Welcome to Scribd. Sign in or start your free trial to enjoy unlimited e-books, audiobooks & documents.Find out more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
17Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Makalah Syamsul Ma'Arif

Makalah Syamsul Ma'Arif

Ratings: (0)|Views: 925|Likes:
Published by gwibisono59

More info:

Published by: gwibisono59 on Jan 10, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/16/2011

pdf

text

original

 
ISLAM DAN PENDIDIKAN PLURALISME
(Menampilkan Wajah Islam Toleran Melalui Kurikulum PAIBerbasis Kemajemukan)
Disampaikan dalam
 Annual Conference
Kajian IslamDi Lembang Bandung Tanggal 26-30 November Tahun 2006
OlehSyamsul Ma’arif, M. Ag
Fakultas TarbiyahIAIN Walisongo Semarang
 
ISLAM DAN PENDIDIKAN PLURALISME
(Menampilkan Wajah Islam Toleran Melalui Kurikulum PAIBerbasis Kemajemukan)A.Abstra
Banyak para ‘ahli dan pemuka agama’ telah berusaha dengan segala cara demiterciptanya hubungan yang mesra dan harmonis diantara umat beragama, di negeriIndonesia yang terkenal sangat pluralistik ini. Melalui tulisan-tulisan baik buku, majalah, jurnal bahkan melalui seminar dan mimbar-mimbar ‘khutbah’—mereka senantiasamenyarankan akan arti pentingnya kerjasama dan dialog antar umat beragama. Meskipunnampaknya, saran-saran mereka belum memiliki ‘efek’ yang begitu menggembirakan.Seringnya konflik dan pertikaian yang menggunakan ‘baju agama’, merebaknyaaksi-aksi teroris, pembakaran dan pengrusakan sarana dan tempat-tempat ibadah dinegara kita, masih saling curiga mencurigai antara umat Islam dan Kristen serta kepadaagama-agama lainya, cukup membuktikan kegagalan para penganjur ‘perdamaian’tersebut. Meskipun begitu, ‘doktrin’ perdamaian dan persahabatan ini harus senantiasakita teruskan, kemudian kita coba kembangkan dan dakwahkan, melalui strategi-strategi baru yang lebih efektif dan relevan, kepada saudara-saudara kita, teman-teman dan peserta didik kita kapan pun dan dimana pun kita berada.Untuk memperoleh keberhasilan bagi terealisasinya tujuan mulia yaitu perdamaian dan persaudaraan abadi di antara orang-orang yang pada realitasnya memangmemiliki agama dan iman berbeda, perlulah kiranya adanya keberanian mengajak merekamelakukan perubahan-perubahan di bidang pendidikan—terutama sekali melaluikurikulumnya yang berbasis keanekaragaman. Sebab, melalui kurikulum seperti ini,memungkinkan untuk bisa ‘membongkar’ teologi agama masing-masing yang selama inicenderung ditampilkan secara eklusif dan dogmatis. Sebuah teologi yang biasanya hanyamengeklaim bahwa hanya agamanya yang bisa membangun kesejahteraan duniawi danmengantar manusia dalam surga Tuhan. Pintu dan kamar surga itu pun hanya satu yangtidak bisa dibuka dan dimasuki kecuali dengan agama yang dipeluknya.Padahal berteologi semacam itu, harus kita akui, sebagai sesuatu yang sangatmenghawatirkan dan dapat mengganggu keharmonisan masyarakat agama-agama dalamera pluralistik sekarang. Suatu era dimana seluruh masyarakat dengan segala unsurnyadituntut untuk dapat saling tergantung dan menaggung nasib secara bersama-sama demiterciptanya perdamaian abadi. Disinilah letak ‘tantangan’ bagi agama (termasuk Islam)untuk kembali mendefenisikan dirinya ditengah agama-agama lain. Atau denganmeminjam bahasanya John Lyden, seorang ahli agama-agama, adalah
what should onethink about religions other than one’s own
? Apa yang harus dipikirkan oleh seorangmuslim terhadap non-Muslim. Apakah masih sebagai seorang musuh atau sebagaiseorang sahabat. Tentu saja masih adanya anggapan satu agama dengan yang lain sebagaimusuh, harus dibuang jauh-jauh. Bukankah pada hakikatnya kita semua adalah sebagaiseorang ‘saudara’ dan ‘sahabat’ dalam menghampiri yang mutlak? Bahkan, Islam melaluiAl-Qur’an dan Hadistnya juga mengajarkan sikap-sikap toleran seperti ini bukan?Untuk bisa memperoleh pemahaman yang sejuk dan bisa menganggap orang lainsebagai ‘partner’ dalam menuju Tuhan, antara Islam dan non-Muslim di samping harusmenampilkan teologi yang inklusif dan ramah, mereka juga harus memasuki dialog
 
antaragama dengan mencoba memahami cara baru yang mendalam mengenai bagaimanaTuhan mempunyai jalan ‘penyelamatan’. Dalam konteks ini, tentu saja pengajaran agamaIslam yang diajarkan di sekolah-sekolah harus memuat kurikulum berbasiskeanekaragaman. Pendidikan agama Islam yang diberikan kepada siswa tidamenciptakan suatu pemahaman yang tunggal, melainkan kurikulum pendidikan yangdapat menunjang proses siswa menjadi manusia yang demokratis, pluralis danmenekankan penghayatan hidup serta refleksi untuk menjadi manusia yang utuh.Kurikulumnya mestilah mencakup subjek seperti: toleransi, Aqidah Inklusif, FiqihMuqarran dan perbandingan agama serta tema-tema tentang perbedaan ethno-kultural danagama: bahaya diskriminasi: penyelesaian konflik dan mediasi: HAM; demokrasi dan pluralitas; kemanusiaan universal dan subjek-subjek lain yang relevan. Inilah sebuahkurikulum, yang mampu menghantarkan peserta didik untuk melakukan dialogantaragama dan mampu memasuki persoalan-persoalan teologis dan melibatkan iman.Karena dialog yang sejati mustahil dilakukan tanpa memasuki persoalan-persoalanteologis dan melibatkan iman. Sehingga pada akhirnya setiap umat Islam akan mampumelakukan apa yang disebut John S. Dunne dengan “melintas” (“passing over”), melintasdari satu budaya kepada budaya lain, dari satu cara hidup kepada cara hidup lain, darisatu agama kepada agama lain. Ini diikuti oleh proses yang sama dan berlawanan yangkita sebut “kembali” (“coming back”), kembali dengan wawasan baru kepada budayasendiri, cara hidup sendiri, agama sendiri.Perlunya memperbaharui dan mengembangkan kurikulum PAI yang berbasiskeanekaragaman tersebut dengan suatu pertimbangan kurikulum dan metode merupakanelemen penting dalam proses belajar mengajar. Berhasil dan tidaknya suatu tujuan pendidikan tergantung kurikulum yang dipersiapkan dan metode yang digunakannya.Tidak relevannya kurikulum dan metode yang dikembangkan di suatu sekolah denganrealitas kehidupan yang dialami oleh siswa, menyebabkan siswa teraliniasi darilingkungannya alias tidak bisa peka terhadap perkembangan yang terjadi disekitarnya.Hal ini berarti, dalam konteks globalisasi, sekolah tersebut telah “gagaluntumengantarkan peserta didiknya untuk menjadi “anak” yang cerdas, tanggap dan dapat bersaing dipasaran bebas.Selain itu, pentingnya mereformasi kurikulum PAI dengan menampilkan wajahIslam toleran dapat dijelaskan dari sudut pandang filsafat perenialisme, esensialisme dan progresifisme. Dalam pandangan perenialisme kurikulum adalah "construct" yangdibangun untuk mentransfer apa yang sudah terjadi di masa lalu kepada generasi berikutnya untuk dilestarikan, diteruskan atau dikembangkan. Sementara dalam prespektif filsafat progresivisme, posisi kurikulum adalah untuk membangun kehidupanmasa depan dimana kehidupan masa lalu, masa sekarang, dan berbagai rencana pengembangan dan pembangunan bangsa dijadikan dasar untuk mengembangkankehidupan masa depan. Dari sinilah sangat memungkinkan untuk mengajarkan prinsip –  prinsip ajaran Islam yang humanis, demokratis dan berkeadilan kepada peserta didik.Sebuah prinsip-prinsip ajaran Islam yang sangat relevan untuk memasuki masa depandunia yang ditandai dengan adanya keanekaragaman budaya dan agama.
Kata Kunci: Islam, Pendidikan, Kurikulum, Pluralisme

Activity (17)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Nera Il Kobah liked this
Doddy liked this
MajidKudus liked this
Nur Kholiq liked this
reborn04 liked this
Iyan Parker liked this
adindachudori liked this
AnGga FeRy P liked this

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->