Orang akan kembali percaya kepada Pancasila kalau nilai-nilai sudah dibuktikan?Penjabaran :Pancasila.Istilah Pancasila selalu berkumandang pada masa Orde Baru di bawah kepemimpinan HMSoeharto. Apa saja selalu dikaitkan dengan Pancasila. Begitu pula dengan Undang-UndangDasar 1945 selalu dibicarakan. Pancasila dan UUD 1945 menjadi dua istilah sangat popular, bahkan selalu menjadi slogan Orde Baru.Kita tentu masih ingat tentang P-4(Pedoman Penghayatan dan Pengalaman Pancasila) yang disosialisasikan dalam dunia pendidikan, baik formal, informal maupun non-formal. Istilah Penataran P-4 tidaklah asing bagi generasi muda kala itu. Selanjutnya buat mereka yang aktif dalam organisasi socialkemasyarakatan dan politik, istilah asas tunggal Pancasila juga ramai dibincangkan.Samahalnya dengan Pancasila, istilah UUD 1945 juga selalu ditekankan oleh para elit Orde Baru.Mereka kala itu selalu menyebut-nyebut UUD 1945, terlebih ketika hendak menyusun ataumembuat berbagai peraturan dan perundang-undangan. Pidato para pejabat selalumengaitkannya kepada konstitusi tersebut.Tak pelak lagi, Pak Harto sebagai Presiden,mandataris MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat) merupakan tokoh utama dalammensosialisasikan Pancasila dan UUD 1945. Boleh disebut, Pak Hartolah yang secara tegasmenyatakan bahwa pedoman, pegangan, landasan, acuan utama kita dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara adalah Pancasila dan UUD 1945. “Kita harus melaksanakanPancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen,” ucap Pak Harto dalam tiapPenekanan kata murni dan konsekuen dipahami sebagai tidak perlunya lagi kita mengusik,mengotak-atik Pancasila dan UUD 1945 sebagaimana apa adanya seperti yang ditetapkan pada 18 Agustus 1945, sehari setelah kemerdekaan Indonesia diproklamirkan oleh BungKarno dan Bung Hatta. Guna mengamankan konstitusi, perubahan UUD 1945 hanyadimungkinkan jika melalui persetujuan lewat referendum.Dalam perjalanannya, mengingat begitu kuatnya penekanan tentang pentingnya Pancasila dan UUD 1945 masa Orde Baru, banyak orang merasa bosan, jenuh atau bahkan menjadi antipati. Terlebih lagi memangupaya mensosialisasikan dasar Negara dan konstitusi tersebut oleh elit Orde Baru kala ituseolah tidak ada jemu-jemunya, bahkan cenderung seolah seperti tidak ada kata henti.Kesan pemaksaan sering dijadikan alasan untuk menolak Pancasila. Sementara, banyak pula yang melihat berbagai prilaku, tindakan atau perbuatan, baik oleh pejabat maupunanggota masyarakat, dinilai menyimpang jauh dari nilai-nilai Pancasila yangdisosialisasikan dan dilestarikan itu. Akhirnya ketika gerakan reformasi menerpa kitasemua dan Pak Harto lengser pada 21 Mei 1998, Pancasila dan UUD 1945 ikut puladilengserkan. Sosialisasi Pancasila lewat P-4 dihentikan. BP-7 (Badan PelaksanaanPendidikan dan Pengkajian Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) lembaga penyelenggara P-4 dibubarkan. Sementara UUD 1945 diamandemen hingga 4 kali sehinggakini konstitusi kita dinilai betul-betul sudah menjadi baru, tidak lagi sama dengan apa yangdirumuskan para founding father.Buruk Rupa Cermin Dibelah, Lantas apakah dengan kitamelengserkan Pancasila dan UUD 1945, kehidupan kita bermasyarakat, berbangsa dan bernegara kini menjadi jauh lebih baik dibandingkan masa Orde Baru? Apakah berbagaikrisis ekonomi,