Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
5Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Hak Jaksa Mengajukan Peninjauan Kembali

Hak Jaksa Mengajukan Peninjauan Kembali

Ratings: (0)|Views: 1,964|Likes:
Published by horangjin

More info:

Published by: horangjin on Jan 04, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOCX, TXT or read online from Scribd
See More
See less

07/04/2011

pdf

text

original

 
Hak Jaksa Mengajukan Peninjauan Kembali (PK) dan Batasannya
Oleh:
Paustinus Siburian, SH., MH.[Penulis adalah Advokat dan Konsultan Hak Kekayaan Intelektual]
ABSTRAK
Barang siapa yang, setelah membaca KUHAP, berkesimpulan bahwa jaksatidak dapat mengajukan Peninjauan Kembali (PK) atau bahwa hanyaterpidana atau ahli warisnya yang dapat mengajukan PK, maka orang itu pastitelah salah membaca undang-undang. Pembacaan yang teliti terhadap Pasal 263 KUHAPmenunjukkan bahwa jaksa diberikan hak untuk mengajukan PK. Namun KUHAP juga memberikanbatasan dalam hal apa jaksa dapat mengajukan PK, yaitu dalam hal ada putusan yang sudahmempunyai kekuatan hukum tetap yang didalam pertimbangannya menyatakan perbuatan yangdidakwakan terbukti tetapi tidak diikuti pemidanaan. Jadi tidak terhadap semua putusan pengadilanyang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap jaksa berhak mengajukan PK.Dalam tulisan ini disarankan agar dilakukan koreksi secepatnya atas praktek hukum dan dicarikanupaya mengatasi kerugian yang dialami oleh pihak-pihak yang dalam putusan pengadilan yang sudahmempunyai kekuatan hukum dinyatakan tidak bersalah tetapi kemudian dipidana karena adanya PKoleh jaksa. Disarankan juga agar Presiden, selaku Kepala Negara, meminta maaf kepada para korbanPK jaksa dan seluruh rakyat Indonesia atas kesalahan yang dilakukan oleh Mahkamah Agung dan jaksa-jaksa penuntut umum dalam perkara-perkara PK yang diajukan oleh jaksa.
1. Pendahuluan
Pertanyaan yang terus menerus diajukan sejak tahun 1996 adalah apakah jaksa dapat mengajukanPeninjauan Kembali (PK) dalam perkara pidana terhadap suatu putusan pengadilan yang sudahmempunyai hukum yang tetap. Pertanyaan ini muncul karena pada tahun 1996, untuk pertamakalinya, jaksa mengajukan permohonan PK dalam perkara dengan terdakwa, Mochtar Pakpahan,seorang aktivis buruh pada masa itu. Sejak itu Jaksa secara terus menerus mengajukan PK. Tidakdalam semua kasus yang diajukan jaksa memenangkan PK. Mahkamah Agung (MA) bersikapmendua mengenai hal ini. Ada majelis MA yang menyatakan jaksa tidak berhak mengajukan PK, adayang menyatakan jaksa dapat mengajukan PK.Dalam putusan PK dimana MA menerima permintaan PK dari jaksa, MA menyatakan menciptakanhukum karena KUHAP tidak mengaturnya. Dalam Negara v Muchtar Pakpahan, sebagaimana dikutipdalam Negara v Pollycarpus (PUTUSAN No. 109 PK/Pid/2007) , MA misalnya menyatakan: “Dalammenghadapi problema yuridis hukum acara pidana ini dimana tidak diatur secara tegas pada KUHAPmaka Mahkamah Agung melalui putusan dalam perkara ini berkeinginan menciptakan hukum acarapidana sendiri, guna menampung kekurangan pengaturan mengenai hak atau wewenang JaksaPenuntut Umum untuk mengajukan permohonan pemeriksaan Peninjauan Kembali (PK) dalamperkara pidana.”Dalam hal MA tidak dapat menerima permohonan jaksa, MA menyatakan bahwa MA tidak berwenangmemutuskan mengenai PK. Dalam Negara v H. MULYAR bin SAMSI (Putusan MA No84PK/Pid/2006Tahun 2006), MA menyatakan bahwa PK Jaksa tidak dapat diterima dengan alasan:
Bahwa Pasal 263 ayat (1) KUHAP telah menentukan bahwa terhadap putusan pengadilan yang telahmemperoleh kekuatan hukum tetap, kecuali putusan bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum,
 
Terpidana atau ahli warisnya dapat mengajukan permintaan peninjauankembali kepada Mahkamah Agung;Bahwa ketentuan tersebut telah mengatur secara tegas dan limitative bahwa yang dapat mengajukan peninjauankembali adalah Terpidana atau ahli warisnya. Hal ini berarti bahwa yang bukan Terpidanaatau ahli warisnya tidak dapat mengajukan peninjauankembali.Dengan adanya ketentuan yang tegas dan limitatif tersebut, tidak diperlukan lagi ketentuan khusus,yang mengatur bahwa yang bukan Terpidana atau ahli warisnya tidak dapat mengajukan peninjauankembali;Bahwa “due proses of law” tersebut berfungsi sebagai pembatasan kekuasaan Negara dalambertindak terhadap warga masyarakat, dan bersifat normatif, sehingga tidak dapat ditafsirkan dantidak dapat disimpangi, karena akan melanggar keadilan dan kepastian hukum ;Menimbang, berdasarkan hal-hal tersebut disimpulkan bahwa Jaksa Penuntut Umum tidak dapat mengajukan permohonan peninjauankembali atas putusan pidana yang telah berkekuatan hukumtetap. Oleh karenanya apa yang dimohonkan oleh Jaksa Penuntut Umum merupakan kesalahandalam penerapan hukum acara, sehingga permohonan peninjauan kembali yang dimajukan olehJaksa Penuntut Umum haruslah dinyatakan tidak dapat diterima;
Pertimbangan-pertimbangan hukum yang dikemukakan oleh dua majelis pada MA tentumembingungkan, yang mana yang harus diikuti. Hal ini tentu akan menyebabkan adanyaketidakpastian hukum. MA, sebagaimana pertimbangan-pertimbangan hukum yang diajukan di atasmenunjukkan, ternyata tidak satu. Putusan Majelis yang satu belum tentu diikuti oleh Majelis yanglain.Tulisan ini akan membahas mengenai dasar hukum dari jaksa dalam mengajukan PK dan setelahmenemukan dasar hukumnya maka akan dibahas mengenai batasan-batasan dalam mengajukan PKsebagaimana diatur dalam KUHAP. Dalam membahas mengenai PK oleh jaksa ini, saya hanyamenggunakan bahan hukum primer, yaitu undang-undang dan Putusan-putusan MA. Putusan MAyang saya gunakan dalam tulisan ini dapat diakses pada situs web dari Mahkamah Agung. Alasantidak menggunakan bahan sekunder adalah karena dalam pertimbangan hukumnya MA membuatrujukan pada bahan hukum sekunder. 
2. Tinjauan Atas Pasal 263 KUHAP
Pasal 263 ayat (1) KUHAP menyatakan bahwa “terhadap putusan pengadilan yang telah memperolehkekuatan hukum tetap, kecuali putusan bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum, terpidana atauahli warisnya dapat mengajukan permintaan peninjauan. kembali kepada Mahkamah Agung.”Ketentuan ini memberikan hak kepada terpidana atau ahli warisnya untuk mengajukan peninjauankembali atas putusan pengadilan yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap. Dengandigunakannya kata terpidana atau ahli warisnya menandakan bahwa dalam putusan pengadilan yangsudah mempunyai kekuatan tetap yang dimintakan peninjuan kembali, seseorang sudah dinyatakanbersalah dan dijatuhi hukuman pidana atau ada pemidanaan.Dikecualikan dari hal-hal yang tidak dapat diajukan peninjauan kembali adalah putusan bebas ataulepas dari segala tuntutan hukum. Perumusan dalam Pasal 263 ayat (1) ini memang agak sedikitkacau. Yang dapat mengajukan permintaan peninjauan kembali adalah terpidana atau ahli warisnya.Sementara untuk putusan bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum tidak ada terpidana. Maka
 
adanya klausul “kecuali putusan bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum” sangatlah tidak masukakal ditempatkan dalam ayat tersebut.Kalau kemudian jaksa mengajukan peninjauan kembali, menjadi layak karena adanya klausul “kecualiputusan bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum”. Jaksa dapat berpikir bahwa yang diatur dalamPasal 263 ayat (1) adalah Peninjuan kembali oleh terpidana atau ahli warisnya. Sementara untukputusan bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum dapat diajukan peninjauan kembali tetapi tidakdiatur dalam Pasal 263 ayat (1) KUHAP tersebut. Dimana diaturnya, jaksapun tidak tahu dan hal iniberarti ada kekosongan hukum. MA, dari perspektif jaksa, berpikir bahwa MA dapat mengisikekosongan tersebut melalui ketentuan bahwa hakim harus menggali nilai-nilai dalam masyarakat danMA memang melakukannya dalam Negara v Muchtar Pakpahan dan lain-lain.Bahwa jaksa dapat mengajukan peninjauan kembali mendapat landasannya dalam Pasal 263 ayat(3). Pasal 263 ayat (3) tersebut menyatakan “Atas dasar alasan yang sama sebagaimana tersebutpada ayat (2) terhadap suatu putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetapdapat diajukan permintaan peninjauan kembali apabila dalam putusan itu suatu perbuatan yangdidakwakan telah dinyatakan terbukti akan tetapi tidak diikuti oleh suatu pemidanaan.” Ayat (3) inimerupakan landasan hukum bagi jaksa dalam mengajukan PK atas putusan pengadilan yang sudahmempunyai kekuatan hukum tetap. Persyaratan dalam Pasal 263 ayat (3) “……………. apabila dalamputusan itu suatu perbuatan yang didakwakan telah dinyatakan terbukti akan tetapi tidak diikutidengan pemindanaan” menunjukkan bahwa ketentuan Pasal 263 ayat (3) tidak ditujukan bagiTerpidana karena dalam konteks Pasal 263 ayat (3) memang tidak ada yang disebut “Terpidana”.Tidak ada “terpidana” tanpa adanya “pemidanaan”.Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Pasal 263 ayat (1) ditujukan untuk PK bagi Terpidanaatau ahli warisnya. Yang diajukan PK menurut Pasal 263 ayat (1) adalah terhadap putusan yangsudah mempunyai kekuatan hukum tetap yang isinya “pemidanaan”. Pasal 263 ayat (3) adalah PKyang diajukan terhadap putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap yang tidakberisi pemidanaan. Karena tidak ada pemidanaan maka tidak ada terpidana dan oleh karenanya tidakditujukan bagi Terpidana atau ahli warisnya yang memang tidak ada.MA dalam putusan PK dalam Negara v Pollycarpus telah keliru ketika menyatakan:
2. Bahwa Pasal 263 KUHAP yang merupakan pelaksanaan dari Pasal 21 Undang-Undang No.14Tahun 1970 mengandung hal yang tidak jelas, yaitu:a. Pasal 263 ayat 1 KUHAP tidak secara tegas melarang Jaksa Penuntut Umum mengajukan upayahukum Peninjauan Kembali, sebab logikanya terpidana /ahliwarisnya tidak akan mengajukanPeninjauan Kembali atas putusan vrijspraak dan onslag van alle vervolging. Dalam konteks ini, makayang berkepentingan adalah Jaksa Penuntut Umum atas dasar alasan dalam ketentuan pasal 263ayat 2 KUHAP ;b. Bahwa konsekwensi logis dari aspek demikian maka pasal 263 ayat 3 KUHAP yang pokoknyamenentukan “ Atas dasar alasan yang sama sebagaimana tersebut pada ayat (2) terhadap suatu  putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap dapat diajukan permintaan peninjauan kembali apabila dalam putusan itu suatu perbuatan yang didakwakan telah dinyatakanterbukti akan tetapi tidak diikuti oleh suatu pemidanaan” tidak mungkin dimanfaatkan oleh terpidanaatau ahli warisnya sebab akan merugikan yang bersangkutan, sehingga logis bila kepada JaksaPenuntut Umum diberikan hak untuk mengajukan peninjauan kembali;

Activity (5)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
ryurinta liked this
surya_na706446 liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->