Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
16Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Marketing Ethics Paper-reality Show

Marketing Ethics Paper-reality Show

Ratings:

5.0

(1)
|Views: 854 |Likes:
Published by catmost

More info:

Published by: catmost on Dec 22, 2009
Copyright:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/02/2013

pdf

text

original

 
Masalah Etika
Marketing
dalam Program
Reality Show
Dosen :
Dr. Ike Janita Dewi, MBA dan Dra. Yulia Arisnani, MBA
Diajukan Oleh:
Ratih Puspa Nirmala
Kelas Reguler 22
PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMENSEKOLAH PASCA SARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADAJAKARTA2009
 
Pendahuluan
Dewasa ini, acara televisi yang menamakan dirinya sebagai
reality show
semakin marak ditayangkan di beberapa stasiun televisi di Indonesia. Adapun pengertian
reality show
adalah suatu jenis program televisi yang menayangkankehidupan seseorang dalam dunia nyata dan bukan menampilkan tokoh ‘buatan’ yangdiperankan oleh seorang aktor. Menurut Daniel Rahmad, produser beberapa
reality show
pada sebuah rumah produksi, tema dari
reality show
pun beragram, salahsatunya adalah tema cinta (Nirmala, 2007).Pada awal munculnya
reality show
di Indonesia, program
reality show
sepertiKatakan Cinta dan Harap-harap Cemas (H2C) masih menjunjung tinggi konsepidealis
reality show
, yang mana pada kedua acara tersebut, memang menayangkankehidupan nyata dunia cinta remaja berikut konflik yang ada. Pada acara KatakanCinta ditayangkan tentang bagaimana seorang remaja melakukan usaha-usaha yangromantis untuk mendapatkan hati orang yang ia suka. Sementara itu, dalam acaraHarap-harap Cemas (H2C) menampilkan seorang remaja yang membuntuti keseharian pasangannya layaknya seorang detektif, untuk mendapatkan bukti apakah pasangannya tersebut selingkuh.Dijelaskan dalam situsnyawww.katakancinta.com, berdasarkan data
rating 
AC Nielsen beberapa tahun lalu ketika program ini masih tayang di televisi (programini telah habis masa tayangnya sejak tahun 2007), Katakan Cinta adalah program
reality show
dengan shared audience mencapai 25% dari seluruh pemirsa televisi yangmenyaksikan seluruh tayangan televisi pada jam tayangnya. Katakan Cinta terpilihsebagai
reality show
terfavorit dalam ajang Panasonic Awards 2003, dan nominator 
reality show
terfavorit Panasonic Awards 2004.Kesuksesan yang diraih oleh Katakan Cinta dan juga H2C mendorong beberapa rumah produksi lainnya untuk bersaing membuat program acara serupa,diantaranya yaitu
Termehek-mehek, Cinta Monyet 
,
 Backstreet 
,
 Kontak Jodoh, Playboy Kabel 
, dan beberapa program lainnya. Kuswandi (1996) mengatakan bahwamaraknya persaingan di antara televisi baik nasional maupun lokal menuntut
 production house
dan produser untuk berkompetisi mempromosikan program yangmampu menarik minat pemirsanya. Penilaian kesuksesan suatu acara ditentukan oleh
rating 
. Untuk dapat mengetahui
rating 
dan
audience share
, maka stasiun televisi
 
harus berlangganan AC Nielsen untuk dapat terus memantau jumlah
rating 
yangdiperoleh oleh program-programnya.
 Rating 
tersebut dijadikan acuan untuk menciptakan sebuah program yang tujuannya untuk memperoleh pemasukan iklanyang tinggi pula (Harahap, 2008).Berdasarkan observasi dan komunikasi personal dengan beberapa kru dari produsen acara-acara baru tersebut, dan juga wawancara langsung dengan beberapaorang yang terlibat di dalamnya, diketahui bahwa acara-acara
reality show
yang adasekarang ini (
Termehek-mehek, Cinta Monyet, Backstreet, Playboy Kabel 
, dan lain-lain) sudah merupakan rekayasa. Artinya, semua kejadian beserta konflik yangdisajikan tersebut telah diatur dalam skrip. Dengan begitu, seharusnya acara acaratersebut tidak dapat dikatakan sebagai
reality show
, namun kenyataannya dalam promosi dan iklan mengenai acara-acara tersebut mereka masih mengusung istilah
reality show
.Achtner (dalam Latson, 2003) menjelaskan bahwa istilah “
reality
” dalamdunia nyata tidak sama dengan “
truth
” dalam istilah video. Maksud dari pernyataantersebut adalah apa yang ditampilkan di
reality show
mungkin tidak menggambarkankejadian nyata atau sebenarnya. Banyak terdapat unsur 
editing 
di pasca produksi dan juga berdasarkan skenario dalam produksinya. Yang jadi permasalan di sini adalahmasyarakat awam masih banyak yang tidak tahu bahwa acara
reality show
yangmereka tonton tersebut merupakan hasil rekayasa. Masih banyak masyarakat yang percaya bahwa acara-acara
reality show
tersebut adalah nyata dengan segala konflik-konfliknya yang secara spontan terekam oleh kamera. Selain itu, dalam hal pemasarannya, iklan yang mempromosikan acara tersebut dikatakan oleh “
voice over 
(VO) bahwa acara tersebut merupakan
reality show
, yang jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia adalah pertunjukan nyata.Tulisan ini dibuat karena ketertarikan saya terhadap masalah etika yangterdapat di industri pertelevisian, dalam hal ini kaitannya dengan program-programtelevisi yang disebut-sebut sebagai
reality show.
Berdasarkan pengalaman saya, yang pernah terlibat langsung dalam memproduksi beberapa
reality show
dan programtelevisi lainnya selama beberapa tahun, diharapkan tulisan ini dapat bermanfaatmemberikan sebuah wacana baru dalam dunia marketing. Maka dari itu, saya akanmencoba mengaitkan masalah etika dalam
reality show
dikaitkan dengan teori etikadan marketing untuk didiskusikan lebih lanjut dalam
 paper 
ini.

Activity (16)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
testiandini liked this
Tukang Fotocopy liked this
Santo Sun liked this
milldha liked this
Hasminto Yusuf liked this
Hasminto Yusuf liked this
Ayah Cinta Bunda liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->