Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
17Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
GOLPUT

GOLPUT

Ratings: (0)|Views: 3,281|Likes:
Published by 03102009

More info:

Published by: 03102009 on Dec 30, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/30/2013

pdf

text

original

 
FENOMENA GOLPUT DI INDONESIA
Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sejarah Indonesia MutakhirDosen Pengampu : Drs. Djono, M.PdDisusun Oleh :BRIAN ANDRY JATMIKOK4406012PROGRAM STUDI SEJARAHFAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKANUNIVERSITAS SEBELAS MARETSURAKARTA2009
 
FENOMENA GOLPUT DI INDONESIA
Golongan putih atau golput yang lebih dikenal oleh masyarakat luasmerupakan suatu perilaku yang menyimpang bagi penduduk disuatu Negarademokrasi. Dikatakan penyimpangan karena di dalam Negara demokrasi pendapatatau suara rakyat sangat menentukan dalam terpilih atau tidaknya seorangpemimpin. Ada juga yang berpendapat bahwa golongan putih itu adalah golonganbodoh, karena mereka telah mensia-siakan kesempatan yang diberikan kepadamereka. Fenomena golput terjadi di sebagian besar Negara di dunia, khususnya diIndonesia. Meskipun Indonesia telah menyelenggarakan pemilu beberapa kali,kasus ini belum dapat diatasi oleh pemerintah. Para golongan putih beranggapanitu adalah hak mereka untuk mempergunakan hak pilihnya.Sebagai salah satukontrol sikap politik, golongan putih (golput) di Indonesia pada awalnya munculpada awal tahun 1970an. Dimotori oleh kontro sentralnya, Arief Budiman, golputsaat itu merupakan cerminan dari ketidakpuasan kelas menengah terhadap kontropemilu dan kepartaian yang tidak demokratis (Sanit, Arbi: 1992). Anehnya, ketikasaat ini kontro pemilu dan kepartaian sudah mengarah pada bentuk yang lebihdemokratis, golput masih saja menjadi pilihan menarik bagi sebagian kalanganrakyat. Hal ini dapat dilihat dari semakin rendahnya voter turn out dalam pemilulegislative pada masa reformasi saat ini. Data IFES menunjukkan bahwa dalampemilu 1999, dari 118.217.393 jumlah pemilih terdaftar, tercatat 110.298.176pemilih menggunakan hak suaranya. Jumlah ini menurun _ontrol dalam pemilu2004, dimana dari 148.000.369 jumlah pemilih terdaftar, hanya 12.456.342 yangmenggunakan hak pilihnya. Sedangkan dalam pemilu presiden 2004, dimana dari155.048.803 pemilih yang terdaftar, hanya 106.228.247 yang menggunakansuaranya. Hal yang sama terjadi pada beberapa pilkada dimana angka golputsangat tinggi, seperti yang ditunjukkan oleh Pilkada Jabar (35%), Jatim (38,37%)dan Jateng (45,25%).Pada masa reformasi, isu tentang golput mulai disoroti kembali, ancamangolput kini semakin meluas tidak hanya ditingkat nasinal (pemilu), akan tetapihingga ditingkat pemilihan kepala daerah (Pilkada). Dan kini, pada awal Desember
 
2008 atau menjelang memasuki tahun pemilu 2009, golput dinilai denganmenambahkan ide tentang fatwa haram. Pemilihan umum di negara yangdemokrastis dan berdasarkan pada Pancasila menjadi sebuah kebutuhan yang perludiwujudkan dalam penyelenggaraan negara. Melalui pemilihan umum, rakyat yangberdaulat memilih wakil-wakilnya yang diharapkan dapat memperjuangkan aspisaridan kepentinganya dalam suatu pemerintahan yang berkuasa. Oleh karena itusetiap warga negara sebaiknya ikut berpartisipasi dalam pelaksaan pemilihanumum dengan menyalurkan hak pilihya atau dengan kata lain tidak melakukantindakan golput (Golongan Putih) yang juga merupakan suatu cara dalammengamalkan nilai-nilai Pancasila khususnya sila keempat yang merupakan cita-cita bangsa dapat terwujud dalam penyelenggaraan berbangsa dan bernegara.Pemerintahan yang berkuasa sendiri merupakan hasil dari pilihan maupun bentukanpara wakil rakyat tadi untuk menjalankan kekuasaan negara. Tugas para wakilpemerintahan yang berkuasa adalah melakukan kontrol atau pengawasan terhadappemerintah tersebut. Dengan demikian, melalui pemilihan umum rakyat akan selaludapat terlibat dalam proses politik dan secara langsung maupun tidak langsungmenyatakan kedaulatan atas kekuasaan negara dan pemerintahan melalui wakil-wakilnya. Dalam tatanan demokrasi, pemilu juga menjadi mekanisme/cara untukmemindahkan konflik kepentingan dari tataran masyarakat ke tataran badanperwakilan agar dapat diselesaikan secara damai dan adil sehingga kesatuanmasyarakat tetap terjamin. Hal ini didasarkan pada prisip bahwa dalam sistemdemokrasi dan berdasarkan nilai dasar dari pancasila terutama sila keempat yaitunilai kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalampermusyawaratan/perwakilan.
Menurut catatan Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR), dari 26 Pemilukepala daerah tingkat provinsi yang berlangsung sejak 2005 hingga 2008, 13 Pemilu Gubernur  justru dimenangi golongan putih alias Golput. Artinya, jumlah dukungan suara bagi gubernur  pemenang Pilkada kalah ketimbang jumlah pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya.Kondisi itu menular ke Ibukota Negara DKI Jakarta. Jumlah masyarakat yang tidak memilihdiperkirakan mencapai 39,2%. Nilai ini setara dengan 2,25 juta orang pemilih, sementara sebagai pemenang, Fauzi Bowo hanya dipilih 2 juta orang pemilih (35,1%). Menurut hasil surveyLembaga Survey Indonesia (LSI), angka Golput malah jauh lebih besar, yakni mencapai 65%.Direktur LSI Saiful Mujani memperkirakan, besarnya potensi Golput Pilkada DKI Jakarta karena

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->