Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
11Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Sekilas Mengenai GNB, KAA, Konferensi Hoge Valuwe, Dan Perjanjian Linggarjati

Sekilas Mengenai GNB, KAA, Konferensi Hoge Valuwe, Dan Perjanjian Linggarjati

Ratings: (0)|Views: 2,129 |Likes:
Published by Erika Angelika

More info:

Published by: Erika Angelika on Jan 01, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/16/2013

pdf

text

original

 
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.Universitas Indonesia. Catatan yang dibuat oleh I Gede Wisura untuk mata kuliah DiplomasiIndonesia, Departemen Hubungan Internasional, FISIP UI.
Page | 1
GERAKAN NON BLOK
Sejak pendiriannya pada KTT ke-1 di Beograd tanggal 1-6 September 1961 yang dihadiri oleh25 negara, GNB terus berupaya memberikan sumbangan ke arah tegaknya suatu tatanandunia yang bersendikan perdamaian dan keamanan serta kerja sama damai antar bangsa.Dari sudut pandang Indonesia, GNB merupakan wadah yang tepat bagi negara-negaraberkembang untuk memperjuangkan cita-citanya dan untuk itu Indonesia senantiasaberusaha secara konsisten dan aktif membantu sebagai upaya ke arah pencapaian tujuandan prinsip-prinsip GNB.GNB mempunyai arti yang sangat khusus bagi Bangsa Indonesia yang dapat dikatakan lahirsebagai negara non-
blok. Bahkan sebelum istilah “Non Alignment”, Indonesia telah terkait
pada jiwa non-blok baik dalam arti falsafah maupun kebijakan. Dalam Pembukaan UUD 1945
dinyatakan bahwa “kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka
penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan
perikeadilan.” Selain itu “melindungi segenap
Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah
Indonesia dan memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa.” Juga“ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi,dan keadilan sosial”.
 Kedua mandat tersebut juga merupakan falsafah dasar GNB, yang tidak dapat disangkalmenjiwai tindakan-tindakannya hingga kini.Dikaitkan dengan politik luar negeri Indonesia yang bebas-aktif sejalan denganprinsip-prinsip dan tujuan-tujuan GNB yang mengandung nilai-nilai universal, antara lainnilai-nilai universal mencakup penghormatan kepada persamaan kedaulatan negara,kemerdekaan nasional, integritas wilayah, non-agresi, tidak campur dalam urusan dalamnegeri, hidup berdampingan secara damai, dan peningkatan kerja sama di antarabangsa-bangsa.Selain itu pada KAA di Bandung pertama kali dikumandangkan kepada dunia prinsip danpandangan bangsa-bangsa di Asia dan Afrika dalam perjuangan emansipasi politik mereka
yang dirumuskan dalam “Dasa Sila Bandung”.
 Sepuluh prinsip tersebut kemudian menjiwai dan mengilhami terbentuknya GNB pada tahun1961.Dalam sejarah GNB, Dasa Sila Bandung telah menjadi sumber inspirasi dan pedoman dalammenghadapi tantangan-tantangan, baik di masa Perang Dingin maupun pada era pascaPerang Dingin.Sebagai pengejawantahan Politik Luar Negeri Indonesia yang bebas aktif itu, sebagai salahsatu negara pendiri GNB, Indonesia senantiasa setia dan commited pada prinsip-prinsip danaspirasi GNB. Sikap ini secara konsekuen dilaksanakan oleh Indonesia dalam kiprahnya pada
 
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.Universitas Indonesia. Catatan yang dibuat oleh I Gede Wisura untuk mata kuliah DiplomasiIndonesia, Departemen Hubungan Internasional, FISIP UI.
Page | 2
masa kepemimpinan Indonesia (1992-1995) di awal pasca Perang Dingin berlalu.Pada masa kepemimpinannya, Indonesia telah berhasil membawa GNB dalam menentukanarah dan secara dinamis menyesuaikan diri pada setiap perubahan yang terjadi denganmenata prinsip-prinsip lama, menentukan prioritas, dan menetapkan orientasi sertapendekatan yang baru.GNB pada masa kepemimpinan Indonesia tidak hanya sekedar penonton dan membiarkandirinya dikesampingkan dalam arus perubahan sejarah, dan mempertegas relevansi GNBketika konfrontasi Timur-Barat sudah berakhir. Ikut serta dalam menata hubunganUtara-Selatan pada pasca Perang Dingin.
Dalam “Pesan Jakarta” yang dihasilkan KTT GNB ke
-10 di Jakarta pada tahun 1992terkandung visi GNB yang disepakati bersama, antara lain :1.
 
Hilangnya keraguan sementara anggota khususnya mengenai relevansi GNB setelahberakhirnya Perang Dingin dan ketetapan hati untuk meningkatkan kerja sama yangkonstruktif serta sebagai komponen integrasi dalam arus utama hubungan internasional.2.
 
Arah GNB yang lebih menekankan pada kerja sama ekonomi internasional denganmengisi kemerdekaan yang telah berhasil dicapai melalui cara-cara politik yang menjadiciri menonjol perjuangan GNB sebelumnya.3.
 
Adanya kesadaran untuk semakin meningkatkan potensi ekonomi negara-negaraanggota melalui peningkatan kerja sama Selatan-Selatan.Selama kepemimpinan GNB selama 3 tahun (1992-1995), Indonesia telah berhasil membawaGNB dengan pendekatan baru berupa kemitraan, dialog dan kerja sama serta meninggalkansikap konfrontasi dan retorika. Dengan sikap dan pendekatan baru ini, GNB mampuberkiprah secara konstruktif dalam percaturan dunia dewasa ini terutama dalam interaksibaik dengan negara-negara maju maupun dengan/dalam organisasi internasional.GNB juga tetap menggunakan PBB yang merupakan payung universal dalam era globalisasiguna memberi peluang untuk menjadi instrumen pokok dan kolektif bagi perwujudan tatadunia baru yang adil, damai dan seimbang.Dukungan para anggota GNB dan masyarakat internasional pada umumnya terhadaplangkah-langkah dan prakarsa-prakarsa yang diambil Indonesia selaku ketua GNBmembuktikan kebenaran dari cara dan pendekatan yang ditempuh oleh Indonesia,menandakan bahwa pelaksanaan politik luar negeri bebas-aktif Indonesia menjadi semakinkokoh dan mantap.
 
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.Universitas Indonesia. Catatan yang dibuat oleh I Gede Wisura untuk mata kuliah DiplomasiIndonesia, Departemen Hubungan Internasional, FISIP UI.
Page | 3
KONFERENSI ASIA-AFRIKA
Ide awal dari penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika sebenarnya datang dari PemerintahIndonesia yang dicetuskan oleh PM Mr. Ali Sastroamidjojo, saat berbicara di depan Parlemenpada 25 Agustus 1954.PM Ali Sastroamidjojo menyatakan pentingnya membangun kerja sama di antarabangsa-bangsa Asia Afrika, yang diharapkan dapat memperkuat upaya untuk menciptakanperdamaian dunia.Di samping itu, kerja sama di antara negara-negara di kedua kawasan tersebut jugaberlandaskan pada aturan main yang telah dirumuskan PBB melalui Piagam PBB pada tahun1945
dengan dasar persamaan kedudukan dan hak pada seluruh negara di dunia. Sangatpenting mewujudkan kerja sama di tingkat regional, yang dapat membantu terwujudnyacita-cita dalam Piagam PBB tersebut.Pernyataan tersebut dianggap merupakan pencerminan harapan Indonesia untuk dapatmemperkuat kerja sama di antara negara-negara Asia Afrika.Pemikiran yang sama muncul juga di Sri Lanka diikuti dengan sebuah langkah konkrit ketikadi awal tahun 1954, PM Sri Lanka Sir John Kotelawala secara resmi mengundang PM BurmaUnu, PM India Jawaharlal Nehru, PM Indonesia Ali Sastroamidjojo dan PM PakistanMohammad Ali dalam sebuah pertemuan informal di Kolombo, Sri Lanka.Undangan tersebut mendapat respon yang positif dari kelima PM yang kemudian sepakatuntuk hadir dalam Pertemuan Kolombo yang berlangsung dari tanggal 28 April sampaidengan 2 Mei 1954.
Pertemuan Kolombo dikenal sebagai “Konferensi Kolombo”, yang
tercatat sebagai langkah awal dimulainya rencana untuk melaksanakan KonferensiAsia-Afrika.Dalam/selama Konferensi Kolombo, banyak didiskusikan awal Perang Dingin, Perang Korea,Perang Vietnam, politik Apartheid di Afrika, dan sebagainya. Dalam hal ini PM Ali
Sastriamidjojo memunculkan pertanyaan, “Per 
an apa yang dapat dimainkan oleh Bangsa AsiaAfrika sebagai bangsa yang baru merdeka dalam upaya mengantisipasi berbagai tantanganyang muncul pada pertengahan dekade 50-
an?”
 PM Ali Sastoamidjojo mencoba meyakinkan peserta konferensi bahwa untuk menjawabtantangan tersebut dibutuhkan suatu pertemuan besar yang melibatkan negara-negara dikawasan Asia dan Afrika. Dalam hal ini, Indonesia sekaligus menyatakan kesediaan untuk menjadi tuan rumah konferensi tersebut. Jawaban ini menjadi titik awal munculnya rencanauntuk menyelenggarakan Konferensi Asia-Afrika untuk pertama kalinya.Berdasarkan hasil Konferensi Kolombo, maka dimulailah persiapan penyelenggaraanKonferensi Asia-Afrika oleh Pemerintah Indonesia. Langkah pertama adalah melakukan

Activity (11)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Desy Lita MeSs liked this
-Kevin Doddy- liked this
gakky_77 liked this
Herwin Antonious liked this
annettefelice liked this
riksand liked this
Dwi Jatmiko liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->