Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
12Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Latar Belakang Pergerakan Wahabisme

Latar Belakang Pergerakan Wahabisme

Ratings: (0)|Views: 629 |Likes:
Published by anggraenianie
semangat ruh islam
semangat ruh islam

More info:

Published by: anggraenianie on Dec 26, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/02/2011

pdf

text

original

 
Latar Belakang Pergerakan Wahabisme
Dari Wahabi ke PadriSEBUTAN gerakan Wahabi diambil nama dari pelopornya, Muhammad bin AbdulWahhab (1703-1787). Tokoh kelahiran Nejd di Saudi Timur itu lantang menegaskan bahwa Islam yang otentik adalah model Islam pada zaman Nabi dan para sahabatnya. Kalaitu, kaum muslimin hidup berpegang pada Al-Quran dan hadis, tanpa intervensi akal atauijtihad terhadap Al-Quran. Mereka inilah yang disebut kaum Salafi.Dengan semangat menegakkan ajaran kaum Salafi itu, Abdul Wahhab bangkit. Iakumandangkan ajakan kembali ke ajaran Islam yang asli. Yakni ajaran yang dijalankan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya, termasuk prinsip tauhidnya. Bagi mereka,kalimat tauhid
 La ilaha illa Allah
(tidak ada Tuhan selain Allah) tak cukup cumadiucapkan, mesti dimanifestasikan dengan
 La ma'bud illa Allah
(tak ada yang disembahkecuali Allah).Mengubah situasi tidak cukup hanya dengan doa dan kata-kata. Perlu tindakan nyata. Ini pangkal lahirnya Salafi yang radikal. Manifestasinya dengan merusak tempat-tempat yangdipandang maksiat atau yang berpotensi syirik kepada Allah.Dengan konsep tauhid itu, Muhammad bin Abdul Wahhab memberantas tradisi yangdianggap keliru yang hidup dalam masyarakat Arab. Bentuknya, antara lain, menyembahselain Allah, bernazar kepada selain Allah, dan meminta pertolongan kepada syekh atauwali.Tak mengherankan bila para pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab lantas menyerangkuburan-kuburan yang dikeramatkan. Bahkan, pada 1802, mereka menyerang Karbala,Irak, tempat dikebumikan jasad cucu Nabi Muhammad SAW, Husein bin Ali bin AbiThalib. Kuburan Husein di Karbala itu sangat dipuja kaum Syiah.Dua tahun kemudian, mereka menyerang Madinah, menghancurkan kubah yang ada di ataskuburan, termasuk hiasan-hiasan yang ada di atas nisan Nabi Muhammad. Keberhasilanmenaklukkan Madinah berlanjut. Mereka masuk ke Mekkah pada 1806, dan merusak kiswah, kain penutup Ka'bah yang terbuat dari sutra.Gerakan kaum Wahabi ini membuat Sultan Mahmud II, penguasa Kerajaan Usmani,Istanbul, Turki, murka. Dikirimlah prajuritnya yang bermarkas di Mesir, di bawah pimpinan Muhammad Ali, untuk melumpuhkannya. Pada 1813, Madinah dan Mekkah bisadirebut kembali. Gerakan Wahabi surut.Tapi, pada awal abad ke-20, Abdul Aziz ibnu Sa'ud bangkit mengusung paham Wahabi.Tahun 1924, ia berhasil menduduki Mekkah, lalu ke Madinah dan Jeddah, memanfaatkankeloyoan Turki akibat kekalahannya dalam Perang Dunia I. Sejak itu, hingga kini, pahamWahabi mengendalikan pemerintahan di Arab Saudi.Ajaran Wahabi tak cuma berkembang di Timur Tengah. Ia menyebar ke timur, termasuk India dan Indonesia. Di Indonesia, Wahabi dibawa kaum Padri di Minangkabau, dipeloporitiga tokoh yang baru menunaikan ibadah haji pada 1803. Mereka adalah Haji Miskin dariLuhak Agam, Haji Piobang dari Luhak Lima Puluh Kota, dan Haji Sumanik dari Luhak Tanah Datar.
 
Mereka dikenal reformis, tapi dengan cara-cara yang radikal. Sebagaimana dilakukan pengikut Wahabi di Saudi, di Minangkabau mereka juga berlaku keras. Kuburan, sabungayam, perjudian, diserang. Tidak hanya itu, surau-surau yang mengembangkan tarekat, danmemberi penghargaan berlebih pada para syekh, mereka kecam habis. Mereka jugamemerangi pria pemakai emas dan pemadat tembakau.Dalam sejarahnya, radikalisme tak pernah bisa berkembang luas. Tapi, ia tak juga bisadipadamkan secara tuntas. Radikalisme bisa muncul sewaktu-waktu, bila kondisikeagamaan, sosial, budaya, politik, menurut mereka, tak menguntungkan Islam dan kaummuslimin. Masalahnya bisa timbul dari dalam, umat Islam sendiri. Bisa juga juga dari luar.Kaum Salafi radikal itu, menurut guru besar sejarah sekaligus Rektor Universitas Islam Negeri Jakarta, Azyumardi Azra, cenderung memahami ayat-ayat Al-Quran secara harfiah.Misalnya, prinsip amar makruf nahi mungkar dilakukan dengan tangan. Prinsip tentang
taghyir 
(perubahan) yang paling afdol juga dilaksanakan dengan tangan, bukan doa.Dalam pandangan Azyumardi, cuma kaum Padri di Minangkabau yang mewakili Wahabidi Indonesia. Selebihnya, kalaupun ada radikalisme yang mengusung jargon-jargon agama,lebih karena faktor-faktor internal serta eksternal, bukan soal pemikiran dalam aliran.
 
Antisipasi GP. Ansor/BanserTerhadap Wahabiisme danMenjaga Serta Berkhidmat Pada Aswaja
Dengan melihat kondisi yang real dan berkembang di tengah-tengah masyarakatGP. Ansor memandang itu semua sangat perlu serta penting untuk mengambil tindakanyang nyata . GP. Ansor yang sudah tidak di ragukan lagi kiprahnya di ranah NegaraKesatuan Republik Indonesia baik ketika jaman kolonialisme, jaman kemerdekakanmaupun jaman revolusi , hingga sekarang , Ansor selalu tampil terdepan ikut sertamenjaga keutuhan NKRI dari segala ancaman baik dari luar maupun dari dalam
 
Antisipasi Wahabisme Lewat Dunia Pendidikan
 
Adanya aliran semacam Wahabi, warga NU perlu melakukan antisipasi. Diantara yangmempunyai peran penting adalah melalui lembaga pendidikan. Pasalnya, pendidikanmerupakan dasar awal dalam membentuk manusia manusia dewasa yang mampu mencernaideologi yang berkembang termasuk aliran non aswaja.Pernyataan ini disampaikan ketua Lakpesdam PC NU Kudus HM Asyrofi dalam acarahalal bihalal Badan Pelaksana Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (BPPMNU) dukuhKalilopo Klumpit Gebog Kudus yang bertempat di Aula TPQ Al Falah lantai 2 KalilopoSabtu (3/10) malamMenurut Mantan Ketua DPRD Kudus ini, sekarang ini gerakan Wahabisme telahmendapatkan tempat di hati warga Indonesia. Hal ini tidak terlepas simbol-simbolkeagamaan yang kemasannya bagus di permukaan.“Oleh karena itu, NU secara struktural maupun kultural harus faham dan waspada akangerakan tersebut. Karena ada indikasi, pada tahun 2019, NU menjadi target untuk dilenyapkan dari bumi Indonesia,”tandas Asyrofi.Lebih jauh, politisi muda NU ini menekankan kepada para pengelola lembaga pendidikan NU harus bersatu dalam menanamkan ideologi aswaja pada anak didik. Jika anak dariwarga nahdliyyin sudah terpengaruh dan masuk dalam aliran non ideologis NU, makadosanya adalah dosa sosial.“Makanya sejak dini perlu dilakukan penguatan dan penanaman ideologi aswaja terhjadapanak didik. Kita harus sering menjejali pikiran anak-anak didik dengan pemahamanideologi aswaja,” kata Asyrofi dalam caramahnya.Sementara itu, Salah seorang Panitia Halal bihalal Moh Saifuddin Nawawi mengatakankegiatan ini bertujuan untuk mengeratkan tali silaturrahim antara guru-guru maupun pengurus Lembaga pendidikan di bawah naungan BPPMNU ini.“BPPMNU ini membawahi sejumlah lembaga pendidikan yakni Pondok Pesantren PutraTarbiyatush Shibyan, Pondok Pesantren Putri Tarbiyatul Banat, TPQ Al-Falah, RaudlatulAthfal Muslimat NU Al Falah dan Madrasah Diniyyah Al Yasir ini,” tuturnya. (sae)

Activity (12)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Mn Kamarudin liked this
Rici San liked this
Nikita Dewayani liked this
Jajang Sobari liked this
nerailkobah liked this
sheikh apai liked this
abangarif liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->