Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
5Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
suku naga

suku naga

Ratings: (0)|Views: 561 |Likes:
Published by michaelasandra
Garis besar cerita tentan perjuangan suku naga.
karya W.S Rendra
Garis besar cerita tentan perjuangan suku naga.
karya W.S Rendra

More info:

Published by: michaelasandra on Jan 02, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/29/2013

pdf

text

original

 
Yogyakarta, awal 1975
 Sekitar 22 orang awak BTR berkemah di kebun Jambu, di perbatasan desa Wonoroto, dekat pantai Parangtritis. WS Rendra mengatur pembagian kerja; investigasi tentang adat kehidupanmasyarakat desa. Di bawah tekanan berbagai pihak, mereka akhirnya bisa bersahabat denganmasyarakat.Selama dua minggu berkemah, mereka turut menanam vanili bersama penduduk setempat.Melalui pembauran dengan masyarakat desa, mereka menyerap karakter berbagai tokoh.Walhasil, catatan-catatan mereka cukup kaya. Masalah sosial, politik, dan lingkungan hidupmenginspirasikan banyak hal. Sebuah embrio
 Kisah Perjuangan Suku Naga
mulai tumbuh."Kita akan bikin drama tentang dukuh," kata Rendra waktu itu. Dan dimulailah persiapan pentas
Suku Naga
. Rendra mendiktekan peran dan ucapan setiap lakon secara bertahap. Untuk berbagai peran, WS Rendra mendiktekan langsung kepada calon pemainnya. "Bagian tertentu sayadiktekan untuk Adi Kurdi, sebagian lain untuk Sitoresmi..." kata Willy--begitu WS Rendra biasadipanggil--mengenang proses penciptaan lakon itu.Suasana masih tegang. Para pemain berlatih dan menghapal naskah secara diam-diam.Kekhawatiran terhadap ancaman gagal pentas masih terasa. Mereka ingat bagaimana Rendra saat berperan sebagai Creon dalam
 Antigone
nyaris dibawa aparat di tengah pertunjukan berlangsung.
Jakarta, Juli 1975
 Seperti sudah diduga, pertunjukan
Suku Naga
di Teater Terbuka TIM berjalan tersendat. Aparatkeamanan menuntut pementasan ditunda. Sementara Dewan Kesenian Jakarta dan BTR bertahan.Pangkopkamtib Laksamana Soedomo mengizinkan pentas, tapi setelah 17 Agustus. Gubernur DKI Jakarta kala itu, Ali Sadikin, bertahan untuk tetap mementaskan. Apa boleh buat, KetuaDKJ Wahyu Sihombing pun jadi "jaminan" dan dibawa ke Komdak selama pementasan dua hariitu.Saat itu setahun lebih Malari berlalu. Rumah Sakit Harapan Kita milik Tien Soeharto baruhendak didirikan. Kabar penggusuran penduduk untuk Proyek Bendungan Asahan di SumatraUtara sedang hangat-hangatnya. Kegerahan dan kegeraman terhadap masalah itu berubahmenjadi makian di warteg. Saat itulah
Suku Naga
mengumbar kritik pedas terhadap segalanya.Melihat kesuksesan di Jakarta,
Suku Naga
diusung ke Bandung dan Surabaya pada tahun yangsama. Sementara pentas di Yogyakarta baru berlangsung tiga tahun berikutnya. GOR Kridosonomembludak selama dua hari pertunjukan. "Karcis yang terjual tidak sebesar jumlah penontonnya,karena banyak yang merasa dirinya warga Bengkel juga, jadi enggan masuk dengan karcis," tutur anggota Bengkel Edi Haryono.
 
Jakarta, September 1998
 Saat gladi resik (28/9) Adi Kurdi kehilangan suara. Rendra panik. Tapi
the show must go on
, danuntungnya tak ada kesulitan berarti yang menghalangi.Maka berceritalah Sang Dalang (Dewi Pakis); Kepala Suku Naga Abisavam (Adi Kurdi) danrakyatnya menghadapi tekanan Ratu Astinam (Ken Zuraida) dan anak buahnya yang hendak mengubah kampung Suku Naga menjadi kota pertambangan. Sang juta-juta-jutawan The BigBos (Sawung Jabo) lewat duta Mr. Joe (Otig Pakis) hendak mengeruk tembaga dari kampungSuku Naga. Rakyat Suku Naga dengan dibantu wartawan luar negeri Carlos (Kurt Kaler) berupaya mempertahankan adat, tanah, dan masa depan dan peradaban Suku Naga."Saya melihat drama ini masih relevan, karena kekuatan dari bentuk drama itu adalah amsal;amsal dari suku naga, penindasan, mesin industri, hubungan adikuasa dan negara berkembang,dan amsal dari negara totaliter," ujar Rendra tentang pengulangan pentasnya ini.Selain relevansinya, juga lantaran dia menghendaki keaslian (otentisitas) naskahnya tetapterpelihara. Makanya, tak ada perubahan besar dari naskah asli yang dimainkan tahun 1975. Tata panggungnya tetap sederhana. Hanya kostum pemainnya yang lebih bagus daripada pementasantahun 1975 yang seadanya.Musiknya yang digarap Dedek Wahyudi dan para pemusik jebolan STSI Yogya memberisumbangan besar bagi ritme dan nuansa pementasan. Apalagi Dedek yang mengandalkaninstrumen gamelan ini mampu memberi sentuhan pop, blues, keroncong, sampai lagu dolanananak. Jangan heran bila terdengar kepingan melodi
 Roots to Branches
milik Jethro Tull atau
 Jaranan
, satu judul lagu dolanan bocah-bocah di pedesaan Jawa.Sayang penonton tak sempat menyaksikan permainan Rendra. Malam itu, dia tak bermain. Tapi penonton cukup antusias menyambut kemunculan Adi Kurdi, Kurt Kaler, dan Ken Zuraida.Harus diakui, keaktoran Adi masih hebat. Dan ia tak sendiri. Otig yang bergabung BTR sejak 1983 juga bermain bagus. Sementara aktor muda Daryanto Bended (Abivara) mulai unjuk gigi.Sayang Sawung Jabo dan Dewi Pakis tak terlalu mulus bermain.Pementasan
 Perjuangan Suku Naga
kali ini bisa jadi sebuah nostalgia. Nostalgia kebesaranBengkel Teater dan nostalgia masa lalu suram yang pernah dilalui republik ini. Segala kritik yang termuat dalam drama ini, bagi Rendra sekarang sebagai penegasan saja. "Memperingatkankembali dari apa yang sudah terjadi," katanya.Dan memang segalanya tetap harus diingatkan, harus dikabarkan.
 Langit di luar, langit dibadan, bersatu dalam jiwa. Kemarin dan esok adalah hari ini. Bencana dan keberuntungan, sama saja.
 
(kurniawan)
 
BENGKEL TEATER 
Bentuk pementasan Bengkel Teater baru mengalami perubahan yang signifikan ketika KasidahBarzanzi, Macbeth, Dunia Azwar, dan Lysistrata digelar. Warna lokal jadi bungkus utama pergelarannya. Dan kekentalan "warna lokal" semakin memancarkan daya tariknya ketikaRendra mementaskan karya-karya sendiri: Mastodon dan Burung Kondor, Perjuangan Suku Naga, Sekda, Panembahan Reso, dan Selamatan Anak Cucu Sulaiman. Ketika Hamlet danKasidah Barzanzi dipentaskan ulang, bentuknya pun mengalami perubahan yang lebih kentaldengan warna lokal, meski siratan isi lakon tetap sama.
Dalam Perjuangan Suku Naga
, Sekda, dan Panembahan Reso, bentuk teater rakyat, ketoprak,dikemas sebagai stilisasi yang sangat berhasil. Segera saja Rendra menjadi ikon. Living-legenddan trendsetter yang berhasil memberi daya hidup bagi dunia teater (dan puisi). Lewat kiprahRendra, teater menjadi lebih prestisius, "berharga", dan milik masyarakat luas. Teater (dan puisi) juga mulai diperhatikan kaum politikus, malah dianggap memiliki potensi yang bisamempengaruhi timbulnya pemikiran baru dalam kebijakan politik bernegara. Ini perkembanganyang menarik dan penting.
Dalam Perjuangan Suku Naga, Sekda, dan Panembahan Reso, bentuk teater rakyat,‘ketoprak’,
dikemas sebagai stilisasi yang sangat berhasil. Pada Macbeth, (juga Hamlet pentas-ulang), Rendra bahkan ‘berani’ menggunakan sarung sebagai pelengkap busana. Ini luar biasa.Dan, konon, belum pernah dilakukan seniman teater lain di Indonesia. Hal itu, terutama, karenaWilliam Shakespeare dianggap sebagai pujangga agung yang karyanya tidak boleh diobrak-abrik. Tapi Rendra berhasil menafsirkan kembali, dengan cemerlang.Segera saja, Rendra menjadi ikon. Dia seakan living-legend dan trendsetter yang berhasilmemberi daya-hidup bagi dunia teater (dan puisi). Lewat kiprah Rendra, teater menjadi sangat presitisus dan ‘berharga’. Teater (dan puisi) tak lagi hanya dipergelaran bagi sekelompok kecilorang saja, melainkan sudah menjadi milik masyarakat yang lebih luas. Teater (dan puisi), jugamulai diperhatikan oleh kaum politikus, malah dianggap memiliki potensi yang bisamempengaruhi timbulnya pemikiran-pemikiran baru dalam kebijakan politik bernegara. Ini perkembangan yang menarik dan penting.
Revolusi Dimulai dari Suku Naga
 
OLEH
 Nasrul Azwar Penguasa, politisi, dan pengusaha seperti anjing berebut tulang. “Tulang” itu adalah Bukit Selakoyang sangat kaya dengan emas, intan, dan tembaga lainnya. Bukit Seloka yang jadi incaraninvestor itu terletak di perkampungan Suku Naga yang berada dalam kekuasaan pemerintahanAstinam. Sri Ratu, pimpinan tertinggi negara Astinam, akan menguasai bukit itu dan menjadikansebagai daerah tambang dengan dalih pembangunan. Para pembantu Sri Ratu—semenjak  perdana mentri hingga mentri-mentri lainnya, serta Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) negaraAstinam—berlomba menjadi penjilat yang “santun” dan dengan pelbagai alasan merayu rakyatSuku Naga untuk menyukseskan program pembukaan pertambangan itu.

Activity (5)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Aura Net liked this
Novel Lian Sri liked this
SuciDiahJubahar liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->