aku tersentak, seorang kenek bus menghampiriku menawarkan jasa.Ku segera menuju bus yang sudah dijejali penumpang, “masuk Mas, masihada yang kosong.” Seru kondektur. Kumelihat masih ada satu bangkukosong dipojok belakang, aku duduk, kusandarkan kepala dalam-dalam ke jok yang terasa keras.sudah kubayangkan wajah innocent seorang Mirna, gadis desa yang selalumembuat hatiku gerimis setiap kali kumendengar namanya. akankah Mirnasetia menanti, semenjak pergi, putus sudah tiada hubungan kabar darinya.hanya satu yang selalu kuingat darinya, ya... itu adalah ikrar kami berduasebelum berpisah.Kala itu sore hari dipematang sawah, kami duduk berdua. aku cerita semua padanya persoalan yang membuatku harus pergi ke kota. Mirnamendengarkan setiap kata yang aku ucap dengan seksama, lalu ia berucap"Mas apakah Mas merasa sudah yakin dengan keputusan yang mas ambil?"saya hanya menjawab "demi masa depan kita, saya yakin pilihan ini tidak salah."ku elus rambutnya yang halus, dengan setengah manja ia berkata padaku"Mas, mas baik-baik yah disana Mirna akan setia menanti, semoga apayang dicita dapat tercapai." pertanyaan darinya hanya aku jawab dengananggukkan, "tenang saja, mas berjanji tidak akan terlalu lamameninggalkan Mirna, Mirna baik-baik yah disini, jaga ibu."akhirnya pematang sawah itu menjadi bukti cinta kita bersemi.Kira-kira 1/2 perjalanan lagi aku sampai kerumah, aku sengaja turun agak jauh. Aku hendak membelikan oleh-oleh untuk kedua orangtua dan satuadikku, tidak lupa teruntuk Mirna yang aku sayang. setelah kupilih-pilihakhirnya dapatlah, buah tangan yang tidak terlalu mahal namun layak guna.matahari sudah hampir tenggelam setelah seharian berganti mobil sampai 4kali aku harus meneruskan perjalanan kerumah memakai ojek, kampungkukini telah banyak kemajuan sangat berbeda dengan sepuluh tahun silam,sepeda motor sudah bisa dijumpai hilir-mudik disepanjang jalan.Rasa rinduku telah membuncah-buncah di dada, ku ketuk daun pintu rumahyang sudah lekang dimakan waktu, setelah sekian lama ku ketuk tak ada juga suara yang menyahut, akhirnya kuputuskan untuk lewat pintu belakang saja, namun ketika aku mau melangkahkan kaki terdengar suaraibu memanggil namaku.