Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
16Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Analisis Ex-Ante Kelayakan Ekonomis Adopsi Varietas Unggul Bawang Merah Di Indonesia

Analisis Ex-Ante Kelayakan Ekonomis Adopsi Varietas Unggul Bawang Merah Di Indonesia

Ratings: (0)|Views: 2,934|Likes:
Published by vicianti1482

More info:

Published by: vicianti1482 on Dec 31, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

02/28/2013

pdf

text

original

 
 
1
PENGKAJIAN
EX ANTE 
MANFAAT POTENSIAL ADOPSI VARIETAS UNGGULBAWANG MERAH DI INDONESIA
Witono Adiyoga dan Thomas Agoes Soetiarso
Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Jl. Tangkuban Perahu 517 Lembang, Bandung - 40391
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April-November 2006 dan ditujukan untuk mensimulasi besaran sertadistribusi surplus ekonomis yang merupakan dampak potensial introduksi varietas unggul bawang merah diIndonesia. Studi ini memanfaatkan teknik analisis surplus ekonomik berdasarkan asumsi sistem perekonomiantertutup dan produk tunggal bawang merah yang bersifat homogen. Perubahan teknologi yang diakibatkan olehintroduksi varietas unggul bawang merah dapat meningkatkan total dan domestik surplus sebagai konsekuensidari peningkatan reduksi biaya dan produktivitas. Peningkatan produktivitas akan meningkatkan manfaatpenggunaan teknologi varietas unggul bawang merah searah dengan dampak peningkatan reduksi biaya inputper hektar. Hasil analisis mengindikasikan bahwa inovasi varietas unggul baru ke dalam sub-sektor bawangmerah Indonesia memiliki potensi dampak yang tinggi terhadap kesejahteraan ekonomi masyarakat. Semuaskenario yang disimulasikan untuk varietas unggul bawang merah menghasilkan manfaat ekonomis tinggi.Skenario terburuk (P8) menghasilkan manfaat nasional sebesar Rp. 4,9 milyar, sedangkan skenario terbaik (P5)menghasilkan manfaat nasional sebesar Rp. 631,4 milyar. Petani bawang merah masih tetap dapat memperolehkeuntungan walaupun harga satuan outputnya lebih rendah, karena teknologi baru (varietas unggul) akanmeningkatkan produksi yang dapat dipasarkan dan menurunkan biaya produksi. Tingkat adopsi varietas unggulbaru bawang merah akan berpengaruh besar terhadap besaran manfaat dan pada gilirannya akan bergantungpula kepada premium benih yang harus dibayar petani. Untuk petani atau perusahaan benih, keuntungan akanmeningkat sejalan dengan semakin tingginya
markups
benih dalam kondisi tertentu, tetapi juga akan menurun jika tingkat adopsinya lebih rendah. Dengan demikian, ada semacam
economic trade-off 
antara
markup
benihdengan tingkat adopsi.Kata kunci: varietas berdaya hasil tinggi;
 Allium ascalonicum
L.; pengkajian dampak
ex-ante
; surplusekonomik; manfaat ekonomis tinggi.
ABSTRACT. Adiyoga, W. and T. A. Soetiarso.
Ex-ante assessment of potential benefits for adopting a new highyielding shallot variety in Indonesia. The study carried out in April-November 2006 aimed to simulate the size anddistribution of the economic surplus generated by the introduction and adoption of new high yielding shallotvariety in Indonesia. This study employed the economic surplus technique assuming the existence of a closedeconomy, and dealt with a single homogeneous good. Technological change brought by the introduction of highyielding shallot variety increased the total and domestic surplus change as a consequence of increases in costreduction and yield. Increases in yield per hectare increased the benefits of the high yielding shallot varietytechnology in the same direction as increases in the cost reduction in input per hectare. The results indicated thathigh-yielding variety innovations applied to Indonesia’s agricultural sector had a potential positive economicimpact and increased the society’s economic welfare. All the scenarios simulated for the high yielding shallotvariety increased the domestic economic surplus. The worst scenario (P8) produced national benefits of Rp. 4.9billion, while for the best scenario P5; the national benefits were Rp. 631.4 billion. Shallot farmers would gainmore profit even without raising the output price, because the technology would increase the marketable yieldand lower production costs. The extent of adoption of the shallot variety would largely influence the magnitude of the domestic benefits and depend among other factors on the seed premium farmers had to pay. For the seedgrower/company, profits might increase with higher seed markups under certain conditions, but through lower adoption rates they might also decrease. There was therefore an economic trade-off between the seed markupand the adoption rates.Key words: high-yielding variety;
 Allium ascalonicum
L.; ex-ante impact assessment; economic surplus;high economic benefits.
 
 
2
 
Bawang merah merupakan salah satu komoditas sayuran unggulan yang sejak lama telahdiusahakan oleh petani secara intensif. Komoditas sayuran ini termasuk ke dalam kelompok rempahtidak bersubstitusi yang berfungsi sebagai bumbu penyedap makanan serta bahan obat tradisional.Komoditas ini juga merupakan sumber pendapatan dan kesempatan kerja yang memberikan kontribusicukup tinggi terhadap perkembangan ekonomi wilayah. Selama periode 1996-2005, pertumbuhanproduksi rata-rata bawang merah adalah sebesar 3,4% per tahun, dengan kecenderungan (
trend 
) polapertumbuhan yang konstan (Direktorat Jenderal Hortikultura, 2006). Komponen pertumbuhanproduktivitas (4,9%) ternyata lebih banyak memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan produksibawang merah dibandingkan dengan komponen areal panen (-1,5%). Dalam 10 tahun terakhir, terjadipenurunan areal panen bawang merah rata-rata 1,5% per tahun. Konsumsi rata-rata bawang merahuntuk tahun 2004 adalah 4,56 kg/kapita/tahun atau 0,38 kg/kapita/bulan. Estimasi permintaan domestikuntuk tahun 2010 mencapai 976 284 ton (konsumsi = 824 284 ton; benih = 97 000 ton, industri = 20000 ton dan ekspor = 35 000 ton). Analisis data ekspor-impor 1996-2005 mengindikasikan bahwaselama periode tersebut Indonesia adalah
net importer 
bawang merah, karena volume ekspor secarakonsisten selalu lebih rendah dibandingkan volume impornya (Adiyoga, 2000).Bawang merah dihasilkan di 24 dari 30 propinsi di Indonesia. Propinsi penghasil utama (luasareal panen > 1 000 hektar per tahun) bawang merah diantaranya adalah Sumatra Utara, SumatraBarat, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogya, Jawa Timur, Bali, NTB dan Sulawesi Selatan. Sembilanpropinsi ini menyumbang 95,8% (Jawa = 75%) dari produksi total bawang merah di Indonesia pada ta-hun 2005. Selama periode 1996-2005, tingkat pertumbuhan rata-rata produksi bawang merah di Indo-nesia adalah sebesar 3,4% (areal panen - 1,5% dan produktivitas 4,9%) per tahun. Besaran pertum-buhan menunjukkan bahwa sumber dominan peningkatan produksi bawang merah selama periode1996-2005 adalah peningkatan produktivitas. Hal ini mengimplikasikan peranan inovasi teknologi dalammemacu pertumbuhan produksi selama periode analisis yang relatif signifikan (Adiyoga, 1999).Periode panen di empat propinsi penghasil utama bawang merah (Jatim, Jateng, Jabar danSulsel) menunjukkan bahwa bulan panen cukup bervariasi, tidak saja antar propinsi, tetapi juga daritahun ke tahun. Pengamatan lebih lanjut memberikan gambaran bahwa puncak panen terjadi hampir selama 6-7 bulan setiap tahun, dan terkonsentrasi antara bulan Juni-Desember-Januari, sedangkanbulan kosong panen terjadi pada bulan Pebruari sampai Mei dan November. Berdasarkan pengamatantersebut, musim tanam puncak diperkirakan terjadi pada bulan April sampai Oktober. Varietas bawangmerah yang ditanam di sentra produksi Jawa Tengah dan Jawa Barat (Brebes dan Cirebon)diantaranya adalah Kuning (Rimpeg, Berawa, Sidapurna, dan Tablet), Bangkok Warso, Bima Timor,Bima Sawo, Bima Brebes, Engkel, Bangkok, Philippines dan Thailand. Di Nganjuk, Jawa Timur, varietasyang ditanam diantaranya adalah Bauji Plompong, Thailand, Bethok, Philippines, Bauji Kretek, Vietnam,Ampenan, Mawar, dan Bima. Sedangkan di Buleleng, Bali, diantaranya adalah Klungkung, Bima,Songan, Pinggan dan Philippines. Pada musim kemarau sebagian besar petani (87%) di berbagailokasi tersebut menanam varietas Philippines. Komponen biaya produksi bawang merah tertinggi diBrebes, Cirebon dan Nganjuk secara berturut-turut adalah biaya tenaga kerja (32%-46%), bibit (22%-37%) dan pupuk buatan (8%-11%). Biaya komponen pestisida juga cukup tinggi, yaitu berkisar antara5%-16%. Rasio penerimaan-biaya usahatani bawang merah di ketiga lokasi tersebut lebih besar dari satu(menguntungkan) (Sinung-Basuki et al., 2002).Salah satu faktor utama yang dapat menentukan keberhasilan usaha peningkatan produksibawang merah adalah ketersediaan varietas unggul dan benih/bibit bermutu. Hal ini juga tercermin darianalisis
trend 
produksi bawang merah 1996-2005 yang mengindikasikan inovasi teknologi sebagaipenyumbang dominan dari pertumbuhan produksi. Beberapa varietas bawang merah yang telahdihasilkan oleh Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang, diantaranya adalah Kramat 1, Kramat 2dan Kuning. Namun demikian, berbagai survai lapangan menunjukkan bahwa varietas balai tersebutbelum, bahkan tidak diadopsi petani. Sementara itu, program pemuliaan untuk menghasilkan varietasunggul bawang merah masih terus berjalan dari tahun ke tahun. Untuk memperoleh gambaran peluangpeningkatan adopsi calon varietas unggul yang sedang atau akan dikerjakan, dukungan analisis
ex-
 
 
3
ante
dalam mengestimasi kelayakan ekonomis investasi penelitian pemuliaan bawang merahmerupakan pra-kondisi yang harus dipenuhi (Araji et al., 1978; Lemieux. and Wohlegenant, 1989;Traxler and Byerlee; 1992; Alston et al., 2002) .Evaluasi ekonomis suatu teknologi baru pada tingkat petani harus diawali dengan penaksiranatau evaluasi manfaat dan biayanya terhadap produsen (Nowak, 1987; Burton et al., 1999; Negatu andParikh, 1999). Seperti halnya dalam setiap kasus inovasi teknologi, petani akan mengadopsi teknologitersebut jika memperoleh cukup insentif untuk melakukannya. Insentif tersebut adalah jika manfaatekonomis teknologi bersangkutan lebih besar dibandingkan dengan biayanya (Feder et al., 1985;D’Souza et al., 1993; Nkonya et al., 1997). Oleh karena itu, evaluasi menyangkut kemungkinan adopsivatietas unggul bawang merah terhadap pendapatan bersih di tingkat petani perlu dilakukan. Evaluasibiaya produksi dan potensi profitabilitas merupakan hal yang sangat instrumental untuk meyakinkanpetani sehubungan dengan kemungkinan adopsi varietas baru. Studi semacam ini diharapkan dapatmenjadi model untuk mengevaluasi dampak teknologi pada komoditas lain (Norton and Davis, 1981).Pengambil kebijakan perlu mengetahui besaran manfaat bersih varietas unggul baru terhadapprodusen dan konsumen bawang merah, agar dapat memperoleh pemahaman yang lengkap pada saatmemberikan dukungan berkenaan dengan diseminasi teknologi tersebut. Evaluasi dampak dapatmembantu proses perencanaan dan penyusunan prioritas program penelitian lebih lanjut (Scobie andPosada, 1978; Oehmke and Crawford, 1996; Marassas et al., 2003).Pada dasarnya hampir semua studi adopsi teknologi dilaksanakan secara
ex-post 
, yaitusetelah semua proses penelitian/perakitan teknologi selesai dilakukan (Horton and Mackay, 1999).Namun demikian, sebenarnya penting juga untuk mengkaji peranan persepsi risiko petani terhadapadopsi varietas baru serta berbagai faktor lain terhadap kemungkinan tingkat adopsi sebelumkomponen teknologi tersebut secara formal ditransfer kepada pengguna. Model
ex-ante
dari adopsiteknologi baru dapat memberikan pemahaman lebih mendalam mengenai determinan utamapengambilan keputusan petani untuk mengadopsi atau menolak. Informasi yang dihasilkan dari studidampak
ex-ante
dapat membantu upaya perancangan kebijakan publik yang lebih baik untukmempengaruhi persepsi petani terhadap teknologi/varietas baru dan memperbaiki diseminasi informasidiantara petani (Burdge and Vanclay, 1996; Miller 1998). Penelitian ini menetapkan fokus terhadapanalisis dampak
ex-ante
potensi ekonomis adopsi varietas unggul bawang merah (sebagai salah satukomponen utama pengelolaan tanaman terpadu bawang merah yang dikembangkan dan diuji Balitsa diNganjuk -Jawa Timur dan Buleleng - Bali).
BAHAN DAN METODE
 Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April-November 2006 dan merupakan gabungan daristudi meja, diskusi kelompok dan survai. Data sekunder dihimpun dari Biro Pusat Statistik danDirektorat Jenderal Tanaman Hortikultura, sedangkan data primer diperoleh dari PRA (
 participatory rural appraisal 
) dan wawancara individu petani di Buleleng, Nganjuk dan Brebes; serta wawancara/diskusi dengan pemulia bawang merah Balitsa serta penyuluh pertanian di ketiga sentra produksibawang merah.Analisis surplus ekonomi digunakan untuk memproyeksikan dampak ekonomis penggunaanatau adopsi varietas unggul bawang merah. Pendekatan ini telah sering dan biasa digunakan untukmenaksir atau mengestimasi dampak ekonomi penelitian pertanian (Alston, Norton, and Pardey 1995).Dalam analisis ini, data dasar yang diperlukan diantaranya adalah data produksi, harga,potensi peningkatan hasil (atau penurunan kehilangan hasil), perubahan biaya, serta tingkat adopsiteknologi. Biaya penelitian dan pengembangan dikurangkan dari dari manfaat (
benefits
) dan manfaatbersih (
net benefits
) didiskon berdasarkan waktu untuk menghasilkan tingkat pengembalian atau nilaibersih sekarang (
a rate of return or a net present value
) dari manfaat bersih yang terealisasi atau

Activity (16)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Cak Anwari liked this
driremes liked this
didiRasyidi liked this
Dian Arema liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->