Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
2Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Tiraikasih Website Http://Kangzusi.com/

Tiraikasih Website Http://Kangzusi.com/

Ratings: (0)|Views: 1,187|Likes:
Published by enthog_14252

More info:

Published by: enthog_14252 on Jan 09, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

01/09/2010

pdf

text

original

 
 
Karya : John HalmaheraDJVU by ManiseEbook oleh : Dewi KZhttp://kangzusi.com/atau http://
 
http://dewikz.byethost22.com/ 
 
Semua orang panik. Sibuk berkelit dari serangan senjata maut itu. Caci maki dan sumpahserapah keluar dari mulut para pendekar. Tidak lama. Tidak sampai sepeminuman teh, terdengar jerit dan lengking kesakitan.Saat berikutnya senjata itu menghilang. Datang secara mendadak, pergi pun sangat tiba-tiba.Suasana lengang. Kidung Maut tetap tak kelihatan batang hidungnya.Dua mayat tergeletak di tanah. Darah segar masih mengucur dari lubang di dadanya.Warsakumara dan Tangan Besi! Dua pendekar yang saling bermusuhan, kini mati bersamaantanpa pernah mengenal wajah pembunuhnya. Semua saling pandang. Seperti tak pernah adasesuatu yang terjadi karena berlangsung begitu cepat. Semua sependapat ilmu iblis itu teramattinggi. Tanpa memperlihatkan diri ia sanggup mencabut nyawa dua pendekar di depan matadelapan pendekar lainnya.Manjangan Puguh memandang Padeksa dan Pujawati. Teror bor maut itu masih terbayangSuaranya seakan masih mencicit di telinga Pujawati membanting kaki, saking kesal. "Gila, sungguhpembunuh licik dan keji" Tak bisa kuasai dirinya lagi, pendekar pedang Goranggareng ituberteriak, "Bangsat licik, keluar kau, hadapi aku."Suara Pujawati bagai guntur di tengah malam sunyi Gema suara itu dipantulkan ke sanakemari. Suatu pameran tenaga dalam dari seorang pendekar kelas satu Suasana kembali sunyiSeorang lelaki muda tampan dan tampaknya serombongan dengan Pujawati, berkata sambilmemberi hormat kepada para pendekar. "Sebaiknya kita jangan terpancing, serangan iblis itu akandatang lagi. Sudah empat nyawa melayang, masih ada satu lagi yang diincarnya sebelum fajar,salah satu di antara kita. Maka lebih baik kita siap-siap menghadapinya.""Benar apa yang dikatakan Setawastra, sebaiknya kita semua siap dalam kelompok." Berkatademikian Pujawati menarik dua muridnya yang cantik, mendekat kepadanya.
 
 
Setawastra memegang lengan temannya. "Kangmas Matangga, kita harus bahu-membahuuntuk selamat." Lelaki bertubuh kekar itu manggut. Ia mencabut pedang dari balik punggung"Sebaiknyakita tetap berdampingan, dimas. Apa pun yang terjadi, jangan sampai kita terpisah."Manjangan Puguh bergabung dengan Padeksa dan Wisang Geni. Delapan pendekar itu terbagidua kelompok tetapi tak berjauhan satu sama lain. Semua bersiap. Menanti!Sepi dan lengang. Tak ada suara apa pun kecuali suara kodok dan jengkrik. Saat demi saatberlalu. Fajar semakin dekat. Dari jauh terdengar suara kokok ayam. Belum ada tanda-tandaKidung Maut akan menyerang. Tanpa terasa suasana ini mendebarkan semua orang. Mereka tetapsiaga.Mendadak terdengar suara gedubrakan. "Bruuaaakkk!" Tembok rumah tiba-tiba runtuh dijebolorang. Dihantam dengan pengerahan tenaga dalam sangat tinggi Bunyikeras itu disusul bebatuantembok yang beterbangan ke sana kemari dengan kecepatan tinggi dan serabutan. Debubeterbangan memenuhi ruangan. Sinar rembulan purnama dan penerangan obor tak mampumenembus kumpulan debu. Obor pun mati. Orang sulit melihat datangnya bebatuan yang begitubanyak jumlahnya. Hanya menggunakan ketajaman pendengaran membuat para pendekarpontang-panting mengelak terjangan batu. Salah hitung, kepala bisa pecah."Bangsat pengecut, perlihatkan dirimu!'' teriak Pujawati marah. Matangga dengan suaranyayang keras kasar membentak. "Ayo hadapi aku secara jantan, jangan main sembunyi!''Dari balik debu yang masih memenuhi ruangan, sosok bayangan berkelebat. Gerakannya gesit,bahkan teramat gesit. Seakan berlomba adu cepat dengan batu-batuyang beterbangan.Tangannya mengibas menyemburkan tenaga dalam dahsyat ke Manjangan Puguh dan Padeksa.Dua pendekar kawakan ini terkejut. Tenaga lawan sungguh besar. Tak ayal lagi keduanyamembalas dengan seluruh kekuatan tenaga dalam. Tak terhindar adanya benturan tenaga."Dukk ! Dessss!"Padeksa terdorong surut satu langkah, Manjangan Puguh juga. Bayangan lawan bagai tak mendapat rintangan, tetap menyerbu Kini sasarannya Wisang Geni!Wisang Geni sejak awal sudah siaga penuh. Ia merentang dua tangan dalam sikap Mangapeksa(Menanti) dari jurus andalan Lemah Tulis Garudamukha. Ini sikap pasrah dan menanti yangmenyimpan banyak perubahan tak terduga. Geni mengerahkan segenap tenaga dalamnya. Ia tahusituasi kritis mengancam hidupnya.Padeksa dan Manjangan Puguh terkesiap. Kalau mereka saja terdesak mundur oleh tenagadalam lawan, bagaimana lagi nasib Wisang Geni. Tanpa pikir lagi keduanya menerjang lawansambil mengirim pukulan jarak jauh.Saat itu Kidung Maut sudah sampai di depan Geni. Ia mengibas dengan tangan kiri, tangankanan mencengkeram batuk kepala. Tenaga kibaran itu sangat besar membuat tubuh Geni serasakaku. Saat berikutnya kepalanya terasa dingin. Geni tahu jiwanya berada di ujung tanduk, namunia tidak gentar. Ia bergerak dengan dua jurus susulan Angluputana (Yang Akan Membebaskan)dan Sumpetutit (Jungkir dan Berputar). Saat itu Geni berpikir sederhana, jika ia harus terluka ataubahkan binasa, maka lawannya pun harus mengalami kerugian besar. Pukulan dan tendangannyamengarah pelipis dan selangkangan lawan. Pada saat itu dua pukulan Padeksa dan ManjanganPuguh ikut mengancam punggung Kidung Maut.Terdengar suara lawan "iiihhh!" Kidung Maut terkejut, diam-diam ia memuji gerakan Geni. Jikaia meneruskan serangan, Geni pasti mati, namun ia pun akan terluka parah. Begitu juga pukulandua pendekar kawakan yang mengarah punggungnya.Dia membatalkan serangan pada Geni, sambil merentangkan dua tangannya ia menerimapukulan Padeksa dan Manjangan Puguh. "Deeeesss!" Punggungnya kena telak. Pakaian di bagianpunggungnya pecah dan robek. Namun Kidung Maut itu tampak tidak terluka. Saat pukulannyamengena telak punggung lawan, Padeksa dan Manjangan Puguh merasa tenaganya amblas di
 
 
ruang kosong. Memang terasa adanya benturan, namun tidak ada daya tolak dari punggung lawansebagaimana mestinya.Ternyata sebenarnya Kidung Maut meminjam tenaga lawan, pukulan itu tidak melukainyabahkan tubuhnya dengan kecepatan tinggi melayang ke arah PujawatiKetua Goranggareng ini menyambut dengan kibasan pedang Kembangtehn (Bunga Tiga Warna)satu jurus mematikan dari ilmu andalannya Kemayangan (Bahagia dan Beruntung). Berbarengandengan itu Matangga dan Setawastra bersama-sama mengirim pukulan gabungan yhmjilakmi(Menghasilkan) salah satu jurus tangan kosong handal dari perguruan Mahameru Sergapan tigapendekar ini sepertinya menebar hawa kematian. Kidung Maut tak punya peluang untuk lolos.Kenyataan tidak demikian. Kidung Maut membuat gerakan putar, tubuhnya melintir dan meliuk ke samping, menghindari pedang Pujawati. Ternyata geraknya bukan hanya menghindar. Tetapisekaligus menyedot dan menarik tubuh Pujawati sampai terhuyung ke depan Dua tanggannyakemudian membentur pukulan dua murid Mahameru "Duuukkk... dukkk!"Malangga dan Setawastra terhuyung empat langkah ke belakang. Pujawati hilangkeseimbangan dan tersuruk dua langkah ke depan.Kidung Maut benar-benar pamer kepandaiannya. Meminjam tenaga lawan, ia melejit danmelenting ke atas melewati tiga lawannya. Kini dua gadis Goranggareng yang terancam!Pujawati yang terpisah agak jauh dan dalam keadaan limbung tak bisa berbuat apa-apa. Begitu juga dua murid MahameruTidak demikian Wisang Geni yang cerdik. Ia bisa membaca jalan pikiran Kidung Maut. SaatKidung Maut menempur Pujawati, saat itu juga Geni menerjang ke arah Rorowangi danRorokunda. Sehingga waktu dua gadis cantik itu diserang, Geni ikut membantu dengan jurusSumpetutit (Jungkir dan Berputar).Dua gadis cantik ini juga bukan orang lemah, dua kilatan pedang berkelebat mengibas udaraTerdengar suara menggumam dari balik topeng Kidung Maut, suara yang tidak jelas."Hmmmmm.'' Ia memainkan ilmu pinjam tenaga, menangkis pukulan Geni, ia melenting danmelesat meloloskan diri dari kibasan pedang dua gadis itu. Gerakan menangkis itu dilakukansambil ia melayang pergi ke luar ruangan menghilang di kegelapan malam. Sepertinya ia larikarena gagal.Mendadak terdengar suara mencicit saling susul. Dua bor menyerbu masuk. Semua terkejut.Geni sehabis bentrok tenaga dan surut empat langkah dengan dada sesak sempat melihat bor itumengancam Rorowangi. Tanpa sadar Geni melesat ke arah gadis itu memotong jalan bor maut.Padeksa dan Manjangan Puguh ikut meluruk ke arah sama, begitu juga Pujawati Tiga pendekarkawakan ini bergerak pesat menolong Rorowangi. Tetapi Kidung Maut lebih cepat lagi. Saat itu juga terdengar suara mencicit lainnya, dua bor lain menyerang pesat.Terdengar jeritan maut. Rorokunda yang sendirian dan tidak dilindungi menjadi korban.Dadanya bersimbah darah. Tewas mengerikan. Saat itu juga suasana sepi dan lengang. Fajarmulai menyingsing.Semua terpana. Pertarungan berlangsung singkat. Serba cepat dan telah menebar detik-detik kematian yang mengancam semua pendekar. Hanya nasib baik saja yang meloloskan mereka darikematian. Rupanya sambil melayang pergi, menuju kegelapan malam, Kidung Maut menyerangdengan senjata bor mautnya. Tak seorang pun menyangka keadaan seperti itu.Lawan juga berlaku licik, menyerang Rorowangi namun yang yang di incarnya adalahRorokunda. Sehingga begitu semua perhatian dan pertolongan mengarah pada Rorowangi, saat itu juga ia menyerang Rorokunda. Lihai, sungguh lihai. Lihai dan licik!Rorowangi memeluk mayat adiknya, menjerit dengan tangis memilu. "Adikku, kenapa kamutinggalkan aku, maafkan mbakyu ini karena gagal melindungi adiknya."

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->