Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
18Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Variabel Sosiolinguistik Kelas Sosial, (M. Yunis)

Variabel Sosiolinguistik Kelas Sosial, (M. Yunis)

Ratings: (0)|Views: 3,575|Likes:
Published by M. Yunis
kematian
kematian

More info:

Published by: M. Yunis on Dec 21, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

12/29/2012

pdf

text

original

 
VARIABEL SOSIOLINGUISTIK, KELAS SOSIAL, ETNIS DAN JENDER Oleh. M. YunisPendahuluan
‘’Kuliah di S2 di Unand bukan bertambah pintar tetapi bertambah bodoh’’,ejekan seperti ini sering penulis terima di saat berinteraksi dengan teman-teman diFakultas Sastra. Namun, bagi penulis sendiri sikap seperti itu adalah sebuah kodeyang sengaja dibuat dan dijadikan ideologi untuk menelanjangi dan membunuhkarakter. Adanya faktor iri maupun dengki atas ketidakmampuan, persisnyaungkapan orang-orang kalah secara intektual, merasa tidak senang atas kemajuanlembaganya sendiri. Sering penulis katakan ini adalah sebuah upaya untuk  penjajahan gaya baru melalui bahasa yang dimunculkan sebgai kode sosial.Begitulah besar pengaruh bahasa dalam penentuan kecerdasan intelektualkedepan.Bahasa sebagai alat kumunikasi sekligus alat penentu kelangusunganhidup sosial masyarakat, mampu membangun sebuah dunia baru, Lela Gandhimenyebutnya dunia ketiga atau kehancuran total seperti yang diungkapkan Nietczshe. Justru dengan kecairan berpikir munculnya dunia ketiga tersebut dapatdisambut dengan hangat, tentu saja cara berpikir yang jernih dan cerdas menjaditiang penyangga utama untuk melakukan itu. Sejalan dengan itu, tindakan kritisterhadap petrkembangan bahasa menyebabkan para kritikus mampu melihat lebih jauh apa yang tersembunyi di dalam bahasa yang mana di dalamnya terdapatsimbol dan kode-kode berbahaya dan bisa membuat penikmat bunuh-bunuhan dan parahnya menjurus terhadap pembunuhan intelektual.Sepadan dengan penulis ungkap di dalam salah satu judul artikel buku InMemorial Khaidir Anwar, ‘’Hyperrealitas dan Kematian intelektual’’ dan berikutmengulas tulisan yang senada ditulis oleh Dini Maulia ‘’Matinya MaknaRuntuhnya Ideologi’’, yang penulis kira masih mengusuh sebuah pesan untuk menghgidupkan intelektual yang mati suri, sebuah perencanaan, pengkodekanyang pelulis rasa mampu menggenjot cara berpikir. Beruntunglah padakesempatan kali ini, penulis mendapatkan topik menarik variebel sosiolinguistik,kelas sosial, etnis dan gender. Melalui kode-kode ini penulis akan berusahamenggambarkan fenomena yang sedang mengekspliotasi bahasa sehingga kelas,1
 
sosial, etni dan gender berkembang sangat liar, di samping itu penulis berusahamengungkap peran hagemoni yang mendasari keliaran tersebut.
Pembahasan1.Kelas sosial
Mengungkap tentang kelas sosial membawa kita bertamasya ke alamsosiologi, namun hal itu penulis pikir tidak bisa lepas dari konsep Marx tentangMarxisme atau membayangkan tentang
komunisme
, penyemblihan manusia,eksploitasi kaum akar rumput, takut, berbahaya, layaknya sebuah hantu yang siapmenerkam siapa saja yang menderita dan teraniaya, semuanya itu tidak lebihhanyalah sebuah masa lalu yang pahit.Zaman kemesan Marxisme sesungguhnya adalah sebuah zaman filsafatkecemerlangan (Pencerahan) abad XIX yang mengungkit Matrealisme, tetapimenentang matrelisme dualistik Feuerbach yang mana dia memandang objek sebagai yang dapat diamati dan tidak sebagai aktivitas kesadaran, perbuatanmanusia tidak sebagai praktek manusia (Marx dalam Muawiyah, 2009; 21).Sementara Marx sendiri sebagai penggagas menyatakan bahwa kenyataan itu betul ada secara objektif dan tidak hanya sekedar ide, pandangnya tentang sejarahadalah menjadi sebuah kunci, sebab manusia itu sendiri adalah kunci sejarah.Sejarah dari masyarakat yang ada hingga kini tidak lebih hanya sejarah pertentangan kelas antara budak dengan tuan, tukang dengan ahli, pemerintahdengan rakyat, laki-laki dengan perempuan, dosen dengan Mahasiswa. Artinya,sejarah hanyalah perseteruan antara yang tertindas dengan yang menindas tetapiakan berakhir disaat terciptanya masyarakat yang tidak berkelas.Sejalan dengan itu Miles dalam Lomba menyatakan bahwa pembentukankelas itu dilakukan dengan
rasialisasi
(Loomba, 2001;165). Rasialisasi yangdimaksudkan adalah tidak lebih dari tindakan penguasa (Kolonial) untumengakali kaum yang dianggap terbelakang (Budak), terkucil dari segi Ras, Etnis,Ekonomi untuk mengabdi kepada penguasa. Bisa dicontohkan dengan apa yangterjadi di Afrika, bahwa orang Afrika diperbolehkan menempati tanah orangEropa dengan bayaran orang Afrika bekerja untuk Eropa, setelah itu Eropamenerapkan pajak tunai yang berrujung pada pengabdian total (eksploitasi) orang2
 
Afrika sebagai pengganti pajak kepada Eropa,
 Neo Imperialisme
sebuah usahamengekplotasi dan mengkebiri hak-hak penduduk pribumi (Chomsky, 2008).Meminjam istilah Loomba, cara ini sangat mudah bagi orang Eropa karenaterlebih dahulu mereka telah membangun konsep
buas mulia
. Orang Afrika diberikesempatan memiliki tanah si Eropa jika mau bekerja sama dengan Eropa, berupa berpindah keyakinan, menetap dan bekerja untuk Eropa, maka orang Afrika yangmanut tersebut dinamakan dengan
 Buas Mulia,
 biar agak elit sedikit seperti yangdilakukan Marx sendiri berpindah keyakinan dari Yahudi ke protestan.Kode-kode yang serupa terus dibangun oleh orang Eropa untuk menjalankanmisi kolonialnya hingga ke ranah seksual, seperti cerita yang sering diangkat didalam kisah injil tentang Ratu Shaba dari Timur, bahwa Ratu yang datang ke KuilSalomon dengan membawa Emas dengan imbalan Ratu mendapatkan kepuasanseksual dari Sulaiman dan Ratu Indian yang memeluk agam Kristen seteah berlarut-larut bertentangan dengan Inggris, kemudian menikah dengan orangInggris, selanjutnya kode yang dibangun di dalam film
Scorpion King 
, yang manaseorang perempuan Timur yang mempunyai kesaktian tunduk di bawah Raja KalaJengking, padahal baginya keperawanan adalah kunci dari kesaktian itu. Nah,cerita ini selalu diungkit-ungkit oleh kolonial untuk menggambarkan ketundukan perempuan Timur, keluarga kerajaan, kelas, bercinta dengan dan diselamatkanoleh laki-laki Eropah akan menjadi cerita bagi perkembangan dunia sekarang.Loomba menyebutnya sebagai sebuah Fantasi Kolonial untuk menciptakan kelas baru bahwa perempuan Timur, kulit hitam, ras terbelakang adalah kelas rendahdan biadab perlu diberi kebudayaan ala Eropa (Penjajahan).Kelas menengah ke bawah bisa saja menempati posisi menyerupai kelas atas,tetapi bukan kelas atas. Kalaupun kelas menengah ke bawah memegang sebuahkekuasaan tepatnya diberi sedikit wewenang (rasisme) tetapi hanya wewenangyang bersifat menjajah saudaranya sendiri, peraturan dibuat untuk menekan,mengkebiri hak-hak kalangan bawah, contohnya kekurang ajaran yang dilakukanSatpol PP terhadap pedagang kaki lima. Sementara itu, kelas atas tiada pernahmenempati posisi kelas menengah ke bawah, kalaupun di antara mereka tidak mendapat kesemapatan memegang kekuasaan tetapi tetap mendapatkan perlakuanistimewa dari penguasa setempat, itu pasti sebab penguasa setempat didominasi3

Activity (18)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
NonkLhie liked this
Evul Choz liked this
naim777 liked this
Fha Toni liked this
Adamz Attackzz liked this
Rock Fender liked this
zahriman1901 liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->