KATA PENGANTAR
Buku yang tersaji dihadapan anda ini disusun dengan maksudagar dapat dipergunakan sebagai bahan untuk mempelajari,memahami dan mengimplementasikan prinsip-prinsipketatanegaraan Indonesia dalam rangka menuju konsolidasisistem demokrasi. Buku ini merupakan hasil revisi dari bukuyang sudah pernah penulis susun, berjudul
Hukum Tata Negara,Kewarganegaraan dan Hak Asasi Manusia.
J
udul buku ini memang sengaja penulis ubah, karenapenulis menyadari bahwa dalam sepanjang sejarahketatanegaraan Indonesia, proses menuju konsolidasi sistemdemokrasi selalu diupayakan oleh setiap penyelenggaraNegara. Namun demikian sangat disayangkan, proses tersebutbelum mampu dilaksanakan dengan baik. Hal ini berartikonsolidasi sistem demokrasi masih terus berjalan.Bertitik tolak dari gambaran singkat tersebut, makaperubahan judul tersebut dimaksudkan agar buku ini menjadisemacam inspirasi bagi penulis-penulis buku sejenis ataupunpara pihak yang tertarik dengan Hukum Tata NegaraIndonesia, untuk dapat dilengkapi dengan ide-ide ataugagasan-gagasan lain yang lebih bagus dan lengkap.Tidak dapat dipungkiri bahwa sejak Undang-UndangDasar 1945 diamandemen oleh Majelis PermusyawaratanRakyat, maka mulai saat itu sistem ketatanegaraan Indonesiamengalami perubahan yang sangat cepat. Di tingkatkehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia sendiri,perubahan tersebut menimbulkan kegagapan tersendiri. Halini merupakan gejala wajar bagi suatu masyarakat dan bangsayang sudah lama hidup dalam struktur dan sistemketatanegaraan yang otoritarian.Perlu diketahui bahwa langkah untuk melaksanakankonsolidasi sistem demokrasi sudah barang tentu akan melaluiberbagai macam tahapan. Bahkan tidak jarang tahapan-tahapan tersebut memunculkan kesan adanya eksperimentasiatau uji coba sistem ketatanegaraan. Oleh sebab itu konsolidasisistem demokrasi yang berarti suatu langkah untukmemperteguh atau memperkuat demokrasi dalam sistemketatanegaraan tentu tidak dengan serta merta dapat dihitungdalam jangka waktu tertentu. Apalagi dengan memberikanpatokan setelah tahun 2009, seperti yang diungkapkan olehAkbar Tanjung atau Daniel Sparringga yang menganggapsebagai masa transisi dengan ukuran progresif berlangsung 2tahun, dan ukuran konvensional sekitar 10 tahun. (Kompas,16/2/2009).Sebagai sebuah langkah pemantapan atau penguatansistem demokrasi, maka bagi negara yang belum
akrab
dengansistem demokrasi seperti Indonesia, konsolidasi demokrasitentu akan melewati beberapa langkah eksperimentasi atau ujicoba. Seperti uji coba infra struktur demokrasi, perumusanperangkat hukum untuk mengawal jalannya sistem demokrasi,