Dengan kata lain, software merupakan bagian dari suatu sistem komputer yang tidak bisa dipisahkan denganperangkat lainnya. Tanpa adanya software maka suatu sistem komputer tidak akan bisa digunakan sebagaimanamestinya. Artinya, keberadaan software dalam suatu sistem komputer adalah mutlak adanya.Software itu sendiri merupakan suatu karya/kekayaan intelektual yang dilindungi oleh Undang-Undang, sehingga hal-hal yang berkaitan dengan penggunaannya (seperti penyalinan, pengunduhan, sharing, penjualan, atau penginstalan)haruslah sesuai dengan aturan perundang-undangan yang berlaku.Dimana salah satu ketentuan untuk dapat menggunakan software secara legal, seseorang haruslah memiliki izin darisi pemegang hak cipta software tersebut, yang disebut dengan lisensi. Tanpa adanya lisensi, maka penggunaan darisuatu software tersebut adalah ilegal.Lebih tegasnya lagi,
Business Software Alliance
(2009)
di dalam situsnya menyatakan bahwa :
Pembajakan piranti lunak adalah penyalinan atau penyebaran secara tidak sah atas piranti lunak yang dilindungi undang-undang. ... Yang tidak disadari atau tidak terpikirkan oleh banyak orang adalah bahwa, saat Anda membeli piranti lunak,sebenarnya Anda membeli lisensi untuk menggunakannya, bukan membeli piranti lunaknya. Lisensi itu adalah sesuatuyang memberi tahu Anda seberapa banyak Anda dapat menginstal piranti lunak tersebut, dan Anda harus membacanya.Jika Anda menyalin piranti lunak tersebut melebihi izin lisensi, berarti Anda melakukan pembajakan.
Dari pernyataan di atas, tidaklah mengherankan jika pembajakan software atau penggunaan software secara ilegal,banyak dilakukan karena ketidaktahuan kita terhadap ketentuan-ketentuan yang ada.
Dasar Hukum dan Sanksi
Indonesia telah memiliki Undang-Undang yang mengatur tentang hak cipta, yaitu Undang-Undang Republik IndonesiaNomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta. Dimana di dalam Undang-Undang tersebut dijelaskan berbagai ketentuanyang berkaitan dengan hak cipta, termasuk hak cipta suatu software.Di dalam Undang-undang tersebut, diatur pula mengenai sanksi bagi siapa saja yang melakukan pelanggaran hak cipta, diantaranya adalah :
1.
Penjara minimal 1 (satu) bulan dan/atau denda minimal Rp. 1.000.000,- (Satu Juta Rupiah) atau maksimal 7(tujuh) tahun penjara dan/atau denda maksimal Rp. 5.000.000.000,- (Lima Milyar Rupiah).Bagi siapa saja yang dengan sengaja dan tanpa ijin dari pencipta atau pemegang hak cipta, menerbitkan ataumenduplikasi suatu ciptaan ataupun memberikan ijin untuk melakukannya;
2.
Penjara maksimal 5 (lima) tahun dan/atau denda maksimal Rp 500.000.000,- (Lima Ratus Juta Rupiah).Bagi siapa saja yang dengan sengaja dan tanpa ijin dari pencipta atau pemegang hak cipta, menyiarkan,memamerkan, mendistribusikan atau menjual suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran hak cipta3. Gugatan ganti rugi dari pemegang hak cipta.
Alternatif Solusi
Untuk menghindari pelanggaran terhadap hak cipta dalam hal penggunaan software, setidaknya ada dua alternatif solusi yang dapat kita pilih. Diantaranya adalah :
1.
Solusi Proprietary
Solusi Proprietary adalah solusi untuk menghindari pelanggaran hak cipta dengan cara menggunakan software-software yang menganut lisensi
proprietary
. Dimana software yang menganut lisensi
proprietary
ini,
tidak mengizinkan
penggunanya untuk mengubah, mengkopi dan menyebarluaskan software tersebut. Pada umumnyapemegang hak ciptanya mengharuskan para penggunanya untuk membeli lisensi dari software tersebut agarpengguna dapat secara legal menggunakan software dimaksud. Contoh software yang menganut lisensi proprietaryini diantaranya adalah Microsoft Windows, Microsoft Office, Adobe Photoshop, CorelDraw, dll.