• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
Islam di Simpang JalanJudul asli: Islam at the CrossroadsCetakan pertama: Delhi (India), 1935Edisi Indonesia: Islam di Simpang JalanPenterjemah: M. HashemCetakan pertama: YAPI, Surabaya, 1967Cetakan kedua: PUSTAKA, Bandung, 1981Hak cipta: Muhammad AsadAll rights reserved.
Disalin dari http://media.isnet.org/islam/Asad/Simpang/Lengkap.html
Isikandungan:
Pengarang
Kata Pendahuluan1.Jalan Islam yang Terbuka2.Semangat Barat1.Bayangan Perang Salib2.Tentang Pendidikan3.Tentang Meniru4.Hadits dan Sunnah5.Jiwa Sunnah
Kesimpulan
Muhammad Asad
Kelahiran Austria (1900) dengan nama Leopold Weiss
Belajar kitab-kitab suci Yahudi - Kristen dengan bahasa Ibrani - Aramea, Polandia danJerman.
Belajar sejarah, falsafah dan psikologi.
Wartawan United Telegraph di Berlin (1921).
Wartawan Frankfurter Zeitung dan koresponden di Timur Tengah (1922-1926).
Masuk Islam di Berlin dan memilih nama Muhammad Asad (1926).
Tinggal di Hejaz dan Najd (Saudi Arabia) (1926-1932).
Menjelajah wilayah-wilayah negeri Islam (1932-1947) kecuali Asia Tenggara.
Bersahabat dengan tokoh-tokoh Islam, termasuk Raja Abdul 'Aziz, Ibnu Saud danMuhammad Iqbal.
Membatalkan rencana ke Indonesia dan Asia Tenggara karena ditugaskan membentuk danmengepalai Departemen Rekonstruksi Islam Pakistan (1947-1951).
Mengepalai bagian Timur Tengah Kementerian Luar Negeri Pakistan.
Menjadi Duta Tetap Pakistan untuk PBB
Menulis Islam at the Crossroads (1935), The Road to Mecca (1952) dan The Message of theQuran.
Muhammad Asad diangkat sebagai warga negara kehormatan di berbagai negeri Islam;terakhir tinggal di Maroko.
Keterangan lebih lengkap mengenai Muhammad Asad dapat diikuti disini.
 
 Alhamdu lillahi wahdahu wasshalatu wassalamu 'ala man la nabiyya ba'dahu.
KATA PENDAHULUAN
Jarang ummat manusia terjerumus dalam kecemasan intelektual seperti yang terjadi pada zamankita kini. Kita bukan saja dihadapkan pada tumpukan masalah-masalah yang membutuhkan pemecahan-pemecahan baru yang tidak tanggung-tanggung, tetapi juga sudut pandangan di manamasalah-masalah itu tampil di hadapan kita berlainan dengan segala yang pernah kita kenalsebelumnya.Di negeri mana saja, masyarakat telah mengalami perubahan-perubahan fundamental. Jalannya perubahan ini di mana-mana berlainan; tetapi di setiap negeri kita dapat melihat energi desak yangsama, yang tidak mengizinkan kita berhenti atau bersikap ragu-ragu.Dunia Islam tidak terkecuali dalam hal ini. Di sini kita lihat pula kebiasaan-kebiasaan dan idea-idealama menghilang dan munculnya kebiasaan dan idea-idea baru. Kemana tujuan perkembangan baruini? Sejauh mana pencapaiannya? Sejauh mana kesesuaiannya dengan misi kultural Islam?Isi buku ini sekali-kali tidak bendak berhebat-hebat dengan memberikan suatu jawaban yang panjang lebar atas seluruh lingkup pertanyaan di atas. Karena ruangnya yang terbatas maka hanyasatu dari masalah-masalah yang menghadang kaum Muslimin sekarang, yaitu sikap yang harus kitaambil terhadap peradaban Barat, telah kami pilih untuk dibicarakan. Namun cakupan yang sangatluas dari pokok masalah ini memerlukan kita untuk meluaskan penyelidikan tentang aspek-aspek dasar agama Islam, terutama berkenaan dengan prinsip Sunnah. Di sini tidak mungkin untuk memberikan lebih dari garis-garis besar melulu dari satu tema yang cukup luas untuk berjilid-jilid buku tebal. Tetapi betapapun juga --atau barangkali justru karena itu-- saya merasa yakin bahwasketsa singkat ini akan merupakan suatu rangsangan bagi orang lain untuk pemikiran lebih jauh atasmasalah yang begitu penting ini.Dan sekarang tentang diri saya sendiri; apabila seorang muallaf berkata kepada mereka, kaumMuslimin berhak mengetahui betapa dan mengapa ia memeluk agama Islam.Dalam tahun 1922 saya meninggalkan negeri saya, Austria, untuk membuat perjalanan melaluiAfrika Utara dan Asia sebagai koresponden istimewa suatu koran Eropa dan sejak waktu itu sayamelalukan hampir seluruh waktu saya di Timur Tengah. Perhatian saya terhadap bangsa-bangsayang saya hubungi pada mulanya hanya sebagai perhatian seorang asing. Saya melihat di sini suatutata masyarakat yang secara fundamental berbeda dengan pandangan hidup orang Eropa; dan sejak semula telah tumbuh dalam diri saya perasaan simpati atas kehidupan yang lebih tenang --sayaseharusnya mengatakan: lebih insani-- dan konsepsi hidup yang lebih damai dibanding denganmode hidup yang tergesa-gesa dan mekanis di Eropa. Rasa simpati ini berangsur-angsur membawasaya pada satu penyelidikan mengenai sebab-sebab perbedaan mode hidup semacam itu, dan saya jadi tertarik pada ajaran-ajaran agama Islam. Pada saat itu perhatian saya tidak cukup untuk menarik saya memeluk agama Islam, tetapi hal itu membuka pandangan baru pada saya tentang masyarakatmanasia yang sedang maju, yang progresif, terorganisir dengan seminimal mungkin konflik kesesama dan perasaan persaudaraan sungguh-sungguh yang maksimal. Namun sebenarnya kehidupankaum Muslimin sekarang tampak sangat ketinggalan dari kemungkinan-kemungkinan ideal yangdiberikan dalam ajaran-ajaran agama Islam. Segala yang dalam masa kemurnian Islam dahulunyamerupakan pendorong gerak maju di kalangan kaum Muslimin, sekarang telah berubah menjadisikap masa bodoh dan kemacetan; segala yang dalam zaman kejayaan Islam dahulunya merupakanrahmat dan kesiapsiagaan untuk berkorban, sekarang berubah menjadi kepicikan dan kehidupanseenaknya di antara kaum Muslimin.Terdesak oleh penemuan akan kenyataan ini dan dibingungkan oleh ketidaksesuaian antara dulu dan
 
kini, saya berusaha memecahkan masalah yang dihadapkan kepada saya ini dari titik pandanganyang lebih dekat: saya berusaha membayangkan diri saya dalam lingkungan Islam. Hal itu hanyalahexperimen intelektual melulu: dan ini menerangkan kepada saya, dalam waktu yang sangat singkat, penyelesaian masalah ini dengan sebenarnya. Saya menyadari bahwa satu-satunya sebabkemunduran sosial dan kultural kaum Muslimin terletak dalam kenyataan bahwa mereka secara berangsur angsur melalaikan jiwa ajaran-ajaran Islam. Islam masih ada pada mereka, tetapi tinggal jasad tanpa jiwanya. Satu-satunya unsur yang dahulu tegak mengokohkan dunia Islam sekarangmenjadi sebab kelemahannya; masyarakat Islam telah dibangun sejak dari permulaannya hanya atasdasar agamawi, dan pelemahan-pelemahan unsur itu tentu melemahkan struktur kulturalnya --dan bahkan mungkin akan menyebabkan musnahnya.Makin saya mengerti betapa kongkrit dan betapa praktisnya ajaran-ajaran Islam, makin tebal hasratsaya bertanya mengapa kaum Muslimin telah meninggalkan penerapannya yang riil. Saya bicarakanhal ini dengan banyak pemuka-pemuka Islam, hampir pada semua negeri antara Lybia dan Pamir,antara Selat Bosporus dan Laut Arabia. Hal itu hampir mengikat persoalan saya seluruhnya yangakhirnya meliputi segala urusan-urusan intelektual saya dalam dunia Islam. Godaan pertanyaan ituterus menebal dalam jiwa saya --sehingga saya, seorang bukan-muslim berkata kepada seorangMuslim seakan-akan saya hendak membela Islam dari kekeliruan dan sikap masa bodoh mereka.Saya tidak melihat kemajuannya, hingga pada suatu hari --waktu itu musim semi tahun 1925 di pegunungan Afghanistan-- seorang gubernur propinsi yang muda usia berkata kepada saya: "Tetapianda seorang Muslim, hanya anda sendiri tidak mengetahuinya". Saya terkejut oleh kata-kata itudan berdiam diri.Tetapi ketika saya kembali ke Eropa lagi dalam tahun 1926, saya menyadari bahwa satu-satunyakonsekuensi yang logis dari sikap saya itu adalah memeluk agama Islam.Demikianlah keadaan-keadaan yang berhubungan dengan menjadi Muslimnya saya. Sejak saat itu berulang-ulang saya bertanya pada diri: "Mengapa engkau memeluk agama Islam?" Dan saya harusmengaku: saya tidak tahu jawabannya yang memuaskan. Bukan karena sesuatu yang khusus padaajaran-ajarannya yang menarik saya, tetapi seluruh strukturnya yang mengagumkan, struktur ajaranmoral dan program hidup yang praktis yang tak dapat dipisah-pisahkan. Bahkan hingga pada saatini belum dapat juga saya mengatakan aspek Islam yang mana yang lebih menarik saya dibandingdengan aspek lainnya. Islam tampak pada saya sebagai suatu karya arsitektur yang sempurna.Segala bagian-bagiannya terpadu secara harmonis untuk saling mengisi dan saling menopang, tidak ada yang berlebih-lebihan dan tidak ada yang kurang, merupakan satu perimbangan yang mutlak dan satu komposisi yang padu. Barangkali perasaan bahwa segala sesuatu dalam ajaran danrumusan Islam adalah pada "tempatnya yang tepat" telah menciptakan kesan yang paling kuat padasaya; mungkin kesan-kesan lain juga ada bersama-sama dengan kesan itu, sukar saya uraikansekarang. Alhasil, soal cinta, dan cinta terpadu dalam berbagai unsur, dari hasrat manusia dankesunyiannya, dari tujuan-tujuan luhur manusia dan kekurangannya, dari kekuatan-kekuatan dankelemahan manusia. Demikianlah halnya, Islam datang dalam jiwa saya sebagai datangnya pencuridi malam hari, tetapi tidak seperti pencuri, ia datang pada saya untuk menetap selama-lamanya.Sejak itu saya terus belajar sekuat tenaga saya tentang Islam. Saya pelajari al-Qur'an dan Hadits;saya pelajari bahasa al-Qur'an dan sejarah Islam serta sebagian besar kitab-kitab yang ditulis olehlawan dan kawan. Saya tinggal lebih lima tahun di Hejaz dan Najd, kebanyakan di Madinah, supayasaya dapat mengalami sesuatu dari alam sekitar yang asli di mana agama ini dikhotbahkan oleh Nabi berbangsa Arab itu. Karena Hejaz merupakan pusat pertemuan kaum Muslimin seluruh dunia,saya beroleh kesempatan untuk membanding pandangan agamawi dan pandangan sosial dalamdunia Islam pada zaman ini. Studi perbandingan ini menciptakan keyakinan kuat dalam diri saya bahwa Islam sebagai satu landasan spiritual dan sosial, walaupun terbelakang karena sikap masa bodoh kaum Muslimin, tetap merupakan satu tenaga penggerak yang luar biasa hebatnya yang pernah dialami ummat manusia; dan mulai saat ini perhatian saya terpusat pada problema regenerasiIslam.
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...