Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
4Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Subyek pajak penghasilan

Subyek pajak penghasilan

Ratings: (0)|Views: 4,546|Likes:
Published by fithrah

More info:

Published by: fithrah on Dec 28, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/29/2010

pdf

text

original

 
Subyek pajak penghasilan
Menurut Undang Undang no.17 tahun 2000 tentang pajak penghasilan, subyek pajak  penghasilan adalah sebagai berikut:1.
Subyek pajak pribadi
yaitu setiap orang yang tinggal di Indonesia atau tidak  bertempat tinggal di Indonesia yang mendapatkan penghasilan dari indonesia.2.
Subyek pajak harta warisan belum dibagi
yaitu warisan dari seseorang yangsudah meninggal dan belum dibagi tetapi menghasilkan pendapatan, maka pendapatan itu dikenakan pajak.3.
Subyek pajak badan
yaitu perkumpulan orang dan/atau modal baik melakukanusaha maupun tidak melakukan kegiatan usaha meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, badan usaha milik negara atau daerahdengan nama dan bentuk usaha apapun seperti firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, perkumpulan, persekutuan, yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik, atau organisasi sejenis, lembaga, bentuk usaha tetap dan bentuk badanlainnya.4.
Bentuk usaha tetap
yaitu bentuk usaha yang digunakan oleh orang pribadi yangtidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di indonesia tidak lebih dari 183hari dalam jangka waktu dua belas bulan, atau badan yang tidak didirikan dan berkedudukan di Indonesia, yang melakukan kegiatan di Indonesia.
Bukan subyek pajak penghasilan
Undang Undang No. 17 tahun 2000 menjelaskan tentang apa yang tidak termasuk obyek  pajak sebagai berikut:1.Badan perwakilan negara asing.2.Pejabat perwakilan diplomatik dan konsulat atau pejabat - pejabat lain dari negaraasing dan orang - orang yang diperbantukan kepada mereka yang bekerja padadan bertempat tinggal bersama mereka dengan syarat bukan warga negaraindonesia dan negara yang bersangkutan memberikan perlakuan timbal balik.3.Organisasi internasional yang ditetapkan oleh keputusan menteri keuangandengan syarat Indonesia ikut dalam organisasi tersebut dan organisasi tersebuttidak melakukan kegiatan usaha di Indonesia. Contoh: WTO, FAO, UNICEF.4.Pejabat perwakilan organisasi internasional yang ditetapkan oleh keputusanmenteri keuangan dengan syarat bukan warga negara indonesia dan tidak memperoleh penghasilan dari Indonesia.
Obyek Pajak Penghasilan
Yang menjadiObjek Pajak adalah penghasilan yaitu setiapTambahan Kemampuan Ekonomisyang diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik yang berasal dari Indonesiamaupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambahkekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk apapun.
 
Undang-undang Pajak Penghasilan Indonesia menganut prinsip pemajakan atas penghasilan dalam pengertian yang luas, yaitu bahwa pajak dikenakan atas setiaptambahan kemampuan ekonomis yangDiterima atau Diperoleh Wajib Pajak dari manapun asalnya yang dapat dipergunakan untuk konsumsi atau menambah kekayaanWajib Pajak tersebut.Pengertian penghasilan dalam Undang-undang PPh tidak memperhatikan adanya penghasilan dari sumber tertentu, tetapi pada adanya tambahan kemampuan ekonomis.Tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak merupakanukuran terbaik mengenai kemampuan Wajib Pajak tersebut untuk ikut bersama-samamemikul biaya yang diperlukan pemerintah untuk kegiatan rutin dan pembangunan.Dilihat dari penggunaannya, penghasilan dapat dipakai untuk konsumsi dan dapat puladitabung untuk menambah kekayaan Wajib Pajak.Karena Undang-undang PPh menganut pengertian penghasilan yang luas maka semua jenis penghasilan yang diterima atau diperoleh dalam suatu tahun pajak digabungkanuntuk mendapatkan dasar pengenaan pajak. Dengan demikian, apabila dalam satuTahunPajak suatu usaha atau kegiatan menderita kerugian, maka kerugian tersebutdikompensasikan dengan penghasilan lainnya (Kompensasi Horisontal
 
), kecuali kerugianyang diderita di luar negeri. Namun demikian, apabila suatu jenis penghasilan dikenakan pajak dengan tarif yang bersifat final atau dikecualikan dari Objek Pajak, maka penghasilan tersebut tidak boleh digabungkan dengan penghasilan lain yang dikenakantarif umum.
Kronologi Perubahan Undang-undang yang mengaturPajak Penghasilan
Pajak Penghasilan
(disingkat
PPh
) diIndonesiadiatur pertama kali denganUndang- Undang Nomor 7 Tahun 1983dengan penjelasan pada Lembaran Negara Republik  Indonesia Tahun 1983 Nomor 50.Selanjutnya berturut-turut peraturan ini diamandemenoleh1.Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1991,2.Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1994, dan3.Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000.MulaiJuli 2003sampaiDesember  2004, pemerintah menerapkan sistem pajak yang ditanggung pemerintahyang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2003  dan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 486/KMK.03/2003. PerubahanPenghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) telah disesuaikan juga beberapa kalidalam:
 
1.Peraturan Menteri Keuangan Nomor 564/KMK.03/2004,berlaku untuk tahun  pajak 2005(sekaligus meniadakan pajak yang ditanggung pemerintah).2.Peraturan Menteri Keuangan Nomor 137/PMK.03/2005,berlaku untuk tahun  pajak 2006.

Activity (4)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
anggalionef liked this
kim ensu liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->