Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword or section
Like this
36Activity

Table Of Contents

0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Kumpulan Analisis Bencana Lumpur Lapindo 1

Kumpulan Analisis Bencana Lumpur Lapindo 1

Ratings: (0)|Views: 2,819 |Likes:
Published by Lentera_bumi_2009
Kumpulan analisa tentang lumpur Lapindo di berbagai Media
Kumpulan analisa tentang lumpur Lapindo di berbagai Media

More info:

Published by: Lentera_bumi_2009 on Dec 29, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/02/2012

pdf

text

original

 
www.zeilla.wordpress.compage 1 of 99________________________________________________________________________LNFSumber
: Koran Tempo, 29 Maret 2008
Ketika Tuhan Ditenggelamkan Lumpur Lapindo
Oleh: Firdaus Cahyadi
Gencarnya upaya penyesatan informasi melalui iklan PT Lapindo di berbagai mediamassa yang kemudian diikuti oleh semakin kuatnya pembelaan lembaga-lembaga negara(dari eksekutif, yudikatif, sampai legislatif) terhadap perusahaan ini telah kembali"berhasil" mengkambinghitamkan Tuhan sebagai penyebab utama bencana ekologi yangmenyengsarakan ribuan warga Sidoarjo.Seperti sebuah grup paduan suara, para pejabat publik di negeri ini menyatakan bahwasemburan lumpur di Sidoarjo adalah bencana alam. Bahkan Badan Pengkajian danPenerapan Teknologi, sebagai tempat bersemayamnya para ilmuwan, telahmerekomendasikan bahwa lumpur Lapindo adalah bencana alam (
Koran Tempo
, 18Maret 2008).Negara, yang seharusnya dapat bertindak tegas terhadap pihak-pihak yang merugikanmasyarakat, pun kini hanya berfungsi tak lebih dari sekadar kasir Lapindo. Pasalnya,Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2007 Pasal 15 ayat 1 menyebutkan bahwa biayamasalah sosial kemasyarakatan di luar peta wilayah yang terkena dampak lumpurLapindo dibebankan kepada pemerintah. Sementara itu, Lapindo hanya menanggungganti rugi untuk warga yang ada di dalam peta.Berdasarkan payung hukum itulah, dalam sidang kabinet terbatas yang diselenggarakanpada awal Maret 2008 lalu, pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla denganmudah menyanggupi untuk mengucurkan uang sekitar Rp 700 miliar dari anggaranpendapatan dan belanja negara untuk menanggung dampak sosial dan lingkungan darisemburan lumpur Lapindo.Uang dari APBN yang seharusnya bisa digunakan untuk membiayai anggaran pendidikandan kesehatan pun dengan mudah dibobol untuk menanggulangi dampak sosial danlingkungan dari semburan lumpur Lapindo. Padahal, jika saja tidak terjadi semburanlumpur dan Lapindo berhasil mengeruk sumber daya alam di Sidoarjo, keuntungan dariusaha itu sudah dapat dipastikan tidak mengalir ke kas negara atau andaikata mengalirpun jumlahnya tidak signifikan.Kemenangan Lapindo atas negara kini sudah di ambang mata, sementara kekalahanrakyat Indonesia, terutama yang telah menjadi korban semburan lumpur, pun tinggalmenunggu waktu saja. Kekuatan uang benar-benar telah sedemikian berkuasanya dinegeri yang selalu mengklaim religius ini.Ruang-ruang publik yang seharusnya menjadi tempat bagi sebuah perdebatan yang sehatdalam kasus Lapindo kini telah dibajak oleh serbuan iklan. Para ilmuwan independen dankorban lumpur Lapindo yang tidak memiliki uang untuk beriklan di media massa pun tak terdengar suaranya. Akibatnya, Tuhan pun akhirnya menjadi terdakwa tunggal dalamkasus semburan lumpur Lapindo.
 
www.zeilla.wordpress.compage 2 of 99________________________________________________________________________LNFSuara pakar pertambangan dari perguruan tinggi ternama di Indonesia yang menilaisemburan lumpur Lapindo disebabkan oleh adanya unsur kelalaian dalam prosespengeboran, seperti mantan Direktorat Eksplorasi dan Produksi BPPKA-Pertamina IrKersam Sumanta, mantan Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia Andang Bachtiar, danahli perminyakan ITB yang juga mantan ketua tim investigasi independen luapan lumpurLapindo, Rudi Rubiandini, tidak pernah menjadi pertimbangan dalam munculnya hampirsetiap kebijakan publik tentang Lapindo. Jika suara para pakar independen sajadiabaikan, dapat dipastikan suara korban Lapindo juga akan mengalami hal yang sama.Hal itu diperkuat oleh pernyataan Ibu Sumiyati, salah satu warga korban Lapindo, dalamsebuah testimoni yang dipublikasikan di sebuah blog yang mengatakan bahwa selama inipemerintah tidak mendengar golongan bawah. Mereka hanya memperhatikan golonganatas. Menurut dia, yang diajak bicara oleh pemerintah hanya pemilik perusahaan,sementara para korban tidak diajak bicara. Bahkan sering kali para korban mendapatkanteror dari aparat.Kekalahan negara dalam kasus Lapindo itu sebenarnya sudah terlihat sejak awalmunculnya kasus lumpur Lapindo. Beberapa keputusan pemerintah yang dianggapmerugikan Lapindo sering kali dengan mudah diabaikan. Keputusan-keputusan yangmerupakan hasil rapat 28 Desember 2006, misalnya, Presiden memerintahkan Lapindomenuntaskan tanggung jawab penanganan lumpur panas dengan kewajiban menanggungbiaya penanggulangan lumpur sebesar Rp 1,3 triliun. Selain itu, Lapindo harus membayarkompensasi berupa ganti rugi lahan sawah dan rumah rakyat mulai awal Maret 2007.Total kerugian rakyat yang diperkirakan mencapai Rp 2,5 triliun pun harus sudah dibayar20 persen oleh Lapindo (
Konspirasi di Balik Lumpur Lapindo
, Ali Azhar Akbar, 2007).Namun, jangankan memenuhi keputusan tersebut, Lapindo justru mengklaim telahmengeluarkan dana untuk mengatasi dampak sosial lebih dari US$ 15 juta. Celakanya,pemerintah SBY-JK menuruti saja klaim Lapindo tersebut. Bahkan akhirnya pemerintahmengeluarkan Perpres Nomor 14 Tahun 2007, yang merupakan payung hukum bagiLapindo untuk mendapatkan kemenangan-kemenangan berikutnya.Upaya mengkambinghitamkan Tuhan dalam kasus Lapindo tampaknya sebuah langkahyang memang sudah direncanakan sejak awal. Bagaimana tidak, bila lumpur Lapindo iniberhasil dinyatakan sebagai bencana alam, bukan hanya dapat membobol APBN untuk membiayai dampak sosial dan lingkungan dari semburan lumpur, tapi juga kerugian yangdiderita Lapindo dalam kasus itu dapat diringankan oleh klaim asuransi yang bersediamenanggung kerugian hingga US$ 25 juta.Publik pun akhirnya hanya ditempatkan sebagai obyek pelengkap penderita dalam kasusini. Pintu-pintu masuk untuk memperjuangkan nasib publik secara lebih adil danterhormat sudah dijaga oleh para pembela Lapindo. Mungkin salah satu cara yang kinibisa dilakukan adalah menjaga memori publik atas peristiwa ini agar tidak begitu sajadilupakan, paling tidak sampai Pemilu 2009 mendatang. Dengan begitu, publik dapatmemberikan hukuman politik dengan tidak memilih partai politik dan tokoh politik yangselama ini membela Lapindo.
 
www.zeilla.wordpress.compage 3 of 99________________________________________________________________________LNF
URL Source:
 http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/opini/lapindo-dan-tanggung- jawa
 Lapindo dan Tanggung Jawab Sosial
Oleh: Viktor SilaenAkhir Mei silam, bencana yang bernama ”lumpur panas Lapindo” di Sidoarjo itubermula. Efeknya bagaikan ”bola salju” (
snowball effect 
): mula-mula kecil, tapi karenamenggelinding terus-menerus, lama-lama semakin membesar.Hingga kini, ”bola salju” itu sudah bergulir kurang-lebih enam bulan lamanya. Dampak negatifnya sungguh dahsyat, baik secara material maupun non-material. Tapi, baru 23November lalu ia dinyatakan sebagai bencana nasional. Betapa lambannya pemerintahmenyikapi bencana ini.Itu pun ”menunggu” dulu setelah terjadinya ledakan pipa gas Pertamina di kawasanberbahaya sekitar lokasi semburan lumpur yang meminta korban jiwa lebih dari 10 orang.Ledakan pipa gas tersebut adalah bencana atau kecelakaan, demikian dinyatakanpemerintah yang diwakili Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro. Baiklah, kita terimabahwa ini memang bencana.Tapi, mengapa bisa sampai berbulan-bulan lamanya? Kita patut mempersoalkan, dengankategori sederhana: ini bencana yang tak diundang atau bencana yang diundang? Adabeberapa alasan mengapa pertanyaan itu patut dikemukakan. Pertama, menurut EffendiSiradjudin, Ketua Asosiasi Perusahaan Migas Nasional (Aspermigas), sebelum pipa gasPertamina meledak, Aspermigas sebenarnya sudah memprediksikan bahwa bencanatersebut memang akan terjadi.Dalam pembicaraan awal dengan ahli geologi, Dr Andang Bachtiar dan Staf Ahli MenkoPerekonomian Ahmad Husein––terkait rencana Aspermigas menyelenggarakan temuilmiah untuk mengkaji kasus Lapindo pada awal Desember mendatang ––ledakan pipagas Pertamina di lokasi Lapindo termasuk salah satu masalah yang harus cepatdiantisipasi.Selain karena penanganan yang lamban, peninggian tanggul penahan lumpur panas yangterus dilakukan telah menimbulkan beban yang melebihi daya tahan pipa. Secara teoretis, jika tanggul terus ditinggikan, pipa saluran gas tersebut akan pecah karena kuatnyatekanan dari dalam dan dari luar pipa.Kedua, data Walhi (Wahana Lingkungan Hidup) menyebutkan bahwa lokasi sumureksplorasi dan eksploitasi Lapindo semuanya berada di kawasan permukiman padat danpertanian dengan kualitas kesuburan tanah kelas 1. Dari aspek geologis, lokasi tersebutmerupakan zona yang mempunyai struktur bumi yang banyak patahan dan rekahan yangsangat rentan terhadap
underground blow out 
.Artinya, berbagai bentuk kecelakaan industri memang berpeluang besar terjadi di lokasi-lokasi lain di setiap titik sumur eksplorasi dan ekploitasi milik Lapindo yang berjumlah

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->