Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
3Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Memperkuat Justisiabilitas Hak-Hak Ekonomi, Sosial Dan Budaya

Memperkuat Justisiabilitas Hak-Hak Ekonomi, Sosial Dan Budaya

Ratings: (0)|Views: 227 |Likes:
Published by Damar_Gun_86

More info:

Published by: Damar_Gun_86 on Jan 13, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/13/2010

pdf

text

original

 
 Makalah
WORKSHOP
Memperkuat JustisiabilitasHak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya :Prospek dan Tantangan
 
Yogyakarta, 13 - 15 November 2007 
HAK-HAK EKONOMI, SOSIALDAN BUDAYA
Oleh :Prof. Soetandyo Wignjosoebroto(Guru Besar Emeritus UNAIR)
 
HAK-HAK MANUSIA YANG ASASIUNTUK MEMPEROLEH JAMINAN RASA`AMAN DAN SEJAHTERADALAM KEHIDUPAN EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA,DI TENGAH PELAKSANAAN PROGRAM PEMBANGUNAN NASIONALYANG SERING TAK BERKIBLAT KE KEPENTINGAN RAKYATSoetandyo Wignjosoebroto
Pada awal mulanya, apa yang utamanya dikonsepkan orang di negeri-negeriBarat -- pada dasawarsa-dasawarsa menjelang dan sesudah pecahnya revolusikemerdekaan Amerika dan revolusi kerakyatan Perancis – mengenai hak-hak asasimanusia tidaklah lain daripada hak-hak akan kebebasan di hadapan kekuasaan negara.Inilah hak-hak yang kemudian dipositifkan sebagai hak-hak kebebasan manusia warganegara pada umumnya (
the civil rights
), dan hak-hak mereka ini untuk ikut sertadalam setiap proses politik yang akan bersangkutpaut dengan kepentingan kehidupanmereka di ranah publik (
the political rights
). Perluasan konsep hak-hak manusiayang asasi untuk juga meliputi hak-hak ekonomi, sosial dan budaya (yang kali inidiakronimkan ‘ekosob’) barulah tumbuh dan berkecambah untuk kemudianberkembang bertahun-tahun kemudian.Bertahun-tahun kemudian, setelah Amerika dan Perancis mendemonstrasikankeberhasilan mereka dalam sejarah untuk membangun kehidupan bernegara republik atas dasar prinsip-prinsip demokrasi, terbuktilah apa yang semula dicita-citakan tidak sepenuhnya dapat kesampaian. Terbukti bahwa hak-hak atas kebebasan warga untuk mengejar rasa bahagia dan sejahtera pribadi (
the pursuit of happiness
) dan/atau gunamewujudkan kesejahteraan bagi khalayak ramai (republik <
res pro publica
) tidaklahbegitu saja bisa terwujud, khususnya untuk sebagian besar warga yang semula tak terhitung sebagai rakyat (
demos
) dalam kehidupan demokrasi. Perluasan konsep hak-hak asasi untuk kemudian mencakup jaminan warga guna memperoleh jaminan akankesejahteraan hidupnya lalu mulai dipikirkan dan dikembangkan orang.
Perluasan Konsep Hak-Hak Asasi Manusia, YangMencakup Juga Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya:Kritik Terhadap Konsep Hak-Hak Asasi Manusia Kaum Liberal Klasik
Perluasan konsep hak-hak manusia yang asasi itu secara tersirat sebenarnya juga mengandung kritik pada kegagalan
laissez-faire liberalism
dari abad 18.Liberalisme klasik ini meyakini kebenaran premis tentang adanya apa yang disebut
homo equalis
, ialah adanya manusia-manusia individual
 
yang dikatakan selalurasional dalam segala tindakan dan putusan akalnya. Inilah konsep yang pada kuartalakhir abad 18 itu memperoleh pembenaran etik-ekonomiknya oleh pemikir liberalseperti Adam Smith, yang pada gilirannya meyakini terwujudnya
the wealth of nations
sebagai hasil realisasi yang konsekuen atas seluruh premis dan asas etikamacam itu.Akan tetapi, sudah pada belahan akhir abad 19 konsep dan teori kaum liberalis– yang juga individualis -- seperti itu sudah memperoleh cabaran dari teoretisisosialis, seperti Karl Marx (dalam bukunya
 Das Kapital
, 1848), berikut realisasinya
 
 2sebagai ideologi yang berkulminasi pada pecahnya revolusi Bolsewik di Rusia padatahun 1917). Krisis-krisis ekonomi di negara-negara industri (yang memuncak padadasawarsa kedua-ketiga abad 20) kian membuktukan pula secara faktual kelemahankonsep liberalisme yang bertumpu pada konsep individualisme yang terlalu percayaakan adanya
equality, in all situations, among all individuals
. Krisis kian nyatatatkala konsep dan paham
individual liberty
 
and equality among individuals
yangdimaknakan secara mutlak seperti itu – kalaupun mendatangkan pertumbuhankemakmuran untuk suatu bangsa (seperti yang diyakini oleh Adam Smith), nyatanya juga mengundang kesenjangan yang kian lama kian parah antar-sesama manusia dankehidupan nasional.Di negeri-negeri Barat, lahirnya perhatian yang kian serius kepada persoalankesejahteraan ekonomi -- yang ternyata tak begitu saja secara serta-merta terwujuddalam kehidupan yang berparadigma liberalisme klasik – telah dengan segeramengundang pemikiran neo- atau
welfare
-
liberalism
di bidang teori-teori ekonomi,dan konsep
welfare
-
state
dalam praksis-praksis politik dan politik-ekoniminya.Bertolak dari paham
welfare liberalism
, konsep konstitusional tentang peran negaradan para pejabat pengemban kekuasaan negara, khususnya dalam hubungan merekadengan persoalan pemenuhan hak-hak manusia warga negara yang asasi, akanmengalami reinterpretasi dan/atau redefinisinya.Berbeda dengan upaya maksimalisasi terwujudnya hak-hak sipil dan hak-hak politik manusia warga negara, kini dalam ihwal pengupayaan terjaminnya hak wargauntuk memperoleh jaminan kesejahteraan ekonomi -- dalam artiannya yang luas, yangmeliputi juga prakondisinya yang sosial dan kultural – negara beserta para pejabatnyatidak lagi akan berperan sebagai
watchdog
dengan
hands-off policy
nya. Kini, di sini,kesejahteraan dalam kehidupan ‘ekosob’ yang diangkat sebagai hak yang asasi inimenuntut peran negara yang tidak lagi sebatas sebagai
watchdog
itu. Alih-alih, kininegara beserta para pejabatnya itu harus sanggup bertindak secara positif, ialah untuk secara proaktif mengintervensi proses, demikian rupa sehingga situasi kehidupanmenjadi cukup kondusif bagi setiap manusia warga negara/masyarakat untuk dapatmengupayakan dan memperoleh apa yang telah dihakkan kepadanya menurutketentuan-ketentuan konstitusi dan kovenan yang ada.
*)
 Semua yang diutarakan di muka adalah permasalahan hak-hak asasi ‘ekosob’yang terbilang generasi kedua sebagaimana yang teks berikut konteksnya berkembangdalam pengalaman negeri-negeri Barat. Bagaimana lalu perkembangan transplantatif konsep
ecosoc rights
ini di negeri-negeri berkembang yang sepanjang sejarahnyasebenarnya kurang mengenal ideologi dan konsep
liberalism
, baik yang klasik maupun yang berparadigma
welfare
. Di negeri-negeri berkembang ex-daerah jajahannegeri-negeri Barat, seperti misalnya Indonesia, dalam konteks sosial-kultural sepertiitu kesejahteraan ekonomik warga masyarakat tidaklah mudah dipahami sebagai buahusaha merealisasi hak yang asasi. Di negeri-negeri seperti ini, di mana kedaulatanberada di tangan para penguasa (daulat tuanku!), dan tidak pernah dikenal sebagai
*)
 
Kovenan yang berkenaan dengan pengakuan hak-hak asasi manusia di bidang kehidupan ekonomi,sosial dan budaya ini ialah
The International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights
yangditerima lewat resolusi sidang umum PBB pada tahun 1966, di samping kovenan internasional serupatentang hak-hak sipil dan hak-hak politik.

Activity (3)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
Ayu Nurfauziyah liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->