Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword or section
Like this
367Activity
P. 1
Model Pembelajaran Tipe Jigsaw - Kajian Teori

Model Pembelajaran Tipe Jigsaw - Kajian Teori

Ratings: (0)|Views: 35,171 |Likes:
Published by Enos Lolang

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: Enos Lolang on Dec 27, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/15/2013

pdf

text

original

 
BAB IIKAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR A.
 
Acuan Teori Subtansi Mata Pelajaran1.
 
Pengertian Belajar
Pendidikan merupakan suatu proses kegiatan yang mengaitkan banyak faktor. Dalam menyukseskan pendidikan tidak terlepas dari kegiatan belajar mengajar, ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Hudoyo (1990 : 1) bahwa :³Pendidikan sebenarnya merupakan suatu rangkaian peristiwa yangkompleks, peristiwa tersebut merupakan rangkaian kegiatan komunikasiantar manusia, sehingga manusia itu sebagai pribadi yang utuh. Manusiayang tumbuh melalui belajar, karena itu kalau kita berbicara tentang belajar tidak dapat melepaskan diri dari mengajar. Belajar merupakan proses kegiatan yang tidak dapat dipisahkan´.Belajar merupakan suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diriseseorang. Perubahan-perubahan itu sebagai hasil belajar yang dapat ditunjukkandengan berbagai bentuk perubahan pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkahlaku. Keterampilan, kecakapan, dan kemampuan serta perubahan-perubahan padaaspek lain yang ada pada setiap individu yang belajar.Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya dalammemenuhi kebutuhan hidupnya. Sejalan dengan yang dikemukakan oleh (Slamet,1991 : 12) bahwa :³Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhansebagai hasil pengalaman itu sendiri dalam interkasi denganlingkungannya´.
 
16Cronbach (Yusuf, 2003 : 22), menyatakan bahwa belajar adalah perubahan perilaku sebagai hasil dari pengalaman. Sedangkan Geoch (Yusuf,2003 : 22) juga mengemukakan bahwa belajar adalah perubahan dalam perpormarsi sebagai hasil dari praktek-praktek.Belajar metematika memerlukan kesiapan mental yang tinggi karenamatematika berkenaan dengan ide-ide abstrak yang diberi simbol-simbol itutersusun secara hirarkis dan penalarannya yang bersifat deduktif. Sebagaimanayang dikemukakan Hudoyo (1990 : 4) bahwa:³Matematika berkenaan dengan ide-ide/konsep-konsep abstrak yangtersusun secara hirarkis dan penalarannya deduktif´.Dari uraian di atas dapat diartikan bahwa belajar matematika adalah suatu prosesyang dilakukan individu secara bertahap dan berurutan serta berdasarkan pengalaman belajar sebelumnya, yang memerlukan kesiapan mental yang tinggiuntuk memperoleh suatu percobaan tingkah laku.
2
.
 
Matematika Sekolah
Matematika sekolah adalah matematika yang diajarkan di sekolah, yaitumatematika yang diajarkan pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah.Sering juga dikatakan bahwa matematika sekolah adalah unsur-unsur atau bagian- bagian dari matematika yang dipilih berdasarkan atau berorientasi padakepentingan kependidikan dan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi(IPTEK). Hal ini berarti, bahwa yang dimaksud dengan kurikulum matematikaadalah kurikulum pelajaran matematika yang diberikan di jenjang pendidikan
 
17 pendidikan menengah ke bawah, bukan diberikan di jenjang pendidikn tinggi.Dijelaskan, bahwa matematika sekolah tersebut terdiri atas bagian-bagianmatematika yang dipilih guna menumbuhkembangkan kemampuan-kemampuandan membentuk pribadi-pribadi serta mengarah pada perkembangan IPTEK. Halini menunjukkan bahwa matematika sekolah tetap memiliki cirri-ciri yang dimilikimatematika, yaitu memiliki objek kejadian yang abstrak serta bepola pikir deduktif konsisten.Menurut Suraharta. (2005:21) menyatakan bahwa matematika sekolahtidaklah sepenuhnya sama dengan matematika sebagai ilmu. Dikatakan tidak sepenuhnya sama karena memiliki perbedaan antara lain dalam hal:
a.
 
Penyajian Matematika.
Penyajian dan pengungkapan matematika di sekolah disesuaikan dengan perkiraan perkembangan intelektual peserta didik. Mungkin dengan mengaitkan butir yang akan disampaikan dengan realitas di sekitar siswa atau disesuaikandengan pemakaiannya. Jadi penyajiannya tidak langsung berupa butir-butir matematika.Tentu dapat dipahami bahwa penyajian matematika pada SekolahMenengah Atas (SMA) berbeda dengan penyajian matematika pada SekolahMenengah Pertama (SMP) atau Sekolah Dasar (SD). Hal ini didasarkan padatahap perkembangan intelektual siswa SMA yang semestinya berada pada tahapoperasional formal. Jadi tidak banyak butir matematika sekolah disajikan secarainduktif, kecuali bagi siswa yang lemah.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->