Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword or section
Like this
15Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Kumpulan Oase Iman 7

Kumpulan Oase Iman 7

Ratings: (0)|Views: 5,981|Likes:
Published by F X AGUS SISWANTO

More info:

Published by: F X AGUS SISWANTO on Dec 26, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

10/01/2012

pdf

text

original

 
Ayah, Ibu, Jangan Murtadkan Anakmu!
eramuslim
- "Aku ingin anakku nantinya bisa jadi penyanyi terkenal," ujar seorang ibu mudadalam suatu obrolan di sebuah acara perpisahan anak-anak kelas III SMP di gedung cukupmewah di bilangan Jakarta. Kebetulan saat itu sedang ditampilkan acara hiburan yang diisi olehsumbangan alunan suara merdu anaknya. "Kalo' aku sih, anakku ingin aku masukkan ke sekolahmodelling biar bisa jadi peragawati terkenal," timpal ibu lainnya tak kalah sengit. Walhasilobrolan ibu-ibu yang ikut mengiring anak-anak mereka pada acara perpisahan sekolah, tak jauhdari seputar obsesi para ibu kalangan elit itu terhadap anak-anak mereka.Obsesi orangtua terhadap anak, memang tak dilarang dalam Islam. Selama obsesi itumerupakan wujud kasih sayang orangtua terhadap anak-anak mereka. Agar anak-anak merekamenjadi orang yang berhasil dalam karir, mandiri (baik secara materi maupun sikap mental),mendapat pendamping hidup yang baik, terpandang di masyarakatnya, serta tetap berbakti padaorangtua. Bagaimana soal berbakti kepada Tuhan? Ini juga hal yang sering tak dilupakan sebagaibagian obsesi para ortu terhadap anak-anak mereka. Biasanya satu paket, agar anak berbaktikepada orangtua dan agamanya.Namun sayangnya unsur terakhir ini, kerap cuma sebagai embel-embel formalitas daribangunan obsesi para ortu yang diangankan pada anak-anak mereka. Tindak lanjut dari obsesiterakhir ini, sayangnya macet cuma sampai pada tataran angan-angan. Dalam bentuk implementasi, bak "jauh panggang dari api" alias berbanding terbalik.Ilustrasi di awal tulisan ini, mungkin bisa jadi contoh. Bagaimana tergiurnya seorang ibupada predikat sukses duniawi yang kelak bisa disandang anak, tanpa mempedulikan apakah ituselaras dengan harapan Tuhan? Padahal hakikatnya, kita bukanlah
the real owner 
dari anak-anak yang kita miliki. Kita hanya ditugasi Allah 'Azza wa Jalla, Pemilik Sesungguhnya Seluruh Anak-Anak Manusia, cuma sebagai fasilitator yang harus bisa mengantarkan anak-anak kita kembalikepada Pemiliknya dalam keadaan orisinal (asli) sebagaimana dulu dia dilahirkan. Dalam bahasaimannya, anak itu lahir dalam keadaan fitrah (suci), karena itu ia harus kita kembalikan padaPemiliknya juga dalam kondisi fitrah.Al Qur'an menegaskan hal itu.
"Dan (ingatlah) ketika Robb-mu mengeluarkan anak-anak  Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian atas jiwa-jiwa mereka (serayaberfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab; "Betul (Engkau Tuhan kami)kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak 
 
mengatakan; "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lupa terhadapkesaksian ini." (Surat Al A'raf 172).
Setiap anak Adam yang terdiri dari beragam warna, beragam bahasa, beragam kultur, danakhirnya berhimpun dalam berbagai suku bangsa di dunia itu, hakikatnya lahir dalam keadaanfitrah (bertauhid kepada Allah 'Azza wa Jalla). Ini merupakan warisan Robbani sekaligus modaldasar yang paling kokoh yang akan menentukan eksistensi kemanusiaan setiap insan. Bagaimananilai-nilai keyakinan yang diajarkan anak, miliu tempatnya hidup, serta sistem pembinaankarakter yang diterapkan terhadap dirinya, kelak yang akan menentukan akan menjadi seperti apaanak di kemudian hari. Apakah anak tetap dalam fitrahnya, atau apakah bahkan ia kelak menjadipenentang fitrah yang dimilikinya?Karena itu Nabi mulia saw menegaskan,
"Setiap bayi yang lahir dalam keadaan fitah. Maka orangtuanyalah yang kemudian berperan dalam merubah fitrahnya, apakah ia kelak menjadi Yahudi, menjadi Majusi, atau menjadi Nasrani."
(hadits shahih).Hadits di atas tidak menyebutkan, si anak bisa berubah menjadi Islam. Karena Islam(fitrah) itu sesungguhnya telah menyatu (inherent) dalam diri setiap anak yang lahir. Maka tugaspara orangtua yang diamanati anak-anak yang fitrah itu oleh Allah swt, sesungguhnya adalahtetap mengasuh mereka dalam sistem dan pola yang fitrah. Dengan kata lain, anak-anak itusebetulnya telah disediakan olehPenciptanya suatu sistem pendidikan yang sesuai dengan fitrah mereka. Sehingga hanyadengan sistem itu anak-anak dijamin tak akan berubah fitrahnya hingga ia menghadap Tuhannya.Kita -para orangtua- yang seharusnya berperan mengarahkan, menempatkan, dan menjaga si anak agar tetap berada pada koridor sistem fitrah itu, yang tak lain adalah dienul Islam.Hanya sistem (dien) Islam yang bisa mengakomadasi, menumbuhkan, mengembangkan,serta mengokohkan potensi fitrah setiap manusia. Karena Islam adalah agama yang diciptakanoleh Pencipta sekaligus Pemilik manusia itu sendiri. Perintah itu dengan gamblang dituangkandalam firmanNya yang agung;
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama(Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusiamanusia tidak mengetahuinya." (Ar Ruum : 30)
.Lantaran itulah para orangtua berperan mengenalkan, menggiring, dan menempatkananak-anak agar dia hidup dalam habitat sistem fitrah itu (dienul Islam) secara permanen. Anak tak boleh sedikitpun disusupkan nilai-nilai asing pada aspek manapun, yang dapat merusak potensifitrahnya.
 
Sebaliknya orangtua berkewajiban menempa kepribadian anak berdasarkan petunjuk sistem fitrah itu, agar potensi fitrah anak menjadi sesuatu yang dominan muncul ke permukaankepribadiannya. Sebab hanya manusia yang memiliki kepribadian fitrah yang akan bisamemelihara eksistensi kehormatan dirinya.Tentu saja keliru asumsi yang mengatakan, mengajarkan Islam pada anak, cuma urusansholat, puasa, dan bersedekah. Namun dia tidak mendidiknya agar anak berpakaian sopan danmenutup aurat (bagi anak-anak perempuan). Dia tidak menciptakan atmosfer Islami di dalamrumah tangganya. Atau bahkan dia membiarkan anak-anaknya bebas mengikuti trend budayaBarat, baik dari segi pergaulan, selera hiburan, selera berpakaian, dan lain sebagainya. Atau jugadia membebaskan anaknya memilih jalan hidup yang bertentangan dengan Islam.Akan lebih keliru lagi misalnya, jika ada orangtua menginginkan anak-anak merekamenjadi anak-anak yang sholeh dan sholihat, tapi menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah-sekolah Kristen misalnya. Atau anak-anak kita biarkan bergaul dalam lingkungan komunitasatheistik/materialistik yang menganut paham pergaulan bebas. Komunitas yang menganggapsemua agama sama, semua agama baik, surga tidak bisa diklaim hanya sebagai milik orang-orangIslam belaka. Jelas ini tidak kondusif bagi perkembangan fitrah anak. Bahkan sangatmembahayakan fitrahnya.Jika kita tidak asuh anak-anak kita dalam asuhan sistem dan nilai-nilai yang Islami, jangan salahkan jika mereka kelak di kemudian hari menjadi orang-orang nyeleneh. Orang-orangyang tidak tau malu mempertontonkan aurat, Orang-orang yang menjadi pemuja ideologi Barat.Orang-orang yang sesungguhnya telah menjadi murtad (keluar dari Islam), na'udzubillah mindzalik.Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang mau mendengar suara fitrah anak-anak kita. Agar kita tidak memaksakan kehendak dan obsesi kita yang barangkali justru akanmemurtadkan mereka. Coba dengar baik-baik suara fitrah mereka: "Ayah, ibu, jangan murtadkananakmu!" Wallahu a'lam.

Activity (15)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Nur Kholiq liked this
Nur Kholiq liked this
koesanto liked this
addadeh liked this
fatahudinukumu liked this
Ade Candra liked this
Ade Candra liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->