Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
9Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Metode Pembelajaran Inquiry

Metode Pembelajaran Inquiry

Ratings: (0)|Views: 421 |Likes:
Published by syoebri

More info:

Published by: syoebri on Jan 10, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/26/2012

pdf

text

original

 
Posted on Agustus 16, 2008 by wjanto
Pengaruh Metode Pembelajaran Inquiry dalam Belajar Sains terhadap Motivasi Belajar SiswaOleh: Joko Sutrisno, S.Si., M.Pd.
Abstract
Inquiry-Based Learning is a common method in teaching science that often associated withthe active nature of student involvement, investigation and the scientific method, criticalthinking, hands-on learning, and experiential learning. It will be studied in this paperwhether or not the method of inquiry-based learning influences the student motivation tolearn. Using some theories of motivation, it was found that inquiry method positivelyinfluences the learning motivation of students. This positive influence occurs when thelearning through inquiry method is conducted in appropriated conditions, for example thequestions that teachers provide have to produce arousal and student curiosity.
I. PendahuluanLatar Belakang Masalah
Salah satu hal yang sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa di sekolah adalahmotivasi belajar. Motivasi belajar yang tinggi berkorelasi dengan hasil belajar yang baik,sehingga berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa di sekolahini. Jika motivasi belajar siswa dapat ditingkatkan, maka dapat diharapkan bahwa prestasibelajar siswa juga akan meningkat.Strategi meningkatkan motivasi belajar siswa sering menjadi masalah tersendiri bagi paraguru karena terdapat banyak faktor – baik internal maupun eksternal – yangmempengaruhi motivasi belajar siswa. Guru menerapkan prinsip-prinsip motivasi belajarsiswa dalam desain pembelajaran, yaitu ketika memilih strategi dan metode pembelajaran.Pemilihan strategi dan metode tertentu ini akan berpengaruh pada motivasi belajar siswa.Upaya meningkatkan motivasi belajar inilah yang menarik untuk dikaji lebih jauh, sehinggadalam paper ini akan dilakukan studi mengenai pengaruh metode pembelajaran inquirydalam belajar Sains di sekolah terhadap motivasi belajar siswa itu sendiri. Dalam lingkupyang lebih umum, meningkatnya motivasi belajar siswa juga akan mengoptimalkanpelaksanaan pembelajaran di dalam kelas. Penyelesaian masalah yang akan dikaji dalampaper ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi guru untukmemilih strategi dan metode pembelajaran yang akan dilaksanakan. Sebagai catatan,penyebutan metode inquiry dalam keseluruhan paper ini mengacu kepada metode inquirydalam pembelajaran bidang Sains.
Perumusan Masalah
Dalam paper ini, masalah utama yang dicoba dipecahkan adalah apakah terdapat pengaruhmetode belajar inquiry dalam belajar Sains di sekolah terhadap motivasi belajar siswa?
II. Deskripsi TeoretikA. Metode Belajar Inquiry
Salah satu metode pembelajaran dalam bidang Sains, yang sampai sekarang masih tetapdianggap sebagai metode yang cukup efektif adalah metode inquiry. David L. Haury dalamartikelnya, Teaching Science Through Inquiry (1993) mengutip definisi yang diberikan olehAlfred Novak: inquiry merupakan tingkah laku yang terlibat dalam usaha manusia untukmenjelaskan secara rasional fenomena-fenomena yang memancing rasa ingin tahu. Dengankata lain, inquiry berkaitan dengan aktivitas dan keterampilan aktif yang fokus padapencarian pengetahuan atau pemahaman untuk memuaskan rasa ingin tahu (Haury, 1993).
 
Alasan rasional penggunaan metode inquiry adalah bahwa siswa akan mendapatkanpemahaman yang lebih baik mengenai Sains dan akan lebih tertarik terhadap Sains jikamereka dilibatkan secara aktif dalam “melakukan” Sains. Investigasi yang dilakukan olehsiswa merupakan tulang punggung metode inquiry. Investigasi ini difokuskan untukmemahami konsep-konsep Sains dan meningkatkan keterampilan proses berpikir ilmiahsiswa. Diyakini bahwa pemahaman konsep merupakan hasil dari proses berfikir ilmiahtersebut (Blosser, 1990).Metode inquiry yang mensyaratkan keterlibatan aktif siswa terbukti dapat meningkatkanprestasi belajar dan sikap anak terhadap Sains dan Matematika (Haury, 1993). Dalammakalahnya Haury menyatakan bahwa metode inquiry membantu perkembangan antaralain scientific literacy dan pemahaman proses-proses ilmiah, pengetahuan vocabulary danpemahaman konsep, berpikir kritis, dan bersikap positif. Dapat disebutkan bahwa metodeinquiry tidak saja meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep dalam Sainssaja, melainkan juga membentuk sikap keilmiahan dalam diri siswa.Metode inquiry merupakan metode pembelajaran yang berupaya menanamkan dasar-dasarberfikir ilmiah pada diri siswa, sehingga dalam proses pembelajaran ini siswa lebih banyakbelajar sendiri, mengembangkan kreativitas dalam memecahkan masalah. Siswa benar-benar ditempatkan sebagai subjek yang belajar. Peranan guru dalam pembelajaran denganmetode inquiry adalah sebagai pembimbing dan fasilitator. Tugas guru adalah memilihmasalah yang perlu disampaikan kepada kelas untuk dipecahkan. Namun dimungkinkan juga bahwa masalah yang akan dipecahkan dipilih oleh siswa. Tugas guru selanjutnyaadalah menyediakan sumber belajar bagi siswa dalam rangka memecahkan masalah.Bimbingan dan pengawasan guru masih diperlukan, tetapi intervensi terhadap kegiatansiswa dalam pemecahan masalah harus dikurangi (Sagala, 2004).Walaupun dalam praktiknya aplikasi metode pembelajaran inquiry sangat beragam,tergantung pada situasi dan kondisi sekolah, namun dapat disebutkan bahwa pembelajarandengan metode inquiry memiliki 5 komponen yang umum yaitu Question, StudentEngangement, Cooperative Interaction, Performance Evaluation, dan Variety of Resources(Garton, 2005).Question. Pembelajaran biasanya dimulai dengan sebuah pertanyaan pembuka yangmemancing rasa ingin tahu siswa dan atau kekaguman siswa akan suatu fenomena. Siswadiberi kesempatan untuk bertanya, yang dimaksudkan sebagai pengarah ke pertanyaan intiyang akan dipecahkan oleh siswa. Selanjutnya, guru menyampaikan pertanyaan inti ataumasalah inti yang harus dipecahkan oleh siswa. Untuk menjawab pertanyaan ini – sesuaidengan Taxonomy Bloom – siswa dituntut untuk melakukan beberapa langkah sepertievaluasi, sintesis, dan analisis. Jawaban dari pertanyaan inti tidak dapat ditemukanmisalnya di dalam buku teks, melainkan harus dibuat atau dikonstruksi.Student Engangement. Dalam metode inquiry, keterlibatan aktif siswa merupakan suatukeharusan sedangkan peran guru adalah sebagai fasilitator. Siswa bukan secara pasif menuliskan jawaban pertanyaan pada kolom isian atau menjawab soal-soal pada akhir babsebuah buku, melainkan dituntut terlibat dalam menciptakan sebuah produk yangmenunjukkan pemahaman siswa terhadap konsep yang dipelajari atau dalam melakukansebuah investigasi.Cooperative Interaction. Siswa diminta untuk berkomunikasi, bekerja berpasangan ataudalam kelompok, dan mendiskusikan berbagai gagasan. Dalam hal ini, siswa bukan sedangberkompetisi. Jawaban dari permasalahan yang diajukan guru dapat muncul dalam berbagaibentuk, dan mungkin saja semua jawaban benar.Performance Evaluation. Dalam menjawab permasalahan, biasanya siswa diminta untukmembuat sebuah produk yang dapat menggambarkan pengetahuannya mengenai
 
permasalahan yang sedang dipecahkan. Bentuk produk ini dapat berupa slide presentasi,grafik, poster, karangan, dan lain-lain. Melalui produk-produk ini guru melakukan evaluasi.Variety of Resources. Siswa dapat menggunakan bermacam-macam sumber belajar,misalnya buku teks, website, televisi, video, poster, wawancara dengan ahli, dan lainsebagainya.
B. Teori – teori Motivasi
Motivasi adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan apa yang memberikan energibagi seseorang dan apa yang memberikan arah bagi aktivitasnya. Motivasi kadang-kadangdibandingkan dengan mesin dan kemudi pada mobil. Energi dan arah inilah yang menjadiinti dari konsep tentang motivasi. Motivasi merupakan sebuah konsep yang luas (diffuse),dan seringkali dikaitkan dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi energi dan arahaktivitas manusia, misalnya minat (interest), kebutuhan (need), nilai (value), sikap(attitude), aspirasi, dan insentif (Gage & Berliner, 1984).Dengan pengertian istilah motivasi seperti tersebut di atas, kita dapat mendefinisikanmotivasi belajar siswa, yaitu apa yang memberikan energi untuk belajar bagi siswa dan apayang memberikan arah bagi aktivitas belajar siswa.Secara umum, teori-teori tentang motivasi dapat dikelompokkan berdasarkan sudutpandangnya, yaitu behavioral, cognitive, psychoanalytic, humanistic, social learning, dansocial cognition.
1. Teori-teori Behavioral
Robert M. Yerkes dan J.D. Dodson, pada tahun 1908 menyampaikan Optimal Arousal Theoryatau teori tentang tingkat motivasi optimal, yang menggambarkan hubungan empiris antararangsangan (arousal) dan kinerja (performance). Teori ini menyatakan bahwa kinerjameningkat sesuai dengan rangsangan tetapi hanya sampai pada titik tertentu; ketikatingkat rangsangan menjadi terlalu tinggi, kinerja justru menurun, sehingga disimpulkanterdapat rangsangan optimal untuk suatu aktivitas tertentu (Yerkes & Dodson, 1908).Pada tahun 1943, Clark Hull mengemukakan Drive Reduction Theory yang menyatakanbahwa kebutuhan biologis dan pemuasan kebutuhan biologis adalah penting dan menempatiposisi sentral dalam seluruh kegiatan manusia, sehingga stimulus dalam belajar pun hampirselalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis, walaupun respon yang muncul mungkinbermacam-macam bentuknya (Budiningsih, 2005). Masih menurut Hull, suatu kebutuhanbiologis pada makhluk hidup menghasilkan suatu dorongan (drive) untuk melakukanaktivitas memenuhi kebutuhan tersebut, sehingga meningkatkan kemungkinan bahwamakhluk hidup ini akan melakukan respon berupa reduksi kebutuhan (need reductionresponse). Menurut teori Hull, dorongan (motivators of performance) dan reinforcementbekerja bersama-sama untuk membantu makhluk hidup mendapatkan respon yang sesuai(Wortman, 2004). Lebih jauh Hull merumuskan teorinya dalam bentuk persamaanmatematis antara drive (energi) dan habit (arah) sebagai penentu dari behaviour (perilaku)dalam bentuk:Behaviour = Drive × HabitKarena hubungan dalam persamaan tersebut berbentuk perkalian, maka ketika drive = 0,makhluk hidup tidak akan bereaksi sama sekali, walaupun habit yang diberikan sangat kuatdan jelas (Berliner & Calfee, 1996).Pada periode 1935 – 1960, Kurt Lewin mengajukan Field Theory yang dipengaruhi olehprinsip dasar psikologi Gestalt. Lewin menyatakan bahwa perilaku ditentukan baik olehperson (P) maupun oleh environment (E):Behaviour = f(P, E)

Activity (9)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Arnhy Nhy liked this
Threeaenteo Ryan liked this
gelarkita liked this
mohawxx liked this
hermanfarid liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->