Welcome to Scribd. Sign in or start your free trial to enjoy unlimited e-books, audiobooks & documents.Find out more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
3Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Sikap Hasan Al Banna Terhadap Tawassul Adalah SAMA Dengan PARA IMAM AHLUS SUNNAH

Sikap Hasan Al Banna Terhadap Tawassul Adalah SAMA Dengan PARA IMAM AHLUS SUNNAH

Ratings: (0)|Views: 305|Likes:
Published by ibnumaulay
ini adalah bantahan untuk sekte salafi irja'i yang telah memaksakan kehendak mereka bahwa tawasul adalah masalah aqidah. Padahal para imam ahlus sunnah telah mengatakan bahwa tawasul adalah khilafiyah fiqih tata cara doa, sebagaimana yang dikatakan oleh Al Ustadz Hasan Al Banna Rahimahullah
ini adalah bantahan untuk sekte salafi irja'i yang telah memaksakan kehendak mereka bahwa tawasul adalah masalah aqidah. Padahal para imam ahlus sunnah telah mengatakan bahwa tawasul adalah khilafiyah fiqih tata cara doa, sebagaimana yang dikatakan oleh Al Ustadz Hasan Al Banna Rahimahullah

More info:

Published by: ibnumaulay on Jan 05, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/12/2011

pdf

text

original

 
http://abuhudzaifi.multiply.com/journal/item/83Sikap Al Ustadz Hasan Al Banna terhadap
tawassul 
, dianggap menyimpang oleh kaum salafiyun, bahkansalah seorang penulis Indonesia, menyebutnya orang yang awam dalam masalah aqidah, hanya karena AlUstadz Hasan Al Banna mengatakan bahwa perkara tawassul adalah perkara khilafiyah
 furu’ 
(cabang)dalam hal tata cara berdoa. Sedangkan, menurut mereka masalah ini adalah masalah aqidah. Benarkahtudingan mereka? Ataukah justru mereka yang awam terhadap masalah tawassul ini?
Apa kata Syaikh Hasan Al Banna
 Rahimahullah
tentang tawassul?
Beliau berkata dalam
Ushul ‘Isyrin
yang ke 15:
نمم سمميلو ءاعدممل ةمميفيك مم ممعر خ هقخ ن دحأب ىلات  ىلإ لاب ر ذإ ءاعدلو . ديقل ئا 
 
“Berdoa apabila diiringi tawassul kepada Allah Ta’ala dengan salah satu makhlukNya,merupakan perselisihan cabang dalam masalah tata cara berdoa, bukan masalah aqidah.”
(
 Majmu’ah Ar  Rasail 
, Hal. 307. Al Maktabah At Taufiqiyah)
 Dari ucapan beliau – 
 Rahimahullah
- kita bisa menangkap, bahwa sikap beliau terhadap tawassulmemandangnya sebagai perselisihan
 furu’ 
(cabang), bukan aqidah. Ucapan ini tidak ada indikasi sedikit pun bahwa beliau menyetujui tawassul, sebab yang diucapkannya hanyalah mengetengahkan kepada pembaca tentang ‘posisi’ masalah tawassul dalam syariat Islam.Maka, tidak ada celah buat orang yang mencelanya, bahwa beliau menyetujui tawassul (kepadamakhlak Allah Ta’ala), sebab sama sekali beliau tidak menyatakan persetujuannya dalam kalimat ini.Betul, bahwa kalimat Syaikh Hasan Al Banna ini masih global dan perlu perincian. Namun, perkataan singkat beliau amatlah dimaklumi, sebab beliau tidak sedang membicarakan tawassul secarakhusus, melainkan sedang membicarakan
ushul ‘isyrin
(20 masalah pokok).Hal ini ditegaskan oleh Syaikh Al Albani
 Rahimahullah
ketika mengomentari ucapan Syaikh AlBanna:
نرشل هلص ن رشع سال ص  يل نيي اعدل ضب   ني ا نو نمم سمميلو ءاعدم مل ةم ميفيك مم ممعر خ هم مقخ نمم دممحأب مم ىلإ لاب ر ذإ ءاعدلو ) : ذإ رممج خ هأممب دش ا ل   ع ال هطإ ىع ايص سيل ( ديقل ئا .  اك رص ر هي 
 
“Dari sini, maka nampak kejelasan bahwa perkataan sebagian da’i Islam hari ini pada
Ushul 
yang ke 15, dari
Ushul ‘Isyrin
-nya: “Berdoa apabila diiringi tawassul kepada Allah Ta’ala dengansalah satu makhlukNya, merupakan perselisihan cabang dalam masalah tata cara berdoa, bukan masalahaqidah.” Tidaklah benar secara mutlak, lantaran telah Anda ketahui bahwa faktanya, apa yang terlihatsangat berbeda ketika terjadi syirik yang jelas, sebagimana penjelasan lalu.”
(
 At Tawassul 
, Hal. 135. AlMaktabah Asy Syamilah)
 
 
Komentar Syaikh Al Albani ini menunjukkan bahwa perkataan Syaikh Al Banna mengandungkebenaran walau tidak sepenuhnya,
nah
‘sepenuhnya’ itulah yang saya maksud perlu diperinci. Komentar ini juga menunjukkan, bahwa Syaikh Al Albani tetap menghormati Syaikh Al Banna, dengan menyebutnyasebagai
 Da’i Islam
, tidak menyebutnya sebagai ahli bid’ah, awam dalam aqidah, dan celaan lainnya yang biasa kita dengar dari orang-orang yang mengaku meniti jalan salafush shalih.Kita pun mengakui, bahwa pada praktek di lapangan, banyak orang-orang awam menyangka bahwa yang dilakukannya adalah tawassul kepada orang shalih atau Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi waSallam
setelah wafatnya. Padahal yang mereka lakukan adalah
istighatsah
(meminta tolong) kepadamakhluk yang sudah wafat dan jelas ini syirik akbar, bukan meminta tolong kepada Allah Ta’ala melaluimakhluk (
tawassul 
). Tentu keduanya – meminta tolong kepada makhluk dan meminta tolong kepada AllahTa’ala melalui makhluk- adalah dua hal yang berbeda. Namun, banyak orang awam yang tidak mengetahuinya. Bahkan ada pula yang mengaku ahli agama menyamaratakannya, ada yang menilaitawassul adalah
istighatsah
kepada makhluk, ada pula yang mengira apa yang mereka lakukan denganmeminta kepada makhluk, itulah tawassul. Keduanya sama-sama keliru.
 Pada titik ini, memang tawassul telah memasuki kawasan aqidah, yakni permintaan tolong seorang hamba kepada sesama hamba, sepertiminta rezeki, minta ampun, dan permintaan lain yang hanya layak dipanjatkan kepada Allah Ta’ala.
Nah, potensi kekeliruan inilah yang membuat manusia tergelincir dalam kesyirikan, yangmungkin dirisaukan oleh kaum salafiyun, karena begitu globalnya ucapan Syaikh Hasan Al Banna.Kerisauan seperti itu adalah hal yang baik, namun menjadi tidak benar ketika disikapi secara ekstrimdengan melontarkan kata-kata kotor dengan sebutan jahil, awam, penyeru kesyirikan,
quburiyun
, terhadapSyaikh Hasan Al Banna. Tentu itu adalah sikap aniaya yang berasal dari kebodohan terhadap hakikat dan
‘Ainus Sukhti
(mata kebencian).
Tawassul Yang Benar
Saya tidak akan membahas apa itu tawassul, bagaimana tawassul dan seterusnya.
To the point 
saja, bahwa ditengah beragam pandangan ulama tentang tawassul ada beberapa tawassul yang lebih selamatdan dekat kebenaran, yang ditegaskan oleh dalil-dalil syara’. Nah, baik pihak yang
 pro
dan
anti
tawassul pun setuju dengan tawassul jenis ini.
1.
 
Tawassul dengan Asma wa Sifat Allah Ta’ala.
Dalilnya adalah:
 
ا َب ِ ُعُ ْا َ ى َ ْ ُل ْ ءُا َ ْْَ ّِِو َ
 
“Hanya milik Allah asmaa-ul husna, Maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ulhusna itu...” (QS. Al A’raf (6): 180)Contoh: kalimat
Yaa Rahmaan Irhamnii
.. (Wahai Yang Maha Pengasih, kasihinailah aku ..)
2.
 
Tawassul dengan Minta doanya Orang shalih ketika hidup 
Berkata Syaikh Shalih Fauzan
Hafizhahullah
: 
 
همميع مم ىممص ممرل  ممع امم ل ءاعدب -هع ىلات   -ا ل نب رع ىق دو  امم ع امم مم ،لمم  ممب قمم اممإو ،ايقمم امميب قمم امم ك ُ امم إ ل" :او ،و  مم ةوا  ت اكو ،نيلال ءاعدب  ت و . ؤ ا لو ا ل عدي ،"عا  .ر ُيغو ،ر ْ ُل دزيب هع   
“Umar bin Al Khathab
 Radhiallahu ‘Anhu
pernah beristisqa (minta hujan) dengan doanya Al‘Abbas, paman Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
:
“Ya Allah, sesungguhnya kami dahulu memintahujan dengan Nabi kami dan Kau telah memberi hujan kepada kami, dan sesuangguhnya kami beristisqadengan paman RasulMu,”Bangunlah ‘Abbas, lalu berdoalah.
Maka Al ‘Abbas berdoa dan manusiamengaminkan. Inilah tawassul dengan doa orang shalih, sebagaiman tawassulnya Mu’awiyah
 Radhiallahu‘Anhu
dengan Yazid Al Jursyi, dan selain mereka.”
3.
 
Tawassul dengan Amal Shalih
Dalilnya adalah kisah tiga orang yang terjebak di gua lalu mulut gua tersebut tertutup batu besar.Untuk membukanya mereka berda kepada Allah Ta’ala dengan bertawassul kepada Allah Ta;ala melaluiamal shalih yang pernah mereka lakukan masing-masing. Kisah ini masyhur.Tiga Tawassul ini telah ditekankan oleh Syaikh Al Albani sebagai Tawassul yang
masyru’ 
(disyariatkan), dan Syaikh Yusuf Al Qaradhawi pun menguatkan pendapat Syaikh Al Albani ini.
4.
 
Tawassul kepada Allah Ta’ala dengan Keimanan kepada Rasulullah
 Shallallahu ‘Alaihi wa Salam
Dalilnya:
ا َت ِا َي م م َ امم ّعَ ر ْم مف ك َو َ امم َب َ ُذ ُ امم َل َ ر ْف ِغْا َ ا َب ّ َ ا ّ َآ َ  ْ ُب ر َب ِ  ُ ِ  ْَ  ِا َ ْِل ِ  ِا َ ُ ا ً ِا َ ُ ا َ ْ ِ َ ا َ ّإِ ا َب ّ َ  ِر َب ْْَ  َ َ ا َ ّ َت َو َ
“Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya Kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu):"Berimanlah kamu kepada Tuhanmu", Maka Kamipun beriman. Ya Tuhan Kami, ampunilah bagi Kamidosa-dosa Kami dan hapuskanlah dari Kami kesalahan-kesalahan Kami, dan wafatkanlah Kami besertaorang-orang yang banyak berbakti.” (QS. Ali Imran (3): 193)
5.
 
Tawassul kepada Allah Ta’ala dengan Keimanan dan
 Ittiba’ 
kepada Rasulullah
 Shallallahu‘Alaihi wa Salam
 
Dalilnya:
 
ند ِِاش ّل َ َ ا َ ْ ُك ْا َ  َ ُر ّلا َ ْ َت ّو َ  َل ْز َ ْَ ا َب ِ ا ّ َا َب ّ َ

Activity (3)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
renidian liked this

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->