKY OKTORA
Sepuluh tahun yang lalu kutinggalkan desaku, sebuah desa kecil yangmungkin tidak semua orang mengetahui, sepuluh tahun yang lalu aku pergimengadu nasib di Ibukota, meninggalkan sejuta kenangan, sejuta khayalandan sejuta impian.Meninggalkan Mirna gadis desa yang selalu tertunduk tersipu malu ketikakuajak bicara, yang selalu setia mendengar segala keluh-kesah dan tawa bahagiaku.Meninggalkan semua kenangan saat-saat bersamanya, namun kini kutelahmeninggalkannyaSepuluh tahun yang lalu.Pagi yang cerah di Ibukota, secerah hatiku hari ini. karena aku akan pulang,oh ibu oh bapa sudah kubayangkan seraut garis pertanda usiamu talah uzur dipelupuk mataku. ku langkahkan kaki dengan penuh harap dapat segera bertemu dengannya."oh ibu, oh bapak, aku akan kembali." dalam hati aku merasa semakinrindu saja terhadap beliau."surabaya, surabaya berangkat jam 09.00".
 
aku tersentak, seorang kenek bus menghampiriku menawarkan jasa.Ku segera menuju bus yang sudah dijejali penumpang, “masuk Mas, masihada yang kosong.” Seru kondektur. Kumelihat masih ada satu bangkukosong dipojok belakang, aku duduk, kusandarkan kepala dalam-dalam ke jok yang terasa keras.sudah kubayangkan wajah innocent seorang Mirna, gadis desa yang selalumembuat hatiku gerimis setiap kali kumendengar namanya. akankah Mirnasetia menanti, semenjak pergi, putus sudah tiada hubungan kabar darinya.hanya satu yang selalu kuingat darinya, ya... itu adalah ikrar kami berduasebelum berpisah.Kala itu sore hari dipematang sawah, kami duduk berdua. aku cerita semua padanya persoalan yang membuatku harus pergi ke kota. Mirnamendengarkan setiap kata yang aku ucap dengan seksama, lalu ia berucap"Mas apakah Mas merasa sudah yakin dengan keputusan yang mas ambil?"saya hanya menjawab "demi masa depan kita, saya yakin pilihan ini tidak salah."ku elus rambutnya yang halus, dengan setengah manja ia berkata padaku"Mas, mas baik-baik yah disana Mirna akan setia menanti, semoga apayang dicita dapat tercapai." pertanyaan darinya hanya aku jawab dengananggukkan, "tenang saja, mas berjanji tidak akan terlalu lamameninggalkan Mirna, Mirna baik-baik yah disini, jaga ibu."akhirnya pematang sawah itu menjadi bukti cinta kita bersemi.Kira-kira 1/2 perjalanan lagi aku sampai kerumah, aku sengaja turun agak  jauh. Aku hendak membelikan oleh-oleh untuk kedua orangtua dan satuadikku, tidak lupa teruntuk Mirna yang aku sayang. setelah kupilih-pilihakhirnya dapatlah, buah tangan yang tidak terlalu mahal namun layak guna.matahari sudah hampir tenggelam setelah seharian berganti mobil sampai 4kali aku harus meneruskan perjalanan kerumah memakai ojek, kampungkukini telah banyak kemajuan sangat berbeda dengan sepuluh tahun silam,sepeda motor sudah bisa dijumpai hilir-mudik disepanjang jalan.Rasa rinduku telah membuncah-buncah di dada, ku ketuk daun pintu rumahyang sudah lekang dimakan waktu, setelah sekian lama ku ketuk tak ada juga suara yang menyahut, akhirnya kuputuskan untuk lewat pintu belakang saja, namun ketika aku mau melangkahkan kaki terdengar suaraibu memanggil namaku.
 
"ndu, nak itukah kamu...., aduh nak ibu sudah rindu sekali ingin berjumpadenganmu nak." sambil memeluk ku tiada henti ibu berucap."mari-mari masuk nak, bapak mu ada didalam sekarang bapakmu seringsakit-sakitan." aku mengikuti langkah ibu dari belakang dan masuk kedalam rumah.terlihat bapak sedang terbaring di bale-bale bambu yang agak reot, matanyaterpejam. entah tertidur entah sedang apa, aku pun tak tahu. perlahan-lahanaku tepuk bahu bapak, "assalamu'alaikum bapak." ku ambil tangan bapak lantas kucium dan kupegang erat-erat. terlihat tangan bapak penuh denganurat-urat yang menonjol keluar, menggambarkan betapa berat beban hidupyang harus dijalani."bapak, ini windu pa. bagaimana keadaan bapak, bapak sehat?" aku tak sabar ingin mendengar suara bapak. Mata nya yang sayu perlahan terbuka, bibirnya pun terbuka perlahan suara lemah terucap dari mulut bapak. “nak, beginilah keadaan bapak, bagaimana denganmu sendiri?”“alhamdulilah Allah selalu melindungi saya.” Lalu aku keluarkan semua isidalam tas ku sekedar buah tangan yang tidak seberapa, saat suatu bendakupegang aku jadi teringat Mirna, aku ingin sekali esok pagi menjelang danakan aku hampiri ia kerumahnya."bu, Neneng kemana? bagaimana sekolahnya?" aku bertanya pada ibu. Neneng adalah adik perempuan ku satu-satu nya, terakhir kali kupandangwajahnya sepuluh tahun yang lalu ketika itu ia masih kanak-kanak dan berwajah imut. dan kini aku akan melihat adikku yang sudah menjadi salahsatu Kembang desa di kampungku."oh Neneng, ia sedang pergi ke surau. biasa mengajar anak-anak mengajial-quran." ibuku menjelaskan. "ndu, maghrib sudah hampir habis. Sudahsembahyang kah kamu?” suara halus ibu meneyelusup ke dalam kalbuku.Kemudian ibu berlalu kedapur aku pun menyusul dibelakang ibu, hendak mengambil wudlu.Betapa sejuk air yang menimpa wajah ini, tak sesejuk air di kota. Lantasaku pun menghadap sang pencipta.Kicau burung pagi membangunkan aku yang terlelap, baru lagi kali ini akumendengar merdunya suara burung berkicau, ku buka jendela lebar-lebar,kuhirup udara pagi dalam-dalam. Kulirik arloji yang kusimpan di atasranjang, masih jam 05.32.
Search History:
Searching...
Result 00 of 00
00 results for result for
  • p.
  • Notes
    Load more