Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
24Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Akibat Hukum Terhadap Perjanjian Internasional

Akibat Hukum Terhadap Perjanjian Internasional

Ratings:

1.0

(1)
|Views: 1,935 |Likes:
Published by mencitcorp

More info:

Published by: mencitcorp on Jan 13, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/19/2012

pdf

text

original

 
AKIBAT HUKUM TERHADAP PERJANJIAN INTERNASIONAL
DALAM KONTEKS HUKUM NASIONAL
Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa dampak ke dalam (internal effect) suatuperjanjian internasional sangat erat hubungannya dengan sistem hukum nasional suatunegara peserta.Perjanjian internasional tertentu tidak menghendaki adanya ketentuanpelaksanaan, sebaliknya ada perjanjian yang menghendaki ketentuan pelaksanaandalam hukum nasionalnya.Dalam hukum internasional dikenal dua teori yangmenjelaskan perlu-tidaknya ketentuan pelaksanaan nasional dalam rangka penerapanperjanjian internasional.Kedua teori dimaksud adalah teori adoption dan incorporation.Menurut teori adoption, perjanjian internasional mempunyai dampak hukum (legaleffect) dalam suasana nasional.Perjanjian internasioal tetap mempertahankan sifatinternasionalnya (keasliannya), namun diterapkan dalam suasana hukumnasional.Sebagai dasar teori ini adalah aliran monisme, yangmengajarkan bahwahukum nasional dan hukum iternasional merupakan satu kesatuan dari satu siatemhukum pada umumnya.Sementara itu, menurut teori incorporation, perjanjianinternsional itu terlebih dahulu harus diinkorporasikan ke dalam hukum nasional, barudapat diterapkan dan menjadi hukum nasional.Teori ini mendasarkan ajrannya padaaliran dualisme, yaitu hukum internasional dan hukum nasional merupakan dua sistemhukum yang berbeda.Menurut pandangan kaum dualisme, ikutnya suatu negara dalamperjanjian internasional melalui ratifikasi secara simultan menjadikan perjanjianinternasional diinkorporasikan ke dalam sistem hukum nasional.Sebaliknya menurutaliran dualisme yang strict dualist system, perjanjian internasional harusditransformasikan ke dalam hukum nasional dengan ketentuan yang telah ada. Selamatranformasi ini belum ada dampak ke dalam (internal effect) perjanjian internasionaltersebut tidak ada, kecuali bila ada keputusan hakim nasional atau mengadakanpenafsiran hukum nasional, mulai dari asumsi bahwa pembuat undang-undang tidakbermaksud bertindak atau mempertahankan ketentuan yang bertentangan dengankewajiban yang timbul dari perjanjian internasional.Perlu atau tidaknya suatu perjanjian internasional dibuatkan aturan pelaksanaannya jikaditerapkan dalam suasan hukum nasional bergantung pada isi perjanjian itu sendiri,yaitu apakan isi perjanjian tersebut mempunyai sifat sebagai perjanjian yang self-excuting?Sebaliknya jika suatu perjnajian tidak berlaku secara otomatis dalam suasananasional, perjanjian internasioal itu berarti memiliki sifat non-self executing.
 
Jika perjanjian secara otomatis berlaku sebagi hukum internasional, maka dapatmuncul permasalahannya, yaitu bagaimana status hukum perjanjian tersebut jikaberhadapan dengan hukum nasional yang tidak sesuai dengan isi perjanjian tersebut?Dalam hal ini, jika kita kembali pada teori transformasi yang mengajarkan bahwa suatuperjanjian yang telah diajdikan hukum nasional dengan jalan transformasi akanmempunyai status yang sama sebagai hukum nasional lainnya, asas lex posterioderogat lege priori akan diterapkan. Sebaliknya jika kita kembali kepada teori adoptionyang mengajarkan di mana perjanjian diterapkan sebagai hukum internasiona,statusnya tidak otomatis sama dengan hukum nasional, melainkan membutuhkanpenetuan sikan dari hukum nasional, ataupun hukum interasional atau praktik. Dalamhal ini, baik teori monisme maupun teori teori dualisme berpendapat bahwa suatuperjanjian dapat efektif berlaku pada akhirnya bergantung pada praktik nasionalmasing-masing negara.Hal yang jelas perlu diingat bahwa suatu negara bertanggung jawab atas penerapan perjanjian dalam suasana nasional.Jika penerapannyamelanggar hukum internasional, suatu negara tidak dapat mempergunakan ketentuanhukum nasionalnya sebagai dalil pembelaan dan pembenaran atas pelanggarantersebut.Selanjutnya, bagaiman sikap Indonesia terhadap perjanjian internasional dalam praktikketatanegaraan?Untuk menjawab pertanyaan di atas, kita harus meninjau kembalihukum konstitusi, yaitu UUD 1945.UUD 1945 ternyata tidak memberikan jawaban yang jelas mengenai hal tersebut.Hal itu disebabkan oleh sering kali kaidah-kaidah hukum internasional itu memang tidak jelas atau sudah berubah sebagai refleksi dari masyarakat internasional yang sedangmengalami masa transisi dan mengalami perubahan yang begitu cepat.Dalampemberlakuan perjanjian internasional, terutama perjanjian yan diwariskan olehpemerintah kolonial Netherland dan dinyatakan berlaku untuk Hindia Belanda. Kadang-kadang ditempuh cara tidakan sepihak (unilateral act) akrena tidak ada alternatif lainbagi negara yang menghendaki perubahan cepat atas norma yang dirasakan tidak adil.Karena tidak adanya petunjuk pada UUD 1945, mengenai sikap Indonesia terhadapperjanjian ini, Prof. Mochtar Kusumaatmadja menegasakan sebagai berikut.[3] “...kitatidak menganut teori transformasi apalagi sistem Amerika Serikat.Kita condong pada sistem negara Kontinental Eropa, yakni langsung menganggap dirikita terikat pada keawajiban melaksanakan dan menaati ketentuan-ketentuan perjanjiandan konvensi yang telah disahkan tanpa perlu mengadakan lagi undang-undangpelaksana...”
 
Meskipun demikian, beliau juga mengingatkan sebagai berikut.bahwa sebaiknya kitamengundangkan apa yang telah menjadikan kita sebagai pihak peserta suatu perjanjianyang telah mengikat kita, apalagi kelalaian untuk melakukan hal itu bisa menimbulkankesulitan dalam pelaksanaan hukum yang berlaku. Sebaliknya, dalam beberapa halpengundangan demikian tidak perlu, masalahnya tidak menyangkut banyak orang ataupersoalannya sangat teknis dan ruang lingkupnya sangat terbatas. Akan tetapi,pengundangan dalam Undang-Undang Nasional mutlak dipelukan, yakni antara lainapabila diperlukan perubahan dalam Undang-Undang Nasional yang langsungmenyangkut hak warga negara sebagai perorangan.”Dari pendapat Prof. Mochtar Kusumaatmadja di atas, jelas kiranya bahwa dalammemberlakukan kaidah hukum internasional khususnya yang berasal dari suatuperjanjian internasional, UUD 1945 tidak memuat petunjuk dan untuk mengetahuinya,kita harus melihatnya pada praktik negara kita sendiri.
CONTOH KASUSIndonesia dan Konvensi tentang Pengkuan dan Pelaksanaan keputusanArbitrase Asing.

Activity (24)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Yhayha Soraya liked this
Pyitto Tata liked this
Maria Christy liked this
Verry CueX's liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->