• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
 1
Simulasi kekerasan
1
 -menelanjangi kerja kekerasan dalam pembangunan-
Oleh : Imron Rosidin
2
 Banyak hal mengerikan, menyeramkan dan durjana dari kekerasan. Mendengarnya adadalam kehidupan selalu ingin disangkal. Hanya ada kerugian, kerusakan, tangis, darah dannanah dari luka personal maupun kelompok ditawarkan oleh kekerasan. Wajahnya seolahserupa dengan paras setan dalam kitab-kitab suci, melahirkan kekerasan sama halnyabersekutu dengan setan, berarti pula melawan keagungan Tuhan.Banyak hal indah dan menggoda yang ditawarkan pembangunan, layaknya surga milik Tuhan pembangunan digambarkan. Setiap orang yang menghuni negara terjamin hak-hak dan dilindungi tanggungjawabnya, merdeka untuk mengambil keputusan-keputusan personalmaupun kolektif untuk menggapai langit-langit kesejahteraan hidup. Tidak ada konflik personal dan kelompok disertai kekerasan dalam kehidupannya. Warga dan negaramemeran-fungsikan diri dengan adil dalam kehidupan sosial, keduanya bak pinang dibelahdua dalam harmoni kedamaian.Pembangunan dan kekerasan merupakan kerja, keduanya bekerja pada sekitar manusia.Untuk kehidupan yang lebih baik, manusia dan sekitarnya melakukan kerja pembangunan.Sebaliknya, mengerjakan kekerasan menghantarkan manusia dan sekitarnya ke depan pintugerbang kemusnahan. Keduanya tampak saling berhadapan dalam kehidupan sosial,pembangunan tidak boleh bersekutu dengan kekerasan, begitupula dengan kekerasan yangtidak boleh hadir dan menemani setia pembangunan.Makalah ini dimaksudkan untuk, pertama, mengurai kembali apa kekerasan danpembangunan. Kedua, menulusuri kembali jejak kerja simulasi kekerasan dalampembangunan. Ketiga, meretas gagasan pembangunan Indonesia yang rentan kekerasan.***
1
Ditulis pada 02 Dzulhijjah 1430 Hijriah sebagai tugas mata kuliah teori-teori (SP 6111), bagian dari tugaskelompok V “Pembangunan dan Etnisitas”. SAPPK - Studi Pembangunan, Institut Teknologi Bandung, 2009.
2
Nomor Induk Mahasiswa 24009022,http://www.bagaskarakawuryan.wordpress.com,cakra_sr@yahoo.com, bagaskarakawuryan@gmail.com
 
 2
Kekerasan
Definisi kekerasan sangat beragam dalam bentuk yang berbeda pula (Galtung, 1975),terminologi dan definisi kekerasan akan lebih spesifik dalam bentuk dan dampak yangdihasilkannya. Kekerasan menurutnya di bedakan menjadi (1) kekerasan yang dilakukansecara langsung dan tidak langsung, (2) dikenakan secara kolektif maupun individual, (3)disahkan oleh hukum dan tidak disahkan oleh hukum, (4) dilakukan secara fisik maupunpsikologis dan (5) bekerja dalam bentuk nyata maupun melalui simbol. Definisi-definisi laindari perspekif sejarah, sosiologi dan antropologi lainnya dapat juga dilihat dari pandanganHannah Arendt (1906–1975), Norbert Elias (1897–1990), Michel Foucault (1926–1984),Thomas Hobbes (1588–1679) dan Max Weber (1864–1920).Kekerasan oleh Galtung (1975) di definisikan sebagai kondisi sedemikian rupa yangmempengaruhi realisasi jasmani dan mental aktual manusia sehingga berada di bawahrealisasi potensialnya (sub-human). Galtung mengantarkan pemahaman yang lebih luasmengenai kekerasan, yang menurutnya tidak saja terlihat dalam bentuk tindakan memukul,melukai, menganiaya sampai dengan membunuh. Galtung lebih spesifik mengarahkanpemahaman kekerasan berdasarkan dampak yang dihasilkannya terhadap orang peroranganmaupun kelompok yang dilakukan oleh orang perorangan maupun kelompok lainnya. Adasemacam hubungan memengaruhi antara tindakan dan dampak kekerasan yang inginditampilkan Galtung.Hubungan memengaruhi antara tindakan, dampak dan begitu seterusnya berulang kali tanpaujung menghasilkan tindakan yang oleh Camara (1998) digambarkan layaknya spiral –kekerasan. Spiral kekerasan menggambarkan bagaimana hubungan memengaruhi antarkondisi sub human, pemberontakan dan sikap represi, sebagai berikut:
Gambar 1. Spiral Kekerasan (Dom Helder Camara, 1997)
 
 3Dari ketiga bentuk kekerasan itu yang paling mendasar dan menjadi sumber utama adalahketidakadilan yang mengakibatkan adanya kondisi sub human (kekerasan nomor satu).Kondisi ini yang selanjutnya memicu kekerasan nomor dua, yaitu pemberontakan dikalangan masyarakat atau kelompok-kelompok dalam kondisi sub human. Munculnyakekerasan nomor dua untuk melawan kekerasan nomor satu menjadikan penguasa ataunegara berhak dan memiliki kewenangan untuk memelihara ketertiban meskipun denganmelakukan tindakan-tindakan kekerasan, inilah kekerasan nomor tiga. Ketiga kekerasantersebut alih-alih parsial bekerja dan dampaknya, justeru membangun jejalin kerja dalamsatu waktu yang bersamaan. Camara menegaskan bagaiamana kekerasan menimbulkankekerasan lainnya (violence beget violence). Bentuk-bentuk kekerasan oleh Galtung (1975)digambarkan dalam bentuk segitiga dengan keterikatan erat satu sama lainnya, sepertidigambarkan sebagai berikut:
Gambar 2. Segitiga Kekerasan (Galtung, 1975)
Dalam kasus konflik antara kelompok masyarakat dan negara disertai kekerasan yangdilakukan oleh kedua pihak, Arendt (1958) melihat kekerasan dilahirkan sebab adanya gapantara kekuatan dan tanggungjawab pada kelompok masyarakat maupun negara, termasuk didalamnya gap yang terjadi pada relasi sosial keduanya. Dalam pemahaman Arendt manusiaadalah subyek syarat kepentingan, dan oleh syaratnya kepentingan manusia maka kekerasandemi kekerasan tidak dapat terhindarkan guna mendapatkan kebebasan untuk memenuhisegala kepentingan manusia.Seakan sepakat dengan apa yang diyakini oleh Arendt, Yasraf (2004) berpendapat, ketikanegara menjadi agen kekerasan dam kejahatan terhadap masyarakat, maka kejahatan akanmenemukan tempat persembunyiannya yang sempurna-criminalis perfectus.
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...