Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
3Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Menyambut KTM WTO VII, Upaya Pembenahan Diri Indonesia

Menyambut KTM WTO VII, Upaya Pembenahan Diri Indonesia

Ratings: (0)|Views: 185|Likes:
Published by Erika Angelika

More info:

Published by: Erika Angelika on Jan 01, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/13/2010

pdf

text

original

 
 Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik .Universitas Indonesia
Page | 1
Tugas Review Tanggapan terhadap Kuliah Umum 13 November 2009
 — 
Mata KuliahPerdagangan Internasional
Nama : ErikaNPM : 0706291243
Menyambut KTM WTO VII, Upaya Perbenahan Diri Indonesia
Kuliah umum yang diselenggarakan pada Jumat, 13 November 2009 lalum
engangkat tema “
Menghadapi KTM WTO VII: Peningkatan Peran Indonesia dalam RejimInternasional
” membahas mengenai Konferensi tingkat Tinggi Menteri yang akan diadakan
kembali setelah KTM terakhir di Hong Kong tahun 2005. Adapun kuliah umum inimenghadirkan empat orang pembicara, yaitu Lutfiyah Hanim dari Aliansi Petani Indonesia,Utama Kajo dari Kamar Dagang dan Industri (KADIN), Ediarto Sitinjak dari KonfederasiSerikat Buruh Sejahtera Indonesia, dan Bonnie Setiawan dari
 Institute of Global Justice
 sebagai organisasi yang menyelenggarakan kuliah umum ini.Kuliah dibuka oleh Lutfiyah Hanim dari Aliansi Petani Indonesia denganmenjelaskan mengenai pentingnya peran sektor pertanian dalam mencapai target
 Millennium Development Goals
(MDGs) tahun 2015 untuk mengurangi angka kemiskinan. Sektorpertanian menjadi penting karena sebagian besar kemiskinan dan kekurangan pangan (
 food insecurity
) terjadi di daerah pertanian. Ini merupakan hal yang ironis, karena sektor pertaniansebagai sektor yang seharusnya menghasilkan pangan malah menderita kekurangan pangan.Adapun dunia kini sedang mengalami masalah ketahanan pangan yang serius, di mana hargapangan internasional belakangan ini mengalami kenaikan tajam dikarenakan berbagaimasalah seperti terjadinya perubahan iklim, meningkatnya tren penggunaan bahan pangannabati sebagai bahan bakar biofuel, serta ketersediaan sumber daya seperti air dan benih yangsemakin menipis. Untuk mengatasi masalah krisis pangan inilah, dibutuhkan tindakan dari
World Trade Organizations
(WTO) sebagai organisasi utama yang mengatur tentangperdagangan internasional. Sebenarnya di dalam WTO sendiri sudah ada perundinganpertanian yang dimaksudkan untuk menyelamatkan sektor pertanian dari kehancuran, akan
 
 Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik .Universitas Indonesia
Page | 2
tetapi ternyata perundingan pertanian itu pun tidak dapat menyelesaikan masalah dikarenakantiga hal. Pertama, adanya ketidakseimbangan perdagangan pertanian di WTO. Perdaganganhasil-hasil pertanian cenderung difokuskan untuk memenuhi permintaan negara-negara maju.Kedua, adanya dukungan terhadap korporasi, bukan terhadap sektor pertanian padakhususnya. Ketiga, adanya volatilitas harga internasional, terutama harga-harga komoditaspertanian. Di sini, para broker bermain; ada semacam valuta asing untuk hasil pertanian yangmenyebabkan harga-harga komoditas pertanian cenderung fluktuatif. Akumulasi dari ketigahal tersebut menjadikan masalah pertanian menjadi masalah yang kompleks dan sulitdiselesaikan tanpa adanya kerjasama dan pembicaraan serius antar negara-negara dunia.Adapun sebenarnya WTO telah menghasilkan tiga pilar perjanjian sehubungan denganperundingan pertanian. Tiga pilar tersebut adalah akses pasar, yang diterjemahkan sebagaiperluasan pembukaan pasar melalui penurunan tarif impor produk pertanian, pengurangansubsidi ekspor, dan pemotongan subsidi domestik. Akan tetapi, ketiga pilar ini belummencapai kata sepakat, dalam artian masih terdapat berbagai perdebatan dari negara-negaraanggota WTO sehubungan dengan tiga pilar tersebut. Perdebatan umumnya terjadi antaranegara maju dan negara berkembang.Pembicara kedua, Utama Kajo merupakan pembicara dari KADIN, yangmenjelaskan mengenai kondisi pertanian Indonesia. Dalam penjelasannya, Utama Kajomenjelaskan mengenai betapa besarnya prospek pasar Indonesia, yang terdiri dari ratusan jutapenduduk dengan kekayaan alam melimpah tersebar di seluruh pulau. Akan tetapi, pasar yangbesar itu ternyata tidak dimanfaatkan dengan baik. Sebagai negara dengan kekayaan alammelimpah, ternyata produk pertanian Indonesia tidak terlalu berperan dalam perdaganganinternasional. Hal ini terjadi karena produk pertanian Indonesia mayoritas dikonsumsi hanyauntuk konsumsi dalam negeri, bukan untuk diekspor. Padahal, hasil kekayaan alam Indonesiatidak kalah jika dibandingkan dengan kekayaan alam negara lainnya. Utama Kajo jugamenjelaskan mengenai kurangnya teknologi yang dimiliki Indonesia, yang menyebabkanseringkali Indonesia hanya bisa mengekspor bahan mentah yang notabene harganya masihrendah karena masih harus diolah lagi sebelum menjadi barang yang dapat dikonsumsi.Kurangnya teknologi juga menjadi salah satu faktor yang membuat partisipasi pertanian
 
 Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik .Universitas Indonesia
Page | 3
Indonesia dalam perdagangan internasional cenderung rendah. Sehubungan denganmasuknya Indonesia dalam G33, lanjut Kajo, Indonesia memiliki peluang besar untuk memperjuangkan kepentingannya dalam WTO, terutama melalui KTM WTO VII yang akandiselenggarakan dalam waktu singkat. Indonesia harus mempelajari komponen-komponenWTO dengan sungguh-sungguh dan kemudiannya menggunakannya untuk bertarungmemperjuangkan kepentingan Indonesia. Kajo menekankan, pemerintah bertanggung jawabuntuk berunding dalam WTO terutama dalam Putaran Doha. Pemerintah juga, lanjut Kajo,bertanggung jawab untuk membenahi permasalahan agar sektor pertanian mampumenghasilkan produk berdaya saing internasional.Jika kedua pembicara sebelumnya lebih fokus membicarakan hasil pertanian,pembicara ketiga, Ediarto Sitinjak datang dari Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia.Membuka penjelasannya, Ediarto Sitinjak menekankan perlu adanya perluasan akses pasaruntuk memperbesar peluang kompetisi untuk negara berkembang di era perdaganganinternasional sekarang ini. Mewakili para buruh Indonesia, Ediarto mengatakan bahwakeberadaan Putaran Doha ini sangat merugikan para buruh, terutama keputusan mengenaipenurunan tarif yang dinilai tidak sesuai dengan kehidupan industri negara berkembang.Penurunan tarif ini, lanjut Ediarto, dapat mengancam industri lokal, yang berarti dapatmengancam kehidupan buruh. Masih soal penurunan tarif, penurunan tarif ini dinilai sebagaiperang dalam kompetisi industri antara negara maju dan berkembang, di mana yang akankalah adalah negara berkembang. Ediarto juga mengatakan ada dua permasalahan besardalam perdagangan internasional saat ini, yaitu terkait dengan perluasan akses pasar
 — 
dimana negara berkembang dinilai belum cukup kompetitif 
 — 
serta terkait dengan fleksibilitas
syarat ketenagakerjaan, aturan yang “melepas” tenaga kerja sesuai sistem pasar, aturan yang
dinilai berbahaya bagi negara berkembang yang sebagian besar buruhnya belum memilikikemampuan memadai untuk lepas dari pemerintah. Berbagai dampak negatif dariperdagangan internasional tersebut membuktikan bahwa ekspansi pasar asing akhirnya akanmerusak industri domestik secara keseluruhan, lanjut Ediarto. Menimbang mengenai KTMWTO VII yang akan diselenggarakan, Ediarto mengingatkan perlu adanya konsistensiperwakilan perdagangan. Peringatan ini dikeluarkan karena Ediarto menilai tidak adanya

Activity (3)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
gakky_77 liked this

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->