Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
5Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Birokrasi Amerika Serikat, Antara Kepentingan Pribadi Dan Kebaikan Nasional

Birokrasi Amerika Serikat, Antara Kepentingan Pribadi Dan Kebaikan Nasional

Ratings: (0)|Views: 2,912|Likes:
Published by Erika Angelika

More info:

Published by: Erika Angelika on Jan 01, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/16/2011

pdf

text

original

 
 Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . UniversitasIndonesia
Page | 1
REVIEW KEBIJAKAN LUAR NEGERI DAN KEAMANAN AMERIKA SERIKATSap 3 : Politik Birokrasi, Kultur Organisasi, dan Kebijakan Amerika Serikat
.Nama : ErikaNPM : 0706291243Sumber :
Thomas E. Mann dan Norman J. Ornstein, “The Case of Continuity”, dalam
The Broken Branch: HowCongress is Failing America and How to Get It Back on Track 
, (Oxford: Oxford University Press, 2006),hal. 192-210.
Birokrasi Amerika Serikat, antara Kepentingan Pribadi dan Kebaikan Nasional
Sebagai negara adidaya yang berkuasa di dunia, Amerika Serikat sangatlah dihormati olehnegara-negara lainnya. Namun seperti halnya para penguasa yang banyak dipuja-puja, di balik semuaitu berbagai bahaya mengancam keselamatan sang penguasa. Serangan 11 September 2001 lalu padagedung
World Trade Center 
yang diikuti oleh diserangnya gedung Pentagon
 — 
yang merupakantempat berkumpulnya petinggi-petinggi Amerika Serikat
 — 
membuktikan bahwa selain memiliki
 pengikut, Amerika Serikat juga memiliki banyak musuh. Dalam tulisannya yang berjudul “
The Caseof Continuity
”, Thomas E. Mann dan Norman J. Ornstein mencoba menggambarkan bahaya yang
mungkin dialami Amerika Serikat sebagai konsekuensi keberkuasaannya di dunia internasional.Mann dan Ornstein kemudian memfokuskan kemungkinan bahaya tersebut pada kalangan birokratAmerika Serikat (AS), kalangan yang memegang kekuasaan pemerintah sekaligus menentukan nasibbangsa AS. Harus diakui, ledakan di gedung
World Trade Center 
(WTC) memang mampumemporak-porandakan masyarakat AS. Namun bayangkan bila ledakan tersebut terjadi di pusatpemerintahan AS. Pejabat-pejabat penting AS akan menjadi korban, dan akan terjadi kekosongankekuasaan pada pemerintah AS; hal yang jika tidak diatasi dengan baik akan menimbulkankekacauan secara menyeluruh pada AS.Kekosongan kekuasaan tersebut mungkin terjadi karena terdapat suatu aturan dalam badanpemerintahan AS (
 House of Representative
) yang mewajibkan hadirnya setengah dari keseluruhananggota
 House of Representative
(HoR), agar HoR dapat menjalankan tugas resminya. Aturan inidinamakan
quorum requirement 
. Jika
quorum requirement 
ini tidak terpenuhi, otomatis HoR menjaditidak berfungsi. Aturan ini diperparah dengan peraturan bahwa anggota HoR hanya dapat digantikan
 
 Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . UniversitasIndonesia
Page | 2
posisinya apabila anggota sebelumnya telah dinyatakan meninggal. Adapun pergantian posisi iniharus dilakukan melalui proses pemilihan umum (
election
), dan setiap proses pemilihan umum biasamemakan waktu empat bulan lamanya. Sehingga jika ada pihak yang menyerang HoR, yangkemudian menyebabkan setengah atau lebih anggotanya luka-luka, maka praktis selama minimalempat bulan ke depan, HoR akan menjadi inaktif. Hal yang sama juga dapat terjadi di Senat, yang juga akan mengalami kekosongan kekuasaan dan ketidakefektifan bila anggota-anggotanya diserang.Bila para Senator hanya mengalami luka-luka, posisinya tidak dapat digantikan dengan alasanapapun. Hal yang berbeda terjadi bila Senator tersebut meninggal dunia, di mana kemudian pihak eksekutif dapat memilihkan orang untuk mengisi jabatan tersebut, sesuai dengan Amandemen ke-17.Menanggapi kemungkinan kekosongan kekuasaan ini, dalam tulisannya yang berjudul
What if Congress were Obliterated? Good Question
, Ornstein menyebutkan bahwa diperlukan adanyahukum yang memungkinkan percepatan pemilihan umum dalam situasi-situasi bahaya dan mendesak.Ornstein juga menyebutkan perlu adanya amandemen konstitusional untuk pengisian jabatansementara dalam Kongres apabila terjadi sesuatu yang menyebabkan jumlah
quorum
tidak terpenuhi.Redefinisi
quorum
juga perlu dilakukan, lanjut Ornstein. Namun ternyata berbagai usulanamandemen untuk mencegah kemungkinan kekosongan kekuasaan itu tidak mendapat respon positif dari HoR maupun dari Senat. Perjuangan untuk mencegah kemungkinan kekosongan kekuasaan punterus dilanjutkan melalui berbagai media, seminar,
hearing
, dan berbagai usaha lainnya. Usaha itupun membuahkan hasil, pihak 
 House Republican
pun kemudian memperkenalkan rancanganundang-undang
expedited election
untuk mengadakan pemilihan umum spesial dalam 21 hari apabilaterjadi sedikitnya 100 posisi kosong dalam
 House
. Dalam 21 hari tersebut, partai akan diberikan 14hari waktu untuk mencalonkan kandidatnya, dan sisa waktu tujuh hari akan digunakan untuk prosespemilihan itu sendiri. Permasalahan pun timbul terkait waktu 21 hari yang dirasa sangat singkat,kenyataannya tidaklah mungkin sebuah
election
dilakukan dalam waktu sesingkat itu. Perluasanwaktu pun dilakukan, dari 21 hari menjadi 45 hari
 — 
waktu yang ternyata juga terbukti tidak cukup.Kalaupun ternyata waktu 45 hari ini cukup untuk mengadakan pemilihan umum, Ornstein dan Mannmenyebutkan akan tetap terjadi dominasi kekuasaan militer dalam AS selama waktu 45 hari tersebutkarena Kongres akan menjadi inaktif.Rancangan undang-undang
expedited election
ternyata tetap tidak cukup untuk mengatasi
 
 Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . UniversitasIndonesia
Page | 3
kemungkinan kekosongan kekuasaan yang terjadi dalam tubuh Kongres, karena undang-undangtersebut hanya mempercepat proses pemilihan umum, yang hanya dapat dilakukan bila anggotaKongres dinyatakan meninggal dunia. Padahal kemungkinan anggota Kongres menjadi inaktif dikarenakan luka-luka tetap ada. Karenanya, perlu dilakukan suatu redefinisi
quorum
untuk mencegah tidak terpenuhinya
quorum
dalam Kongres apabila sebagian besar anggotanya mengalamiluka-luka. Redefinisi
quorum
ini sendiri mendapatkan reaksi keras dari mayoritas anggota Kongres,yang menyatakan kekhawatirannya untuk membiarkan sejumlah kecil anggota mengambil keputusandan bertindak seakan-akan mereka dapat mewakili seluruh masyarakat. Redefinisi
quorum
menjadihanya melibatkan sejumlah kecil anggota juga dinilai
unconstitutional
, akan tetapi Ornstein danMann menyatakan, walaupun tidak sesuai dengan konstitusi, hal tersebut perlu dilakukan agar
 House
 dapat tetap berfungsi sebagaimana mestinya dalam kondisi bahaya. Ornstein dan Mann jugamenyebutkan perlu dilakukannya pergantian kedudukan sementara bagi para anggota Kongres yangmengalami luka parah
 — 
luka yang menjadikannya inaktif selama beberapa periode, hal yanglangsung mendapat penolakan dari Senat dan HoR karena dinilai tidak sesuai dengan konstitusi ASyang mengatakan pergantian jabatan dalam Kongres hanya dapat dilakukan bila masa jabatan telahberakhir atau bila pemegang jabatan meninggal dunia. Menutup artikelnya, Ornstein dan Mannmengatakan bahwa Kongres AS dinilai telah gagal untuk melindungi dirinya serta sistem konstitusiAS sehubungan dengan (kemungkinan adanya) berbagai serangan pada anggotanya. KekecewaanOrnstein dan Mann jelas tergambar ketika mereka menyatakan bahwa sebenarnya rancanganundang-undang
expedited special-election
hanyalah merupakan hal simbolik yang inefektif.Kekecewaan Ornstein dan Mann juga ditunjukkan ketika mereka menyatakan aturan
quorum
dalam
 House
sangat berpotensi berbahaya. Dalam hal menjamin keberlangsungan institusinya sendiri,Kongres telah gagal.Sek 
ilas terlihat, sulitnya „menembus‟ konstitusi AS merupakan penyebab stagnannya
perkembangan amandemen antisipasi kemungkinan kekosongan kekuasaan, karena dibutuhkanpengertian dan persetujuan dari kedua lembaga Kongres (HoR dan Senat) agar suatu rancanganundang-undang dapat disahkan menjadi undang-undang. Namun jika ditilik lebih lanjut, sebenarnyatidak ada yang salah dengan sistem tersebut karena sistem itu ada untuk mencegah dominasikekuasaan salah satu pihak (HoR atau Senat) dalam pemerintahan, sehingga pemberian veto absolut

Activity (5)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
mahendrawinata liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->