Untung ke kantor Heiho di perempatanNonongan yang ke arah Sriwedari."Setelah Jepang kalah, menurut Suhardi,Untung masuk Batalion Sudigdo, yangmarkasnya berada di Wonogiri. "Batalionini sangat terkenal di daerah Boyolali. Inisatu-satunya batalion yang ikut PKI (Par-tai Komunis Indonesia)," kata Suhardi.Menurut Suhardi, batalion ini lalu terlibatgerakan Madiun sehingga dicari-cari olehGatot Subroto.
Clash
yang terjadi pada 1948 antaraRepublik dan Belanda membuat penge-jaran terhadap batalion-batalion kiri ter-henti. Banyak anggota batalion kiri bisabebas. Suhardi tahu Untung kemudianbalik ke Solo. "Untung kemudian masukKorem Surakarta," katanya. Saat itu, me-nurut Suhardi, Komandan Korem Sura-karta adalah Soeharto. Soeharto sebelum-nya adalah Komandan Resimen Infanteri14 di Semarang. "Mungkin perkenalanawal Untung dan Soeharto di situ," kataSuhardi.Keterangan Suhardi menguatkan banyaktinjauan para analisis. Seperti kita ketahui,Soeharto kemudian naik menggantikanGatot Subroto menjadi Panglima DivisiDiponegoro. Untung lalu pindah ke DivisiDiponegoro, Semarang. Banyak pengamatmelihat, kedekatan Soeharto dengan Un-tung bermula di Divisi Diponegoro ini. Ke-terangan Suhardi menambahkan kemung-kinan perkenalan mereka sejak di Solo.Hubungan Soeharto-Untung terjalin lagisaat Soeharto menjabat Panglima Kostradmengepalai operasi pembebasan Irian Ba-rat, 14 Agustus 1962. Untung terlibat dalamoperasi yang diberi nama Operasi Mandalaitu. Saat itu Untung adalah anggota Bata-lion 454 Kodam Diponegoro, yang lebih di-kenal dengan Banteng Raiders.Di Irian, Untung memimpin kelompokkecil pasukan yang bertempur di hutanbelantara Kaimana. Sebelum OperasiMandala, Untung telah berpengalaman dibawah pimpinan Jenderal Ahmad Yani. Iaterlibat operasi penumpasan pemberon-takan PRRI atau Permesta di Bukit Gom-bak, Batusangkar, Sumatera Barat, pada1958. Di Irian, Untung menunjukkan ke-lasnya. Bersama Benny Moerdani, ia men-dapatkan penghargaan Bintang Sakti dariPresiden Soekarno. Dalam sejarah Indone-sia, hanya beberapa perwira yang menda-patkan penghargaan ini. Bahkan Soeharto,selaku panglima saat itu, hanya memper-oleh Bintang Dharma, setingkat di bawahBintang Sakti."Kedua prestasi inilah yang menyebab-kan Untung menjadi anak kesayangan Ya-ni dan Soeharto," kata Kolonel Purnawira-wan Maulwi Saelan, mantan Wakil Ko-mandan Tjakrabirawa, atasan Untung diTjakrabirawa, kepada
Tempo
.Untung masuk menjadi anggota Tjakra-birawa pada pertengahan 1964. Dua kom-pi Banteng Raiders saat itu dipilih menjadianggota Tjakrabirawa. Jabatannya sudahletnan kolonel saat itu.Anggota Tjakrabirawa dipilih melaluiseleksi ketat. Pangkostrad, yang kala itudijabat Soeharto, yang merekomendasikanbatalion mana saja yang diambil menjadiTjakrabirawa. "Adalah menarik mengapaSoeharto merekomendasikan dua kompiBatalion Banteng Raiders masuk Tjakrabi-rawa," kata Suhardi. Sebab, menurut Su-hardi, siapa pun yang bertugas di Jawa Te-ngah mengetahui banyak anggota Raiderssaat itu yang eks gerakan Madiun 1948."Pasti Soeharto tahu itu eks PKI Madiun."Di Tjakrabirawa, Untung menjabat Ko-mandan Batalion I Kawal Kehormatan Re-simen Tjakrabirawa. Batalion ini berada diring III pengamanan presiden dan tidaklangsung berhubungan dengan presiden.Maulwi, atasan Untung, mengaku tidakbanyak mengenal sosok Untung. Untung,menurut dia, sosok yang tidak mudah ber-gaul dan pendiam.Suhardi masuk Tjakrabirawa sebagaianggota Detasemen Pengawal Khusus.Pangkatnya lebih rendah dibanding Un-tung. Ia letnan dua. Pernah sekali waktumereka bertemu, ia harus menghormat ke-pada Untung. Suhardi ingat Untung me-natapnya. Untung lalu mengucap, "Gus,kamu ada di sini...."Menurut Maulwi, kedekatan Soehartodengan Untung sudah santer tersiar di ka-langan perwira Angkatan Darat pada awal1965. Para perwira heran mengapa, misal-nya, pada Februari 1965, Soeharto yangPanglima Kostrad bersama istri mengha-diri pesta pernikahan Untung di desa ter-pencil di Kebumen, Jawa Tengah. "Meng-apa perhatian Soeharto terhadap Untungbegitu besar?" Menurut Maulwi, tidak adasatu pun anggota Tjakra yang datang keKebumen. "Kami, dari Tjakra, tidak adayang hadir," kata Maulwi.Dalam bukunya, Soebandrio melihat ke-datangan seorang komandan dalam pestapernikahan mantan anak buahnya adalahwajar. Namun, kehadiran Pangkostrad didesa terpencil yang saat itu transportasi-nya sulit adalah pertanyaan besar. "Jikatak benar-benar sangat penting, tidakmungkin Soeharto bersama istrinya meng-hadiri pernikahan Untung," tulis Soeban-drio. Hal itu diiyakan oleh Suhardi. "Pastiada hubungan intim antara Soeharto danUntung," katanya.***Dari mana Untung percaya adanya De-wan Jenderal? Dalam bukunya, Soebandriomenyebut, di penjara, Untung pernah ber-cerita kepadanya bahwa ia pada 15 Sep-tember 1965 mendatangi Soeharto untukmelaporkan adanya Dewan Jenderal yangbakal melakukan kup. Untung menyam-paikan rencananya menangkap mereka."Bagus kalau kamu punya rencana begi-tu. Sikat saja, jangan ragu-ragu," demikiankata Soeharto seperti diucapkan Untungkepada Soebandrio.Bila kita baca transkrip sidang peng-adilan Untung di Mahkamah Militer LuarBiasa pada awal 1966, Untung menjelas-kan bahwa ia percaya adanya Dewan Jen-deral karena mendengar kabar beredarnyarekaman rapat Dewan Jenderal di gedungAkademi Hukum Militer Jakarta, yangmembicarakan susunan kabinet versi De-wan Jenderal.Maulwi melihat adalah hal aneh bilaUntung begitu percaya adanya informasikudeta terhadap presiden ini. Sebab, sela-ma menjadi anggota pasukan Tjakrabira-wa, Untung jarang masuk ring I atau ringII pengamanan presiden. Dalam catatanMaulwi, hanya dua kali Untung bertemudengan Soekarno. Pertama kali saat mela-por sebagai Komandan Kawal Kehormat-an dan kedua saat Idul Fitri 1964. "Jadi,ya, sangat aneh kalau dia justru yang pa-ling serius menanggapi isu Dewan Jende-ral," kata Maulwi.Menurut Soebandrio, Soeharto membe-rikan dukungan kepada Untung untukmenangkap Dewan Jenderal dengan me-ngirim bantuan pasukan. Soeharto mem-beri perintah per telegram Nomor T.220/9pada 15 September 1965 dan mengulangi-nya dengan radiogram Nomor T.239/9 pa-da 21 September 1965 kepada Yon 530Brawijaya, Jawa Timur, dan Yon 454 Ban-teng Raiders Diponegoro, Jawa Tengah.Mereka diperintahkan datang ke Jakartauntuk defile Hari Angkatan Bersenjata pa-da 5 Oktober.Pasukan itu bertahap tiba di Jakarta se-jak 26 September 1965. Yang aneh, pasuk-an itu membawa peralatan siap tempur."Memang mencurigakan, seluruh pasukanitu membawa peluru tajam," kata Suhardi.Padahal, menurut Suhardi, ada aturan te-gas di semua angkatan bila defile tidakmenggunakan peluru tajam. "Itu ada pe-tunjuk teknisnya," ujarnya.Pasukan dengan perlengkapan siaga Iitu kemudian bergabung dengan PasukanKawal Kehormatan Tjakrabirawa pimpin-an Untung. Mereka berkumpul di dekatMonumen Nasional.Dinihari, 1 Oktober 1965, seperti kitaketahui, pasukan Untung bergerak mencu-lik tujuh jenderal Angkatan Darat. Malamitu Soeharto , menunggui anaknya, Tom-my, yang dirawat di Rumah Sakit PusatAngkatan Darat Gatot Subroto. Di rumahsakit itu Kolonel Latief, seperti pernahdikatakannya sendiri dalam sebuahwawancara berusaha menemui Soeharto.Dalam perjalanan pulang, Soehartoseperti diyakini Subandrio dalam bukun-ya, sempat melintasi kerumunan pasukandengan mengendarai jip. Ia dengan te-nangnya melewati pasukan yang beberapasaat lagi berangkat membunuh para jende-ral itu.Adapun Untung, menurut Maulwi, hing-ga tengah malam pada 30 September 1965masih memimpin pengamanan acara Presi-den Soekarno di Senayan. Maulwi masihbisa mengingat pertemuan mereka terakhirterjadi pada pukul 20.00. Waktu itu Maul-wi menegur Untung karena ada satu pintuyang luput dari penjagaan pasukan Tjakra.Seusai acara, Maulwi mengaku tidak me-ngetahui aktivitas Untung selanjutnya.Ketegangan hari-hari itu bisa dirasakandari pengalaman Suhardi sendiri. Pada 29September, Suhardi menjadi perwira piketdi pintu gerbang Istana. Tiba-tiba ada ang-gota Tjakra anak buah Dul Arief, peleton dibawah Untung, yang bernama Djahuruphendak masuk Istana. Menurut Suhardi,tindakan Djahurup itu tidak diperbolehkankarena tugasnya adalah di ring luar se-hingga tidak boleh masuk. "Saya tegur dia."Pada 1 Oktober pukul 07.00, Suhardi su-dah tiba di depan Istana. "Saya heran, darisekitar daerah Bank Indonesia, saat itu ba-nyak tentara." Ia langsung mengendarai jipmenuju markas Batalion 1 Tjakrabirawadi Tanah Abang. Yang membuatnya heranlagi, pengawal di pos yang biasanya meng-hormat kepadanya tidak menghormat lagi."Saya ingat yang jaga saat itu adalah Ko-pral Teguh dari Banteng Raiders," kataSuhardi. Begitu masuk markas, ia melihatsaat itu di Tanah Abang semua anggotakompi Banteng Raiders tidak ada.Begitu tahu hari itu ada kudeta dan Un-tung menyiarkan susunan Dewan Revolu-si, Suhardi langsung ingat wajah sahabatmasa kecilnya dan sahabat yang sudah di-anggap anak oleh ibunya sendiri tersebut.Teman yang bahkan saat sudah menjabatkomandan Tjakrabirawa bila ke Solo sela-lu pulang menjumpai ibunya. "Saya takheran kalau Untung terlibat karena sayatahu sejak tahun 1948 Untung dekat de-ngan PKI," katanya.Kepada Oditur Militer pada 1966, Un-tung mengaku hanya memerintahkan me-nangkap para jenderal guna dihadapkanpada Presiden Soekarno. "Semuanya terse-rah kepada Bapak Presiden, apa tindakanyang akan dijatuhkan kepada mereka," ja-wab Untung.Heru Atmodjo, Mantan Wakil Asisten Di-rektur Intelijen Angkatan Udara, yang na-manya dimasukkan Untung dalam susunanDewan Revolusi, mengakui Sjam Kamaruz-zaman-lah yang paling berperan dalam ge-rakan tersebut. Keyakinan itu muncul keti-ka pada Jumat, 1 Oktober 1965, Heru seca-ra tidak sengaja bertemu dengan para pim-pinan Gerakan 30 September: Letkol Un-tung, Kolonel Latief, Mayor Sujono, SjamKamaruzzaman, dan Pono. Heru melihatjustru Pono dan Sjam-lah yang paling ba-nyak bicara dalam pertemuan itu, sementa-ra Untung lebih banyak diam."Saya tidak melihat peran Untung da-lam memimpin rangkaian gerakan atauoperasi ini (G-30-S)," kata Heru saat dite-mui
Tempo
.Soeharto, kepada Retnowati AbdulganiKnapp, penulis biografi
Soeharto: The Lifeand Legacy of Indonesia’s Second Presi-dent,
pernah mengatakan memang kenaldekat dengan Kolonel Latif maupunUntung. Tapi ia membantah isu bahwapersahabatannya dengan mereka ada kait-annya dengan rencana kudeta. “Itu takmasuk akal,” kata Soeharto. ”Saya me-ngenal Untung sejak 1945 dan dia meru-pakan murid pimpinan PKI, Alimin. Sayayakin PKI berada di belakang gerakanLetkol Untung,” katanya kepadaRetnowati.Demikianlah Untung. Kudeta itu bisadilumpuhkan. Tapi perwira penerima Bin-tang Sakti itu sampai menjelang ditembakpun masih percaya bakal diselamatkan.
G
B3
SENIN, 5 OKTOBER 2009
EDISI KHUSUS TRAGEDI SEPTEMBER-OKTOBER 1965
Letkol CPM (Purnawirawan)Suhardi, teman kecil Untung.
DWIANTO WIBOWO (TEMPO)