Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
41Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Partisipasi Anak Dalam Pendidikan

Partisipasi Anak Dalam Pendidikan

Ratings: (0)|Views: 1,916 |Likes:
Published by Joseph_Wid_866

More info:

Published by: Joseph_Wid_866 on Jan 07, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/28/2012

pdf

text

original

 
Partisipasi anak memerlukan dorongan dan upaya untuk memampukan mereka dalammenyatakan pandangannya terhadap masalah-masalah yang mempengaruhi kehidupanmereka. Dalam praktek, partisipasi memiliki makna bahwa orang dewasa mendengar apayang diinginkan anak melalui cara komunikasi yang sangat beragam, menjaminkebebasan mereka untuk mengekspresikan diri dan mempertim¬bangkan pandanganmereka ketika harus mengambil keputusan mengenai hal-hal yang mempengaruhikehidupan mereka.Anak yang dimoti¬vasi sejak dini untuk berpartisipasi aktif dalam dunia ini akan menjadiseorang anak yang memiliki kompetensi untuk tumbuh pada awal masa kanak-kanaknya,yang tanggap terhadap kesempatan untuk mendapatkan pendidikan dan berkembangmenuju masa remaja dengan penuh keyakinan dan mampu menyumbang pada wacanademokrasi dan menerapkannya di rumah, lingkungan sekolah, masyarakat dan Negara.Keterlibatan anak dalam setiap aktivitas walaupun tanpa disadari si anak, merupakan partisipasi yang paling rendah dalam tingkatan partisipasi. Namun adapula anak yangmemahami bahwa dirinya berpartisipasi dalam aktivitas yang ada, walaupun padatingkatan ini anak diarahkan oleh orang dewasa. Tingkatan partisipasi yang paling tinggiadalah anak yang memiliki inisiatif dan mengatur aktivitas berkolaborasi dengan orangdewasa.Prinsip bahwa anak harus diajak berunding mengenai hal-hal yang mempengaruhi hidupmereka seringkali ditentang oleh mereka yang melihat prinsip itu sebagai tindakan yangdapat mengurangi pengaruh dan wibawa orang dewasa dalam keluarga, sekolah danmasyarakat.Tulisan ini diilhami ketika penulis secara tidak sengaja “menyadap” obrolan para ortumurid sambil menjemput anaknya. Sebagian mengeluhkan anaknya yang tidak masuk ranking atas, sebagian mengeluhkan anaknya yang sering mendapat nilai jelek pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, IPS dan PPKn, yang menurut si anak jawabannya benar,tetapi salah menurut guru, sehingga anak menjadi bingung. Mereka akhirnya sampai padakata sepakat: mengikutkan anaknya les mata pelajaran kepada gurunya dengan harapanmulia, dapat nilai bagus. Alhasil, mujarab! Ada pula cerita orangtua murid yang“memprotes” guru karena sang guru dinilai kurang memperhatikan murid, seringmeninggalkan kelas karena sibuk dengan kantin sekolah, ujung-ujungnya nilai si anak yang menjadi korban. Yang seperti ini memilih tinggal diam dan menyuruh anaknyamelakukan aksi diam di sekolah, daripada kualat. Dan si anak pun, yang sebetulnya ingintampil sebagaimana anak sekolah yang punya kreasi dan daya cipta, menjadi malas dannervous. Dia merasa buka siapa-siapa dan seolah asing dengan diri dan lingkungannya.Pendapatnya tidak dihargai, eksistensinya terganggu.Dalam kasus ini pendapat anak tidak mendapat tempat yang selayaknya dalam proses belajar. Anak yang notabene telah berpartisipasi dan menempatkan diri pada inner-circle proses belajar, terpaksa harus diposisikan di luar circle. Terlepas dari kemungkinan sianak akan mengalami sedikit stress dan dapat memicu krisis percaya diri, masalah ini,
 
dalam studi pemberdayaan anak, terdapat apa yang disebut sebagai partisipasi anak. Yangternyata, tidak hanya dalam kasus diatas yang terjadi di wilayah penulis, tetapi memangsudah “lazim” terjadi di beberapa daerah dengan corak budaya paternalistik. Tulisan ini berupaya menunjukkan peranan partisipasi (anak) pada pendidikan, dalam arti luas, pendidikan di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Anak, dalam tulisan ini,adalah manusia yang berusia sebelum 18 tahun (sesuai Pasal 1 Konvensi Hak Anak).Partisipasi anak merupakan salah satu bentuk hak anak, khususnya dalam hal hak untuk didengar suaranya dan berperanserta (berada dalam inner-circle suatu hal). Selama ini, partisipasi anak belum banyak mendapat tempat dan terkesan masih kurang diperhatikan.Hal ini terjadi antara lain karena budaya yang ada pada sebagian besar masyarakatIndonesia kurang berpihak pada anak. Dalam budaya kita, anak berada pada “strata” yang paling rendah, setelah orang tua, orang dewasa dan remaja. Anak harus selalu beradadalam posisi patuh pada orang yang lebih tua. Dalam strata yang demikian sangat tidak memberi tempat bagi anak untuk menyatakan pendapatnya, lebih-lebih pendapat yang bertentangan (tidak sama) dengan orang tua, karena hal itu akan dianggap sebagai bentuk  pembangkangan, nglamak, setingkat lebih rendah dari durhaka. Lebih lanjut, si anak yangnglamak akan kualat tanpa syarat, karena dekat dengan perbuatan durhaka. Penulis rasatidak akan ada anak di muka bumi-budaya ini yang sudi disebut sebagai ‘anak durhaka’,yang bakal kualat seperti Malin Kundang atau menjadi jambu mente. Dalam konstruksi budaya semacam ini, komunikasi yang terbangun antara anak dan orang (yang lebih) tua berpola hubungan kekuasaan, tidak setara, yang “kuat”-lah yang (harus) menang dan benar. Anak berada pada posisi yang sangat lemah, termarginalkan, “terkalahkan”.Budaya pemosisian anak semacam ini hanya akan melahirkan kualitas manusia yang berjiwa dan berpemikiran kerdil, kurang cakap, kurang bertanggungjawab, dsb.Ironisnya, di sisi lain, lidah masyarakat (dewasa) kita sangat lancar dengan, dan merestui jargon-jargon laiknya kampanye caleg dan capres, bahwa “anak adalah tunas bangsa,calon pemimpin masa depan”, dan sebagainya predikat muluk-muluk yang dipikulkan pada pundak anak-anak yang justru kurang diberikan ruang yang memadai untuk  bertumbuhkembang. Tentu saja, untuk dapat mampu memikul tanggung jawab tersebutdimasa mendatang, maka anak perlu mendapat ruang/ kesempatan yang seluas-luasnyauntuk tumbuh dan berkembang secara optimal baik fisik, mental maupun social. Dan,ruang tersebut adalah, partisipasi! Partisipasi, melalui pola komunikasi setara dan sehatantara anak dengan orang tua/ dewasa dapat diartikan sebagai wujud “sayang kepadayang lebih muda” dan “hormat pada yang lebih tua”. Agama dan keyakinan apapun pastimengajarkan sikap tersebut. Entah mengapa, ajaran sikap tersebut tidak nyambungdengan sikap budaya komunal masyarakat kita yang cenderung “subordinatif” dan“eksploitatif” oleh golongan tua (orang tua/ dewasa) kepada golongan muda (anak).Undang Undang No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, khususnya pasal 10,menyebutkan bahwa setiap anak berhak menyatakan dan didengar pendapatnya,menerima, mencari, dan memberikan informasi sesuai dengan tingkat kecerdasan danusianya demi pengembangan dirinya sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan dan kepatutan.Hal ini juga sejalan dengan
Convention on the Rights of the Child 
(Konvensi Hak Anak,KHA), yang meliputi non diskriminasi, kepentingan yang terbaik bagi anak 
(the best interest of the child 
), hak untuk hidup, kelangsungan hidup, perkembangan dan
 
 penghargaan terhadap pendapat anak. Penghargaan terhadap pendapat anak inimempunyai arti yang sangat luas, yang merupakan bagian dari partisipasi anak. Setiap pandangan atau pendapat anak, terutama pendapat yang mempengaruhi kehi¬dup¬annya, perlu mendapatkan perhatian dalam setiap pengambilan keputusan.Majelis Umum Perserikatan Bangsa Bangsa telah berjanji untuk membangun suatu duniayang layak bagi anak, yang pada penutupan UN
Special Session on Children
pada bulanMei tahun 2002, para pemimpin dunia itu mendeklarasikan tanggung jawabnya untuk mengubah dunia tidak hanya bagi anak-anak, tapi juga dengan partisipasi anak. Sebuah janji besar untuk anak-anak dunia, tinggal menunggu realisasi di masing-masing negara. Negara akan menjamin anak yang mempunyai pandangan sendiri akan memperoleh hak untuk menyatakan pandangannya secara bebas dalam semua hal yang mempengaruhianak; dan pandangan tersebut dihargai sesuai dengan tingkat usia dan kematangan anak.Upaya mempromosikan partisipasi anak yang penuh makna, ceria dan berkualitas sangat penting dalam menjamin tumbuh-kembang mereka. Anak yang dimoti¬vasi sejak diniuntuk berpartisipasi aktif dalam dunia ini akan menjadi seorang anak yang memilikikompetensi untuk tumbuh pada awal masa kanak-kanaknya, yang tanggap terhadapkesempatan untuk mendapatkan pendidikan dan berkembang menuju masa remajadengan penuh keyakinan dan mampu menyumbang pada wacana demokrasi danmenerapkannya di rumah, lingkungan sekolah, masyarakat dan Negara. Dorongan untuk  berpartisipasi adalah bawaan lahir setiap manusia, siap untuk dikembangkan sejak seorang bayi baru dilahirkan. Karenanya, pengingkaran/ penolakan terhadap partisipasianak ini merupakan tindakan yang kontra-produktif dan melawan hukum kodrati(sunnatullah).Untuk mencapai adanya suatu kemitraan sejajar dan anak akan memberikan pandangannya merupakan suatu proses yang memerlukan pemahaman dan komitmen bersama antara anak-anak, orang tua, keluarga, masyarakat dan organisasi pemeduli anak.Tatkala anak-anak tumbuh dan berkembang maka peluang mereka untuk berpartisipasi berkembang pula mulai dari hal-hal yang bersifat pribadi menjadi yang bersifat umumsehingga meluas menjadi mendunia. Partisipasi anak adalah keikutsertaan dan peransertaanak dalam keluarga, masyarakat, bangsa dan bernegara sesuai dengan tingkat usia dankemampuan anak.
Peran Orangtua, Wali dan Pengasuh
Pada kenyataannya masih banyak orangtua, wali, pengasuh yang kurang mendapatinformasi tentang pentingnya partisipasi dalam berbagai aspek kehidupan yang dimulaidari dalam keluarga. Banyak hal yang mempengaruhi kurangnya pemahaman orangtua,wali, pengasuh terhadap partisipasi anak, yaitu sikap, budaya, ekonomi, system politik dan demokrasi. Juga kondisi krisis yang mengakibatkan 37 juta dari 205 juta penduduk Indonesia hidup dibawah garis kemiskinan (UNICEF, 2000). Orang tua memandang anak adalah sebagai asset dan hak milik, sehingga anak berada pada posisi sebagai objek.Akibat kemiskinan, terlebih pada masa krisis dan setelahnya, banyak orangtua darikeluarga miskin yang terpaksa harus mendayagunakan asset dan hak miliknya tersebut

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->