• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI (STIE)SUMATERA BARAT
KONFLIK DAN PERUBAHAN POLITIK 
Oleh : Febria Marta Siska
A.KONFLIK PEMILU LEGISLATIF DAN PILPRESKonflik Lembar Suara dan Bilik Pemungutan Suara
Lembar suara dalam Pemilu 2009 berukuran sangat besar sebagai akibat dari jumlah partai yang sangat banyak (Pemilu Legislatif 2009 memiliki 38 partai peserta). Ukuran yang besar ini ternyata tidak disesuaikan dengan besarnya bilik tempat pemungutan suara dilakukan. Silakan lihat gambar yang saya ambil dalamsalah satu simulasi Pemilu dibawah ini.Kertas yang besar dengan lipatan yang tidak mudah. Berbagai hal akanmuncul sebagai dampak dari ukuran bilik yang kecil yang sudah tentu akanmerugikan berbagai pihak.1
|
Febria Marta Siska
 
Y   
P  
E
S
I
D
A
 
Setiap pemilih membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membuka danmenutup lembar suara kedalam bentuk lipatan yang benar. Akibatnya, antrian akanmenjadi panjang dan membuat TPS mengalami kesulitan tutup pada jam yang sudahdisepakati.Ada beberapa pemilih yang membuka lembar suara sambil memegang pulpen.Akibatnya bisa terjadi coretan tidak sengaja yang bisa membuat lembar suara tersebutmenjadi tidak sah! Coretan tersebut terjadi –lagi-lagi– akibat membuka lembar suarayang besar didalam bilik yang kecil.Pada beberapa daerah pilih, lembar suara tidak hanya besar, tetapi juga terdiridari dua lembar suara.Tentu hal ini semakin membuat pemilih merasa kesulitan, baik saat membuka, melipat bahkan memasukannya kedalam kotak suara.
Konflik Penghitungan Manual dengan Penghitungan Elektronik 
Entah kenapa, para perancang Undang-undang Pemilu di negara kita ini benar- benar tidak mau mempercayai teknologi. Buktinya, Indonesia tetap memilihmenggunakan hitungan manual di abad informasi saat ini. Hitungan secara eletronik diperkenankan, tetapi yang menjadi patokan tetap hitungan manual yang yanghasilnya bisa memakan waktu satu bulan. Padahal selain masalah waktu yang jikadinilai dengan uang adalah sulit, penggunaan IT juga akan memangkas biaya secarasignifikan –tentu dengan catatan jika dibuat dengan benar.Oleh sebab itu, tidak berlebihan kiranya jika bangsa Indonesia mulaimemikirkan untuk menggunakan IT dalam pemungutan suara di tahun 2014 sepertiyang telah dilakukan oleh banyak negara maju di dunia. Penggunaa IT dalam pemilu berikutnya bukan hanya membicarakan masalah waktu dan biaya, namun juga sesuatuyang lebih penting yakni masalah transparansi hasil Pemilu.
Konflik Penyimpanan Data yang Berupa Excel atau DBMS
Bahan dasar dari sebuah pemungutan suara tidak lain adalah pemilihnya.Artinya data pemilih sangat memegang peranan atas kesuksesan atau tidaknya sebuahPemilu. Sayangnya, lagi-lagi IT kurang dimanfaatkan untuk hal ini. Data-data pemilihdisimpan dalam file Excel yang memiliki beragam format yang sudah tentu2
|
Febria Marta Siska
 
menyulitkan dalam pemeliharaannya. Pemeliharaaan sulit otomatis membuat kualitasdata menjadi kurang baik. Inilah salah satu yang membuat DPT memiliki banyak masalah dan membuat KPU berwacana untuk mengubah DPTmenjelang Pemilu digelar.Memelihara data pemilih sebanyak 171 jutadari 33 propinsi bukan lah perkaramudah, apalagi dilakukan menggunakan sistem semi manual seperti yang dilakukanKPU saat ini. Diperlukan sebuah sistem dengan DBMS yang baik sehingga pemeliharaannya jauh lebih mudah dan tentu akan menghasilkan kualitas data yang jauh lebih baik. Saya tidak percaya jika tidak ada satu pun SDM Indonesia yangmampu membuat ini semua dengan biaya yang relatif murah.
Dari 25 kecamatan di Kabupaten Asahan, pasangan SBY-Boediono dengan nourut 2 mengungguli dua pasang capres dan cawapres lainnya dengan meraih 215.061suara atau 46%.Pasangan Mega-Pro dengan no urut 1 meraih 89.542 suara atau 19,25%,disusul no urut 3 pasangan JK-Win mengumpulkan 17.856 suara atau 3,84%.Sementara masalah DPT dan pemilih ganda masih mewarnai pilpres 2009 di KabAsahan.Ketua Panwaslu Husein Abduh kepada Waspada, tadi malam, menjelaskan,dalam pilpres 2009 banyak ditemukan pemilih yang di bawah umur yang masuk DPT."Berdasarkan pantauan kami di lapangan ada beberapa TPS yang mencantumkan pemilih di bawah umur dan di Desa Silau Balu TPS II ditemukan pemilih ganda," jelas Husein Abduh.Di tempat yang berbeda, Ketua KPUD Asahan Edy Prayetno melalui DivisiTeknis Penyelanggaraan M Yusuf Sinambela di konfirmasi Waspada, tadi malam,menjelaskan, kesalahan pemilih yang di bawah umur yang masuk di DPT dan pemilihganda adalah merupakan kesilapan yang dilakukan anggotanya yang kurang dalammeneliti dalam pengetikan.3
|
Febria Marta Siska
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...