Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
32Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Ptk Bahasa Indonesia

Ptk Bahasa Indonesia

Ratings: (0)|Views: 5,318|Likes:
Published by alamsyah50

More info:

Published by: alamsyah50 on Dec 21, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOCX, TXT or read online from Scribd
See More
See less

08/15/2013

pdf

text

original

 
A. Judul PenelitianPenggunaan Pendekatan Pragmatik dalam Upaya Meningkatkan Keterampilan Berbicarabagi Siswa SMPN 3 Tarakan Kalimantan Timuroleh Yones PB. Bidang KajianPenelitian ini meliputi Bidang Kajian sebagai berikut:1 Keterampilan Berbicara dalam Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di SMP.2 Pendekatan Pragmatik dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP.C. PendahuluanSalah satu aspek keterampilan berbahasa yang sangat penting peranannya dalam upayamelahirkan generasi masa depan yang cerdas, kritis, kreatif, dan berbudaya adalahketerampilan berbicara. Dengan menguasai keterampilan berbicara, peserta didik akanmampu mengekspresikan pikiran dan perasaannya secara cerdas sesuai konteks dansituasi pada saat dia sedang berbicara. Keterampilan berbicara juga akan mampumembentuk generasi masa depan yang kreatif sehingga mampu melahirkan tuturan atauujaran yang komunikatif, jelas, runtut, dan mudah dipahami. Selain itu, keterampilanberbicara juga akan mampu melahirkan generasi masa depan yang kritis karena merekamemiliki kemampuan untuk mengekspresikan gagasan, pikiran, atau perasaan kepadaorang lain secara runtut dan sistematis. Bahkan, keterampilan berbicara juga akanmampu melahirkan generasi masa depan yang berbudaya karena sudah terbiasa danterlatih untuk berkomunikasi dengan pihak lain sesuai dengan konteks dan situasi tuturpada saat dia sedang berbicara.Namun, harus diakui secara jujur, keterampilan berbicara di kalangan siswa SMP,khususnya keterampilan berbicara, belum seperti yang diharapkan. Kondisi ini tidak lepasdari proses pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah yang dinilai telah gagal dalammembantu siswa terampil berpikir dan berbahasa sekaligus. Yang lebih memprihatinkan,ada pihak yang sangat ekstrim berani mengatakan bahwa tidak ada mata pelajaranBahasa Indonesia pun siswa dapat berbahasa Indonesia seperti saat ini, asalkan merekadiajari berbicara, membaca, dan menulis oleh guru (Depdiknas 2004:9).Sementara itu, hasil observasi empirik di lapangan juga menunjukkan fenomena yanghampir sama. Keterampilan berbicara siswa SMP berada pada tingkat yang rendah; diksi
 
(pilihan kata)-nya payah, kalimatnya tidak efektif, struktur tuturannya rancu, alurtuturannya pun tidak runtut dan kohesif.Demikian juga keterampilan berbicara siswa kelas VII-A SMPN 3 Tarakan, KalimantanTimur. Berdasarkan hasil observasi, hanya 20% (8 siswa) dari 40 siswa yang dinilai sudahterampil berbicara dalam situasi formal di depan kelas. Indikator yang digunakan untuk mengukur keterampilan siswa dalam berbicara, di antaranya kelancaran berbicara,ketepatan pilihan kata (diksi), struktur kalimat, kelogisan (penalaran), dan kontak mata.Paling tidak, ada dua faktor yang menyebabkan rendahnya tingkat keterampilan siswadalam berbicara, yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Yang termasuk faktoreksternal, di antaranya pengaruh penggunaan bahasa Indonesia di lingkungan keluargadan masyarakat. Dalam proses komunikasi sehari-hari, banyak keluarga yangmenggunakan bahasa ibu (bahasa daerah) sebagai bahasa percakapan di lingkungankeluarga. Demikian juga halnya dengan penggunaan bahasa Indonesia di tengah-tengahmasyarakat. Rata-rata bahasa ibulah yang digunakan sebagai sarana komunikasi. Kalauada tokoh masyarakat yang menggunakan bahasa Indonesia, pada umumnya belummemperhatikan kaidah-kaidah berbahasa secara baik dan benar. Akibatnya, siswa tidak terbiasa untuk berbahasa Indonesia sesuai dengan konteks dan situasi tutur.Dari faktor internal, pendekatan pembelajaran, metode, media, atau sumber pembelajaranyang digunakan oleh guru memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap tingkatketerampilan berbicara bagi siswa SMP. Pada umumnya, guru bahasa Indonesiacenderung menggunakan pendekatan yang konvensional dan miskin inovasi sehinggakegiatan pembelajaran keterampilan berbicara berlangsung monoton dan membosankan.Para peserta tidak diajak untuk belajar berbahasa, tetapi cenderung diajak belajartentang bahasa. Artinya, apa yang disajikan oleh guru di kelas bukan bagaimana siswaberbicara sesuai konteks dan situasi tutur, melainkan diajak untuk mempelajari teoritentang berbicara. Akibatnya, keterampilan berbicara hanya sekadar melekat pada dirisiswa sebagai sesuatu yang rasional dan kognitif belaka, belum manunggal secaraemosional dan afektif. Ini artinya, rendahnya keterampilan berbicara bisa menjadihambatan serius bagi siswa untuk menjadi siswa yang cerdas, kritis, kreatif, danberbudaya.
 
Dalam beberapa penelitian ditemukan bahwa pengajaran bahasa Indonesia telahmenyimpang jauh dari misi sebenarnya. Guru lebih banyak berbicara tentang bahasa (talk about the language) daripada melatih menggunakan bahasa (using language). Dengan katalain, yang ditekankan adalah penguasaan tentang bahasa (form-focus). Guru bahasaIndonesia lebih banyak berkutat dengan pengajaran tata bahasa, dibandingkanmengajarkan kemampuan berbahasa Indonesia secara nyata (Nurhadi, 2000).Jika kondisi pembelajaran semacam itu dibiarkan berlarut-larut, bukan tidak mungkinketerampilan berbicara di kalangan siswa SMP akan terus berada pada aras yang rendah.Para siswa akan terus-menerus mengalami kesulitan dalam mengekspresikan pikiran danperasaannya secara lancar, memilih kata (diksi) yang tepat, menyusun struktur kalimatyang efektif, membangun pola penalaran yang masuk akal, dan menjalin kontak matadengan pihak lain secara komunikatif dan interaktif pada saat berbicara.Dalam konteks demikian, diperlukan pendekatan pembelajaran keterampilan berbicarayang inovatif dan kreatif, sehingga proses pembelajaran bisa berlangsung aktif, efektif,dan menyenangkan. Siswa tidak hanya diajak untuk belajar tentang bahasa secararasional dan kognitif, tetapi juga diajak untuk belajar dan berlatih dalam konteks dansituasi tutur yang sesungguhnya dalam suasana yang dialogis, interaktif, menarik, danmenyenangkan. Dengan cara demikian, siswa tidak akan terpasung dalam suasanapembelajaran yang kaku, monoton, dan membosankan. Pembelajaran keterampilanberbicara pun menjadi sajian materi yang selalu dirindukan dan dinantikan oleh siswa.Penelitian ini akan difokuskan pada upaya untuk mengatasi faktor internal yang didugamenjadi penyebab rendahnya tingkat kemampuan siswa klas VII-A SMPN 3 Tarakan,Kalimantan Timur, dalam berbicara, yaitu kurangnya inovasi dan kreativitas guru dalammenggunakan pendekatan pembelajaran sehingga kegiatan pembelajaran keterampilanberbicara berlangsung monoton danmembosankan. Salah satu pendekatan pembelajaran yang diduga mampu mewujudkansituasi pembelajaran yang kondusif; aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan adalahpendekatan pragmatik. Melalui pendekatan pragmatik, siswa diajak untuk berbicaradalam konteks dan situasi tutur yang nyata dengan menerapkan prinsip pemakaianbahasa secara komprehensif.

Activity (32)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Nasarudin Taufik added this note|
baik
Mas Bro Ipung liked this
Yadi Yahut liked this
Yadi Yahut liked this
Arie Setiawan liked this
Arie Setiawan liked this
Herlan Iyang liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->