Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
19Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
proposal 16 peran serta stakeholders mewujudkan 30 % ruang terbuka hijau dan ruang evakuasi bencana melalui teknologi gis dan gps tangerang

proposal 16 peran serta stakeholders mewujudkan 30 % ruang terbuka hijau dan ruang evakuasi bencana melalui teknologi gis dan gps tangerang

Ratings: (0)|Views: 1,028 |Likes:
Published by Elisa Sutanudjaja

More info:

Published by: Elisa Sutanudjaja on Dec 25, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/01/2013

pdf

text

original

1. JUDUL
PERAN SERTASTAKEHOLDERS MEWUJUDKAN 30 % RUANG TERBUKA HIJAU DAN
RUANG EVAKUASI BENCANA MELALUI TEKNOLOGI GIS DAN GPS
2. PENDAHULUAN

Konflik penggunaan lahan merupakan salah satu dari masalah perwilayahan. Konflik penggunaan lahan terjadi jika antara satu aktivitas memberikan dampak negatif terhadap aktivitas lain pada lahan yang sama.

Sistem penataan ruang Bekasi hanya mengacu kepada aspek perekonomian saja tanpa memperhatikan aspek kemampuan dan kesesuaian lahan. Fenomena tersebut menimbulkan masalah penyimpangan penggunaan lahan di Tangerang. Dalam penataan ruang seharusnya pembangunan dan system penataan ruang di Bekasi harus mengacu kepada kemampuan dan kesesuaian lahan. Pemerintah daerah telah melihat masalah ini dan melakukan upaya pengendaliannya. Namun upaya yang dilakukan pemerintah ternyata belum memberikan hasil yang memuaskan. Tata guna lahan menerangkan mengenai aktivitas yang ada di atas sebidang lahan dan intensitas penggunaan lahan. Suatu wilayah biasanya dibagi berdasarkan zona kawasan untuk mempermudah analisis. Intensitas tataguna lahan diukur sesuai dengan zona kawasan tersebut. Suatu zona kawasan dapat dikenali dengan jumlah populasi dan intensitas serta variasi lapangan pekerjaan. Tataguna lahan akan menghasilkan (generate) lalu lintas, yaitu orang\u2013orang yang akan melakukan perjalanan dari dan ke zona kawasan tersebut.

Pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) sebagai bagian integral pembangunan nasional harus ditujukan untuk menjadi landasan kemajuan peradaban dan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. Pembangunan iptek pun harus tetap tanggap dalam menghadapi perubahan global dan tatanan baru kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Oleh karena itu, peran pemerintah dalam pembangunan iptek juga tidak terlepas dari tuntutan perubahan tersebut.

Alam berkembang menjadi guru. Sebuah ungkapan bijak dalam menyikapi berbagai bencana beruntun yang melanda di berbagai belahan kota di Indonesia. Mulai dari ujung Aceh, Nias, Palembang, Bandung, Alor, hingga Nabire di Papua. Sementara kecemasan akan gempa

bumi yang terus menggoyang (dan ketakutan datangnya tsunami) terus membayangi warga kota
Aceh, Nias, Padang, Bengkulu, Lampung, hingga Palu.

Sungguh na\u00eff apabila kita selalu tergugah dan membangkitkan kesolidaritasan dalam berkota yang ramah lingkungan jika harus menunggu datangnya bencana secara berulang kali. Sikap solidaritas sering kali surut dan cepat terlupakan seiring dengan proses waktu tenggelam dalam banalitas keseharian kehidupan normal yang egosentris sehingga penanggulangan dan pencegahan bencana ikut pupus, tiba-tiba menjadi basi, dan tidak tuntas dikerjakan bersama.

Bencana yang terus terjadi berulang-ulang seharusnya menimbulkan niat serius melakukan tindakan antisipasi dan mitigasi bencana agar tahun ini, tahun depan, dan tahun-tahun seterusnya bencana tersebut tidak terulang kembali, atau setidaknya dampak korban dapat ditekan semakin kecil.

Perencanaan kota tanggap bencana mensyaratkan perencanaan yang rasional, aplikatif, dan berorientasi hasil (feasible, implementable, and achievable). Pemerintah (dan masyarakat) harus proaktif berinisiatif mereformasi perencanaan kota yang tanggap bencana. Kota yang terbangun kembali harus lebih baik dari sebelumnya. Salah satunya adalah dengan mewujudkan ruang terbuka hijau (RTH) dan ruang evakuasi bencana.

Kota yang terkonsep seharusnya berdasarkan pada pengalaman/kejadian bencana yang terus terjadi. Kejadian di titik- titik rawan bencana dianalisis dan dijadikan bahan penyusunan rencana strategis dan program kegiatan pembangunan yang terarah tepat sasaran untuk rencana mitigasi bencana.

Bencana tidak bisa diperkirakan dengan tepat, tetapi upaya mitigasi bencana tetap perlu disiapkan untuk meminimalkan korban (nyawa dan harta). Lebih baik mencegah daripada memperbaiki berulang kali kerusakan yang sama dan boros dana.

Sistem peringatan dini bencana harus dibangun secara menyeluruh, baik di bidang fisik kota (pembangunan peralatan mutakhir pendeteksi dini dalam sistem kota taman waspada bencana), dan psikis kota (pendidikan dan pelatihan tanggap dan evakuasi bencana). Hidup di kota rawan bencana harus mulai dibudayakan kepada seluruh warga kota bahwa bencana bisa terjadi setiap saat. Untuk itu perlu dipersiapkan bagaimana cara terbaik mengakrabi, waspada, evakuasi, dan bertahan hidup di daerah rawan bencana. Warga ditumbuhkan budaya sikap hidup ramah lingkungan dan bencana alam sebagai bagian dari fenomena alam kehidupan sehari-hari.

Kesadaran masyarakat, terutama di titik-titik rawan bencana, untuk sukarela tinggal di rumah susun sedang (berlantai empat) yang layak huni akan menyisakan ruang-ruang terbuka sebagai taman kota multifungsi yang signifikan. Taman dapat menjadi ruang evakuasi bencana, tempat bermain dan belajar alam bagi anak-anak, dan tempat berolahraga (nilai sosial, budaya, edukatif), taman konservasi kota-paru-paru kota dan daerah resapan air (nilai ekologis dan estetis), serta tempat tujuan wisata kota (nilai ekonomi).

Sementara itu, sikap hidup tanggap bencana juga harus mulai disosialisasikan dalam kurikulum pelajaran wajib segala tingkatan, disertai penyusunan panduan dan pelatihan evakuasi bencana (banjir, kebakaran, gempa bumi, tsunami) di seluruh pelosok perkampungan dan permukiman kota. Kelak warga tahu persis apa, ke mana, dan bagaimana proses evakuasi harus dilakukan saat bencana tiba. Selama ini, latihan evakuasi bencana (kebakaran) dan ancaman bom hanya dilakukan di gedung-gedung perkantoran. Lalu bagaimana dengan evakuasi bencana banjir dan kebakaran yang sering terjadi di perkampungan padat penduduk, yang notabene belum memiliki budaya tanggap dan evakuasi bencana.

Pengoptimalan RTH dalam kota taman waspada bencana adalah RTH dirancang sebagai ruang-ruang evakuasi bencana dan menciptakan lingkungan hidup yang lebih baik untuk memitigasi bencana. Taman-taman dihubungkan jalur pedestrian lebar dan kuat untuk dilalui kendaraan logistik. Lapangan olahraga (lapangan bola) menjadi tempat ideal penampungan darurat dan posko penanggulangan bencana yang aman. Bencana yang sering kali menimbulkan korban massal membutuhkan taman makam yang terencana baik, luas memadai, teknik penguburan canggih, dan dikelola secara profesional. Prinsipnya efisien, higienis, dan ramah lingkungan.

3. IDENTIFIKASI DAN PERUMUSAN MASALAH
Dengan berpedoman pada latar belakang, masalah tersebut coba diidentifikasi sebagai
berikut:
a. Masih kurangnya peran serta stakeholders dalam pemanfaatan ruang terbuka hijau (RTH)
dan ruang evakuasi bencana di Tangerang.
b. Peraturan pemanfaatan ruang di Tangerang masih menggunakan Undang-undang No. 24
tahun 1992 padahal dalam pemanfaatan ruang terbuka hijau dan ruang evakuasi bencana

Activity (19)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
lupalogin liked this
Arifqi Darwis liked this
Joko Tole liked this
Dhea Fitria liked this
Peayudi Anwar liked this
Ody Sirait liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->