Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
32Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
PANCASILA Kata Pengantar Pancasila Sebagai Dasar Negara

PANCASILA Kata Pengantar Pancasila Sebagai Dasar Negara

Ratings: (0)|Views: 4,424 |Likes:
Published by ibetelish

More info:

Published by: ibetelish on Jan 14, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/30/2013

pdf

text

original

 
PANCASILAKata Pengantar Pancasila sebagai dasar Negara bangsa Indonesia hingga sekarang telah mengalami perjalanan waktu yang tidak sebentar, dalam rentang waktu tersebut banyak hal/peristiwayang terjadi menemani perjalanan Pancasila.Mulai peristiwa pertama saat pancasiladicetuskan sudah menuai banyak konflik di internal para pencetusnya, hingga sekarangpundi era reformasi dan globalisasi Pancasila masih hangat diperbincangkan oleh banyak kalangan berpendidikan terutama kalangan Politik dan mahasiswa.Kebanyakan dari para pihak yang memperbincangkan masalah Pancasila adalah mengenai awal dicetuskannyaPancasila tentang sila perta aterutama.Memang dari sejarah awal perkembangan bangsaIndonesia dapat kita lihat bahwa komponen masyarakatnya terbentuk dari dua kelompok  besar yaitu kelompok agamis dalam hal ini didominasi oleh kelompok agama Islam danyang kedua adalah kelompok Nasionalis.Kedua kelompok tersebut berperan besar dalam pembuatan rancangan dasar Negara kita tercinta ini.Makalah ini dibuat sebagai catatan perjalanan Pancasila dari jaman ke jaman, agar kita senantiasa tidak melupakan sejarah pembentukan Pancasila sebagai dasar Negara, dan juga dapat digunakan untuk menjadi penengah bagi pihak yang sedang berbeda pendapat tentang dasar Negara supaya kedepankita tetap seperti semboyan kita yaitu “Bhineka Tunggal Ika”DAFTAR ISIPokok Bahasan :Bagaimana anda melihat peristiwa perumusan Pancasila 64 tahun yang lalu/Apa artinya Pancasila merupakan campuran berbagai ide?Ada pendapat Pancasila merupakan hasil kompromi dari dua kekuatan yang bersaing saatitu?Mengapa kita harus melihat sejarah pancasila?Apa akibatnya jika Pancasila hanya dilihat dalam satu momentum saja?Ke depan apakah sebagai pengikat Pancasila masih bisa diandalkan?Bagaimana cara yang harus di lakukan untuk menanamkan pemahaman itu?Bagaimana bisa orang Indonesia tidak lagi peduli dengan dasar Indonesia (Pancasila)?Dalam penerapan Pancasila gagal, apa pendapat anda?Padahal Pancasila sangat mengandalkan kesejahteraan rakyat?
 
Orang akan kembali percaya kepada Pancasila kalau nilai-nilai sudah dibuktikan?Penjabaran :Pancasila.Istilah Pancasila selalu berkumandang pada masa Orde Baru di bawah kepemimpinan HMSoeharto. Apa saja selalu dikaitkan dengan Pancasila. Begitu pula dengan Undang-UndangDasar 1945 selalu dibicarakan. Pancasila dan UUD 1945 menjadi dua istilah sangat popular, bahkan selalu menjadi slogan Orde Baru.Kita tentu masih ingat tentang P-4(Pedoman Penghayatan dan Pengalaman Pancasila) yang disosialisasikan dalam dunia pendidikan, baik formal, informal maupun non-formal. Istilah Penataran P-4 tidaklah asing bagi generasi muda kala itu. Selanjutnya buat mereka yang aktif dalam organisasi socialkemasyarakatan dan politik, istilah asas tunggal Pancasila juga ramai dibincangkan.Samahalnya dengan Pancasila, istilah UUD 1945 juga selalu ditekankan oleh para elit Orde Baru.Mereka kala itu selalu menyebut-nyebut UUD 1945, terlebih ketika hendak menyusun ataumembuat berbagai peraturan dan perundang-undangan. Pidato para pejabat selalumengaitkannya kepada konstitusi tersebut.Tak pelak lagi, Pak Harto sebagai Presiden,mandataris MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat) merupakan tokoh utama dalammensosialisasikan Pancasila dan UUD 1945. Boleh disebut, Pak Hartolah yang secara tegasmenyatakan bahwa pedoman, pegangan, landasan, acuan utama kita dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara adalah Pancasila dan UUD 1945. “Kita harus melaksanakanPancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen,” ucap Pak Harto dalam tiapPenekanan kata murni dan konsekuen dipahami sebagai tidak perlunya lagi kita mengusik,mengotak-atik Pancasila dan UUD 1945 sebagaimana apa adanya seperti yang ditetapkan pada 18 Agustus 1945, sehari setelah kemerdekaan Indonesia diproklamirkan oleh BungKarno dan Bung Hatta. Guna mengamankan konstitusi, perubahan UUD 1945 hanyadimungkinkan jika melalui persetujuan lewat referendum.Dalam perjalanannya, mengingat begitu kuatnya penekanan tentang pentingnya Pancasila dan UUD 1945 masa Orde Baru, banyak orang merasa bosan, jenuh atau bahkan menjadi antipati. Terlebih lagi memangupaya mensosialisasikan dasar Negara dan konstitusi tersebut oleh elit Orde Baru kala ituseolah tidak ada jemu-jemunya, bahkan cenderung seolah seperti tidak ada kata henti.Kesan pemaksaan sering dijadikan alasan untuk menolak Pancasila. Sementara, banyak  pula yang melihat berbagai prilaku, tindakan atau perbuatan, baik oleh pejabat maupunanggota masyarakat, dinilai menyimpang jauh dari nilai-nilai Pancasila yangdisosialisasikan dan dilestarikan itu. Akhirnya ketika gerakan reformasi menerpa kitasemua dan Pak Harto lengser pada 21 Mei 1998, Pancasila dan UUD 1945 ikut puladilengserkan. Sosialisasi Pancasila lewat P-4 dihentikan. BP-7 (Badan PelaksanaanPendidikan dan Pengkajian Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) lembaga penyelenggara P-4 dibubarkan. Sementara UUD 1945 diamandemen hingga 4 kali sehinggakini konstitusi kita dinilai betul-betul sudah menjadi baru, tidak lagi sama dengan apa yangdirumuskan para founding father.Buruk Rupa Cermin Dibelah, Lantas apakah dengan kitamelengserkan Pancasila dan UUD 1945, kehidupan kita bermasyarakat, berbangsa dan bernegara kini menjadi jauh lebih baik dibandingkan masa Orde Baru? Apakah berbagaikrisis ekonomi,
 
krisis multi dimensi sebagaimana terjadi pada penghujung masa Orde Baru sudah teratasi?Sudah tentu jawabannya tidak dapat dinyatakan secara hitam putih. Hal yang pasti, permasalahan yang dihadapi masa sekarang tampaknya tidak banyak beranjak jauh,terutama yang dirasakan oleh rakyat kalangan menengah ke bawah. Sementara untuk dikalangan sebagian elit secara pribadi-pribadi, kelompok atau golongan tentu saja menilai banyak jauh meningkat pada kondisi saat ini. Terlebih bila kita memang total melupakanPancasila dan UUD 1945.Nah, dari kondisi saat ini yang dinilai masih gonjang ganjingitulah, sementara pihak melihat ada sesuatu yang hilang dalam kehidupan kita. Merekamelihat kita selama ini ternyata ibarat “buruk rupa cermin dibelah.” Maksudnya, wajah kitayang buruk tapi malah yang kita rusak adalah cermin, alat bagi kita untuk dapat melihatsiapa kita. Lebih jauh, dapat pula bagaikan: “kita tak pandai menari, lantai yang dibilanggoyah.” Selain itu dapat pula ibarat: “pesawat yang gagal diterbangkan tapi landasan yangdipersalahkan.”Kenyataan tersebut membuat ada penilaian yang menyebutkan kita kinidalam kondisi memprihatinkan. Rakyat Indonesia mengalami degradasi wawasan nasional bahkan juga degradasi kepercayaan atas keunggulan dasar Negara Pancasila, sebagai sistemideology nasional karenanya, elit reformasi mulai pusat sampai daerah mempraktekkan budaya kapitalisme-liberalisme dan neo-liberalisme. Jadi, rakyat dan bangsa Indonesiamengalami erosi jati diri nasional!” Kalau kita melihat masalah Undang-Undang Dasar 1945 dan Pancasila. Ketiganya terlihat sepakat bahwa saat ini kita sudah melenceng atua bahkan cenderung sudah mengabaikan penerapan substansi dari konstitusi dan ideologi Negara sebagaimana yang diamanatkan oleh para founding father, bapak bangsa.Penyelenggaraan kehidupan bermasyarkaat, berbangsa dan bernegara saat ini tidak lagimemakai acuan UUD 1945 dan Pancasila.Masa Orde Baru sudah memulai menanamkanPancasila dan UUD 1945 dalam pikiran kita. Selanjutnya sudah pula terus diucap-ucapkandan banyak pula dicoba diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dasar Negara dan konstitusi warisan founding fathers itu tidak disosialisasikandalam waktu singat tapi makan waktu cukup lama, lewat proses dialog yang panjang.Lewat musyawarah mufakat yang tidak langsung begitu saja disetujui.Bayangkan, penerimaan Pancasila sebagia satu-satunya asas buat organisasi sosial politik dankemasyarakatan baru disepakati pada Sidang Umum MPR 1983, sekitar 15 tahun setelahOrde Baru. Itu pun tidak langsung diterapkan karena dibuat dulu undang-undangnya.Sementara sampai berakhirnya Orde Baru, sebenarnya upaya sosialisasi dan pelestariannyamasih terus dilakukan.Sungguh saying, euphoria reformasi telah membuat kita lupa, manayang harus tetap dipertahankan dan mana yang harus dibuang. Kita terlalu emosionalsehingga semua produk Orde Baru dianggap keliru. Padahal yang keliru adalah dalamtararan operasional yang memang dimungkinkan dapat saja belum sesuai dengan Pancasiladan UUD 1945.Hal paling menarik, kita melihat seolah Pancasila dan UUD 1945 adalah produk Orde Baru. Pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuenhanyalahrekayasa, sebuah kepentingan kekuasaan Orde Baru. Oleh karena itulah agaknya kenapakita kini merasa tidak penting lagi melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murnidan konsekuen. Bukankah hal ini sangat naïf jika kita seharusnya mau menjunjung tinggiwarisan para founding father?Founding father ibarat orangtua dalam kehidupan keluarga.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->