Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
3Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Artikel crisismgmtind280103

Artikel crisismgmtind280103

Ratings: (0)|Views: 86|Likes:
Published by virzatc
Artikel from BI
Artikel from BI

More info:

Published by: virzatc on Jan 06, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/20/2010

pdf

text

original

 
Reformulasi Manajemen Krisis Indonesia:
 Deposit Insurance
 
and 
 
the Lender of Last Resort 
1
 
S. Batunanggar
2
 
Abstrak
Krisis ganda - moneter dan perbankan - yang dialami Indonesia adalah yang terparah diAsia dan salah satu krisis yang termahal di dunia dalam seperempat abad terakhir.Diantara permasalahan mendasar dalam penyelesaian (manajemen) krisis saat ini adalah:(i) belum adanya kebijakan yang komprehensif dan jelas; (ii) kelemahan dalam programpenjaminan pemerintah
(blanket guarantee)
yang menciptakan
moral hazard
dan dapatmendorong timbulnya krisis keuangan di masa depan; dan (iii) ketidak-jelasan fungsiBank Indonesia sebagai
the lender of last resort
dalam keadaan krisis sistemik. Untukmenyempurnakan manajemen krisis di Indonesia diusulkan dua langkah pokok: (i)mengganti secara bertahap program penjaminan pemerintah dengan asuransi simpananyang terbatas dan eksplisit (ASTE); dan (ii) menetapkan kebijakan
the lender of last resort(LLR)
yang lebih transparan baik untuk kondisi normal maupun keadaan krisis sistemik.Kebijakan LLR yang lebih transparan selain berfungsi sebagai salah satu alat manajemenkrisis yang efektif juga memiliki kelebihan yakni kejelasan akuntabilitas yang dapatmeningkatkan kredibilitas bank sentral, mengurangi campur tangan politik, mengurangi
moral hazard
dan mendorong disiplin pasar yang pada akhirnya akan mendorongstabilitas keuangan.
 JEL classification: F34, G18,
G21, G28
 ,
 E44
 
Keywords:
 
 financial crises, banking crisis, crisis management, financial safety nets, lender of lastresort, government guarantee, deposit insurance.
 
1. Pengantar
 
Krisis keuangan Asia Tenggara merupakan salah satu krisis terdahsyat di abad ke duapuluh. Setelah menikmati pertumbuhan ekonomi selama lebih dari tiga dekade,Indonesia, bersama Thailand dan Korea Selatan, ditimpa gejolak krisis ganda
(twin crisis)
 – krisis mata uang dan krisis perbankan yang luar biasa. Dampak krisis tersebut sangatburuk. Indonesia khususnya mengalami musibah terparah akibat resesi yang dalam danberkepanjangan. Biaya fiskal resolusi krisis di Indonesia melebihi 50% dari PDB tahunan.Biaya fiscal tersebut merupakan terbesar kedua selama seperempat abad terakhir setelahkrisis Argentina pada awal tahun 1980an. Meskipun krisis tersebut telah berlalu, namunIndonesia akan menanggung dampaknya selama beberapa tahun mendatang.Telah banyak dilakukan studi mengenai sebab-sebab terjadinya krisis Asia
3
.
Ada duapolar pandangan mengenai penyebab krisis tersebut. Pandangan pertama berargumen
1
Revisi dan versi ringkas dari paper berjudul
‘Indonesia’s Banking Crisis Resolution: Lessons and the Way Forward’;
 proyek riset di Centre for Central Banking Studies (CCBS), Bank of England dan dipresentasikan pada Banking CrisisResolution Conference, CCBS, Bank of England, London, 9 December 2002.
2
Analis senior di Bank Indonesia. Pendapat dalam paper ini adalah pandangan penulis bukan pandangan Bank Indonesia.Penulis berterima kasih kepada Prof. Peter Sinclair (CCBS, Bank of England) dan Glenn Hoggarth (Bank of England) ataskomentar dan saran pada edisi awal. Semua kesalahan adalah tanggung jawab penulis. Alamat E-mail:batunanggar@bi.go.id
 
 
bahwa penyebab utama krisis adalah kelemahan fundamental ekonomi dan inkonsistensikebijakan (Krugman (1998), Mishkin (1999). Pandangan yang kedua meyakini bahwaakar permasalahan krisis adalah
 pure contagion
and irrasionalitas pasar ((Radelet danSachs (1998); Furman dan Stiglitz (1998) dan Stiglitz (1999, 2002)). Sedangkan pengamatlainnya seperti Corsetti, Pesenti dan Roubini (1998) dan Djiwandono (1999) mengambil jalan tengah dengan berargumen bahwa
contagion
dan kelemahan fundamental ekonomimenyebabkan krisis Asia. Krisis finansial terjadi tidak hanya disebabkan oleh kelemahanfundamental ekonomi, tetapi kelemahan fundamental ekonomi dapat menyuluttimbulnya
bank run
yang pada gilirannya berdampak buruk terhadap perekonomian.Menjaga stabilitas keuangan merupakan salah satu fungsi pokok dari bank sentralmodern, yang tidak kalah pentingnya dari memelihara stabilitas moneter (Sinclair, 2001).Stabilitas keuangan bergantung pada lima elemen terkait yakni: (i) lingkungan makro-ekonomi yang stabil; (ii) lembaga finansial yang dikelola baik; (iii) pasar finansial yangefisien; (iv) kerangka pengawasan prudensial yang sehat; dand (v) system pembayaranyang aman dan handal (MacFarlane, 1999).Gejolak dalam lembaga keuangan khususnya bank, adalah salah satu sumber instabilitas(Crockett, 1997, 2001). Oleh karena itu, krisis perbankan harus dicegah atau ditanganiuntuk menghindarkan gangguan terhadap sistem pembayaran dan arus kredit dalamperekonomian. Pencegahan krisis
(crisis prevention)
meliputi kebijakan yang diambiluntuk menghindarkan timbulnya permasalahan perbankan. Sedangkan penyelesaiankrisis
(crisis
 
management or resolution)
memfokuskan pada bagaimana upaya otoritasterkait menghadapi krisis bila telah terjadi. Dengan krisis perbankan, otoritas terkaitmenghadapi pilihan
(trade-off)
antara memelihara stabilitas keuangan sekarang – denganmenyelamatkan bank-bank bermasalah – dengan konsekuensi meningkatkan instabilitaskeuangan di masa mendatang akibat meningkatnya
moral hazard
(Hoggarth et al., 2002).Dalam penyelesaian krisis perbankan, otoritas terkait harus berupaya untukmeminimalkan biaya fiskal dan
moral hazard
yang mungkin timbul.Paper ini akan membahas resolusi krisis perbankan di Indonesia khususnyapermasalahan jaring pengaman
(safety nets)
termasuk
blanket guarantees
and pinjamanlikuiditas Bank Indonesia. Bagian 2 membahas jaring pengaman di Indonesia saat ini.Bagian 3 merekomendasikan upaya untuk meningkatkan stabilitas keuangan diIndonesia, khususnya berkaitan dengan
lender of last resort
and asuransi simpanan
(depositinsurance).
Bagian 4 menyimpulkan.
2. Jaring Pengaman untuk Penyelesaian Krisis Saat Ini2.1. Program Penjaminan Pemerintah
Sebelum krisis 1997, tidak terdapat negara (yang mengalami krisis) di Asia Timur yangmemiliki skim asuransi simpanan
(deposit insurance)
yang eksplisit kecuali Filipina. DiIndonesia, Bank Indonesia memberikan bantuan likuiditas and permodalan kepadabank-bank bermasalah secara kasus per kasus (
ad-hoc)
dan tidak transparan
4
. Bantuantersebut juga tidak didasarkan pada suatu mekanisme asuransi formal tetapi lebih padakeyakinan bahwa bank-bank yang dibantu tersebut merupakan sistemik (
too big to fail)
 atau kegagalan suatu bank dapat mewabah
(contagion)
.
3
Namun demikian, studi yang memprediksi kemungkinan krisis di Asia khususnya Indonesia sangat sedikit, lihat misalnyaCole and Slade (1996) yang telah mengidentifikasi beberapa masalah mendasar dalam sistem perbankan Indonesia.
4
Namun, bantuan ini hanya diberikan kepada bank-bask swasta dan pemerintah bukan kepada bank asing.
2
 
Asuransi simpanan terbatas
(limited guarantee)
di Indonesia pertama kali diterapkanketika pemerintah menutup Bank Summa pada awal tahun 1992 yang dipandang gagal
5
.Sejak itu, tidak terdapat penutupan bank hingga terjadinya krisis dimana pemerintahmenutup 16 bank pada November 1997. Saat itu, diterapkan asuransi simpanan terbatas(AST) sebagai bagian dari persetujuan pertama dengan IMF dengan batas Rp20 juta perrekening perbank.Pengalaman krisis Indonesia tahun 1997 menunjukkan bahwa AST tidak efektif dalammencegah
bank runs
. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor terkait: (i) simpananberjumlah lebih dari Rp20 juta – yang tidak dijamin – mencapai sekitar 80% dari totalsimpanan; (ii) terdapat ketidakpastian yang tinggi dalam perekonomian dan politik; dan(iii) penabung dan investor khawatir bahwa akan terdapat penutupan bank lagi sehinggamereka menarik simpanannya dari perbankan.Untuk memulihkan kepercayaan domestik dan internasional terhadap perekonomiandan sistem keuangan, pemerintah menandatangani persetujuan kedua dengan IMF pada15 January 1998. Namun, persepsi dan reaksi pasar terhadap komitmen dan kemampuanpemerintah dalam menangani krisis masih tetap negatif. Akibatnya, terjadi
capital flight
 yang besar mencapai sekitar US$600 juta to $700 juta per hari. Pada tanggal 22 Januari1998, rupiah terjatuh ke titik terendah Rp16.500.Untuk mencegah penurunan lebih jauh dan menjaga kepercayaan publik terhadap sistemperbankan, pada 27 Januari 1998, pemerintah menetapkan program penjaminanpemerintah (
blanket guarantee)
. Asuransi simpanan penuh (ASP) tersebut mencakupseluruh kewajiban bank komersial baik rupiah maupun valuta asing, termasuk nasabahpenyimpan dan kreditur. Kebijakan ASP tersebut bersifat temporer menungguterbentuknya Lembaga Penjamin Simpanan
6
. Awalnya, pengelolaan programpenjaminan pemerintah merupakan tugas bersama Bank Indonesia dan BPPN. Sejak Juni2000 pengelolaan program tersebut menjadi tanggung-jawab sepenuhnya BPPN
7
.Kasus Indonesia menunjukkan bahwa seandainya ASP diterapkan pada awal krisis,
systemic runs
mungkin dapat dikurangi. Pada awalnya, penerapan ASP memang tidaksecara langsung menghentikan
bank runs
. Masih terdapat
bank runs
meskipun jumlahnyalebih kecil yakni hanya pada beberapa bank bermasalah. Hal ini diindikasikan olehpeningkatan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) dari Rp92 triliun pada Januarimenjadi Rp178 triliun pada Agustus 1998. Bank-bank tersebut di
rush
oleh deposankarena beberapa alasan.Kemungkinan pertama adalah rendahnya pemahaman publik karena ketidakjelasancakupan dan jumlah yang ditanggung oleh ASP dan rendahnya kepercayaan terhadapkomitmen pemerintah. Hal ini mendorong deposan untuk mentransfer uangnya daribank-bank yang dinilai bermasalah ke bank-bank yang lebih aman. Setelah tiga bankyang sangat
insolven
diambil alih dan ditutup oleh pemerintah pada 21 Agustus 1998,
bank runs
(dan juga BLBI) menurun tajam.Kedua, deposan mengantisipasi bahwa masih akan ada penutupan bank. Meskipunsimpanan mereka dijamin penuh oleh pemerintah, simpanan mereka akan ditransfer kebank lain jika terjadi penutupan bank. Dalam hal ini akan terdapat tenggang waktu
5
Rencana pembentukan skim asuransi simpanan telah dibahas secara intensif sejak awal tahun 1990an. Tetapi,pemerintah menolak usulan tersebut karena mereka memandang bahwa hal itu akan menciptakan
moral hazard 
.
6
Pada awalnya, program tersebut diberlakukan untuk dua tahun, namun kemudian diperpanjang secara otomatis.Pencabutan ketentuan program tersebut akan diumumkan enam bulan sebelum diberlakukan.
7
Pengeloaan penjaminan atas
trade finance, inter-bank debt exchange
and BPR tetap menjadi tanggung-jawab BI.
3

Activity (3)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
raksa buana liked this

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->