Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
18Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
hukum agraria

hukum agraria

Ratings: (0)|Views: 1,436 |Likes:
Published by ajeng_moo

More info:

Published by: ajeng_moo on Jan 14, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/08/2012

pdf

text

original

 
Pentingnya Penyempurnaan UU No.5 Tahun 1960 Tentang Pokok-Pokok Agraria14 Desember 2007 oleh : Irvan Surya Hartadi, SHLahirnya Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) pada tanggal 24 September 1960merupakan peristiwa penting di bidang agraria dan pertanahan di Indonesia. Denganlahirnya UU No. 5 Tahun 1960 tentang UUPA tersebut kebijakan-kebijakan pertanahandi era pemerintahan kolonial belanda mulai ditinggalkan. Undang-undang yang disusundi era pemerintahan Presiden Soekarno ini menggantikan
 Agrarische Wet 1870
yangterkenal dengan prinsip
domein verklaringnya
(semua tanah jajahan yang tidak dapatdibuktikan kepemilikannya berdasarkan pembuktian hukum barat, maka tanah tersebutdinyatakan sebagai tanah milik negara/ milik penjajah belanda). UUPA merupakan produk hukum pada era Orde Lama yang menghendaki adanya perubahan dan pembaharuan di bidang agraria dan pertanahan serta menghendaki terwujudnya pembangunan yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Kebijakan pemerintahan padasaat itu lebih diupayakan untuk mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyatsebagaimana telah digariskan dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945, bahwa
 Bumi, air dankekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakanuntuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat 
Untuk mewujudkan hal tersebut diatas dilakukan suatu upaya reformasi di bidang pertanahan (
 Landreform
) yang pada waktu itu dikenal dengan Panca Program AgrarianReform Indonesia, meliputi :1. Pembaharuan Hukum Agraria, melalui unifikasi hukum yang berkonsepsi nasionaldan pemberian jaminan kepastian hukum.2. Penghapusan hak-hak asing dan konsesi-konsesi kolonial atas tanah.3. Mengakhiri penghisapan feodal secara berangsur-angsur.4. Perombakan pemilikan dan penguasaan tanah serta hubungan-hubungan hukumyang bersangkutan dengan penguasaan tanah dalam mewujudkan pemerataankemakmuran dan keadilan.5. Perencanaan persediaan dan peruntukan bumi, air dan kekayaan alam yangterkandung didalamnya serta penggunaannya secara terencana, sesuai dengandaya dukung dan kemampuannya.Dengan adanya Panca Program Agraria Reform Indonesia yang merupakan suatu perwujudan kebijakan pemerintahan Orde Lama sebagaimana dituangkan di dalamUUPA tersebut diharapkan dapat mengatasi permasalahan-permasalahan mengenaiagraria maupun pertanahan. Akan tetapi dalam perkembangannya muncul berbagai permasalahan baru yang kurang begitu diakomodir di dalam UUPA itu sendiri.Pelaksanaan pembangunan nasional yang berkelanjutan merupakan permasalahan pentingyang mengketerkaitkan hubungan antara pemerintah sebagai penguasa, pemilik modal(investor) dan rakyat. Karena di dalam pembangunan tersebut tidak tertutup
 
kemungkinan adanya suatu pola hubungan yang saling menguntungkan (
 simbiosismutualisme
) antara penguasa dengan pemilik modal (investor) yang tidak memperhatikankepentingan rakyat dan bahkan dapat merugikan kepentingan rakyat.Distorsi yang memungkinkan terbangunnya hubungan simbiosis antara pemodal dankekuasaan, yang karena kekentalan dan kekuatannya meminggirkan rakyat sesungguhnyadapat dilacak melalui tekad kekuasaan Orde Baru yang mempanglimakan ekonomi diawal rezim ini. Pada periode Orde Baru kebijakan pertanahan lebih diarahkan untuk mendukung kebijakan makro ekonomi. Kebijakan pertanahan lebih merupakan bagiandari pembangunan, tidak sebagai dasar pembangunan. Kebijakan pertanahan lebihditujukan untuk memfasilitasi kebutuhan pembangunan dan eksploitasi sumber dayaalam. Pada masa kekuasaan rezim Orde Baru telah terjadi suatu pergolakan orientasiterhadap pembangunan. Yang tadinya bersumber pada sektor pertanian maka orientasinyakemudian menjadi industrialisasi dengan menekankan kebutuhan ekonomi berbasis padainvestasi asing dan juga eksploitasi SDA (sektor ekstraktif).Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) No. 5 tahun 1960 dianggap oleh sejumlah pengamat sebagai suatu produk hukum yang paling
 populis
(lebih bernuansa pro kepadarakyat kecil atau petani) di bandingkan dengan produk-produk hukum lainnya yangdibuat di masa Orde Lama, Orde Baru maupun sampai sekarang ini. Di dalam perkembangannya, UUPA dianggap sebagai undang-undang payung (
umbrella act 
) dari peraturan-peraturan lain yang mengatur mengenai agraria dan pertanahan. Lahirnyaundang-undang baru yang berkaitan dengan agraria dan pertanahan diharapkan dapatmeneruskan semangat UUPA yang lebih
 populis
(berpihak pada rakyat kecil terutama para petani). Akan tetapi dalam kenyataannya telah terjadi ketidaksinkronan antaraUUPA yang dianggap sebagai undang-undang payung (
umbrella act)
dengan undang-undang sektoral yang berkaitan pula dengan agraria dan pertanahan. Banyak ketentuan-ketentuan dari berberapa Undang-Undang sektoral tersebut yang tidak sesuai dengan apayang telah digariskan di dalam UUPA.Munculnya Undang-Undang sektoral tersebut lebih menitikberatkan pada arah kebijakan pembangunan yang tidak berpihak pada kepentingan rakyat kecil dan hanya berpihak  pada para pemilik modal saja (baik investor asing maupun domestik). Misalnya kelahiranUndang-Undang No. 1 tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing, dengan adanya UUini maka terlihat jelas adanya suatu pergerseran pola orientasi pembangunan menuju kearah industrialisasi dan investasi yang dirasa tidak berpihak pada rakyat kecil. Kemudianmuncul Undang-Undang No. 5 tahun 1967 tentang Pokok-Pokok Kehutanan sebagaimanatelah diperbaharui dengan Undang-Undang No. 41 tahun 1999 dan Undang-Undang No.11 tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan. Dalam peraturantersebut, pengelolaan hutan dan eksploitasi pertambangan banyak yang bertentangandengan kebijakan hak atas tanah sebagaimana yang telah diatur di dalam UUPA.Ketentuan dalam Undang-Undang kehutanan tersebut, masih memunculkan suatu sifatkepemilikan hutan negara yang mirip dengan
 Domein Verklaring 
pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Yang paling diperdebatkan pada pertengahan tahun 2005ialah munculnya Peraturan Presiden No. 36 tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah BagiPelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum. Dengan adanya peraturan
 
tersebut akan lebih mempermudah masuknya investasi pemodal asing ke Indonesia.Sehingga kekuatan-kekuatan modallah yang akan bermain dalam penguasaan tanah diIndonesia, hal ini tentunya akan berimplikasi rusaknya kemakmuran rakyat terutamarakyat tani, khususnya pencabutan hak atas tanah. Dalam pengertian pengadaan tanahuntuk kepentingan umumpun juga belum ada penjelasan secara detail siapa yang akanmengelola : negara, swasta atau rakyat. Sehingga dikhawatirkan semua yang mengatur tentang pengadaan tanah ini lebih difokuskan pada kepentingan swasta, bukankepentingan rakyat. Sebagai contoh konkritnya, setelah berlakunya Peraturan Presidentersebut makin banyak kasus penggusuran yang dilakukan oleh penguasa terhadap pemukiman warga yang terjadi di Ibu Kota Jakarta dan berbagai daerah lainnya diIndonesia. Maraknya berbagai kasus penggusuran tersebut menyebabkan terjadinyakonflik kepentingan
(Conflict of Interest)
antara kelompok-kelompok tertentu, dimanayang selalu menjadi korban adalah rakyat kecil.Ketidaksinkronan materi muatan yang terkandung di dalam Undang-Undang sektoraldengan materi muatan UUPA sebagaimana telah dijelaskan di atas, dapat menyebabkanterjadinya konflik hukum (
Conflict of Law)
. Hal tersebut tidak hanya terjadi antaraUndang-Undang sektoral dan UUPA, akan tetapi konflik hukum (
Conflict of Law)
jugaterjadi antara Undang-Undang sektoral itu sendiri. Salah satu penyebab utama kegagalanUUPA sebagai undang-undang payung (
umbrella act)
ataupun sebagai ¿pohon¿ peraturan perundang-undangan disebabkan karena materi muatan UUPA lebih dominan mengatur masalah pertanahan, sehingga menimbulkan kesan bahwa UUPA lebih tepat disebutsebagai ¿Undang-Undang Pertanahan¿ daripada Undang-Undang yang mengatur secarakomprehensif dan proporsional tentang ¿agraria¿. Meskipun harus diakui bahwa UUPAsesungguhnya juga mengatur tentang kehutanan, pertambangan, minyak dan gas bumi, penataan ruang, sumber daya air, dan lingkungan hidup. Namun pengaturan-pengaturanmasalah tersebut belum jelas dan tegas sebagaimana halnya UUPA mengatur masalah pertanahan. Selain hal tersebut, UUPA dirasakan belum dapat mengikuti perkembanganyang ada serta mengandung beberapa kekurangan, diantaranya adalah :1. UUPA belum memuat aspek perlindungan Hak Asasi Manusia (HAM) bagimasyarakat, khususnya petani dan pemilik tanah serta masyarakat adat;2. UUPA tidak mampu merespon perkembangan global, khususnya perkembanganyang menuju ke arah industrialisasi yang menghendaki perubahan dalam pengaturan pertanahan;3. UUPA belum menjelaskan secara tegas institusi mana yang harus mengkoordinir  pengelolaan dan pengurusan tanah, dan lain sebagainyaSebenarnya apa yang telah dipaparkan di atas hanya merupakan sebagian kecil masalahyang dihadapi dalam upaya penegakan UUPA, masih banyak permasalahan- permasalahan lain yang timbul di dalam bidang agraria khususnya bidang pertanahan.Permasalahan-permasalahan tersebut antara lain :

Activity (18)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Nunoe Flazz liked this
Hendra Komara liked this
Fahmi Satrio liked this
Mikhail Rasyid liked this
baling liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->