Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
57Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Makalah Ushul Fiqh

Makalah Ushul Fiqh

Ratings:

5.0

(1)
|Views: 5,110 |Likes:
Published by muhajir hajir

More info:

Published by: muhajir hajir on Dec 14, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/10/2013

pdf

text

original

 
KEHUJJAHAN
 ISTISHHAB
DALAMPANDANGAN ULAMA USHUL FIQHPendahuluan
Para ahli ushul fiqh sepakat bahwa sumber hukum syariat terdiri atas al-Qur’an,Hadits,
ijma’ 
, dan
Qiyas
. Di samping ketiga sumber hukum tersebut ada juga
istishan
,
istishhab
,
masalah mursalah.
Islam memberikan kemudahan bagi umatnya untuk melakukan suatu amalibadah, berdasarkan sumber-sumber hukum yang telah ada, diharapkan dapatmelaksankan suatu ibadah tanpa kesukaran dan kesulitan. Oleh karenanya umat Islamdiberi ilmu dan akal fikiran untuk menggali hukum-hukum dan berijtihad berdasarkankemampuanya dan kapasitas keilmuannya. Sebagai mana disebutkan dalam haditsnabi.Dalam hadits Rasulullah menanyakan pada sahabat Mu’adz:
"Bagaimana (cara)kamu menetapkan hukum apabila dikemukakan suatu peristiwa kepadamu? Mu'adz menjawab: Akan aku tetapkan berdasar al-Qur'an. Jika engkau tidak memperolehnyadalam al-Qur'an? Mu'adz berkata: Akan aku tetapkan dengan sunnah Rasulullah. Jika engkau tidak memperoleh dalam sunnah Rasulullah? Mu'adz menjawab: Akuakan berijtihad dengan menggunakan akalku dengan berusaha sungguh-sungguh.(Mu'adz berkata): Lalu Rasulullah menepuk dadanya dan berkata: Segala puji bagi Allah yang telah memberi petunjuk petugas yang diangkat Rasulullah, karena iaberbuat sesuai dengan yang diridhai Allah dan Rasul-Nya.
" (HR. Ahmad Abu Dauddan at-Tirmidzi)Dari hadits ini dapat dipahami bahwa seorang boleh melakukan ijtihad dalammenetapkan hukum suatu peristiwa jika tidak menemukan ayat-ayat al-Qur'an dan al-Hadits yang dapat dijadikan sebagai dasarnya.Makalah ini akan membahas masalah
istishhab
, sejauh mana kehujjahannyamenurut pandangan ulama ushul fiqh.
Pengertian
Arti 
 Istishhab
 (باحصتسل) pada loghot ialah menuntut bersahabat atau menuntut beserta.
1
Atau Menurut bahasa adalah mencari pertemanan.
2
1 Muhammad ibn Hasan ibn Hasan al-Jizani,
Mu’alimu Ushul Fiqh ‘inda Ahlu Sunnah wal  Jama’ah
, (Riyad: Dar ibnul Jauzi, 1419 H), hal. 216.
2
Wahbah al- Zuhaily,
Ushul Fiqh al-Islam
, (Bairut: Dar al-Fiqr, 1998) hal. 859.
1
 
Danmunurut arti istilah ulama ushul ialah menetapakan hukum pekerjaan padamasa yang lalu karena dianggap tidak ada pada masa sekarang.
3
 Menurut ulama ahluushul fiqh yaitu menetapkan hukum suatu perkara pada zaman sekarang atau zamanyang akan datang sesuai dengan hukum yang ada pada pada masa lampau karena tidak ada dalil yang merubahnya.
4
Sebagian lain menjelaskan,
istishhab
ialah melestarikan suatu ketentuan hukumyang telah ada pada waktu lalu, hingga ada dalil yang mengubahnya.
5
 Menurut Imam as-Syaukany:
هري ّغ ام دجو ل ام رم ءاقب و احصتس
 Istishhab
adalah dali yang mengandung tetapnya suatu perkara selama tidak adasuatu yang mengubahnya.
6
Tetapnya sesuatu perkara selama tidak ada dalil yangmerubahnya. Istilah ini bisa dipahami dengan makna : apa yang sudah ditetapkan padamasa lalu pada dasarnya merupakan sebagai sebuah ketetapan pula pada masa yangakan datang. ”Menurut Abdul Karim Zaidan (ahli Ushul Fiqh Berkebangsaan Mesir),
istishhab
yaitu menganggap tetapnya sesuatu seperti keadaannya semula selama belum terbuktiada sesuatu yang mengubahnya.
7
Menurut Ibnu Hazm,
istishhab
adalah tetapnya hukum asal yang ditetapkandengan nas sampai adanya dalil yang merubahnya, beliau membatasi istishhab denganhukum asal yang didasarkan pada nas, bukan hanya hukum asal yang ditetapkan darikebolehkan semata.
8
Menurut Ibnu al-Qayyim al-Jawziyah tokoh ushul fiqh Hanbali, yaitu:
اي ّفنم اك ام ف  اتباث اك ام اث ةمدتس
Yaitu tetapnya sebuah ketentuan yang sebelumnya sudah menjadi suatuketentuan atau tetapnya sebuah larangan yang sebelumnya sudah menjadi larangan.Menempatkan berlakunya suatu hukum yang telah ada atau meniadakan sesuatu yangmemang tiada samapai ada bukti yang mengubah kedudukannya. Misalnya, seseorang
3 Abdul Karim Amrullah,
 Pengantar Ushul Fiqh
, (Jakarta: PT. Pustaka Panjimas, 1984),hal.1194 Wabah Zuhaiy, hal. 8
Ushul 
 
 Fiqh
..., 859.5 Muhammad ibn ‘Ali al-Syaukani,
 Irsyad al-Fuhul ila Tahqiq al_Haqq min ‘Ilm al-Ushul 
,Bairut: Dar al-Fiqr, t.th. hal. 237.6 Muhamada Abu Zahrah,
Ushul Fiqih
, (Jakarta: PT. Pustka Firdaus dengan P3M, 1994),hal. 451.7 Satrio Effendi,
Ushul Fiqh
, (Jakarta : Prenada Media, 2005), hal. 159.8
 Ibid 
. hal, 856.
 
yang diketahui masih hidup pada masa tertentu, tetapi dianggap telah wafat.Demikian pula halnya, seseoranga yang sudah memastikan bahwa ia telah berwudhu,dianggap tetap wudhunya selama belum terjadi hal yang membuktikan batalwudhunya. Dalam hal ini adanya keraguan batalnya wudhu tanpa bukti yang nyata,tidak bias mengubah kedudukan hukum wudhu tersebut.
9
 Istishhab
ialah menjadikanlestari keadaan sesuatu yang sudah ditetapkan pada masa lalu sebelum ada dalil yangmerubahnya.
Jadi, apabila sudah ditetapkan suatu perkara pada suatu waktu, maka ketentuanhukumnya seperti itu, sebelum ada dalil baru yang mengubahnya. Sebaliknya apabilaseuatu perkara telah ditolak pada suatu waktu, maka penolakan tersebut tetap berlakusampai akhir masa, sebelum terdapat dalil yang menerima (mentsabitkan) perkara itu.
Macam-macam
 Istishhab
Menurut Abu Zahrah menyebutkan empat macam
istishhab
sebagai berikut:1.
 Istishhab
 
al-ibahah al-ashliyah
Yaitu
istishhab
yang didasarkan atas hukum asal dari sesuatu yang mubah(boleh).
 Istishhab
semacam ini banyak berperan dalam menetapkan hukum di bidangmuamalah. Landasannya adalah setiap prinsip yang mengatakan, bahwa dasar darisesuatu yang bermanfaat boleh dilakukan dalam kehidupan umat manusia selamatidak ada dalil yang melarangnya, misalnya makanan, minuman, hewan, tumbuh-tumbuhan dan lain-lain selama tidak ada dalil yang melarangnya, adalah halaldimakan atau boleh dikerjakan. Prinsip tersebut berdasarkan ayat 29 Surat al-Baqarah:
uuuqèd
 
Ï
%
 © 
!
$
#
 
Yn
=
y
{
 
Nä3s9
 
$
¨
B
 
Îû
 
ÇÚöF
{
$
#
 
$YèÏJy_
 
§
NèO
#
uqtGó$
#
 
n
<
Î
)
 
Ïä
!
$yJ¡¡9$
#
 
£`ßg1
§
q|¡sù
 
yìö7y
;
Nºu
»
q yJy
 
4
 
uqèdur
 
Èe@ä3Î
/
 
>
äóÓx
«
 
×
LìÎ
=
 
ÇËÒÈ
 
 Dia-lah Allah, yang menjadikan
segala
yang ada di bumi untuk kamu dan Diaberkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Mahamengetahui segala sesuatu.( 
QS. Al-Baqarah 2: 29)Ayat tersebut menegakan bahwa segala apa yang ada di bumi dijadikan untuk umat manusia dalam pengertian boleh dimakan makananya atau boleh dilakukan hal-hal yang membawa manfaat bagi kehidupan manusia. Dalam konteks ini, jika adalarangan berarti pada makanan atau dalam perbuatan itu terdapat bahaya bagikehidupan manusia. Maka berdasarkan hal tersebut di atas, sesuatu makanan atau
9
 Ibid 
.10 Sulaiman Abdullah,
Sumber Hukum Islam Permasalahan dan Fleksibilitasnya
, (Jakarta:Sinar Grafika, 1995), hal. 158.
3

Activity (57)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Ridwani Cirebon liked this
galuhanidya liked this
Muhammad Alqamar liked this
Tir Tian liked this
Wahyu Sugito liked this
Nisa Nisken liked this
Agus Salim liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->