Pertama, tentang pemilihan antara sekolah umum dan sekolahberkebutuhan khusus. Lembaga kami pernah menyampaikansebuah rekomendasi bagi sepasang suami istri untuk memindahkananaknya dari sekolah umum ke sekolah untuk anak berkebutuhankhusus. Spontan mereka kaget, tersentak sambil berurai air matamengajukan sebuah pertanyaan:
apakah itu berarti anak kami tidak normal, seperti anak cacat?.
Cerita ini dapat menjadi sebuahgambaran dogma di masyarakat bahwa anak-anak yang berbedadengan yang lain, yang punya keterbatasan tertentu, atau memilikikebutuhan khusus dianggap sebagai anak tidak normal.Kita perlu memahami anak-anak, sebagaimana semua manusia,memiliki kelebihan dan kelemahan. Meskipun jumlah anak dalampopulasi masyarakat yang perlu direkomendasikan untuk mendapatpendidikan di sekolah berkebutuhan khusus tidak dominan, namunperlu kita perhatikan. Jangan sampai anak-anak ini salah tempat.Keputusan untuk memaksakan anak-anak berkebutuhan khususmendapat pendidikan di sekolah umum hanya menjadi pintumunculnya rentetan masalah, mulai kesulitan beradaptasi,hambatan bersosialisasi,
jeblok
nya prestasi akademis, dan berbagaimacam kasus gangguan perilaku pernah kami terima sebagai akibatsalah pilih sekolah.Kedua, tentang sistem
fullday school
yang saat ini menjadi modelpopuler di berbagai sekolah, baik swasta maupun negeri. Orangtuaperlu mencermati sekolah-sekolah
fullday
dari segi program. Jikaprogram akademis mendominasi waktu belajar seharian, maka halini akan menjadi hambatan bagi anak untuk berkembang. Anak-anak yang
dijejali
pendidikan akademis dalam waktu seharianmenjadi kurang berkembang sisi psikologisnya, baik itu emosi,kepribadian, dan juga sosial. Jika program sekolah
fullday
dapatmenyeimbangkan kebutuhan anak untuk berprestasi akademis dannon akademis, maka sekolah dapat menjadi media pengembangandiri.Lembaga kami pernah menerima kasus anak-anak yang mengalamikesulitan belajar yang disebabkan gangguan perilaku. Dari sekianbanyak kasus, mayoritas berujung pada hasil analisis bahwa anak-anak sebenarnya punya potensi kecerdasan yang memadai namunkurang stimulasi lingkungan sehingga mereka mengalami masalahdalam beradaptasi, mengelola sikap dan cara belajar, sebagaiakibatnya mereka mendapatkan prestasi akademis yang jauh dibawah potensi dasar yang mereka miliki. Stimulasi lingkunganadalah serangkaian proses dari lingkungan, baik di rumah, sekolah,dan masyarakat yang dapat merangsang anak-anak untuk belajar.Belajar disini lebih mengarah pada penyesuaian tubuh, prosesberbahasa, proses sosialisasi, pembentukan karakter mandiri,latihan mengelola emosi, dan pengembangan kepribadian. Anak-anak yang setiap harinya melakukan kegiatan monoton tanpa
Leave a Comment