2kaidah yang dipakai, melihat perkembangan ekonomi Indonesia termasuk ekonomiIslam di Indonesia biasanya lebih familiar bila masuk dalam kerangka positivisme.
Positivistic Mapping
mengedepankan model:
to explain and to predict
.Perkembangan ekonomi Islam yang dipakai
Positivistic Mapping
sebagai tolok ukur seperti desain blue print “top-down”, prospek-kendala kronologis, strukturalkelembagaan, pertumbuhan linier, dan lebih banyak pendekatan proyeksi statistik.Coba saja kita lihat implementasi penggunaan
Positivistic Mapping,
yaitu pada ukuran-ukuran untuk perkembangan ekonomi Islam, mulai dari pembenahanstruktur kelembagaan dengan pendekatan regulasi (perlunya UU), peraturan (MUI, BIdan lainnya), untuk perbankan syariah misalnya terdapat program akselerasi dan proyeksi market share 5% . Yang paling baru, karena market share perbankan syariahtidak mengenai sasaran (hanya mencapai 2,2%, maksimal 2,5%; 51-60 Trilyun),seperti telah saya prediksikan sejak 2007 lalu lewat berbagai tulisan. BI kemudianmisalnya menggunakan penekanan outlook 2009 dan sekarang 2010 lewat skenario pertumbuhan nilai asset perbankan syariah (pesimis 26%-72 Trilyun; moderat 43%-97Trilyun; dan optimis 81%-124 Trilyun). Kemudian juga berkenaan dengan prediksiPendirian Bank Islam per Juli 2009: 5 BUS, 26 UUS, 133 BPRS, Office Channeling1680 outlet. Atau dilihat juga Proyeksi kebutuhan SDM Perbankan sampai dengan2014 sebesar 42 ribu (dari 13.520 karyawan). Di luar perbankan syariah misalnyaterdapat Dana Reksadana Syariah 2003 66,9 Miliar dan pada 2008 menjadi 1 Trilyun,Kantor Asuranasi Syariah per 2008 38 unit dengan nilai net premi 27 Trilyun.Oustanding Sukuk Negara 2009 19,9 Trilyun, Outstanding Sukuk Korporasi 2009 5Trilyun. Yang lebih umum misalnya, Proyeksi Pendidikan Perbankan Islam,Pengembangan Pengajaran Ekonomi Islam, dan lain-lain.
Positivistic Mapping
melihat desain ekonomi Islam Indonesia selaludikerangka dalam kronologi waktu dengan pencapaian-pencapaian linier dan tumbuh,meningkat dan semuanya diarahkan pada logika umum ekonomi yaitu pertumbuhan/
growth
, keuntungan dan ekuitas para penggiatnya. Kalaupun ada yangnamanya tujuan kesejahteraan itupun kelihatannya tidak berbeda dengan ekonomikonvensional. Jangan lupa, kalau dilihat dari filosofi ekonomi konvensional,Pemikiran Ekonomi Kapitalis, Sosialis, Lingkungan atau Ekonomi Baru selalumendiskusikan alternatif dari dua kata magis Kesejahteraan dan Keadilan menujuEkonomi Berhati Nurani (Michael Dua 2008). Tidak ada di dunia ini yangmengatakan ekonomi itu tidak bertujuan pada kesejahteraan. Dan itu pula yang
Add a Comment