Page | 3
BAB IPENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Perkembangan teknologi yang semakin canggih dewasa ini menjadikan hampir tidak adabagian planet kita yang sepenuhnya terkucil, dan tidak terjangkau oleh komunikasi.Perkembangan ini membuat dunia terasa semakin kecil, peradaban dan kebudayaan umatmanusia pun makin menjadi satu, makin saling susup-menyusup, dan makin salingmempengaruhi. Inilah yang dinamakan globalisasi, di mana dunia seakan menjadi
borderless
,tanpa batas. Tidak hanya mendatangkan berbagai pengaruh positif, globalisasi jugamendatangkan banyak pengaruh negatif seperti timbulnya pendangkalan-pendangkalan yangmembuat banyak orang menjadi kehilangan pegangan. Nilai-nilai Barat kemudian seolahmenjadi pegangan baru bagi kehidupan setiap orang, dari belahan bumi manapun. Ini jugalahyang dialami sistem budaya di Indonesia, dalam makalah ini sistem budaya di Dayak,khususnya. Pendangkalan nilai-nilai ini kemudian berakibat pada mundurnya atau stagnannyaperkembangan kebudayaan-kebudayaan yang ada di Indonesia. Padahal kebudayaan diIndonesia adalah kebudayaan yang sangat beragam, merupakan aset yang sangat mahal biladikelola dengan baik dan benar
1
, sebab seyogyanya kebudayaan tradisional senantiasamengalami tekanan dan erosi, terutama di era globalisasi seperti sekarang. Kemampuan dandaya tahan kebudayaan tradisional tidak sama dari waktu ke waktu, lebih-lebih daya serapnya.
Kebudayaan tradisional jika ingin terus berlangsung perlu “mengawinkan diri” dengan
zamannya
2
. Makalah ini mengambil kasus Sistem Budaya Dayak, untuk meneliti pengaruhglobalisasi dalam pudarnya nilai-nilai budaya masyarakat Dayak. Suku Dayak adalah salahsatu suku yang kehidupan budayanya masih sangat kental terasa, terutama bagi Suku Dayak
1
James F. Sundah, dan Lia Santoso,
Kebudayaan, Aset yang Perlu Dilindungi
,
http://www.suarapembaruan.com/News /2006/05/22/Editor/edit01.htm, diakses pada 18 Mei 2008, pukul 19.19.
2
Dr. JJ. Kusni,
Masalah Etnis dan Pembangunan Dayak Membangun Kasus Dayak Kalimantan Tengah,
(penerbit tidak diketahui, 1994), hal. 48.