Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
7Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Aku dan Kakakku

Aku dan Kakakku

Ratings: (0)|Views: 1,992 |Likes:
Published by tiara_nien
This is actually an entry for some short-story competition a few years ago. I didn't win (actually, I don't know what happened to the competition afterward), and this is also not much of a story, of course. But if you read it, please give some feedback so I can improve my writing quality! ^_^
This is actually an entry for some short-story competition a few years ago. I didn't win (actually, I don't know what happened to the competition afterward), and this is also not much of a story, of course. But if you read it, please give some feedback so I can improve my writing quality! ^_^

More info:

Published by: tiara_nien on Dec 14, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/07/2013

pdf

text

original

 
Kakakku dan Aku
Aku memiliki seorang kakak perempuan.Orangnya agak aneh, dan sering membuat masalah.Kisahku dengannya telah dimulai sejak aku lahir hingga sekarang, dannampaknya takkan pernah berakhir.***Aku berumur tiga tahun, kakakku berumur tujuh tahun.Saat itu, kelas kakak mengadakan pembacaan karangan murid-muridnyakepada para orangtua murid, dan dengan mengejutkan, karangan kakakku terpilihmenjadi salah satu karangan terbaik. Ibuku yang bangga membawaku, yang masihterlalu kecil untuk ditinggal sendiri di rumah, ke sekolah.Kuketahui bertahun-tahun setelahnya, (saat itu aku masih terlalu kecil untuk mengerti) tema karangannya adalah ‘Keluarga’. Tapi berbeda dari karangan teman-temannya yang normal yang menulis tentang ayah atau ibunya, kakakku yang barukelas dua SD memilih aku sebagai tema utama. AKU.Ia memulai pembacaannya, dengan rasa percaya diri yang tinggi dan semangatyang meledak-ledak, khas dirinya.“Adikku, karya Adinia Kirara.” , dia berhenti sejenak dan memandang aku danibu. Ibu tersenyum menyemangati. Kakak melanjutkan.“Aku punya seorang adik laki-laki. Namanya Adiwan Prayogi. Dia berumur tiga tahun, beda empat tahun denganku. Dia lahir tanggal 25 Maret 1987. Bertepatandengan hari ulang tahunku yang keempat. Aku sayaaaaaa...ang sekali pada adikku.Dia lucu sekali. Pipinya tembem, bulat dan berwarna merah, tiap aku melihat dia, akuteringat pada roti coklat yang masih panas. (sepertinya pada kalimat ini seluruh orangtua disitu tertawa). Matanya bulat, bundar seperti kelereng, dan warnanya coklat tua.Aku teringat pada bola kaca kalau sedang memandang matanya.“ Meskipun dia sangat lucu, Yogi kadang-kadang nakal. Aku sering kesalkarena dia. Dia pernah mengencingi dadaku ketika aku membuka popoknya. Tapikata ayah itu karena anunya selalu berdiri jadi tidak bisa pipis dengan benar. Kataayah kalau dia sudah besar anunya akan baik-baik saja dan tidak akan mengencingiorang lagi.”
 
Dan semua orangtua di kelas itu, termasuk gurunya, meledak tertawa.Menertawakan anuku.Tapi karena kakakku terlalu kecil atau terlalu bodoh, dia tidak menyadari apayang ditertawakan orang-orang dan melanjutkan membaca, tetap dengan riang dan bersemangat.“Dia juga belum bisa pup dengan benar, jadi dia tidak ke kamar mandi dulukalau mau pup. Tapi dia langsung pup di tempat. Waktu ibu terlambat mengganti popoknya, (kata ibu, mukanya menjadi sangat merah ketika kakak menyebutkan bagian ini) Yogi mengoles-oles pupnya ke lantai, membuat gambar-gambar lucu.Lantai rumah jadi kotor dan sampai sekarang masih ada bekasnya, tapi aku banggakarena adikku bisa menggambar.”Lagi-lagi semua orangtua di kelas, termasuk guru, meledak tertawa.Menertawakan pupku.Masih banyak kelanjutan karangan kakakku, terlalu memalukan jika kuingatlagi semuanya.Aku tidak mengerti, tapi ingatan ibu-ibu tampaknya memang sangat kuat.Beberapa tahun berselang (dan aku akhirnya sudah mencapai usia cukup untuk  berpikir jernih, dan tentunya, merasakan malu), ibu-ibu tetangga yang kadang-kadang berkunjung ke rumah masih suka tertawa dan menanyai dimana bekas pupku itu.***Aku berumur enam tahun, kakakku berumur sepuluh tahun.Hari ini hari pertamaku masuk sekolah.Kakakku yang khawatir pada adik kecilnya menggandeng tanganku sepanjanghari dan terus-terusan bertanya, “Yogi, kamu mau pipis? Atau mau makan sekarang?Kakak bawa chiki dan permen buat Yogi...”Sampai akhirnya guru kami berdua datang dan memisahkan genggamantangannya padaku.Kakak terlihat lebih khawatir daripada diriku.Ketika pulang sekolah, ia menghampiri kelasku dan langsung menggamittanganku dan mengajakku pulang. Aku yang masih kecil senang karena punyaseorang kakak yang hebat. Namun seminggu kemudian, saat teman-teman mulai mengejekku manja, akumenepis tangannya.
 
Aku pulang sendiri, dengan membusungkan dada, dengan kebanggaan seoranganak usia enam tahun yang tidak ingin dikatai manja.Yang tidak kuketahui adalah kakak terus mengawasiku dari belakang,memastikan tak ada mobil yang akan menabrakku, tak ada anjing yang akanmenggigitku, dan tak ada anak yang menggangguku.Aku sempat diganggu sekelompok anak kelas tiga yang kerjanya mengompasanak-anak yang lebih kecil. Beberapa hari kemudian mereka tidak menunggu di depansekolah lagi. Bahkan, mereka menghilang entah kemana.Aku baru mengetahui alasannya besok. Guru dan beberapa orangtua datangkerumah kami untuk memarahi kakak. Anak-anak itu ternyata terbaring di rumahdengan kepala benjol-benjol.Kakakku hanya tersenyum lebar saat diinterogasi.***Aku berumur delapan tahun, kakakku berumur dua belas tahun.Kakakku baru saja masuk SMP, dan akhirnya setelah sekian tahun lamanyaaku tidak satu sekolah dengannya.Enam bulan setelahnya, aku yang duduk di kelas 3 SD dan kakak dibagi rapor  pada hari yang sama. Papa menemaniku pergi ke pembagian rapor.Pak Guru memulai dengan memuji, “Yogi sangat pintar, pak. Semua nilainyatidak ada yang dibawah sembilan, dan kelakuannya sehari-hari juga baik... Samaseperti kakaknya dulu...”Sama seperti kakaknya.Sama seperti kakaknya, adalah kata-kata yang selalu kuterima tiap akumenerima nilaiku.Sepulang sekolah, kami bertemu dengan mama dan kakak yang juga baru pulang dari SMP.Kakakku lagi-lagi mendapat nilai sempurna, dan dia juga meraih peringkatsatu, tidak hanya di kelasnya, tapi juga di sekolahnya.Aku hanya meraih peringkat ketiga di sekolah.Saat itulah aku tahu, ada yang salah.***Aku berumur sepuluh tahun. Kakakku berumur empat belas tahun.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->