Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
45Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Pengaruh Variabel Makroekonomi Terhadap Kinerja Saham Pertambangan

Pengaruh Variabel Makroekonomi Terhadap Kinerja Saham Pertambangan

Ratings: (0)|Views: 1,710 |Likes:
Published by hendsu

More info:

Published by: hendsu on Jan 13, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/09/2013

pdf

text

original

 
PENGARUH VARIABEL MAKROEKONOMI TERHADAPKINERJA SAHAM PERTAMBANGAN MINYAK DAN GAS BUMI SEBAGAIEMITEN DI BURSA EFEK INDONESIA
Dr. Maurin Sitorus2004
ABSTRAK 
Kontribusi sektor minyak dan gas bumi mempunyai peran penting dalam pertumbuhan dan pembangunan ekonomi secara global, regional maupun nasionalkhususnya Indonesia. Tetapi kondisi minyak dan gas bumi Indonesia telah mengalami penurunan terutama dalam hal eksportir bahan mentah minyak semenjak Indonesiamengalami krisis moneter.Atas pertimbangan-pertimbangan tersebut, penelitian ini dilakukan gunamengetahui bagaimana pengaruh faktor ekonomi makro Indonesia terhadap kinerjasaham sektor pertambangan minyak dan gas bumi, dan faktor mana yang sangat berpengaruh terhadap kondisi pertambangan minyak dan gas bumi. Adapun variabel-variabel yang dilibatkan dalam faktor ekonomi makro adalah inflasi, suku bunga SBI,kurs, dan jumlah uang beredar.Hasil penelitian mejelaskan bahwa variabel-variabel makro ekonomi berpengaruhsecara simultan terhadap kinerja saham pertambangan minyak dan gas bumi. Danvariabel makro ekonomi yang berpengaruh sangat besar terhadap kinerja saham pertambangan minyak dan gas bumi adalah variabel kurs.
PENDAHULUANLatar Belakang Permasalahan
Minyak merupakan komoditas utama didalam perekonomian modern. Seluruhaktivitas perekonomian serta industri tergantung dari stabilitas harga minyak. Hal inidikarenakan peranan vital minyak sebagai sumber energi utama bagi sebagian besar  proses produksi dan kegiatan perekonomian di seluruh belahan bumi. Fluktuasi hargaminyak memiliki pengaruh besar terhadap seluruh rangkaian proses produksi maupunaktivitas modern, sehingga kenaikan atau penurunan harga minyak memiliki pengaruhsignifikan terhadap seluruh kegiatan perekonomian dan kehidupan masyarakat dunia.Secara empiris, resesi perekonomian dunia selalu dipicu oleh kenaikan hargaminyak. Salah satu contoh yang riil ialah saat ini di New York, dimana harga minyak mentah melonjak tajam menjadi 41,56 US$ per barrel (Jum’at, 14 Mei 2003), setelahsebelumnya selalu berkisar antara 25 US$ - 30 US$ per barrel. Kenaikan harga minyak tersebut dipicu laporan mengenai persediaan minyak Amerika Serikat yang ternyata tidak 
 
sebesar perkiraan sebelumnya. Kenaikan harga minyak mentah tersebut secara perlahan bias memicu inflasi dan menurunkan kinerja bursa saham di Amerika Serikat. Hal serupa bisa terjadi di Negara-negara lain. Oleh karena itu, minyak memegang peranan vital didalam menjaga stabilitas perekonomian dunia. Perseteruan atau sengketa soal minyak telah terbukti melahirkan peperangan di berbagai negara, sehingga komoditas ini selalumenjadi titik sentral dari pertumbuhan dan pengembangan ekonomi secara global,regional, maupun nasional. Kinerja seluruh bursa saham dunia selalu terpengaruh olehfluktuasi harga minyak mentah dunia.Indonesia sebagai salah satu Negara produsen minyak mentah dunia memilikiketergantungan yang besar terhadap fluktuasi harga minyak. Pertumbuhan ekonomiIndonesia pada periode 1970-1980 bergantung kepada harga minyak mentah dunia yangmeningkat tajam seiring dengan krisis minyak dunia akibat perang Arab-Israel danembargo Negara Arab terhadap Amerika Serikat, yang sering dosebut sebagai OilBonanza. Tetapi kontribusi sektor minyak dan gas bumi menurun seiring dengan persediaan minyak bumi yang semakin menipis di Indonesia dan Pertumbuhan sektor riilyang lain di luar minyak dan gas bumi. Dalam kontribusinya terhadap pertumbuhanekonomi nasional. Tahun 2000, kontribusi sub-sektor industri pengolahan bukan minyak dan gas mencapai 22,10 persen dan Produk Domestik Bruto Indonesia dan tahun 2001mencapai 21,96 persen. Sementara itu, sumbangan sub sektor industri migas tahun 2000dan 2001 sama, yaitu sebesar 4,15%.Seiring dengan kondisi makroekonomi Indonesia yang masih belum stabil sejak krisi ekonomi tahun 1998, kontribusi sektor minyak dan gas pun mengalami fluktuasi.Hal ini terlihat dari tingkat inflasi tahun 1998 sebesar 77,63%, tahun 1999 sebesar 2,01%,tahun 2000 sebesar 9,35% dan tahun 2001sebesar 7,70%, sementara kontibusi sektor minyak tahun 1998 sebesar 7,84%, tahun 1999 sebesar 6,59%, tahun 2000 sebesar 10,22% dan tahun 9,60%. Secara sepintas terlihat ada hubungan linier antara tingkatinflasi dan kontribusi sektor migas terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Tetapiyang menjadi pertanyaan ialah apakah hubungan tersebut juga terdapat pada kierja sahamminyak dan gas.Bagaimanapun di dalam sistem perekonomian modern, tidak bisa dipungkiri bahwa sektor finansial memegang peranan yang lebih besar dibandingkan dengan sektor riil. Majunya investasi di bidang finansial pada suatu negara akan mendorong kelancaraninvestasi pada sektor riil. Kedua bentuk investasi tersebut di atas, memilikisuatukarakteristik yang bersifat komplementer (Alexander, Sharpe, Bailey, 1995). Oleh karenaitu, didalam penelitian ini akan diteliti mengenai hubungan antara variabel-variabelmakroekonomi terhadap kierja saham perusahaan minyak di Indonesia. Kinerja sahamPerusahaan Minyak yang sudah
listing 
di Bursa Efek Jakarta merupakan obyek di dalam penelitian ini.
 
Penelitian Sebelumnya
Chen, Roll dan Ross (1986) melakukan penelitian yang dilakukan dalam 2 tahap.Tahap pertama dengan menggunakan regresi time series yang hasilnya menyatakan bahwa terdapat empat faktor yang mendasari perubahan harga saham, yaitu,1.Tingkat Inflasi2.Perbedaan antara tingkat suku bunga jangka pendek dan jangka panjang.3.Perbedaan antara tingkat keuntungan obligasi yang beresiko tinggi dan rendah4.Tingkat kegiatan dalam industri.Di luar faktor-faktor tersebut di atas, diteliti juga faktor-faktor lainnya, yaitu persentase pertumbuhan konsumsi riil per kapita dan perubahan indeks harga minyak,tetapi hasilnya tidak signifikan mempengaruhi volatilitas harga. Tahap kedua, merekamelakukan regresi
cross section
dengan menggunakan variabel beta yang didapat dariregresi tahap pertama dari masing-masing perusahaan dan faktor untuk setiap portofolionya. Hasilnya menunjukkan bahwa beta faktor tidak signifikan mempengaruhi
return
saham.Burnmeister dan McElroy (1988) menlanjutkan penelitian Chen, Roll dan Rossyang hasilnya menyatakan terdapat hubungan yang kuat antara variabel makroekonomiterhadap
return
suatu saham. Mereka memformulasikan hubungan tersebut sebagai berikut:
m
-
λ
0
= 0,0022 – 1,33 X
1
+ 0,56 X
2
+ 2,29X
3
– 0,93X
4
T value (0,62) (-3,94) (4,96) (1,99) -2,27)
2
= 0,24Di mana:X
1
= Default Risk X
2
= Time PremiumX
3
= DeflationX
4
= Change In Expected SalesSorensen, Menrich dan Thun Chee (1989) melakukan penelitian dengan membuatmodel untuk 
Solomon Brother Risk Index Model 
yang menyatakan bahwa terdapat tujuhfkator penting yang mempengaruhi
return
s saham, yaitu:
1.Economic growth2.Business Cycle3.Long Term Interest 4.Short Term Interes5.Inflation6.Currency Fluctuastion7.Market Index Securities

Activity (45)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Wahida Al WaSa liked this
Afilia Hanjani liked this
Huda Schudd liked this
Desy Eka Yuli liked this
iaprina liked this
Deshy Ode Halia liked this
arie_spp liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->