/  69
 
Diajeng
><
Ndoro Kakung:: lelaki wangi pandan ::
 
LAJANG
Lelaki yang baik jidatnya udah ada tempelannya: sold out. Yang tersedia tinggalremah-remah, yang ndak mutu, ndesit, katro.Ups. Itu bukan kata saya, loh. Itu kata seorang teman perempuan saya. Lajang.Umurnya thirty something. Smart and charming.Kami berjumpa di sebuah kedai kopi di jantung Ibu Kota pada sebuah malam.Setelah ngobrol ngalor-ngidul, wetan-kulon, topik pembicaraan kami sampai ketema-tema kosmopolitan. Salah satunya ya itu tadi, soal relasi Mars dan Venus.Awalnya saya bertanya kenapa dia masih lajang. Padahal dengan semua yangdiraih dan dimilikinya sekarang, mestinya dia ndak susah cari pasangan.Eh, dia malah nyerocos, ngerasani kaum adam yang katanya kebanyakannggombal doang.Laki-laki zaman sekarang itu cuma mau nyari duit dan seks dari perempuan,Mas,” katanya.Ups. Tuduhan yang gegabah pikir saya. Tapi, saya biarkan dia curhat dulu. Sayamalah jadi penasaran ingin tahu pandangannya lebih jauh.“Bagaimana sampean bisa sampai menyimpulkan begitu, Jeng?”“Ah, Mas ini kura-kura dalam perahu. Mana ada lelaki yang mau ndeketinperempuan hanya untuk ngobrol, diskusi, atau apa itu kata sampean,pencerahan? Ndak ada Mas. Itu cuma ada di negeri dongeng. Ngimpi, Mas. Laki-laki itu ya maunya cuma ini, ini, atau ini,” katanya sambil menunjuk dompetnyayang bersimbol huruf LV, dada, dan bagian bawah perutnya.Saya melengos pura-pura ndak lihat. Untung kedai itu agak remang-remangsehingga wajah saya yang mungkin sudah berubah ungu ndak kelihatan. Tiba-tibasaya ingat seleb-seleb perempuan yang nikah, cerai, nikah lagi, cerai lagi itu.“Ah, ini pasti gara-gara sampean sering dikecewakan laki-laki yo, Jeng?”“Asem, ki!” umpatnya sambil melempar serbet.Marlboro mentol hijaunya dijentikkan ke asbak. Hmm, wangi Chanel menyergaphidung saya. Ah, rupanya dia belum pernah berubah. Sayup-sayup sayamendengar speaker di pojok atas meja kami mengalunkan suara Asti Asmodiwati.Lagunya Satu Jam Saja.“Padahal kan ndak semua laki-laki gombal, Jeng,” saya menyoba menetralisirpesonanya.
 
“Memang, Mas. Saya tahu itu. Tapi, laki-laki yang baik itu cepet laku, ya sepertisampean ini.”Halah. Modyar aku.“Mas kan tahu, jumlah perempuan itu lebih banyak dari laki-laki. Untuk nyari satusaja, kompetisinya ketat, Mas. Kami ini, para femina, harus berebut sesuatu yang jumlahnya kian menipis. Siapa cepat, dia dapat. Yang telat silakan gigit jari. Sayatermasuk yang sampai sekarang gigit jari,” katanya.“Mosok segitunya sih, Jeng?”“Ealah sampean kok ndak percaya sih, Mas. Dan, ini yang menarik Mas, saya kokbiasanya ngerasa cocok, nyambung gitu, kalau bertemu pria-pria yang umurnya jauh di atas saya. Yang sebaya itu ndak ada yang mutu. Kebanyakan ndak tahuapa yang mereka mau. Repot, kan? Dia aja ndak tahu apa yang dia mau, apalagisaya. Males, Mas.Saya pernah nyoba deket-deket dengan cowok sepantaran, eh lah kok malah jadibaby sitting. Aku ogah, Mas. Aku kan pengennya laki-laki yang bisa ngemong,bukan sebaliknya. Saya kan juga pengen disayang-sayang, Mas. Dipeluk-peluk.Dimanja gitu …, ” katanya sambil tersenyum memamerkan deretan giginya yangputih.Halah, modyar maneh aku. Blaik!“Pantes, sampean banyak bergaul dengan bapak-bapak dan om-om itu ya, Jeng?”Dia ngakak. Bibirnya yang merah menyeruput gelas berisi jus jeruk di meja. Bekaslipstik terlihat menempel di sedotan plastik itu. Saya tergoda ingin mengelapnya. Tiba-tiba handphone-nya berdering. Masih nada yang sama ketika sayamengenalnya dulu.“Halooow, Mas. Apa kabar? Baru landing? Oh, sudah dijemput … Blablabla … “Saya mengalihkan perhatian dengan membaca majalah. Lima menit kemudian diameletakkan telepon. Matanya terlihat basah. Saya ndak perlu bertanya apa yangterjadi.”“Pulang yuk, Mas. Tolong anterin saya cari taksi dong,” ajaknya tiba-tiba sambilringkes-ringkes tas, mematikan Marlboro mentol hijau kesepuluh yang barusetengah diisapnya.Saya tersenyum dan berdiri. Sayup-sayup saya mendengar suara The Beatles darispeaker di atas meja kami, “The long and winding road … “

Share & Embed

More from this user

Add a Comment

Characters: ...

Jessica Louisleft a comment

Keren!!!!

Wibowo Santosoleft a comment

Tulisan baguuusss

agunkz_alchemistleft a comment

matur suwun ndoro.. selama ini cuma jadi pembaca pasif blog-nya njenengan, malah dapat karya yang bagus buat inspirasi, sekali lagi makasih...

alaisagleft a comment

matur nuwun ndoro kakung...

elafiqleft a comment

trims ndoro.. :)