besar yang dihadapi bangsa kita. Bahaya besara danmendasar tersebut adalah krisis moralitas bangsa.Gejala-gejala ke arah krisis moralitas bangsa sudahtampak jelas. Kasus Ambon dan Aceh, kerusuhan ,pembakaran , dan pemerkosaan merupakan kasus-kasusmonumental yang mengindikasikan adanya krisis moralbangsa. Sedangkan kasus-kasus lainnya seperti narkotika,pemalsuan uang, utang konglomerat, lambannya penyelesaianmasalah KKN, pembunuhan , tawuran, pemogokan dan asaldemostrasi merupakan indicator lebih jauh merosotnya moralbangsa.Rasanya kita sudah terlalu jenuhh dengan masalahkrisis multidimensial ini. Untuk itu perlu segera dialakukanupaya agar bangsa kita kembali pada keadaan semulasehingga siap lebih cepat dalam menyambut perkemabangandunia. Upaya yang sekiranya tepat dan langsung menyentuhhakikat dasar perkembangan suatu bangsa adalah upayapenanganan moralitas sumber daya manusia Indonesia.Masyarakat Indonesia perlu disapa sehingga moralitasnyanormal kembali.Pihak yang sekiranya masih terlihat netral dalammenangani masalah moralitas sumber daya manusia ini dalahlembaga keagamaan dan lembaga pendidikan. Lembagakeagamaan tentu berkepentingan lansung dengan penigkatankualitas moral umat manusia. Karena berkepentingan lansungmaka dengan sendirinya mereka akan berupaya keras untukmenumbuhkan kesadaran dan meningkatakan kualitas moralumatnya. Namun upaya mereka terbatas pada kontels religiusmasing-masing agama.Lembaga pendidikan rasanya lebih mampumenjangkau khalayak tanpa memandang golongan agama.Pendididikan yang selam ini menawarkan kebenaran-kebenaran ilmiah dan universal tampaknya lebih bisa masukke segala lapisan masyarakat. Lembaga ini juga bisamemainkan posisi strategi ketika masyarakat kita sudah mulaiterpecah-pecah karena masalah keagamaan.Karena pendidikan dipandang lebih masuk keberbagai lapisan dan golongan tanpa mempedulikan unsur SARA maka sudah layak dan sepantasnya jika lembagapendidikan dititipi masalah pendidikan budi pekerti. Denganmasuknya pendidikan budi pekerti dalam pendidikan secaraumum, hal itu berarti bahwa pendidikan budi pekerti dapatdilaksanakan secara sistematis dan jangkauannya sangat luas.Terlepas dari pro dan kontra masalah pendidikan budipekerti yang jelas bagi praktisi pendidikan cara itulah yangmenjadi sumbangan terbaik dari dunia pendidikan. Tentu sajapendidikan budi pekerti yang dimaksud bukan melulupendidikan dalam arti formal, yaitu pendidikan yangdiselenggarakan oleh sekolah, melainkan pendidikan dalamarti luas, yaitu bahwa pendidikan dapat berlangsung dalamlingkungan keluarga, masyarakat, dan sekolah.
PERAN KELUARGA DALAM PERKEMBANGANANAK
Masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakatyang memiliki tradisi kekerabatan yang panjang dan kompleks.Di beberapa daerah dikenal istilah nama marga yangmenunjukkan adanya hubungan kekeluargaan. Di Jawawalaupun jarang sekali digunakan nama marga tetapihubungan kekeluargaan tidak kalah eratnya dengan daerahyang mempergunakan nama marga.Bahkan dalamkebudayaan Jawa istilah yang digunakan untuk menyebuthubungan kekeluargaan bertingkat sampai tujuh turunan.Eratnya hubungan kekeluargaan dalam masyarakatIndonesia merupakan indikator kuatnya dominasi keluargadalam kehidupan seseorang. Norma-norma keluargatampaknya masih dijunjung tinggi. Bahkan sampai seseorangmembentuk keluarga sendiri pun, asal usul keluarganya masihselalu dibawa.Dalam hubungannya dengan perkembanganseseorang, keluarga merupakan tempat pertama dan utamadalam perkembangan seseorang. Dikatakan tempat pertamakarena seseorang pertama kali belajar bersosialisasi danberkomunikasi dalam lingkungan keluarga ( Kaswanti Purwo,1990:101-103 ). Sejak masih dalam kandungan, kelahiran,masih bayi, masa kanak-kanak, remaja, samapai masadewasa, seseoranng tentu berinteraksi secara intensif dengankeluarga. Interaksi dengan keluarga baru mulai terbagi ketikaseseorang telah mengikatkan diri dengan orang lain dalamsuatu perkawinan. Itu saja hubungan keluarga pasti tidakterputus seratus persen.Dikatakan menjadi tempat utama karena polakomunikasi dan tatanan nilai dalam suatu keluargamemberikan pengaruh sangat besar terhadap perilaku seoranganak ( Gordon,1984; 6 ). Misalnya saja keluarga yangharmonis dan demokratis. Nilai keharmonisan dan demokratisyang dimiliki keluarga itu tentu diwarisi oleh anak-anaknya.Dalam bahasa Jawa ada peribahasa yang sangat sesuaidengan hal itu yaitu “Kacang mongso ninggali lanjaran”.Artinya, perilaku anak kurang lebih sama dengan perilakuorangtuanya.Karena keluarga menduduki posisi sentral dalamperkembangan awal anak, banyak ahli memberikan perhatianpada masalah hubungan harmonis orangtua dan anak. Hal inidisebabkan oleh banyaknya kasus ketidak harmonisanhubungan antara orangtua dan anak padahal dalam konteksperkembangan anak, orangtua berperan sangat besar ( Gordon,1984 : 1-9 ).Dalam konteks konseling terhadap para remaja diSMU diketahui bahwa kasus-kasus yang berhubungan denganmasalah budi pekerti anak biasanya dapat dilacak dari latar belakang keluarganya. Misalnya saja anak yang mempunyaipenyimpangan pergaulan biasanya latar belakangketidakharmonisan keluarga. Atau ada anak yang kecanduannarkoba karena kurangnya kasih sayang dari orangtuamereka.
4.PERAN KELUARGA DALAMPENDIDIKAN BUDI PEKERTI
Seperti diketahui, pendidikan dapat dikelompokkanmenjadi tiga jenis, yaitu pendidikan informal, pendidikan formaldan pendidikan nonformal ( Tamsik Udin dan Sopandi, 1967 :31-33 ). Pendidikan formal biasanya sangat terbatas dalammemberikan pendidikan nilai. Hal ini disebabkan oleh masalahformalitas hubungan antara guru dan siswi. Pendidikan nonformal dalam perkembangannya saat ini tampaknya jugasangat sulit memberikan perhatian besar pada pendidikannilai. Hal ini berhubungan dengan proses tranfornmasi budayayang sedang terjadi dalam masyarakat kita (Moedjanto,Rahmanto, dan J. Sudarminto, 1992:141-142).Pihak yang masih dapat diharapkan adalah pendidikaninformal yang terjadi dalam keluarga. Pendidikan dalamkeluarga sebenarnya menjadi sangat penting dalam konteks