Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Mengkritik Penguasa Secara Terbuka a La Imam Al 'Izz

Mengkritik Penguasa Secara Terbuka a La Imam Al 'Izz

Ratings: (0)|Views: 50 |Likes:
Published by ibnumaulay
Haram mengkritik penguasa secara terbuka!! kata siapa?

Hadits yang menyebut hal itu hanyalah opsi, bukan kewajiban
Haram mengkritik penguasa secara terbuka!! kata siapa?

Hadits yang menyebut hal itu hanyalah opsi, bukan kewajiban

More info:

Published by: ibnumaulay on Jan 05, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/19/2010

pdf

text

original

 
(lagi ..) Mengkritik Penguasa Secara TerbukaApr 21, '09 2:37 AMfor everyone
SIKAP KRITIS SYAIKH AL-IZZ BIN ABDISSALAM
Oleh : Abduh Zulfidar Akaha
Pada masa akhir keruntuhan Khilafah Bani Abbasiyah, banyak para budak yangmenjadi bebas dengan sendirinya dikarenakan tuan-tuannya yang meninggal ataumelarikan diri. Di antara para budak tersebut, banyak yang berasal dari Turki atau biasadisebut sebagai “al-atrak,” yang artinya orang-orang Turki. Namun, yang menjadimasalah adalah, banyak di antara orang-orang Turki yang mantan budak ini yang menjadi pejabat pemerintahan di bawah kekuasaan Sultan Najmuddin Ayub di Mesir. Dankebetulan ketika itu yang menjadi qadhi qudhah (semacam Ketua Mahkamah Agung – sekarang) di Mesir adalah Syaikh Al-Izz bin Abdissalam, yang terkenal dengan sebutan“sulthanul ulama” atau pemimpin para ulama. Beliau digelari demikian karenadikarenakan ketinggian ilmunya dan sikapnya yang sering mewakili para ulama padazamannya, termasuk sikap kritis beliau terhadap penguasaBerdasarkan laporan, serta fakta dan data yang ada, terungkaplah bahwa sesungguhnyaorang-orang Turki yang banyak menjadi pejabat ini masih dalam statusnya sebagai budak, dan mereka belum merdeka. Setelah nyata bukti yang ada, maka Syaikh Al-Izz pun mengeluarkan fatwanya yang sangat kontroversial dan mengundang kemarahan pemerintah. Fatwa tersebut mengatakan, bahwa para pejabat yang berasal dari Turkimasih berstatus budak dan mereka belum merdeka. Hukum budak pun masih menyertaimereka. Syaikh Al-Izz menegaskan bahwa jual beli mereka tidak sah, begitu pula dengan pernikahan mereka. Sehingga akhirnya segala kepentingan/ hajat hidup mereka pun banyak yang terbengkalai, karena kaum muslimin mematuhi apa yang difatwakan oleh beliau. Padahal, di antara mereka (para pejabat dari Turki) adalah wakil Sultan Najmuddin Ayub. Wakil Sultan ini pun sangat murka dan meluap-luap amarahnyaterhadap Syaikh Al-Izz. Dia pun mengirimkan orang kepada Syaikh untuk mempertanyakan fatwanya ini dan apa sebenarnya yang beliau inginkan.Syaikh Al-Izz berkata kepada para utusan Wakil Sultan, “Kami akan mengadakan suatumajlis untuk kalian dan menjual kalian di hadapan kaum muslimin, dimana nanti uanghasil penjualan kalian dimasukkan ke Baitul Mal. Dengan demikian, maka kalian punsecara resmi akan menjadi orang-orang yang merdeka. Kalian akan sah menjadi orangmerdeka secara syar’i.”Para utusan ini lalu melaporkan kepada Wakil Sultan apa yang dikatakan oleh SyaikhAl-Izz. Tetapi Wakil Sultan tidak mau terima. Lalu, dia pun mengangkat masalah inikepada Sultan Najmuddin Ayub. Kemudian, Sultan mengirimkan utusan kepada SyaikhAl-Izz untuk meminta beliau agar mencabut fatwanya tersebut. Namun Syaikh Al-Izztetap dalam pendiriannya dan tidak mau mencabut fatwanya. Bagi beliau, sekalipunorang-orang Turki tersebut banyak yang menjadi pejabat pemerintahan, tetapi merekaadalah para budak yang belum merdeka.Mendengar jawaban Syaikh Al-Izz yang tidak mau mencabut fatwanya, maka Sultan
 
 Najmuddin Ayub pun sangat marah, hingga mengeluarkan kata-kata yang sangat kasar.Sultan sangat marah karena dianggapnya Syaikh Al-Izz telah turut campur urusan politik yang tidak ada kaitannya dengan dirinya (Syaikh Al-Izz).Mendengar laporan bahwa Sultan marah-marah terhadap dirinya dengan mengeluarkankata-kata kasar, maka Syaikh Al-Izz pun marah kepada Sultan karena Allah. Lalu, beliaumengemasi barang-barangnya. Dengan berkendara keledai, beliau bersama keluarganyameninggalkan Kairo menuju Syam. Belum sampai 6 mil berjalan, sudah banyak kaummuslimin yang menyusul menyusul beliau; laki-laki, perempuan, tua muda, hampir tidak ada yang ketinggalan. Mereka menyusul di belakang beliau menuju Syam. Termasuk diantara mereka adalah para ulama, orang-orang shalih, dan pedagang.Kabar ini pun sampai ke telinga Sultan. Dikatakan kepada Sultan, jika Syaikh Al-Izz bin Abdissalam pergi meninggalkan Mesir, maka kekuasaan Sultan pun akan ikut pergi,karena hampir tidak ada lagi rakyat yang berada di bawah kekuasaannya. Mau tidak mauSultan pun melunak sikapnya terhadap Syaikh. Sultan pun segera mengirimkanutusannya untuk meminta Syaikh Al-Izz agar bersedia kembali ke Mesir dan tidak melanjutkan perjalanannya. Sultan menyatakan bersedia memanggil para pejabat yang berasal dari Turki, termasuk Wakil Sultan sendiri.Mendengar berita ini, Wakil Sultan pun berang dan panik. Dia segera mengirimkanutusan lagi kepada Syaikh untuk memintanya secara baik-baik agar bersediamengurungkan niatnya yang hendak menjual dirinya dan teman-temannya yang berasaldari Turki. Tetapi, lagi-lagi Syaikh menolak permohonan halus tersebut. Maka wakilSultan ini pun marah dan berteriak, “Bagaimana mungkin Syaikh ini mau memanggilkami satu persatu padahal kami adalah para penguasa? Sungguh, demi Allah, akan akutebas batang lehernya dengan pedangku ini!”Lalu, Wakil Sultan ini pun pergi sendiri dengan disertai para pengawalnya menujurumah Syaikh Al-Izz dengan pedang terhunus di tangan kanannya. Sesampainya di rumahSyaikh Al-Izz, pintu pun diketuk. Kebetulan yang keluar membukakan pintu adalah anak Syaikh. Dan, ketika anak Syaikh melihat muka Wakil Sultan yang tampak murka dengan pedang terhunus di tangannya, dia pun ketakutan dan segera masuk kembali ke dalamrumahnya untuk memberitahukan apa yang dilihatnya kepada ayahnya. Namun SyaikhAl-Izz tetap tenang dan tidak ada yang berubah dalam sikapnya.Syaikh Al-Izz berkata, “Wahai anakku, ayahmu ini tidak takut dibunuh di jalan Allah.”Kemudian Syaikh pun keluar dengan tenang. Begitu Wakil Sultan melihat melihat SyaikhAl-Izz, dia pun merasakan dirinya gemetaran. Dan ketika mata Syaikh Al-Izz menatapmata Wakil Sultan, tangannya pun terasa lemas dan pedangnya pun jatuh, lepas darigenggamannya. Sultan merasakan tulang belulangnya serasa bergemeletuk. Tiba-tiba, dia pun menangis tersedu-tersedu dan memohon kepada Syaikh agar mendoakan kebaikanuntuk dirinya. Sang Wakil Sultan berkata, “Wahai tuanku, kebaikan apakah yang hendak anda lakukan?”Syaikh Al-Izz berkata, “Saya akan memanggil kalian dan menjual kalian.”Wakil Sultan berkata, “Lalu, akan anda kemanakan uang hasil penjualan kami?”

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->