Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
YOU PAY PEANUT, YOU'LL GET MONKEY

YOU PAY PEANUT, YOU'LL GET MONKEY

Ratings: (0)|Views: 43|Likes:
Published by Eddy Satriya
Kolom di majalah Forum
Kolom di majalah Forum

More info:

Published by: Eddy Satriya on Mar 29, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/08/2014

pdf

text

original

 
Kolom Majalah Forum Keadilan 19 Juni 2005
“YOU PAY PEANUT, YOU’LL GET MONKEY”
Oleh: Eddy Satriya*)
Setahun setelah kebakaran besar pertama kali menghabiskan Pasar AtasBukittinggi pada tahun 1972, karena suatu alasan, keluarga saya pindah ke sebuahkawasan perladangan bernama Padang Leba, di pinggiran kota Payakumbuh,Sumatera Barat. Kasus busung lapar di NTB dan NTT baru-baru ini mengingatkansaya akan sulitnya kehidupan kami pada waktu itu. Meski kebutuhan sehari-haridan biaya sekolah anak-anak dapat terpenuhi, tidak urung kami mengalami jugakondisi makan nasi sehari sekali yang terkadang diselingi dengan lemper terbuatdari dedak padi yang biasa diolah menjadi makanan ayam.Namun kondisi sulit tersebut masih lebih baik dibanding tetangga, keluargaseorang prajurit ABRI, yang tinggal di seberang ladang. Sangat sering terdengarpertengkaran yang ditingkahi bentakan, pemukulan dan tangisan yang disebabkanoleh kesulitan hidup dan minimnya kesejahteraan Sang Prajurit. Saya tak tahu laginasib keluarga tersebut beserta seorang anak mereka karena setahun kemudiankami kembali ke Bukittinggi.Kesejahteraan sebahagian besar prajurit TNI (dulu ABRI) sejak puluhan tahunlalu memang memprihatinkan. Karena itu dialog antara Panglima ABRI almarhum Jenderal M. Yusuf yang secara langsung menanyakan kondisi prajurit di lapanganseperti sering disiarkan TVRI di tahun 1980-an, selalu saja menimbulkan decakkagum dan simpati. Dialog seperti itu memang sudah jarang terdengar. Namun itubukan berarti pimpinan TNI tidak memperhatikan kesejahteraan prajurit.Salah satu perhatian yang pernah diberikan oleh negara kepada prajuritTNI/Polri adalah melalui perbaikan asrama prajurit melalui dana BantuanPresiden sebesar Rp 30 Milyar. Namun bantuan Presiden Megawati pada bulanFebruari 2002 untuk memperbaiki asrama yang sudah parah kondisinya di empatlokasi itu malah berbuntut menjadi masalah politik yang menyulut debat di DPR.Perbaikan kesejahteraan prajurit yang berujung dengan usulan Tim VerifikasiKomisi I DPR kepada Presiden Megawati untuk memecat Mensesneg Bambang
Page 13/29/2008
 
Kolom Majalah Forum Keadilan 19 Juni 2005
Kesowo itupun akhirnya terkenal dengan istilah “Asramagate” (
Pikiran Rakyat,
13/7/02).Bukan hanya sekali dua rencana baik yang diajukan pemerintah untukmeningkatkan kesejahteraan aparatnya dimentahkan oleh berbagai pihak. KetikaPresiden Abdurrahman Wahid (Gusdur) dengan taktis dan secara bertahap telahmenaikkan gaji serta tunjangan jabatan PNS di awal pemerintahannya, protesmalah datang dari pihak KORPRI sendiri. Alhasil, kenaikan tunjangan jabatanyang sudah dicicipi oleh PNS itu kemudian diturunkan lagi ke tingkat yang hanyasekedar menutupi tingkat inflasi.Rendahnya tingkat gaji dan tunjangan resmi PNS sering menjadi bahanguyonan, terkadan cemeehan yang mengkaitkannya dengan “sabetan”. Seorangpejabat karena saking senangnya, pernah memamerkan Surat Keputusan (SK)kenaikan pangkatnya menjadi IVc yang telah lama dinantikan. Seorang temansetelah membaca SK itu secara serius berkomentar bahwa telah terjadi kesalahanfatal dalam SK yang membuat Sang Pejabat kaget. Ketika ditanyakan apanya yangsalah, teman tersebut ternyata “meledek” bahwa yang salah adalah gaji tercantumyang hanya berjumlah sekitar Rp 1,5 juta per bulan.Rendahnya gaji dan kesejahteraan juga diperburuk dengan berkurangnyabeberapa fasilitas dan tunjangan. Hingga awal 1990-an, sebahagian dana APBNtelah dialokasikan untuk pemeriksaan kesehatan rutin tahunan (
 general check up
)bagi seluruh pejabat eselon III ke atas. Sebelum terjadi krisis, fasilitas kesehatantersebut telah dihentikan dan dibatasi. Alhasil, banyak PNS yang tidakmemerhatikan kesehatannya karena alasan ekonomi dan sering berakhir dengantimbulnya penyakit-penyakit berat yang menggerogoti produktivitas mereka.Kualitas dan kemudahan pelayanan Asuransi Kesehatan (Askes) juga tidakmembaik. Ada beberapa anggota keluarga pegawai di kantor saya yang terserangkanker tidak tertolong lagi karena tidak mampu berobat secara layak dan teratur.Karena itu tidaklah sulit memahami betapa korupsi telah mampumengalahkan nalar dan moral sebahagian PNS, termasuk guru besar danintelektual sekalipun. Juga tidaklah sulit memahami masih banyaknya aparat yang justru terlibat dalam peristiwa kejahatan seperti pemalsuan uang, judi,
www.eddysatriya.blogspot.com
 
Page 23/29/2008

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->