Page | 3
Makalah ini akan memaparkan mengenai penggunaan hak veto yang dimiliki Rusia sejak 1945 hingga 2008, dengan memusatkan pembicaraan pada masalah Perang Korea yang terjadipada 1950-1953. Makalah ini kemudian akan menganalisa latar belakang dari veto yangdikeluarkan Uni Soviet pada resolusi PBB sehubungan dengan Perang Korea tersebut, mengenaiperbenturan kepentingan yang terjadi dalam PBB semasa Perang Korea.
1.3.
Kerangka Teori
Ada dua pandangan utama dalam ilmu hubungan internasional yang dapat digunakanuntuk mengkaji fenomena organisasi internasional. Pandangan pertama datang dari kaumliberalis yang percaya bahwa keberadaan organisasi internasional sangat penting untuk memajukan kerja sama antar negara dalam dunia internasional. Sementara pandangan keduadatang dari kaum realis yang cenderung skeptis terhadap fenomena organisasi internasional.Kaum realis mengatakan, organisasi internasional hanya merupakan perpanjangan tangan darinegara dominan. Negara dominan akan menggunakan kekayaan dan kekuatan powernya yangdominan untuk mendirikan organisasi internasional; negara hegemon juga akan memberikaninsentif berupa perlindungan keamanan dan bantuan ekonomi untuk menarik negara-negara lainagar bergabung
1
. Dengan cara tersebut, secara tidak langsung negara dominan akan membuatnegara-negara baru itu tergantung padanya, baik secara ekonomi, militer, maupun dalam hal-hallain.Ketergantungan ini kemudian akan membuat kepentingan negara-negara baru mudahdikompromikan, sementara di sisi lain kepentingan negara dominan akan semakin mudahterlaksana. Hal ini senada dengan apa yang dikatakan Machiavelli. Dengan menganalogikannegara sebagai penguasa, Machiavelli mengatakan bahwa ketergantungan akan membuatpenguasa menjadi tawanan dari sekutu itu sendiri (sekutu, dalam hal ini adalah organisasiinternasional), penguasa akan menjadi lemah karena ketergantungan itu, dan kepentingannasionalnya akan terhalang oleh kepentingan negara sekutu tersebut. Sehingga sebenarnyaorganisasi internasional hanya merupakan cerminan kepentingan negara-negara dominan didalamnya.Kaum realis juga berpendapat, ketika berada dalam organisasi internasional, paraanggota sangat jarang memperhatikan moral. Faktanya, negara lebih sering bertindak atas dasardan dengan pengaruh power
2
. Pendapat ini semakin menguatkan pentingnya
power
dalamorganisasi internasional. Organisasi internasional bertindak dengan, dan atas nama
power
, dalamhal ini
power
untuk dan milik negara-negara dominan. Selain itu, bagi kaum realis, upaya untuk mewujudkan suatu pemerintahan dunia melalui organisasi internasional tidak mungkin dapatdiwujudkan, karena negara
—
sebagai aktor rasional
—
tidak mungkin bersedia menyerahkankedaulatannya ke dalam suatu badan internasional
3
. Signifikansi organisasi internasionalkembali dipertanyakan oleh Jill Steans dan Lloyd Pettiford, yang mengatakan bahwa organisasiinternasional hanya akan efektif bila ada suatu sanksi yang efektif dan power dari negara yangberkuasa, atau hegemon
4
. Pernyataan ini kembali menunjukkan betapa besarnya peran negara
1
Kelly-Kate S. Pease,
International Organizations : Perspective on Governance in The Twenty-First Century,
(New Jersey: Prentice Hall.Inc, 2000), hal. 46.
2
Clive Archer.
International Organizations,
(London : Routledge, 2000), hal. 79.
3
Jill Steans dan Lloyd Pettiford.
International Relations Perspectives and Themes,
(England: Pearson EducationLimited, 2001), hal. 23.
4
Ibid,
hal. 26.