Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
198Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Diktat Teori Dan Apresiasi Sastra

Diktat Teori Dan Apresiasi Sastra

Ratings: (0)|Views: 36,076|Likes:
Published by Hasnarianti

More info:

Published by: Hasnarianti on Dec 13, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

03/27/2013

pdf

text

original

 
BAB IPENDAHULUANA. DEFINISI TENTANG SASTRA
Apakah sastra itu? Mengapa sastra itu ada? Dari mana munculnyakesusasastraan? Untuk apa kita mempelajari sastra? Untuk apa teori-teorisastra dipelajari? Tentunya cukup banyak usaha yang dilakukan sepanjangmasa untuk memberi batasan yang tegas atau pertanyaan itu, dari berbagai pihak dan dengan pendekatan yang berbeda-beda. Tetapi, batasan manapun juayang pernah diberikan oleh ilmuwan ternyata diserang, ditentang, dandisangsikan atau terbukti tidak kesampaian.karena hanya menekankan satuatau beberapa aspek saja, atau ternyata hanya berlaku untuk sastra tertentu.Atau yang sebaliknya terjadi, adakalanya batasan ternyata terlalu luas danlonggar, sehingga melingkupi banyak hal yang jelas bukan sastra. Masalahnya:secara intuisi sedikit banyaknya tahu segala apakah yang hendak disebut sastra,tetapi begitu kita mencoba membatasinya segala itu luput dari tangkapan kita.Memang seringkali secara umum dapat dilakukan bahwa definisi sebuahgejala dapat kita dekati dari namanya. Sudah tentu definisi semacam itu biasanya tidak sempurna, harus diperhalus atau diperketat kalau gejala tersebutmau dibicarakan secara ilmiah, meskipun begitu manfaat tinjauan dari segi pemakaian bahasa sehari-hari sebagai titik tolak. Seringkali cukup baik. Dalam
 TEORI DAN APRESIASI SASTRA
1
 
 bahasa-bahasa Barat, gejala yang ingin kita perikan dan batasi disebut
literature
(Inggris),
literature
(Jerman),
litterature
(Perancis), semuanya berasal dari bahasa Latin
 Litteratura
. Kata
 Litteratura
sebetulnya diciptakansebagai terjemahan dari kata Yunani grammatika;
literatura
dan
 grammatical 
masing-masing berdasarkan kata
littera
dan
 gramma
yang berarti “huruf”(tulisan,
letter 
). Menurut asalnya
 Litteratura
dipakai untuk tata bahasa dan puisi;
literature
dan seterusnya, umumnya berarti dalam bahasa Barat Modern:segala sesuatu yang tertulis, pemakaian bahasa dalam bentuk tulis.Sebagai bahan banding, kata sastra dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Sansekerta; akar kata
 sas
-, dalam kata kerja turunan berarti‘mengarahkan, mengajar, memberi petunjuk atau instruksi’. Akhiran – 
tra
 biasanya menunjukkan alat, sarana. Maka,
 sastra
dapat berarti ‘alat untuk mengajar, buku petunjuk, buku instruksi atau pengajaran’. Awalan
 su
- berartibaik, indahperlu dikenakan kepada karya-karya sastra untumembedakannya dari bentuk pemakaian bahasa lainnya. Kata
 susastra
nampaknya tidak terdapat dalam bahasa Sansekerta dan Jawa Kuno (Gonda1952; Zoetmulder 1982), jadi
 susastra
adalah ciptaan Jawa dan/atau Melayu.Pandangan-pandangan ini didasarkan pada suatu anggapan bahwa cirikhas sastra adalah pemakaian bahasa yang indah. Persoalannya adalah tidak semua karya sastra (terutama terlihat pada seni-seni modern) menggunakan
 TEORI DAN APRESIASI SASTRA
2
 
 bahasa yang indah dan berbunga-bunga. Foucalt menyebutkan bahwa sastramodern lahir dan bertumbuh di dalam kemapanan bahasa dan kungkungan pola-pola linguistik yang kaku. Oleh karena itu, sastra modern berlomba-lombamentransgresikan dirinya pada suatu ruang abnormal. Sastra modern justrumenawarkan suatu dunia dan bahasa yang aneh dalam kesadaran masyarakat.Benarlah bahwa definisi mengenai ‘sastra’ dan upaya merumuskan ‘cirikhas sastra” sudah banyak dilakukan orang, tetapi sampai sekarang agaknya belum memuaskan semua kalangan. Luxemburg, et al (1986:3-13)menyebutkan alasan mengapa definisi-definisi mengenai sastra tidak pernahmemuaskan. Alasan-alasan itu adalah: 1) orang ingin mendefinisikan terlalu banyak sekaligus tanpa membedakan definisi deskriptif (yang menerangkanapakah sastra itu) dari definisi evaluatif (yang menilai suatu teks yangtermasuk sastra atau tidak); 2) sering orang mencari sebuah definisi ontologiyang normatif mengenai sastra yakni definisi yang mengungkapkan hakikatsebuah karya sastra. Definisi semacam ini cenderung mengabaikan fakta bahwa karya tertentu bagi sebagian orang merupakan sastra, tetapi bagi orangyang lain bukan sastra; 3) orang cenderung mendefinisikan sastra menurutstandar sastra Barat, dan 4) definisi yang cukup memuaskan hanya berkaitandengan jenis tertentu (misalnya puisi) tetapi tidak relevan diterapkan padasastra pada umumnya.
 TEORI DAN APRESIASI SASTRA
3

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->