Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
3Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Seseorang Bertanya Kepada Nabi SAW, “Ya Rasulullah,

Seseorang Bertanya Kepada Nabi SAW, “Ya Rasulullah,

Ratings: (0)|Views: 101 |Likes:
Published by Heriyanto Hosnan

More info:

Published by: Heriyanto Hosnan on Jan 14, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/11/2014

pdf

text

original

 
Seseorang bertanya kepada Nabi SAW, “Ya Rasulullah, terangkan kepadaku, apa yang paling berat dan apa yang paling ringan dalam beragama Islam?” Nabi bersabda, “Yang paling ringan dalam beragama Islam ialah membaca syahadat ataukesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah Rasulullah.”“Sedang yang paling berat adalah hidup jujur (dapat dipercaya). Sesungguhnya, tidak adaagama bagi orang yang tidak jujur. Bahkan, tidak ada shalat dan tidak ada zakat bagimereka yang tidak jujur.” (HR Ahmad Bazzar).Kalau seseorang itu beriman, mestinya ia yang jujur. Kalau tidak jujur, berarti tidak  beriman. Kalau orang rajin shalat, mestinya juga jujur. Kalau tidak jujur, berarti sia-sialahshalatnya. Kalau orang sudah berzakat, mestinya ia juga jujur. Kalau tidak jujur, berartizakatnya tidak memberi dampak positif bagi dirinya.Anas RA berkata, “Dalam hampir setiap khutbahnya, Nabi SAW selalu berpesan tentangkejujuran. Beliau bersabda, ‘Tidak ada iman bagi orang yang tidak jujur. Tidak adaagama bagi orang yang tidak konsisten memenuhi janji’.”HR Ahmad Bazzar Thobaroni menyebutkan sahabat Abu Hurairah RA berkata,“Rasulullah SAW bersabda, ‘Ciri orang munafik itu ada tiga, yaitu bicara dusta, berjanji palsu, dan ia berkhianat jika mendapat amanat (tidak jujur)’.” (HR Bukhari).Abdullah bin Utsman berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Ada empat sikap yang kalauada pada diri seseorang maka yang bersangkutan adalah munafik tulen, yaitu kalau dapatamanat, ia berkhianat (tidak jujur); kalau berkata, selalu bohong; kalau berjanji, janjinya palsu; kalau berbisnis, licik’.” (HR Bukhari Muslim).Orang jujur itu disayangi Allah. Dan, orang yang tidak jujur dimurkai Allah SWT.Kejujuran menjadi salah satu sifat utama para Nabi, salah satu akhlak penting orang-orang yang saleh.Kejujuran adalah kunci keberkahan. Kalau kejujuran sudah hilang di tengah-tengahmasyarakat, keberkahannya pun akan hilang pula. Dan, apabila keberkahan sudah hilang,kehidupan menjadi kering, hampa tanpa makna.Kehidupan diwarnai dengan kegelisahan, kekhawatiran, ketakutan, kecemasan, dankekecewaan karena sulit mencari manusia yang jujur. Wallahu a’lam bish-shawab.(Republika)
 
Iman,Islam, Istimewa, Jendela Hati,Moslem, Muslim,Panutan, Perilaku, Religius, Sifat, Taman Hati,Taman Taqwa,Teladan, Wisata Hati| MediaMuslim.Info– Sesungguhnya kejujuran mengantarkan kepada kebaikan, dankebaikan mengantarkan kepada surga. Sesungguhnya seseorang biasa berlaku jujur hingga ia disebut shiddiq (orang yang senantiasa jujur). Sedang dusta mengantarkankepada perilaku menyimpang (dzalim) darn perilaku menyimpang mengantarkan kepadaneraka. Sesungguhnya seseorang biasa berlaku dusta hingga ia disebut pendusta besar.Untaian kata-kata diatas adalah hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud
 RadhiyAllohu ‘anhu
yang terhimpun dalam Kitab Hadits Bukhari, Muslim dan Tirmidzi.(HR Bukhari dalam shahihnya bab Adab subbab 69, jilid VII, hal 95. HR Muslim dalamshahihnya bab Al-Birr subbab 29, hadits nomor 104, jilid IV hal 2012-2013, dan HR Tirmidzi dalam sunannya bab Al-Birr subbab 46 hadits nomor 1971 jilid IV hal 347)Alloh
Subhanahu wa Ta’ala
 berfirman, yang artinya:
“Hai orang-orang yang beriman,bertaqwalah kepada dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur”
(QS: At-Taubah: 119). Dalam ayat lain, Alloh
Subhanahu wa Ta’ala
 berfirman, yangartinya:
“Jikalau mereka jujur kepada Alloh, niscaya yang demikian itu lebih baik bagimereka”
(QS: Muhammad: 21)
Jujur ialah kesesuaian ucapan dengan hati kecil dan kenyataan objek yangdikatakan
(Fathul Baari, jilid X, hal 507).Berkaitan dengan makna hadits di atas, ulama mengatakan bahwa sikap jujur dapatmengantarkan kepada amal shaleh yang murni dan selamat dari celaan. Sedang kata “al- birr” (kebaikan) adalah istilah yang mencakup seluruh kebaikan. Pendapat lainmengatakan bahwa “al-birr” berarti surga. sedangkan dusta dapat mengantarkan kepada perilaku menyimpang (kedzaliman).Sikap jujur termasuk keharusan di antara sekian keharusan yang harus diterapkan olehmasyarakat, dia menjadi fundamen penting dalam membangun komunitas masyarakat.Tanpa sikap jujur, seluruh ikatan masyarakat akan terlepas. Karena tidak mungkinmembentuk suatu komunitas masyarakat sedang mereka tidak berhubungan sesamanyadengan jujur.Sikap jujur sebetulnya merupakan naluri setiap manusia. Cukup sebagai bukti bahwaanak kecil jika diceritakan tentang sosok seorang yang jujur di satu sisi dan di sisi laindiceritakan sosok seorang pendusta, engkau lihat, dia akan menyukai orang jujur danmembenci pendusta.Al Marudzi bertanya kepada Imam Ahmad bin Hanbal. “Dengan apakah seorang tokohmeraih reputasi hingga terus dikenang?”. Imam Ahmad menjawab singkat: “Dengan perilaku jujur”. Beliau melanjutkan bahwa ”Sesungguhnya perilaku jujur terkait dengansikap murah tangan (dermawan).” (Thabaqatul Habilah, jilid I, hal 58).
 
Imam Fudhail bin Iyadh berkata: “Seseorang tidak berhias dengan sesuatu yang lebihutama daripada kejujuran (Hilyatul Auliya, jilid VIII,hal 109).Sahabat Bilal melamar wanita Quraisy (suku terhormat-red) untuk dinikahkan dengansaudaranya. Dia berkata kepada keluarga wanita Quraisy: “Kalian telah mengetahuikeberadaan kami. Dahulu kami adalah para hamba sahaya lalu dimerdekakan Alloh
Subhanahu wa Ta’ala
. Kami dahulu adalah orang-orang tersesat lalu diberikan hidayaholeh Alloh
Subhanahu wa Ta’ala
. Kami dulunya fakir lalu dijadikan kaya oleh-Nya. Kiniakan melamar wanita fulanah ini untuk dijodohkan dengan saudaraku. Jika kalianmenerimanya, maka segala puji bagi Alloh
Subhanahu wa Ta’ala
. Dan bila kalianmenolak, maka Alloh
Subhanahu wa Ta’ala
Dzat Yang Maha Besar.Anggota keluarga wanita itu tampak memandang satu dengan yang lainnya. Mereka lalu berkata: “Bilal termasuk orang yang kita kenal kepeloporan, kepahlawanan, dankedudukannya di sisi Rasululloh
ShallAllohu ‘alaihi wa sallam
. Maka nikahkanlahsaudara dengan puteri kita”. Mereka lalu menikahkan saudara Bilal dengan wanitaQuraisy tersebut. Usai itu saudara Bilal berkata kepada Bilal: “Mudah-mudahan Alloh
Subhanahu wa Ta’ala
mengampuni. Apa engkau menuturkan kepeloporan dankepahlawanan kami bersama dengan Rasululloh
ShallAllohu ‘alaihi wa Sallam
, sedangengkau tidak menuturkan hal-hal selain itu? Bilal menjawab: “Diamlah saudaraku, kamu jujur, dan kejujuran itulah yang menjadikan kamu menikah dengannnya”. (Al Mustathraf, jilid I, hal 356).Ismail bin Abdullah Al-Makhzumi berkata: “Khalifah Abdul Malik bin Marwanmenyuruh aku mengajari anak-anaknya dengan kejujuran sebagaimana dia menyuruh akumembaca tulis Al-Qur’an serta menyuruh aku menghindarkan mereka dari dustawalaupun harus mati” (Makarimul Akhlaq, hadits nomor 122, hal 27).Rib’i bin Hirasy dikenal tidak pernah berdusta sama sekali. Suatu hari dua puteranya tibadari Khurasan berkumpul dengannya., sedang keduanya adalah anak durhaka (nakal).Barangkali kedua anaknya menjadi pemberontak pemerintah. Seorang mata-mata lalumemberi kabar kepada Hajjaj. Katanya: “Wahai pimpinanku, masyarakat seluruhnyamenganggap Rib’i bin Hirasy tidak pernah berdusta selamanya. Sementara saat ini keduaanaknya yang durhaka dan nakal datang dari Khurasan dan berkumpul dengannya”.Hajjaj berkata: “Serahkan ia kepadaku”. Rib’i bin Hirasy lalu dibawa ke hadapan Hajjaj.Hajjaj bertanya: “Wahai orangtua….”.“Apa yang kau mau?” tanya Rib’i.“Saat ini apakah yang dilakukan oleh kedua puteramu?” tanya Hajjaj dengan selidik.Rib’i berkata jujur: “Tempat bermohon adalah Alloh
Subhanahu wa Ta’ala
. Akumeninggalkan keduanya di rumah”.“Tidak ada pidana. Demi Alloh
Subhanahu wa Ta’ala
, aku tidak menuduh buruk kepadamu mengenai dua anakmu. Sekarang kedua anakmu terserah padamu. Keduanya bebas dari tuduhan pidana”. (Makarimul Akhlaq, hadits nomor 135, hal 29-30).

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->