Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
15Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Mengenal Konsep Mudharabah

Mengenal Konsep Mudharabah

Ratings: (0)|Views: 3,094|Likes:
Published by abu abdirrahman
Mengenal Konsep Mudharabah
Mengenal Konsep Mudharabah

More info:

Published by: abu abdirrahman on Jan 12, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

12/04/2012

pdf

text

original

 
Mengenal Konsep Mudharabah
Allah menciptakan manusia makhluk yang berinteraksi sosial dan saling membutuhkan satu samalainnya. Ada yang memiliki kelebihan harta namun tidak memiliki waktu dan keahlian dalammengelola dan mengembangkannya, di sisi lain ada yang memiliki skill kemampuan namun tidak memiliki modal. Dengan berkumpulnya dua jenis orang ini diharapkan dapat saling melengkapidan mempermudah pengembangan harta dan kemampuan tersebut. Untuk itulah Islammemperbolehkan syarikat dalam usaha diantaranya
 Al Mudharabah
.
Pengertian Al Mudharabah
Syarikat Mudhaarabah
memiliki dua istilah yaitu
 Al Mudharabah
dan
 Al Qiradh
sesuai dengan penggunaannya di kalangan kaum muslimin. Penduduk Irak menggunakan istilah
 Al Mudharabah
untuk mengungkapkan transaksi syarikat ini. Disebut sebagai mudharabah karena diambil dari kata
dharb
di muka bumi yang artinya melakukan perjalanan yang umumnya untuk berniaga dan berperang, Allah berfirman:
“Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi yang berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari al-Qur’an.”
(Qs. AlMuzammil: 20)Ada juga yang mengatakan diambil dari kata:
dharb
(mengambil) keuntungan dengan saham yangdimiliki.Dalam istilah bahasa Hijaaz disebut juga sebagai
qiraadh
, karena diambil dari kata
muqaaradhah
yang arinya penyamaan dan penyeimbangan. Seperti yang dikatakanDownload file audio dzikir pagi petang di http://dzikirpagipetang.blogspot.com 
 
“Dua orang penyair melakukan muqaaradhah,”
yakni saling membandingkan syair-syair mereka.Disini perbandingan antara usaha pengelola modal dan modal yang dimiliki pihak pemodal,sehingga keduanya seimbang. Ada juga yang menyatakan bahwa kata itu diambil dari
qardh
yaknimemotong. Tikus itu melakukan
qardh
terhadap kain, yakni menggigitnya hingga putus. Dalamkasus ini, pemilik modal memotong sebagian hartanya untuk diserahkan kepada pengelola modal,dan dia juga akan memotong keuntungan usahanya. [1]Sedangkan dalam istilah para ulama
Syarikat Mudhaarabah
memiliki pengertian: Pihak pemodal(Investor) menyerahkan sejumlah modal kepada pihak pengelola untuk diperdagangkan. Dan berhak mendapat bagian tertentu dari keuntungan.[2] Dengan kata lain Al Mudharabah adalahakad (transaksi) antara dua pihak dimana salah satu pihak menyerahkan harta kepada yang lainagar diperdagangkan dengan pembagian keuntungan diantara keduanya sesuai dengankesepakatan.3 Sehingga Al Mudharabah adalah bentuk kerja sama antara dua atau lebih pihak dimana pemilik modal (
Shahib Al Mal 
/Investor) mempercayakan sejumlah modal kepada pengelola (
Mudharib
) dengan suatu perjanjian pembagian keuntungan.[4] Bentuk ini menegaskankerja sama dengan kontribusi 100% modal dari
Shahib Al Mal 
dan keahlian dari
Mudharib
.
Hukum Al Mudharabah Dalam Islam
Para ulama sepakat bahwa sistem penanaman modal ini dibolehkan. Dasar hukum dari sistem jual beli ini adalah ijma’ ulama yang membolehkannya. Seperti dinukilkan Ibnul Mundzir[5], IbnuHazm[6] Ibnu Taimiyah[7] dan lainnya.Ibnu Hazm menyatakan: “Semua bab dalam fiqih selalu memiliki dasar dalam Al Qur’an danSunnah yang kita ketahui -Alhamdulillah- kecuali
 Al Qiraadh
(
 Al Mudharabah
(pen). Kami tidak mendapati satu dasarpun untuknya dalam Al Qur’an dan Sunnah. Namun dasarnya adalah ijma’yang benar. Yang dapat kami pastikan bahwa hal ini ada dizaman
 shallallahu’alaihi wa sallam
, beliau ketahui dan setujui dan seandainya tidak demikian maka tidak boleh.”[8]Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengomentari pernyataan Ibnu Hazm di atas dengan menyatakan:“Ada kritikan atas pernyataan beliau ini:1.Bukan termasuk madzhab beliau membenarkan ijma’ tanpa diketahui sandarannya dari AlQur’an dan Sunnah dan ia sendiri mengakui bahwa ia tidak mendapatkan dasar dalil
Mudharabah
dalam Al Qur’an dan Sunah.2.Beliau tidak memandang bahwa tidak adanya yang menyelisihi adalah ijma’, padahal iatidak memiliki disini kecuali ketidak tahuan adanya yang menyelisihinya.3.Beliau mengakui persetujuan Nabi
 shallallahu’alaihi wa sallam
setelah mengetahui sistemmuamalah ini. Taqrier (persetujuan) Nabi
 shallallahu’alaihi wa sallam
termasuk satu jenissunnah, sehingga (pengakuan beliau) tidak adanya dasar dari sunnah menentang pernyataan beliau tentang taqrir ini.4.Jual beli (perdagangan) dengan keridhaan kedua belah fihak yang ada dalam Al Qur’anmeliputi juga Al Qiradh dan Mudharabah5.Madzhab beliau menyatakan harus ada nash dalam Al Qur’an dan Sunnah atas setiap permasalahan, lalu bagaimana disini meniadakan dasar dalil
 Al Qiradh
dalam Al Qur’andan SunnahDownload file audio dzikir pagi petang di http://dzikirpagipetang.blogspot.com 
 
6.Tidak ditemukannya dalil tidak menunjukkan ketidak adaannya7.Atsar yang ada dalam hal ini dari Nabi
 shallallahu’alaihi wa sallam
tidak sampai padaderajat pasti (
Qath’i
) dengan semua kandungannya, padahal penulis (Ibnu Hazm)memastikan persetujuan Nabi dalam permasalahan ini.[9]Demikian juga Syaikh Al Albani mengkritik pernyataan Ibnu Hazm diatas dengan menyatakan:“Ada beberapa bantahan (atas pernyataan beliau), yang terpenting bahwa asal dalam Muamalahadalah boleh kecuali ada nas (yang melarang) beda dengan ibadah, pada asalnya dalam ibadahdilarang kecuali ada nas, sebagaimana dijelaskan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
 Al Qiradh
dan
Mudharabah
jelas termasuk yang pertama. Juga ada nash dalam Al Qur’an yang membolehkan perdagangan dengan keridhoan dan ini jelas mencakup
 Al Qiraadh
. Ini semua cukup sebagai dalilkebolehannya dan dikuatkan dengan ijma’ yang beliau akui sendiri.”[10]Dalam kesempatan lain Ibnu Taimiyah menyatakan: “Sebagian orang menjelaskan beberapa permasalahan yang ada ijma’ padanya namun tidak memiliki dasar nas, seperti
 Al Mudharabah
,hal itu tidak demikian.
Mudharabah
sudah masyhur dikalangan bangsa Arab dijahiliyah apalagi pada bangsa Quraisy, karena umumnya perniagaan jadi pekerjaan mereka. Pemilik hartamenyerahkan hartanya kepada pengelola (
‘umaal 
). Rasulullah
 shallallahu’alaihi wa sallam
sendiri pernah berangkat membawa harta orang lain sebelum kenabian sebagaimana telah berangkat dalam perniagaan harta Khadijah. Juga kafilah dagang yang dipimpin Abu Sufyan kebanyakannyadengan sistem
mudharabah
dengan Abu Sufyan dan selainnya. Ketika datang islam Rasulullah
 shallallahu’alaihi wa sallam
menyetujuinya dan para sahabatpun berangkat dalam perniagaanharta orang lain secara Mudharabah dan beliau
 shallallahu’alaihi wa sallam
tidak melarangnya.Sunnah disini adalah perkataan, pebuatan dan persetujuan beliau, ketiak beliau setujui makamudharabah dibenarkan dengan sunnah.[11]Juga hukum ini dikuatkan dengan adanya amalan sebagian sahabat Rasulullah
 shallallahu’alaihiwa sallam
diantaranya yang diriwayatkan dalam
 Al-Muwattha’ 
[12] dari Zaid bin Aslam, dariayahnya bahwa ia menceritakan: Abdullah dan Ubaidillah bin Umar bin Al-Khattab pernah keluar dalam satu pasukan ke negeri Iraaq. Ketika mereka kembali, mereka lewat di hadapan Abu MusaAl-Asy’ari, yakni gubernur Bashrah. Beliau menyambut mereka berdua dan menerima merekasebagai tamu dengan suka cita. Beliau berkata: “Kalau aku bisa melakukan sesuatu yang berguna buat kalian, pasti akan kulakukan.” Kemudian beliau berkata: “Sepertinya aku bisa melakukannya.Ini ada uang dari Allah yang akan kukirimkan kepada Amirul Mukminin. Beliau meminjamkannyakepada kalian untuk kalian belikan sesuau di Iraaq ini, kemudian kalian jugal di kota Al-Madinah.Kalian kembalikan modalnya kepada Amirul Mukminin, dan keuntungannya kalian ambil.”Mereka berkata: “Kami suka itu.” Maka beliau menyerahkan uang itu kepada mereka dan menulissurat untuk disampaikan kepada Umar bin Al-Khattab agar Amirul Mukminin itu mengambil darimereka uang yang dia titipkan. Sesampainya di kota Al-Madinah, mereka menjual barang itu danmendapatkan keuntungan. Ketika mereka membayarkan uang itu kepada Umar. Umar lantas bertanya: “Apakah setiap anggota pasukan diberi pinjaman oleh Abu Musa seperti yang diberikankepada kalian berdua?” Mereka menjawab: “Tidak.” Beliau berkata: “Apakah karena kalian adalahanak-anak Amirul Mukminin sehingga ia memberi kalian pinjaman?” Kembalikan uang itu besertakeuntungannya.” Adapun Abdullah, hanya membungkam saja. Sementara Ubaidillah langsungangkat bicara: “Tidak sepantasnya engkau berbuat demikian wahai Amirul Mukminin! Kalau uangini berkurang atau habis, pasti kami akan bertanggungjawab.” Umar tetap berkata: “Berikan uangDownload file audio dzikir pagi petang di http://dzikirpagipetang.blogspot.com 

Activity (15)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
WyNa Itu Saya liked this
Kerun Niesya liked this
Mohd Harith liked this
hamzah liked this
hamzah liked this
Nor Naqsya liked this
adhiets liked this
izzamya liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->