Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
5Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Berjabat Tangan

Berjabat Tangan

Ratings: (0)|Views: 144 |Likes:
Published by Hafizul Hanis
boleh ke berjabat tangan antara lelaki dengan perempuan. Macam tak logik soalan tu tapi cuba la baca artikel ni..this article was given by someone who I know trough iluvislam. Credit to the writer
boleh ke berjabat tangan antara lelaki dengan perempuan. Macam tak logik soalan tu tapi cuba la baca artikel ni..this article was given by someone who I know trough iluvislam. Credit to the writer

More info:

Published by: Hafizul Hanis on Dec 17, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/27/2013

pdf

text

original

 
BERJABAT TANGAN ANTARA LAKI-LAKI DENGAN PEREMPUANEdisi terjemahan Indonesia
Pertanyaan:Sebuah persoalan yang sedang saya hadapi, dan sudah barang tentu juga dihadapiorang lain, iaitu masalah berjabat tangan antara laki-laki dengan wanita, khususnyaterhadap kerabat yang bukan mahram saya, seperti anak paman atau anak bibi, atau isterisaudara ayah atau isteri saudara ibu, atau saudara wanita isteri saya, atau wanita-wanitalainnya yang ada hubungan kekerabatan atau persemendaan dengan saya. Lebih-lebihdalam momen-momen tertentu, seperti datang dari bepergian, sembuh dari sakit, datangdari haji atau umrah, atau saat-saat lainnya yang biasanya para kerabat, semenda,tetangga, dan teman-teman lantas menemuinya dan bertahni'ah (mengucapkan selamatatasnya) dan berjabat tangan antara yang satu dengan yang lain.Pertanyaan saya, apakah ada nash Al-Qur'an atau As-Sunnah yangmengharamkan berjabat tangan antara laki-laki dengan wanita, sementara sudah sayasebutkan banyak motivasi kemasyarakatan atau kekeluargaan yang melatarinya,disamping ada rasa saling percaya. aman dari fitnah, dan jauh dari rangsangan syahwat.Sedangkan kalau kita tidak mahu berjabat tangan, maka mereka memandang kita orang-orang beragama ini kuno dan terlalu ketat, merendahkan wanita, selalu berprasangka buruk kepadanya, dan sebagainya.Apabila ada dalil syar'inya, maka kami akan menghormatinya dengan tidak ragu-ragu lagi, dan tidak ada yang kami lakukan kecuali mendengar dan mematuhi, sebagaikonsekuensi keimanan kami kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan jika hanya semata-matahasil ijtihad fuqaha-fuqaha kita terdahulu, maka adakalanya fuqaha-fuqaha kita sekarang boleh berbeza pendapat dengannya, apabila mereka mempunyai ijtihad yang benar,dengan didasarkan pada tuntutan peraturan yang senantiasa berubah dan kondisikehidupan yang selalu berkembang.Kerana itu, saya menulis surat ini kepada Ustadz dengan harapan Ustadz berkenanmembahasnya sampai ke akar-akarnya berdasarkan Al-Qur'anul Karim dan Al-Hadis asy-Syarif. Kalau ada dalil yang melarang sudah tentu kami akan berhenti; tetapi jika dalamhal ini terdapat kelapangan, maka kami tidak mempersempit kelapangan-kelapanganyang diberikan Allah kepada kami, lebih-lebih sangat diperlukan dan boleh menimbulkan"bencana" kalau tidak dipenuhi.Saya berharap kesibukan-kesibukan Ustadz yang banyak itu tidak menghalangiUstadz untuk menjawab surat saya ini, sebab - sebagaimana saya katakan di muka - persoalan ini bukan persoalan saya seorang, tetapi mungkin persoalan berjuta-juta orangseperti saya.Semoga Allah melapangkan dada Ustadz untuk menjawab, dan memudahkankesempatan bagi Ustadz untuk menahkik masalah, dan mudah-mudahan Dia menjadikanUstadz bermanfaat.
 
Jawapan:Tidak perlu saya sembunyikan kepada saudara penanya bahawa masalah hukum berjabat tangan antara laki-laki dengan perempuan - yang saudara tanyakan itu -merupakan masalah yang amat penting, dan untuk menahkik hukumnya tidak bolehdilakukan dengan seenaknya. Ia memerlukan kesungguhan dan pemikiran yang optimaldan ilmiah sehingga si mufti harus bebas dari tekanan fikiran orang lain atau fikiran yangtelah diwarisi dari masa-masa lalu, apabila tidak didapati acuannya dalam Al-Qur'an danAs-Sunnah sehingga argumen-argumennya dapat didiskusikan untuk memperoleh pendapat yang lebih kuat dan lebih mendekati kebenaran menurut pandangan seorangfaqih, yang di dalam pembahasannya hanya mencari ridha Allah, bukan memperturutkanhawa nafsu.Sebelum memasuki pembahasan dan diskusi ini, saya ingin mengeluarkan dua buah gambaran dari lapangan Perbezaan pendapat ini, yang saya percaya bahawa hukumkedua gambaran itu tidak diperselisihkan oleh fuqaha-fuqaha terdahulu, menurut pengetahuan saya. Kedua gambaran itu ialah:Pertama, diharamkan berjabat tangan dengan wanita apabila disertai dengansyahwat dan taladzdzudz (berlazat-lazat) dari salah satu pihak, laki-laki atau wanita(kalau keduanya dengan syahwat sudah barang tentu lebih terlarang lagi; penj.) ataudibelakang itu dikhuwatirkan terjadinya fitnah, menurut dugaan yang kuat. Ketetapandiambil berdasarkan pada hipotesis bahawa menutup jalan menuju kerosakan itu adalahwajib, lebih-lebih jika telah tampak tanda-tandanya dan tersedia sarananya.Hal ini diperkuat lagi oleh apa yang dikemukakan para ulama bahawa bersentuhan kulit antara laki-laki dengannya - yang pada asalnya mubah itu - boleh berubah menjadi haram apabila disertai dengan syahwat atau dikhuwatirkan terjadinyafitnah,[1] khususnya dengan anak perempuan si isteri (anak tiri), atau saudarasepersusuan, yang perasaan hatinya sudah barang tentu tidak sama dengan perasaan hatiibu kandung, anak kandung, saudara wanita sendiri, bibi dari ayah atau ibu, dansebagainya.Kedua, kemurahan (diperbolehkan) berjabat tangan dengan wanita tua yang sudahtidak mempunyai gairah terhadap laki-laki, demikian pula dengan anak-anak kecil yang belum mempunyai syahwat terhadap laki-laki, kerana berjabat tangan dengan mereka ituaman dari sebab-sebab fitnah. Begitu pula bila si laki-laki sudah tua dan tidak mempunyai gairah terhadap wanita.Hal ini didasarkan pada riwayat dari Abu Bakar r.a. bahawa beliau pernah berjabat tangan dengan beberapa orang wanita tua, dan Abdullah bin Zubair mengambil pembantu wanita tua untuk merawatnya, maka wanita itu mengusapnya dengantangannya dan membersihkan kepalanya dari kutu.''[2]
 
Hal ini sudah ditunjukkan Al-Qur'an dalam membicarakan perempuan-perempuantua yang sudah berhenti (dari haid dan mengandung), dan tiada gairah terhadap laki-laki,dimana mereka diberi keringanan dalam beberapa masalah pakaian yang tidak diberikankepada yang lain:“Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung)yang tiada ingin kahwin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian merekadengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik  bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (an-Nur: 60)Dikecualikan pula laki-laki yang tidak memiliki gairah terhadap wanita dan anak-anak kecil yang belum muncul hasrat seksualnya. Mereka dikecualikan dari sasaranlarangan terhadap wanita-wanita mukminah dalam hal menampakkan perhiasannya.“... Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlahmenampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau putera-putera suamimereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-lakimereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atauhamba-hamba yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyaikeinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang auratwanita ...” (an-Nur: 31)Selain dua kelompok yang disebutkan itulah yang menjadi tema pembicaraan dan pembahasan serta memerlukan pengkajian dan tahkik.Golongan yang mewajibkan wanita menutup seluruh tubuhnya hingga wajah dantelapak tangannya, dan tidak menjadikan wajah dan tangan ini sebagai yang dikecualikanoleh ayat:“... Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa tampak daripadanya ...” (an-Nur: 31)Bahkan mereka menganggap bahawa perhiasan yang biasa tampak itu adalah pakaian luar seperti baju panjang, mantel, dan sebagainya, atau yang tampak keranadarurat seperti tersingkap kerana ditiup angin kencang dan sebagainya. Maka tidak menghairankan lagi bahawa berjabat tangan antara laki-laki dengan wanita menurutmereka adalah haram. Sebab, apabila kedua telapak tangan itu wajib ditutup makamelihatnya adalah haram; dan apabila melihatnya saja haram, apa lagi menyentuhnya.Sebab, menyentuh itu lebih berat daripada melihat, kerana ia lebih merangsang,sedangkan tidak ada jabat tangan tanpa bersentuhan kulit.Tetapi sudah dikenal bahawa mereka yang berpendapat demikian adalah golonganminoriti, sedangkan majoriti fuqaha dari kalangan sahabat, tabi'in, dan orang-orangsesudah mereka berpendapat bahawa yang dikecualikan dalam ayat "kecuali yang biasatampak daripadanya" adalah wajah dan kedua (telapak) tangan.

Activity (5)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
Muzakki Zakaria liked this
Muzakki Zakaria liked this
khairunnisa liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->