rangka meningkatkan kualitas lulusan sekolah menengah maupun sekolah dasar. Tuntutan untuk memenuhi minimal jumlah maupun rata-rata nilai yang telah ditetapkan Departemen Pendidikan Nasional seharusnya memacu peserta didik untuk bersungguh-sungguh dalam memahami setiapmata pelajaran, sebuah tujuan utama dari diterapkan Sistem Pendidikan. Menyadarkan para siswaakan tanggung jawabnya sebagai peserta didik, yang kemudian justru dianggap sebagai beban berlebih sehingga menaikkan tingkat stress anak.Kalau pada tahun-tahun sebelumnya jumlah anak yang mengerti akan tanggung jawab terhadapnilainya sendiri jauh lebih kecil daripada anak yang menganggap sekolah hanya sekedar kewajiban pulang dan pergi ke lembaga pendidikan formil sedari jam 7 pagi hingga pukul 2 siang (tanpa jaminan tetap menjejakkan kaki di dalam lingkungan sekolah pada jam-jam diantaranya). Atau pergi ke sekolah hanya untuk memamerkan jam tangan baru atau ringtone lagu-lagu terbaru yangsedang tren di kalangan remaja dengan tujuan menarik perhatian lawan jenisnya. Ya ampuun, pergaulan jaman sekarang..ck..ck..ck..Tapi, apa iya sistem yang diterapkan itu cukup efektif? padahal ketersediaan sarana dan prasaranasetiap sekolah dari ujung Sabang sampai Merauke masih sangat beragam? Mengapa harus menjadisyarat mutlak untuk masuk ke jenjang sekolah berikutnya? Alangkah lebih adil kalau ujian masuk disesuaikan dengan sekolah penerima masing-masing? seperti UMPTN / SPMB barangkali, atau pilihan ujian masuk yang terdiri dari berbagai tahapan untuk menilai semua kompetensi, tergantungorientasi masing-masing sekolah penerima, misalnya sekolah teknik tidak terlalu membutuhkananak dengan kompetensi seni yang sangat tinggi sedangkan nilai fisikanya hampir mencapai nilaiminimal.B. Sekarang kita lihat dari sisi si Anak Menjadi beban berlebih mungkin terasa sangat berat bagi kebanyakan anak sekolah yang terbiasasantai menghadapi angka-angka merah di rapotnya. Tetapi tidak jika si Anak sudah dilatih denganterapi penanggulangan stress berlebih sejak dini. Maaf, saya mengambil contoh saat usia SMUdulu. Pendidikan SMU saya mungkin berbeda dengan kebanyakan sekolah negeri maupun swastalainnya, kehidupan penuh tekanan. Namun di antara tekanan-tekanan tersebut, ada keinginan untuk meraih hasil terbaik di setiap mata pelajaran, bagi saya sekalipun yang harus mengikuti hampir setiap HER yang diadakan. Awalnya saya berpikir bahwa ini adalah mimpi buruk, berdiri ditengah-tengah para Superior dan harus ikut bersaing mendapatkan posisi terbaik, paling tidak untuk bertahan agar tidak terlalu memalukan.Suasana belajar yang tidak pernah telat diabsen oleh setan kantuk, serta cara mengajar guru yang berbeda-beda, juga kondisi fisik dan mental yang dipaksa untuk tidak hanya memikirkan masalahnilai dan pelajaran formil, agaknya membentuk kami untuk merasa wajib bertanggung jawabterhadap diri sendiri, bertanggung jawab terhadap masa depan yang ditentukan oleh kami sendiri.Jangankan Ujian Nasional (dulu disebut EBTANAS), ulangan harian biasa saja harus dipaksamemeras otak sedemikian rupa demi menghindari Remidial atau pengulangan ujian bagi para siswayang mendapat nilai kurang dari 6,00. Belum lagi pengawas ulangan superketat yang tidak mengizinkan sedikitpun kegiatan contek mencontek dan bekerja sama untuk mata pelajaran yang bersifat individu, apalagi mengingat ancaman terberat jika seorang siswa diketahui sedangmencontek atau melakukan tindakan tidak jujur lainnya, yaitu dikeluarkan dari sekolah.Bandingkan dengan realitas masa kini yang mana saat Ujian Nasional berlangsung dihadapi dengansantai oleh peserta, cukup menunggu kiriman pesan singkat lima menit menjelang waktu ujian berakhir dan menyalin semua jawaban yang dikirimkan oleh “seorang oknum” dunia pendidikanyang menggadaikan masa depan ratusan peserta ujian demi puluhan juta rupiah tak berharga.C. Dari Sisi Sekolah, Guru dan Orang TuaTak jarang hanya demi menjaga nama baik sekolah, agar terkesan memiliki kualitas pendidikanyang baik, pihak Sekolah melakukan berbagai upaya untuk mempertinggi persentase angkakelulusan. Memberikan les tambahan di luar jam pelajaran standar misalnya, sebuah usaha yang patut diacungi jempol ya kan? Namun ketika pihak Sekolah telah kehabisan cara untuk mempertahankan kredibilitasnya sebagaisekolah terpandang, bisa jadi bukan hanya memperbolehkan peserta ujian untuk melakukan