Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
19Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Penggunaan Veto Uni Soviet Dalam PBB, Sebuah Tinjauan Terhadap Kasus Perang Korea

Penggunaan Veto Uni Soviet Dalam PBB, Sebuah Tinjauan Terhadap Kasus Perang Korea

Ratings: (0)|Views: 2,290 |Likes:
Published by Erika Angelika

More info:

Published by: Erika Angelika on Jan 01, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/21/2013

pdf

text

original

 
Page | 1
Penggunaan Veto Uni Soviet dalam PBB :Sebuah Tinjauan terhadap Kasus Perang Korea
Disusun oleh :
Aisyah Ilyas / 0706291180Dyah Ayunico Ramadhani / 0706291230Erika / 0706291243Hani Sulastri / 0706291294Muti Dewitari / 0706165570Rindo Saio / 0706165583
Departemen Ilmu Hubungan InternasionalFakultas Ilmu Sosial Ilmu PolitikUniversitas Indonesia2008
 
Page | 2
BAB IPENDAHULUAN1.1.
 
Latar Belakang
Tidak dapat dipungkiri, hingga saat ini, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) masihmerupakan organisasi internasional yang paling efektif dan paling terasa keberadaannya. Akantetapi jika mau ditilik lebih lanjut, ternyata keberadaan PBB sebenarnya hanyalah merupakansebuah perpanjangan tangan dari negara-negara dominan saja, dalam hal ini adalah lima negarapendiri PBB, yaitu Amerika Serikat, Rusia, Inggris, Perancis, dan Cina. Campur tangan limanegara pendiri PBB, yang untuk selanjutnya disebut sebagai P-5 ini, sangat terlihat dari besarnyapengaruh pendapat mereka sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB dalam menentukanlangkah apa yang akan diambil PBB dalam menghadapi suatu kasus. Pengaruh P-5 dikatakansangat besar dalam menentukan langkah PBB karena mereka memiliki suatu keistimewaanberupa hak veto yang tidak dimiliki negara anggota Dewan Keamanan lainnya. Hak veto sendiridimengerti sebagai hak untuk membatalkan keputusan atau resolusi yang diajukan oleh PBB.Dengan kepemilikan hak veto tersebut, negara-negara P-5 seakan memiliki power dan legitimasisendiri dalam menentukan langkah PBB. Salah satu negara yang paling vokal dalammenggunakan hak veto-nya adalah Rusia. Hingga Agustus 2008, tercatat sudah 124 kali Rusiamenggunakan hak vetonya untuk mem-veto resolusi yang dikeluarkan PBB. Jumlah ini adalah jumlah penggunaan veto terbesar dibandingkan dengan veto yang dikeluarkan negara P-5lainnya, yaitu Amerika Serikat (82 veto), Inggris (30 veto), Perancis (18 veto), dan Cina (7veto).Fenomena veto merupakan hal yang menarik untuk dikaji lebih lanjut, karena fenomenaini mencerminkan adanya perbenturan kepentingan yang terjadi antar negara-negara besar dalamPBB. Bila salah satu negara P-5 merasa kepentingannya terganggu saat dikeluarkan resolusiPBB tertentu, maka tentu saja negara tersebut kemudian akan menggunakan hak vetonya untuk membatalkan resolusi PBB tersebut. Hal inilah yang tampaknya sering dialami Rusia, jumlahveto yang dikeluarkan Rusia ini mencerminkan bahwa Rusia seringkali merasa resolusi PBBtidak sesuai dengan kepentingannya, karena itu Rusia sering sekali mem-veto setiap resolusiPBB. Di sisi lain, keempat negara P-5 lain, jika dibandingkan dengan Rusia, relatif jarangmenggunakan hak vetonya; hal ini dikarenakan resolusi PBB seringkali tidak menganggu,bahkan terkadang mendukung, kepentingan nasional negara mereka.Perbenturan kepentingan antara negara P-5 yang paling sering terjadi adalahpertentangan antara Rusia dan Amerika Serikat, dua negara yang menjadi dua poros kekuatanutama dunia pada masa Perang Dingin. Perbedaan paham antara dua poros dunia itu(komunisme yang diusung Uni Soviet, serta liberalisme yang diusung Amerika Serikat)merupakan penyebab utama pertentangan yang terjadi antara mereka. Salah satu perbenturankepentingan yang paling nyata terjadi saat peristiwa Perang Korea, di mana ketika itu baik Amerika Serikat maupun Rusia sama-sama merasa memiliki kepentingan dalam masalah PerangKorea tersebut, sehingga masalah inipun kemudian dibawa ke hadapan PBB untuk diselesaikan.
1.2.
 
Perumusan Masalah
 
Page | 3
Makalah ini akan memaparkan mengenai penggunaan hak veto yang dimiliki Rusia sejak 1945 hingga 2008, dengan memusatkan pembicaraan pada masalah Perang Korea yang terjadipada 1950-1953. Makalah ini kemudian akan menganalisa latar belakang dari veto yangdikeluarkan Uni Soviet pada resolusi PBB sehubungan dengan Perang Korea tersebut, mengenaiperbenturan kepentingan yang terjadi dalam PBB semasa Perang Korea.
1.3.
 
Kerangka Teori
Ada dua pandangan utama dalam ilmu hubungan internasional yang dapat digunakanuntuk mengkaji fenomena organisasi internasional. Pandangan pertama datang dari kaumliberalis yang percaya bahwa keberadaan organisasi internasional sangat penting untuk memajukan kerja sama antar negara dalam dunia internasional. Sementara pandangan keduadatang dari kaum realis yang cenderung skeptis terhadap fenomena organisasi internasional.Kaum realis mengatakan, organisasi internasional hanya merupakan perpanjangan tangan darinegara dominan. Negara dominan akan menggunakan kekayaan dan kekuatan powernya yangdominan untuk mendirikan organisasi internasional; negara hegemon juga akan memberikaninsentif berupa perlindungan keamanan dan bantuan ekonomi untuk menarik negara-negara lainagar bergabung
1
. Dengan cara tersebut, secara tidak langsung negara dominan akan membuatnegara-negara baru itu tergantung padanya, baik secara ekonomi, militer, maupun dalam hal-hallain.Ketergantungan ini kemudian akan membuat kepentingan negara-negara baru mudahdikompromikan, sementara di sisi lain kepentingan negara dominan akan semakin mudahterlaksana. Hal ini senada dengan apa yang dikatakan Machiavelli. Dengan menganalogikannegara sebagai penguasa, Machiavelli mengatakan bahwa ketergantungan akan membuatpenguasa menjadi tawanan dari sekutu itu sendiri (sekutu, dalam hal ini adalah organisasiinternasional), penguasa akan menjadi lemah karena ketergantungan itu, dan kepentingannasionalnya akan terhalang oleh kepentingan negara sekutu tersebut. Sehingga sebenarnyaorganisasi internasional hanya merupakan cerminan kepentingan negara-negara dominan didalamnya.Kaum realis juga berpendapat, ketika berada dalam organisasi internasional, paraanggota sangat jarang memperhatikan moral. Faktanya, negara lebih sering bertindak atas dasardan dengan pengaruh power
2
. Pendapat ini semakin menguatkan pentingnya
 power 
dalamorganisasi internasional. Organisasi internasional bertindak dengan, dan atas nama
 power 
, dalamhal ini
 power 
untuk dan milik negara-negara dominan. Selain itu, bagi kaum realis, upaya untuk mewujudkan suatu pemerintahan dunia melalui organisasi internasional tidak mungkin dapatdiwujudkan, karena negara
 — 
sebagai aktor rasional
 — 
tidak mungkin bersedia menyerahkankedaulatannya ke dalam suatu badan internasional
3
. Signifikansi organisasi internasionalkembali dipertanyakan oleh Jill Steans dan Lloyd Pettiford, yang mengatakan bahwa organisasiinternasional hanya akan efektif bila ada suatu sanksi yang efektif dan power dari negara yangberkuasa, atau hegemon
4
. Pernyataan ini kembali menunjukkan betapa besarnya peran negara
1
Kelly-Kate S. Pease,
 International Organizations : Perspective on Governance in The Twenty-First Century,
 (New Jersey: Prentice Hall.Inc, 2000), hal. 46.
2
Clive Archer.
 International Organizations,
(London : Routledge, 2000), hal. 79.
3
Jill Steans dan Lloyd Pettiford.
 International Relations Perspectives and Themes,
(England: Pearson EducationLimited, 2001), hal. 23.
4
 
 Ibid,
hal. 26.

Activity (19)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
fauziahachyar liked this
Markus Hariyanto liked this
Dessi Sidabutar liked this
Sitioktovani Vn liked this
ruliramadhoan liked this
triaboys liked this
Saviq Bachdar liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->